BAB 2 MEMINTA PERTANGGUNGJAWABAN

1650 Words
Rita mendatangi kamar kost Bobby. Perlahan tangannya mengetuk pintu yang tertutup. Tok, tok, tok! “Mas, boleh aku masuk? Aku perlu bicara sama Mas!” ucap Rita dari luar kamar. Perlahan pintu dibuka dari dalam. “Ada apa Rita,” tanya Bobby. “Boleh aku masuk?” Bobby menyingkir memberi celah untuk Rita masuk. Dari tempat yang agak jauh, tampak sepasang mata mengawasi gerak-gerik mereka. Dia Sastri. Diam-diam Sastri mengendap-endap, menyelinap di dekat kamar kost Bobby dan bermaksud mendengar pembicaraan mereka. “Mas, aku ingin Mas menikahi Mbak Sastri.” Ucap Rita datar. “Aku akan menikahimu saja Rita, aku tak mencintainya, aku cinta sama kamu...” “Dengarkan aku dulu, nikahi Mbak Sastri, lalu ceraikan baru setelah itu kita menikah, Mbak Sastri kan gak butuh kamu, Cuma butuh status!” Deg. Sastri tercekat mendengar kalimat Bobby dan jawaban adiknya itu. Dalam hatinya dia kembali mengumpat Bobby ‘benar-benar bre*gs*k, bisa-bisanya dia menjanjikan menikahi 2 orang saudara kandung.’ Ingin rasanya Sastri menerobos masuk dan menghajar dua orang penghianat itu. Tapi urung, Sastri penasaran, apa yang akan diucapkan Rita lagi. Tak berapa lama kemudian, terdengar lagi suara Rita. “Mas, aku akui, aku juga mencintaimu, dari awal bertemu dulu, aku suka sama Mas Bobby, tapi kini aku sadar, bahwa cinta ini salah. Peduli apa sama Mbak Sastri. Yang aku pikirin bapak sama ibuku Mas. Gimana kalau kedua orangtuaku tahu hal ini. Mbak Sastri itu kesayangan mereka pasti mereka kecewa dengan ini semua.” Sastri masih mendengarkan dengan seksama. Sungguh diluar dugaannya perbuatan mereka itu. Di luar kamar, ada mata yang terasa panas. Dan buliran-buliran bening akhirnya mendesak keluar. Sastri menangis. Teringat masa lalunya dengan seorang laki-laki pacar pertamanya yang telah jauh melangkah bersamanya waktu itu, hingga kejadian terlarang itu dulu juga terjadi padanya. Indra. Satu nama yang terngiang dibenak Sastri. Orang pertama yang telah menorehkan noda di hidupnya. Dan kini noda itu tertindih lagi noda lain. Hidup Sastri berkalang noda dan bermandi dosa. Tak kuat Sastri mendengar pembicaraan kedua orang di dalam kamar sana, disusutnya air mata yang terus mengalir dengan punggung tangannya dan berlalu dari tempat itu menuju ke kamarnya. *** Sesampainya Sastri di kamar. Sastri menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Posisi tertelungkup. Isaknya lirih terdengar sesekali hanya seperti hembusan angin yang meniup. ‘Ya Allah, kenapa semua harus terjadi, kenapa harus Rita yang menjadi orang ketiga antara aku dan Bobby! Apa tidak ada orang lain, ...’ Sastri menggumam. Ingatan Sastri melayang ke masa beberapa tahun lalu. Waktu itu Indra dan dirinya menjalin tali asmara tanpa sepengetahuan orang tua Indra. Dan setelah orang tua Indra tahu, ternyata hubungan mereka dilarang, tak mendapat restu. Dan kejadian terlarang itu mereka lakukan atas nama cinta. Indra berjanji akan bertanggung jawab, namun apa, ternyata Indra disuruh kedua orang tuanya untuk pergi ke luar negri dengan alasan bahwa adik-adiknya butuh biaya untuk menempuh pendidikan, maka dari itu Indra disuruh jadi TKI ke Taiwan. Sastri yang lugu, melepas kepergian Indra dengan derai air mata. Namun hari berganti, minggu berlalu, bulan berganti tahun, tak sekalipun Indra berkirim kabar kepadanya, hingga akhirnya Sastri menganggap bahwa hubungannya dengan Indra kandas sudah dan dia memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Di Jakarta, Sastri bertemu Bobby dan mereka saling jatuh hati. Sebelum bertemu Bobby dan merajut kasih dengannya, Sastri pernah mengenal seorang pria yang cukup ganteng, tampan, hitam manis, tapi waktu itu mereka hanya berteman akrab, dan tak lebih dari itu. Rasa tertarik muncul ketika melihat Bobby dan gayung bersambut. Karena Sastri sudah merasa diabaikan Indra pacar pertamanya, ketika Bobby bilang suka, dia lantas menerimanya. Dalam pikirannya, mungkin Bobby yang akan jadi obat kecewa. Tapi siapa sangka, cinta mereka buta, tak melihat apa dan siapa, muncul orang ketiga yang akhirnya timbul prahara itu. Semua sudah terjadi. *** Rita membuka pintu dari luar. Memang tidak terkunci. “Mbak...” Sastri diam saja dengan posisi semula. Setiap melihat adiknya yang ada hanya amarah yang membuncah. Tak tau harus berbuat apa terhadap adiknya itu. “Mbak, maafkan aku!” Rita merunduk meraih kaki kakaknya yang sedang tertelungkup. Reflek, Sastri menarik kakinya dengan kuat hingga Rita tersentak. “Kamu pikir kata maaf itu menyelesaikan masalah? Hah, kamu pikir dengan maaf semua bisa kembali, kamu pikir harga dirimu kembali dengan maafmu itu, ...” Sastri memarahi kembali Rita. Rita menunduk. Air matanya mengalir menganak sungai tanpa bisa dibendungnya. Rita mengangkat wajah, tapi belum sempat berkata apa-apa, kembali Sastri melanjutkan kalimatnya. “Dari mana kamu, dari tempat baj**gan itu, mengemis cinta lagi,...” Sastri mencibir. Sebelah bibirnya terangkat ke atas. “Iya Mbak, aku ingin Mas Bobby menikahimu.” Jujur Rita menjawab. “Hmmm bagus, bagus sekali, kamu merasa pahlawan dengan begitu, hah, kamu ..., huft, aku gak tau lagi harus bilang apa.” Sesaat suasana sunyi. Tak ada pembicaraan Sastri dan Rita untuk beberapa menit lamanya. “Kamu gak usah pura-pura baik kepadaku, aku tahu semua yang kalian bicarakan, kamu benar-benar gak tau diri, gak tau diuntung!” Sesaat suasana sunyi. Mereka larut dalam lamunan. Ya, kalau saja Sastri masih perawan, mungkin hal menyakitkan ini tidak terjadi. Kini pikiran Sastri bercabang-cabang, antara memperjuangkan harga dirinya dengan meminta status kepada Bobby, atau memperjuangkan adiknya yang keperawanannya sudah direnggut Bobby. Walaupun mungkin itu juga menjadi kemauan Rita yang menyimpan rasa iri untuk sang kakak, namun Sastri tidak ingin jadi orang yang egois. Pikiran itu sungguh membuat pusing. Semarah apapun, sebenci apapun Sastri terhadap Rita, namun hubungan keduanya saudara kandung. Terlahir dari rahim seorang ibu yang sama. Ikatan itu sampai kapanpun tak kan terlepas. Sore berlalu dan malam pun merayap. Dalam kelelahan pikiran, Sastri mencoba memejamkan mata. Namun sampai malam menjemput pagi, mata Sastri tak juga terpejam. *** Sastri berjalan menuju ke kamar kost Bobby. Bermaksud membicarakan baik-baik apa yang telah terjadi. Namun belum sempat Sastri mengetuk pintu, samar terdengar suara dari dalam. Suara seorang perempuan. “Kamu itu maunya apa si Bob, memacari anak orang kakak beradik saudara kandung, dan mereka kamu nodai semua?” Bobby tak menjawab. “Mbak gak mau ya punya ipar salah satu dari mereka. Baiknya kamu pulang saja, atau pergi saja ke mana terserah kamu, yang penting jauhi mereka!” ucap perempuan itu lagi. ‘Mbak Purwati tau masalah ini rupanya, memang masalah ini cepat tersebar karena aku memarahi Rita dengan suara keras,’ Sastri membatin. Ternyata perempuan itu Mbak Purwati kakak kandung Bobby. Tak mau lebih lama lagi mendengar pembicaraan mereka, Sastri mendorong pintu kamar kost Bobby dan menyeruak masuk dan mengagetkan dua orang itu. “Kamu..., gak sopan masuk rumah orang main nyelonong saja!” hardik Mbak Purwati. “Maaf Mbak, aku sengaja masuk. Tadi aku mendengar pembicaraan kalian. Kamu Mas, apa kamu akan menuruti permintaan Mbak Pur?” Sastri menjawab dan dilanjutkan bertanya pada Bobby. “Sudah semestinya Bobby menuruti kemauan kami, Bobby laki-laki dan masih muda, dia bebas melangkah” Mbak Pur yang menjawab. “Mas, aku butuh status dari perbuatan kita, nikahi aku lalu ceraikan, dan setelah itu menikahkahlah dengan adikku!” sahut Sastri lagi. Ucapan Sastri membuat Mbak Pur murka. “ Apa-apaan kamu ini, kamu pikir nikah itu main-main?” “Maaf Mbak, ini urusanku dengan adikmu yang kurang aj*r ini. Kami ternoda olehnya, oleh karena itu dia harus bertanggungjawab.” Lagi Sastri menjawab. Suasana tegang. Bobby yang dari tadi diam ikut angkat bicara. “Sas, beri aku waktu ya untuk memikirkan itu semua!” pinta Bobby. “ Berpikir untuk apa Mas, semua sudah jelas, kamu harus bertanggungjawab, kami harus punya status!” jawab Sastri ketus. “Aku tidak menuntut jadi istrimu selamanya, aku hanya ingin status saja, bahwa aku janda setelah kamu ceraikan, dan kamu boleh menikahi adikku setelah itu. Seperti yang kamu ucapkan pada adikku kemarin. Maaf kemarin aku mendengar pembicaraan kalian dari luar kamar!” ucap Sastri lagi. Bobby terkejut, ternyata Sastri tau rencananya. “Oke, beri aku waktu tiga hari untuk urus semuanya Sas, nanti aku datang padamu memenuhi permintaanmu!” jawab Bobby akhirnya. Sastri mengangguk kecil, lalu pamit keluar. *** Seperti kata Bobby, dia menjanjikan waktu 3 hari. Namun kini tiga hari yang dijanjikan sudah lebih dari sepekan berlalu. Dan Bobby mengingkari janjinya. Sastri berjalan menuju tempat tinggal Mbak Purwati _kakak Bobby. Tok! Tok! Tok! Sastri mengetuk pintu. Pintu dibuka dari dalam, muncul seorang laki-laki 40 tahunan. Mas Trimo, kakak ipar Bobby. “Cari siapa Mbak?” Belum sempat Sastri menjawab, Mbak Purwati keluar dan dengan wajah menghina Sastri dia berkata, “mau apa ke sini, Bobby tidak di sini lagi!” Sastri terkejut. Ternyata Bobby benar melarikan diri dari tanggung jawab. ‘Apa mungkin Rita dan Bobby yang merencanakan ini semua, ya Tuhan, aku harus bagaimana?’ Sastri membatin mendengar ucapan Mbak Purwati. “Ada apa ini Pur?” tanya Mas Trimo pada istrinya. “Ini Mas, perempuan ini ngaku-ngaku pacarnya Bobby dan dinodai oleh Bobby.” Jawab Mbak Pur. “Benar itu Mbak?” tanya Mas Trimo pada Sastri. Sastri mengangguk lemah. Harapannya untuk memiliki status hilang sudah. Dan harapan untuk memperjuangkan harga diri adiknya juga pupus. Mata Sastri terlihat berkaca-kaca. Dia menangis di hadapan keluarga congkak itu. “Mbak, kenapa Mbak begitu jahat pada kami? Sebelum ini kita tak ada hubungan apa-apa. Dan perbuatan Mas Bobby itu meninggalkan noda bagi kami. Apa salah kami pada keluarga Mbak. Mbak kan yang menyuruh Bobby pergi?” “Astaga, Pur, kenapa Bobby disuruh pergi? Bukankah memang seharusnya Bobby bertanggungjawab?” Mas Trimo menimpali ucapan Sastri. “Maaf Mas, aku gak mau punya ipar macam perempuan ini. Dia kotor, pasti dia berbuat begitu tidak Cuma dengan Bobby saja. Kenapa harus Bobby yang bertanggungjawab?” “Mbak, Mbak juga perempuan kan, punya anak juga kan, kalau hal ini menimpamu bagaimana Mbak, pikirkan itu, Tuhan pasti punya balasan untuk kesombongan kalian!” Sastri menjawab panjang lebar seolah sedang menyumpahi Mbak Purwati. Setelah ucapannya itu, Sastri keluar tanpa pamit. Harga dirinya seperti diinjak-injak orang yang sombong itu. Mas Trimo yang tak tahu menahu masalah itu, tak mampu berbuat banyak. Dibiarkannya Sastri yang telah menjauh dari tempat tinggalnya. *** bersambung, Bantu like, share, komen dan subscribe nya readers semua, ??????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD