Tidak Ingin Kehilangan

1862 Words
Ragamu milik seseorang, tapi hati dan pikiranmu milik dirimu sendiri, Manakah yang harus diikuti? ♧♧♧♧ Gadis itu memandangi lekat-lelat orang datang dari kerajaan yang tidak diutus oleh siapapun. Tapi dari seragam yang dipakainya, ia tahu bahwa lelaki itu salah seorang prajurit Pangeran Arion. Kini mereka praktis tidak punya pemimpin sejak Pangeran Arion di asingkan meski masih di dalam istana. Helena meminta kertas yang terbuat dari kulit kayu berwarna kekuningan kepada pelayan yang berdiri di sebelah kirinya. Kemudian ia menyuruh tamunya untuk menggambarkan di mana letak tempat Pangeran Arion diasingkan. Setelah ia mempelajarinya dan bertanya-tanya hal detail, gadis itu mengeluarkan satu bundel yang berisi koin emas dan menghadiahkannya kepada orang tersebut. Koin-koin tersebut didapatnya dari Pangeran Arion dan sudah dalam bentuk bundelan-bundelan kecil agar memudahkan Helena untuk memberikan hadiah bagi siapapun yang dikehendakinya mendapatkan hadiah. Setelah orang itu pergi, Helena memasuki kamarnya dan duduk di atas kursi. Ia terpekur mengabaikan ramuan tabib yang telah ia panaskan, teronggok di dalam cawan kecil. Sakit pada jantungnya mereda saat ia mengambil posisi agak miring menyandar pada sandaran kursi yang tinggi. Wajahnya memucat. Kabar mengenai Pangeran Arion mengganggu perasaannya. Ia mencoba menelaah laporan tersebut. Memulainya pelan-pelan, menggali ingatan Syelena yang mestinya masih tersimpan pada jasad itu melalui kesadaran alam bawah sadarnya. Helena memejamkan mata, menenggelamkan diri dan membiarkan ingatan-ingatan yang masih terperangkap muncul ke permukaan. Sama seperti ia bisa mengenali huruf-huruf latin yang bentuknya aneh serta rumit itu. Huruf yang dikenali oleh Syelena. Perlahan ia menangkap ingatan yang timbul tenggelam. Seorang utusan Raja mendatangi ibunya. "Hamba harus menjemput Putri Syelena sekarang juga, Nyonya D'Arph. Ini adalah perintah dari Yang Agung Raja Cleon Carsten." Samar-samar ia mendengar suara seorang wanita dengan nada cemas bertanya, "Ada salah apa dengan putriku?" Lelaki itu menjawab, "Putri Syelena D'Arph akan dijadikan selir Raja Yang Agung, mulai hari ini." Helena merasakan gejolak panas di dalam dirinya, tapi ia berusaha mengabaikan dan kembali menggali sisa-sia ingatan pada alam bawah sadarnya. Masih memejamkan matanya dengan bola mata bergerak-gerak liar. Syelena melangkah cepat menghampiri ibunya dan dengan tegas menolak. "Bagaimana mungkin aku menjadi selir sementara aku kekasih putra pertamanya Pangeran Arion? Sampaikan pada Yang Agung Raja Cleon, bahwa saya tidak bersedia!" Sayangnya, Raja Cleon telah mengantisipasi penolakan tersebut. Prajuritnya telah diperintahkan agar segera menangkap Syelena begitu gadis itu menolak dibawa ke istana untuk dijadikan selirnya, sekaligus menangkap sang Jenderal yang merupakan panglima tertinggi kerajaan Sparthaks Goh serta mengasingkan ibunya bersama sang adik yang belum diketahui berada di mana. Syelena dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang lembab dan bau sementara ayahnya juga dijebloskan ke dalam penjara yang konon, kondisinya lebih parah dari pada penjara yang ditempati oleh Syelena. Helena tidak mau berhenti menggali alam bawah sadar, ia kini dihadapkan pada malam sebelumnya. Purnama begitu indah dan besar, menatapnya dari ranting pohon di udara dingin dengan jantung berdebar-debar sebab ia sedang berada di atas pangkuan, dalam rengkuhan peluk lelaki gagah yang tampan. Purnama itu menjadi saksi bisu saat kedua bibir bertaut dalam-dalam di antara napas yang memburu. Udara yang terhembus dari keduanya menjadi kepulan tipis dan hilang dalam sekejap. Romansa kedua insan yang masih belia tersebut terasa kental. Keduanya sedang dimabuk asmara. Ciuman panas yang mereka lakukan tidak cukup jika hanya dilakukan dalam sekejap saja. Nyatanya Pangeran tampan itu merebahkan Syelena di atas tanah, tanpa melepaskan ciuman yang penuh nafsu dan gairah Helena merinding, dengan sangat jelas ia merasakan gairah dan kenikmatan dari gelora asmara mereka. Namun, ia tidak mau berhenti. 'Tidak saat ini, ayolah Syelena, katakan lebih banyak hal padaku,' desah hati Helena. Tumbuh dalam ingatan, sebuah kecurigaan tentang adanya pengadu yang menyampaikan desas-desus tentang hubungannya dengan Pangeran Arion hingga terdengar oleh Raja Cleon yang sedang mengincar Syelena. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Raja Cleon jatuh hati pada putri Jenderal perangnya. Hanya saja ia sedang menunggu waktu yang tepat untuk memboyong Syelena ke istana sebab ia sedang membangun tempat khusus karena tidak ingin Syelena bercampur dengan selir-selirnya yang lain. Saat itulah Helena mengenali wajah-wajah Raja Cleon, Permaisuri Adiba serta Pangeran Damon yang ekspresif. Dalam pandangan Syelena, Pangeran Damon hanya seorang pemuda yang kekanak-kanakkan, tapi di mata Helena, Pangeran Damon adalah wujud dari ketamakan, abisius dan licik. Diruangan yang beroksigen tipis di dalam penjara itulah hidup Syelena berakhir saat serangan jantungnya begitu menyakitkan dan merasa sesak. Detik itu juga, Helena yang lebih mempunyai kekuatan dan tahu cara untuk meredakan jantung bermasalah itu memasuki raga Syelena setelah lepas dari raga aslinya di abad kedua puluh satu. Helena terengah-engah. Jantungnya melemah karena dipicu oleh hal-hal menegangkan dari kehidupan Syelena sebelum ia meninggal. Dengan gerakan cepat, ia meraih ramuan yang telah berbentuk jelly dan meminumnya dalam satu kali teguk. Ia mencoba bangkit dari kursi dan melangkah terhuyung-huyung ke arah ranjangnya. Ia butuh segera merebahkan diri dan tidur panjang. Mengistirahatkan jantungnya agar bisa menyerap pengobatan secara maksimal. Dora memperhatikan gadis itu dari atas ranjangnya. Menunggu kalau-kalau ia dibutuhkan lagi. Tapi sang gadis sudah merebahkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Ia pun segera bersiap setelah mengatur berapa obor yang harus menyala agak suhu bisa stabil di dalam ruangan itu. Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, Abram telah muncul di rumah kayu, menyiapkan anak buahnya dan membawa berbuntal-buntal garam yang diletakkan di area dapur. Kemudian, ia berkeliling memeriksa bekas semak belukar yang kemarin telah dibakar habis dan kini, area itu telah bersih dari tanaman, hanya menyisakan tanah kosong berwarna coklat tua. Sementara bambu-bambu kecil yang ditumpuk di samping rumah telah memiliki potongan untuk disambungan dengan bambu lainnya, tinggal menunggu gadis itu siap memerintah lagi. Puas dengan hal itu, Abram memanggil Dora yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk Helena meskipun, gadis itu tidak menyentuh makanan, tetap saja pagi, siang dan malam, mereka menyiapkannya. Dora tergopoh-gopoh ke arah Abram yang telah menunggunya di teras kayu. Wanita itu bersimpuh sambil menangkupkan kedua tangannya dan menunduk. "Hamba, Tuan," sahut Dora, bersiap menerima perintah. "Kamu bukannya sakit kakinya? Duduklah di sana, gantung kakimu seperti saya ini," ujar Abram yang ketakutan jika gadis itu melihat Dora melipat kakinya. "Hamba, Tuan," ucap Dora sambil mengganti posisi duduknya dan meringis saat kakinya diangkat untuk diluruskan. "Apa yang terjadi kemarin, ceritakan semuanya pada saya. Bagaimana Putri Syelena menjalani hari-harinya dan lain-lain," titah Abram yang merasakan jantungnya bertalu-talu. Ia sungguh-sungguh sangat berminat dengan hal terkecil apapun tentang gadis itu. Dora memahami apa yang dirasakan oleh tuannya tersebut. Sebagi wanita yang lebih lama hidup dibanding Abram, ia telah menyaksikan ratusan kali bagaimana sorot mata lelaki yang sedang menyukai seorang gadis. Namun, sekaligus ia merasa khawatir karena semua orang tahu cerita tentang Syelena D'Arph, sang putri yang menolak dijadikan selir raja karena telah menjalin kasih dengan putra mahkota kerajaan. Bukankah tidak seharusnya tuan kelompok wilders menyukai gadis tersebut? "Dora!" desak Abram melihat wanita tua itu justru termangu-mangu. "Ah, I--iya, hamba, Tuan!" seru Dora terkejut hingga tidak sadar kalau nada suaranya meninggi. "Ma--maaf, Tuan," ucap Dora seraya menangkupkan kedua tangannya atas ketidak sengajaan itu. Anehnya, Abram yang terkenal dingin dan suka membentak itu hanya terkekeh mendengar perkataan Dora, hingga wanita itu pun tercengang-cengang. "Bicara, Dora!" titah Abram dengan serius sekarang. "Hamba, Tuan," ucap Dora sambil berpikir, hal apa dulu yang harus disampaikannya. "My Lady, orangnya seperti galak tapi baik, Tuan. Hamba dilarang bersimpuh karena tahu kaki hamba sakit dan katanya mau meramu obat. Kemarin ada yang datang dari kerajaan apakah menemui Tuan juga?" tanya Dora ingin menyampaikan tapi khawatir tuannya malah sudah tahu. "Dari kerajaan? Prajurit Pangeran Arion? Di mana mereka sekarang?" tanya Abram dengan keterkejutan dan hatinya bagaikan terasa terbakar. "Mereka sudah kembali, yang datang hanya dua orang. Mengabarkan kalau Pangeran Arion dihukum dengan cara diasingkan di dalam istana oleh Raja dan Permaisuri," sahut Dora merasa prihatin atas nasib putra mahkota. Abram terdiam mendengar hal itu, ada sedikit perasaan lega tapi pada saat bersamaan, ia merasa bersalah dan merasa prihatin atas hukuman terssebut. Bagaimana pun juga, pangeran Arion adalah penyelamat dirinya bersama kelompoknya dari amukan Raja yang menganggap kalau kelompok wilders adalah pembelot. Atas dasar ingin membalas budilah, Abram menerima permintaan tolong pangeran Arion untuk melindungi Syelena dari ancaman pembunuhan yang mungkin saja diperintahkan oleh raja setelah diselamatkan oleh pangeran Arion. Terlebih, saat ini, dengan dihukumnya pangeran Arion, maka pencarian atas diri Syelena pasti sedang dilakukan. Abram bergidik ngeri. Ia tidak mampu membayangkan kehilangan seorang Syelena. Tiba-tiba ia berdiri dan berkata, "Kamu, mulai saat ini, waspada dan perketat pengawasan terhadap putri Syelena. Siapapun yang hendak menghadap, harus melapor dulu padaku, paham? Ingat, musuh bisa masuk dari mana saja!" perintah Abram. Seketika Dora gemetar, ia tahu ketika menangkap ketakutan dari aura lelaki itu serta dari nada suaranya bahwa Syelena sedang berada dalam ancaman yang mengerikan. Dengan gugup Dora menjawab, "Hamba, Tuan. Laksanakan," sahut Dora sambil membungkuk hormat. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Abram berlalu dari sana dengan langkah cepat. Dora segera bangkit dan berlari ke dalam kamar Helena dengan jantung berdebar. Baru disadarinya bahwa raja bisa saja menginginkan Syelena terbunuh secepat mungkin. Tidak berapa lama, Dora mendengar suara-suara, semakin lama semakin jelas terdengar, tubuhnya seketika menggigil. Ia mengendap ke arah jendela kamar untuk mengintip dengan perasaan tidak karuan. Tapi, ternyata yang dilihatnya adalah tentara-tentara wilders. Ia pun terduduk lemas dengan perasaan lega. Dalam sekejap rumah kayu itu telah dikepung dari jarak dekat, sedang dan jauh. Abram menempatkan mereka dan membuat tenda-tenda darurat untuk menjaga rumah dengan hanya terfokus pada keselamatan Syelena. Menjelang sore, gadis itu menggeliat dan terbangun dengan perasaan segar dan bugar. Ia menoleh ke arah Dora yang telah menunggunya bangun dengan setia. "Hoaah ..., Dora, kenapa wajahmu pucat? Apa yang sakit?" tanya Helena dengan mimik khawatir. "Tidak ada yang sakit, My Lady," sahut Dora. "My Lady harus makan," lanjut Dora yang segera beranjak ke meja makan di ruangan itu. "Aku belum mau makan, aku mau mandi tapi harus memasang bambu dulu. Ayo, Dora! Kita panggil orang-orang itu dan kerjakan sekarang, mumpung Aku merasa sangat bugar. Kita selesaikan satu per satu pekerjaan, Dora," ucap Helena yang ternyata masih mengenakan baju yang kemarin dipakainya. "My Lady ... tapi, baju itu?" Dora menunjuk pada pakaian di tubuh Helena. "Ah, sudahlah, tak apa. Ayo," ajak Helena seraya bergegas keluar dari kamar. Semua bergerak serentak mengikuti Helena menuju sumber air yang masih murni. Sumber air tersebut ditutup oleh bilah-bilah kayu lebar untuk mengindari salju dan kotoran lain. Di sana ada penampung air yang berukuran kecil yang diperkirakan hanya bervolume tiga meter kubik saja. Melihat hal itu, Helena berpikir, orang tetap harus memindahkan air dari sumur landai tersebut kedalam penampungan, ia harus mempermudahnya dengan memberi tekanan dari dalam air agar bisa terus mengalir kapan pun dibutuhkan tanpa harus memindahkan secara manual ke dalam bak penampungan. . "Ya untuk sementara, bantu saya mengisi bak ini penuh-penuh, nanti saya buatkan kipas atau baling-baling di dalam air agar bak ini selalu penuh," ucap Helena sambil menginstruksikan orang-orang harus bagaimana sampai bambu tersebut menyatu dengan dinding kamar mandinya sambil membuat penutup ujung bambu. Sementara mereka melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh gadis itu, Helena asyik mengutak atik sebilah kayu tipis yang kokoh sambil mengguratkan sesuatu denga ujung ranting yang keras pada kayu itu. Kemudian ia berbalik untuk kembali ke rumah kayu, menenteng dua bilah kayu yang ditemukannya di area mata air. Abram melangkah ke arah Helena dan mereka telah berhadapan saat itu. Kedua pasang mata saling bertaut, hati Helena berdesir saat Abram merunduk untuk mengambil bilah kayu dari tangan gadis itu. "My Lady," sapa Abram dengan gugup. ♧♧♧♧
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD