BAB 3 TEMAN SEPERJALANAN

1911 Words
Sastri mengemas semua pakaiannya serta apa-apa yang perlu dibawanya pulang. Tekadnya sudah bulat untuk meninggalkan kota yang tak pernah tidur itu. Harapan untuk memperjuangkan harga diri untuk sekedar status pun kandas sudah. Nyatanya Bobby lari dari tanggung jawab. Entah ke mana pengecut itu lari. Setelah selesai berkemas, Sastri merebahkan diri, menerawang langit-langit kamar. Sedih dengan nasib yang menimpanya. Tak habis pikir dengan perbuatan adiknya. Ketika Sastri sedang termenung, Rita masuk ke dalam kamar. “Mbak, ini apa, Mbak Sastri mau ke mana?” tanya Rita. Sastri menghela napas berat. Lalu katanya, “ pulang, aku sudah berusaha berjuang untuk harga diriku dan harga dirimu, tapi pengecut itu kabur. Bobby lari dari tanggungjawab, aku gak tau harus gimana lagi!” “Maksudnya berjuang, apa Mbak? Aku ingin Mbak Sastri yang menikah dengan Mas Bobby...,” “Cukup Rita, “ potong Sastri, “sekarang sudah gak usah lagi membicarakan hal itu, aku mau pulang. Sebentar lagi aku ke agen, kamu, terserah kalau masih mau bekerja di sini, aku gak peduli!” Rita terdiam. Dia tahu betul sifat kakaknya itu. Tidak mau dibantah. Benar memang, sekarang semua sudah berakhir, dan Sastri harus pulang. Padahal dalam hati Rita girang bukan kepalang. Harapan untuk memiliki Bobby nyata di depan mata. Rencananya menyuruh Bobby pergi sementara waktu berhasil. “Oh ya Mbak, aku minta maaf ya, kirim salam buat bapak sama ibu, tolong jangan ceritakan hal ini pada mereka, dan ikhlaskan saja, kalau Mas Bobby nanti kembali padaku!” ucapan Rita kembali menghentak jantung Sastri dan memompa darah lebih cepat. Sastri hanya terdiam menahan amarah. *** Pukul 14:30, Sastri bersiap menuju agen bus malam yang akan mengantarnya pulang ke kampung halaman. Setelah ojek motor pesanannya datang, Sastri segera berangkat ke agen. Sesampainya di agen, Sastri mendatangi loket yang melayani pembelian tiket. “Hei, Sastri, kamu mau pulang juga?” sapa seseorang mengagetkannya. “Hmm, iya, kamu mau pulang?” tanya Sastri tergagap. Pikirannya meraba-raba, mengingat wajah tampan, hitam manis, dengan kumis tipis di hadapannya. “Sudah, kamu gak usah bayar tiketnya, biar aku saja sekalian!” ucap laki-laki tampan itu lagi. Agung. Iya. Dia Agung, orang yang pernah satu tempat kerja dengannya waktu itu. Sempat dekat, tapi belum pacaran. Tak menyangka kini bertemu lagi di agen bus yang akan membawa mereka ke Jawa Tengah. Pertemuannya dengan Agung waktu itu, adalah pertama kalinya Sastri mengenal laki-laki di kota besar itu, jauh sebelum mengenal Bobby. “Jangan Agung, aku bayar sendiri saja!” ucap Sastri akhirnya. “Sudah, jangan ditolak, gak baik nolak rejeki.” Agung menyahut dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya kepada penjaga loket. “Terima kasih Gung,.” Ucap Sastri pendek. Agung orang Purwokerto. Sedang Sastri orang Purworejo. Jadi mereka satu jurusan. Dulu pernah mereka pulang bareng. Pada waktu itu... “Kamu Sastri kan, mau ke mana kok naik jurusan Jawa Tengah?” “Pulang lah, kamu sendiri mau ke mana, bukannya kamu orang Betawi, ko naiknya bus ini juga?” balas Sastri. “Aku mau ke kampung halaman, kamu orang padang ko pulang ke Jawa, emang gak nyasar?” tanya Agung lagi. “Aku asli Jawa Tengah, Agung, kamu Jawa Tengah juga, di mananya?” “Purwokerto.” Jawab Agung lagi. “Oh ya Sas, setahu aku kamu orang Padang lho, ternyata jawir juga, sama ternyata” “Iya ya, kupikir kamu juga bukan orang Jawa ternyata aku salah.” Perjalanan itu terjadi 2 tahun lalu. Waktu itu, Sastri dekat dengan Agung karena kebetulan kerja di tempat yang sama. Tak disangka, kini mereka pulang bareng lagi. *** Jam keberangkatan bus malam yang menuju ke Jawa Tengah telah tiba. Pihak agen menghimbau kepada para penumpang untuk segera masuk ke dalam bus dan menempati tempat duduk masing-masing. Sastri pun telah menempati tempat duduknya. Di pojok belakang sebelah kanan lurus dengan jok kemudi. Baru saja Sastri duduk dan menaruh barang bawaan, dia dikejutkan dengan kehadiran Agung di sebelahnya. “Lho, kamu, sengaja ya cari tempat duduknya?” Sastri bertanya disela keterkejutannya. “Kenapa, gak boleh?” tanya Agung cuek sambil menjatuhkan p****t di samping Sastri. Sastri tersenyum kecil. Senyum pertama setelah apa yang menimpanya akhir-akhir ini yang menguras pikiran dan airmatanya. Agung pun tersenyum. Bus mulai bergerak perlahan naik ke jalan raya dan segera membelah keramaian jalan di kota itu. Sastri membuang pandang ke luar melalui kaca di sebelahnya duduk. Pikirannya kalut. Hatinya masih nyeri atas penghianatan itu. Diam-diam Agung memperhatikan Sastri. “Sas, kamu baik-baik saja kan?” Agung bertanya lirih. Namun yang ditanya ternyata sedang hanyut dalam lamunan. Tampak Sastri mengusap mata dengan punggung tangannya. Sepertinya Sastri menangis, dan itu semakin membuat Agung penasaran dan kembali bertanya. “Kamu kenapa Sas, kalau berat meninggalkan Jakarta kenapa kamu pulang?” seloroh Agung berniat melucu, tapi tetap tak mengundang tawa. Sastri coba menyungging bibir, tersenyum. “Ah, kamu bisa saja bercandanya Gung, ngapain juga aku berat ninggalin Jakarta, aku punya kampung yang asri, kayaknya lebih damai hidup di kampung, mungkin aku menetap di kampung saja.” Ucap Sastri datar akhirnya. Agung terkekeh, dan hal itu mengundang Sastri untuk ikut tersenyum. Perjalanan mereka serasa menyenangkan. Mereka bercanda, tertawa bersama. Bercerita saat masih kerja di tempat yang sama. Agung begitu perhatian. Waktu masih bekerja di tempat yang sama, sampai saat ini Agung tidak banyak berubah. Setelah lelah berbincang, Sastri menguap dan Agung paham, Sastri mengantuk. Disuruhnya Sastri tidur, dan Agung sendiri juga mencoba memejamkan mata. Saat kemudian, mereka terlelap, hingga akhirnya bus berhenti di sebuah rest area plus rumah makan di daerah Subang. *** “Ayo kita turun Sas,” ajak Agung. Sastri menggeleng, lalu katanya, “males ah.” “Perjalanan masih lama, kamu gak sarapan dulu, dari sore kita ngobrol gak sambil ngemil lho.” “Kamu saja kalau mau turun Gung, aku mau di sini!” Agung beranjak dan turun dari bus. Kemudian Agung menuju ke seorang penjaja mendoan, tempe yang digoreng dengan tepung dengan minyak yang panas, jadi seperti gorengan setengah matang. Enak dimakan saat kondisi masih hangat. Agung membeli beberapa potong, tak lupa membeli teh hangat juga dengan gelas kemasan. Lalu dibawanya masuk kembali dan mengajak Sastri menikmatinya bersama. “Kamu kenapa repot begini Gung, aturan kamu saja yang sarapan nasi, aku gak selera makan!” “Huss, gak boleh gitu, nanti kamu sakit gimana?” Agung begitu perhatian. Sastri pun menikmati sepotong mendoan dan menyeruput teh hangat pelan-pelan. Ternyata enak, diambilnya lagi sepotong mendoan dan tehnya diminum sampai habis. Agung tersenyum senang melihatnya. “Kamu gak berubah Gung! Apa gak ada yang marah kamu perlakukan aku seperti ini?” Sastri membuka pembicaraan agak serius. “Siapa yang marah, aku jomblo ko, aku masih menanti seseorang membuka hatinya untukku...” Agung menggantung kalimatnya menunggu reaksi Sastri. Sastri tergagap. ‘Menunggu seseorang membuka hati, siapa yang Agung tunggu?’ Sastri membatin. “Aku pernah menyukai seseorang, dalam waktu yang lama, bertahun-tahun, tapi aku tak mampu mengutarakannya, takut ditolak!” kembali Agung bicara. “Siapa?” tanya Sastri singkat. “Benar kamu ingin tahu?” Agung menggoda Sastri. Sastri tersipu. “Hmmm, kalau boleh, kalau gak, gak maksa.” Agung terkekeh mendengar kepasrahan Sastri. “Kenapa tertawa?” lagi Sastri bertanya. Disela obrolan itu, kondektur bus mengingatkan para penumpang untuk kembali menempati tempat duduk masing-masing. Perjalanan dilanjutkan. *** Bus masih melaju ditengah gelap pekatnya dini hari itu. Para penumpang ada yang tertidur lagi, ada pula yang berbincang, dan ada pula yang muntah karena mabuk kendaraan. Tak terkecuali Sastri dan Agung. Sepertinya mereka masih terlibat pembicaraan yang serius. “Sas,...” Agung memberanikan diri menggapai tangan Sastri dan menggenggam erat jemarinya. Sastri refleks menarik tangannya dan ucapnya “ada apa Gung?” “Ma_maaf, maaf Sastri, ...” “Kamu kenapa?” “Aku ingin kamu tahu, bahwa orang yang ku nantikan membuka hatinya untukku itu, kamu!” ucap Agung tegas akhirnya. Tanpa dikomando, air mata Sastri mengalir membasahi pipi. Teringat waktu itu sebelum Sastri mengenal Bobby. Di tempat kerja, banyak temannya mengolok Agung dan Sastri pacaran. Memang waktu itu mereka sangat dekat. Tapi sayang kedekatan mereka hanya sebatas teman akrab, walaupun mungkin di hati Agung waktu itu sudah menanam harapan. Sayang seribu kali sayang, waktu itu Sastri sedang terluka karena Indra. Hingga dia enggan membuka hati untuk siapapun, tak terkecuali Agung. Sampai tiba waktu yang memisahkan mereka, Sastri keluar dari tempat kerja karena ada kerjaan di tempat lain, dan Agung waktu itu juga terus entah ke mana. Hilang kontak, gak saling bertukar alamat. Agung seperti tak mendapat sinyal, maka dari itu, Agung melepas Sastri begitu saja. Dan kini mereka bertemu kembali, di bus malam yang sama, sejurusan juga, namun disayangkan pertemuan itu tidak pada waktu yang tepat. Karena saat ini Sastri sedang terluka lagi. Cukup lama Sastri melamun, sampai Agung membuyarkan lamunannya. “Mungkin aku tak pantas buatmu Sas, tapi aku lega karena yang terpendam selama ini, sudah diketahui yang bersangkutan!” Mendengar itu kembali Sastri menitikkan air mata. Perasaan Sastri berkecamuk. Antara senang juga sedih. Mungkin Agung memberi harapan indah untuknya, tapi keadaan diri Sastri yang membuatnya sedih. “Maafkan aku Gung, aku ...” Sastri tak melanjutkan kata-katanya. “Kamu gak usah minta maaf, kamu gak salah, aku yang minta maaf sudah mengusik hatimu, kalau kamu tak berkenan, lupakan saja!” Sastri masih menangis. Agung merengkuh pundak Sastri dan disandarkannya di d**a kanannya. Tangan Agung mengusap lembut kepala Sastri. Agung tetap menganggap Sastri seperti waktu itu, sahabat, teman akrab. Perlakuannya terhadap Sastri tulus tanpa dibubuhi napsu. Benar-benar tulus. Cukup lama mereka ada pada posisi seperti itu. Di d**a laki-laki tampan, hitam manis, tinggi, berdada bidang, berkumis tipis, beralis tebal dengan tatap mata tajam namun teduh, Sastri seperti mendapat tempat untuk bersandar, berbagi beban yang tengah menghimpit hatinya saat itu. “Agung, maafkan aku, karena aku belum bisa menjawabnya ya, biarkan waktu saja yang menjawab dan mempertemukan kita lagi, bila memang kita ditakdirkan berjodoh!” ucap Sastri mantap akhirnya. “Aku yakin, kamulah tulang rusukku yang patah satu, aku akan menunggu waktu itu!” sahut Agung dengan yakin. Dan lagi-lagi perpisahan pun tiba. Karena Agung sudah hampir sampai tujuan. “Sas, boleh minta alamat rumahmu?” “Buat apa, Gung?” “Ya sudah kalau kamu keberatan, gak apa. Aku turun dulu ya. Jaga dirimu baik-baik, semoga waktu mempertemukan kita kembali, segera!” Agung menjabat tangan Sastri erat, seolah enggan melepasnya lagi. Tapi Agung sadar, mereka belum punya hubungan yang lebih dari sahabat akrab. Bus berhenti dan Agung segera turun meski terasa berat di hati. *** Setelah Agung turun di Purwokerto, kini tinggal Sastri sendiri lagi. Meskipun masih ada beberapa penumpang lain, namun bagi Sastri tetap ada yang terasa kosong di salah satu relung hatinya. Tak dapat dipungkiri, Sastri juga menanam harapan kepada Agung. Tapi keadaan dirinya yang kotor, membuatnya tak bisa serta merta menjalin rasa terhadap lawan jenisnya untuk saat ini. Luka yang digoreskan Bobby dan adiknya yang telah menghianatinya, begitu dalam di hatinya. Pedih, perih, saaaaakiiiiit walaupun tak berdarah. Sastri tersenyum getir. Ada sesal di hatinya, kenapa menolak permintaan Agung yang meminta alamat rumahnya. Namun segera ditepisnya rasa itu, merasa tak pantas berharap banyak pada laki-laki yang sebenarnya juga dia sukai. Noda yang membekas itu tak mudah terhapus. Sastri tetap merasa kotor. Lama Sastri menekuri nasib diri, hingga tanpa sadar bus berhenti dan Sastri sudah sampai tujuan. Sastri turun dan segera memanggil tukang ojek untuk mengantarnya pulang ke rumah. *** Akankah mereka bertemu lagi kelak dan berjodoh, nantikan kelanjutannya ya Readers sayang, ??? ??? note: mungkin di beberapa part ke depan, tokoh Agung akan tenggelam, seolah lenyap, tapi nanti di akhir cerita, tokoh Agung akan muncul lagi, perannya seperti apa? Ikuti terus ceritanya ya, ??????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD