PERNIKAHAN RITA DAN BOBBY
Dua 2 buah motor berhenti di depan kios Pak Bardi.
Di masing-masing motor, ada 2 orang. Sepertinya ojek.
Ternyata benar.
Rita pulang bersama Bobby.
Mereka berjalan menuju belakang kios. Karena matahari belum naik begitu tinggi, bahkan fajar pun baru menghilang, kios masih sepi. Biasanya kios akan buka sekitar jam 8.
Rita mengetuk pintu.
Dari dalam muncul raut wajah laki-laki yang tidak terlalu gagah, namun berwibawa. Di usianya yang sudah 45 tahunan, belum ada uban di kepala. Membuat laki-laki itu nampak lebih muda dari usia sebenarnya. Beliau Pak Bardi.
Rita menyalami tangan sang bapak diikuti Bobby di belakangnya.
Sandiwara yang sempurna.
Bobby terlihat seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Senyum yang merekah dari keduanya menggambarkan senyum bahagia, bahwa sebentar lagi mereka akan membina biduk rumah tangga.
Mereka tak memikirkan, ada hati yang terluka, tercabik-cabik, hancur berantakan.
Tergopoh-gopoh sang ibu keluar dari ruang dalam, menyambut kedatangan dua orang yang telah dengan kejam membuat Sastri merasakan sakit yang teramat sangat.
“Kalian sudah datang, ayo istirahat dulu!” ucap Bu Bardi sambil menyambut uluran tangan mereka yang menyalaminya.
Keduanya mengangguk.
Di ruang belakang ada beberapa ibu tetangga yang sedang membantu persiapan pernikahan mereka.
Ada Sastri di antara mereka.
“Kamu gak ikut menyambut adikmu Sas?” tanya salah seorang dari mereka.
Sastri tersenyum. Hanya senyum itu. Dan hanya di bibirnya saja, karena hatinya sedang tidak karuan atas perlakuan mereka kepadanya. Sakit yang tak terperi.
Karena tak ingin berlama-lama ada di antara ibu-ibu itu, Sastri pamit dengan alasan mau ke pasar ada yang kurang untuk persiapan lusa saat pernikahan di gelar.
***
Rita mencari kakak semata wayangnya. Ternyata Sastri di kios. Menyendiri. Karena sedang ada hajatan kios tutup. Tapi di dalam kios ada ruang semacam kamar lengkap dengan kasurnya. Sastri sedang rebahan memandang langit-langit kamar.
“Mbak...,” Rita mengagetkannya.
Sastri menoleh lalu ucapnya “apa?”
“Mbak masih marah sama aku ya? Udahlah Mbak, ikhlasin mas Bobby sama aku ya, dia cintanya sama aku, bukan sama Mbak Sastri...”
Sastri melototi adiknya, geram.
“Bisa gak, gak bahas masalah itu, yang aku ingin bapak sama ibu bahagia, dan biarkan beliau berdua gak usah tau kelakuanmu, dan semoga aku bisa melapangkan d**a menerima penghianatan kalian yang kejam itu!?!” tegas Sastri bicara.
“Ya asal Mbak tahu ya, dari awal melihat Mas Bobby aku jatuh cinta, aku gak peduli siapa dia Mbak, aku suka, aku cinta....”
“Cukuuuup...,” Sastri memekik, “tinggalkan aku sendiri kalau mau pernikahanmu lancar. Dan nikmati cintamu yang buta itu, pergi....”
Rita menyungging senyum mencibir.
“Tenang Mbak, Mbak Sastri kan mudah dapetin laki-laki, bentar lagi juga pasti dapat lagi!”
“Sebelum ada orang ke sini dan tahu semuanya, tinggalkan aku sendiri, atau kamu milih gagal menikah dan bapak ibu mendapat malu, hah...?” Sastri bangkit sambil membuka tangan mempersilakan Rita untuk keluar.
***
Sebelum Rita dan Bobby menggelar acara lamaran.
“Rita, lega kan kamu, akhirnya kita akan menikah?”
“Iya donk Mas, lagian ngapain juga kamu nikahin Mbak Sastri yang katanya hanya minta status doang sama kamu. Mbak Sastri cantik si, tapi agak gampangan gitu, dulu dia pacaran ma orang satu kampung. Dan kejadian terlarang itu mereka lakukan, sebelum mereka mendapat persetujuan dari pihak pacarnya itu. Itu sebabnya dia sudah gak perawan lagi.” Rita bercerita panjang lebar, membuka aib kakaknya. Seperti menelanjangi diri di depan Bobby si, kan dia beda dikit sama Sastri.
“Oh, begitu ceritanya?” Bobby menanggapi pendek cerita Rita. Lalu lanjutnya, “tapi kemarin kamu bilang menyesal, berantem sama kakakmu itu, maksudnya apa,”
“Pura-puralah Mas, Mas puaskan jadi yang pertama menjamahku, aku ikhlas ko Mas, tapi syaratnya, aku ingin bahagia bersamamu, aku udah nyakitin Mbakku itu Mas, jadi jangan sia-siakan aku ya!” Rita bergelayut manja di pundak Bobby sambil mengucapkan kata-kata itu.
Bobby tersenyum menatap Rita. Ada pendar bahagia dari sorot mata keduanya, yang entah akan sampai kapan bertahan.
“Untung kamu ngikutin saranku Mas, coba kamu gak ngilang sementara waktu,Mbak Sastri pasti terus mengejarmu, minta status darimu, dan aku gak mau itu terjadi.” Lagi Rita berbicara.
Bobby mendekatkan tubuhnya, memeluk pinggang Rita, dan katanya,”ternyata kamu kejam ya!”
“Hmmm, aku gak suka sama Mbak Sastri Mas, dia dengan mudah dapatin apa yang dia mau, sedang aku? Wajah lebih cantik dia, kulit lebih putih dia, untung kamu lebih milih aku, jadi aku menang kali ini!”
Rita membeberkan segala apa yang dirasa.
Rencana untuk membokong Sastri benar-benar berjalan mulus. Karena hal itu pun sudah mereka bicarakan dengan kakaknya Bobby dan keluarganya.
Benar-benar licik mereka.
***
“Kenapa Bobby hanya sendiri, dia gak bawa saksi?” tanya ibu hati-hati pada Rita.
“Emang harus bawa saksi dari sana Bu, enggak kan? Yang penting di sini nanti ada saksinya Bu, lagian kan nanti langsung dicatat di KUA dan kita juga langsung dapat surat nikah, jadi tetap sah Bu!” Rita menjawab panjang lebar.
Ya Bobby datang sendiri. Mas Trimo dan Mbak Pur tidak mau datang. Mungkin tidak mau bertemu Sastri.
Ibu menganggukkan kepala mendengar jawaban Rita.
“Oh ya, kakakmu dari pagi gak keliatan, ke mana dia?”
Rita tergagap.
“Ehm, entah Bu, aku juga gak tahu!” Jawab Rita.
“Mungkin lagi istrirahat, agak kurang enak badan, kemarin muntah-muntah!” ucap Bu Bardi hanya seperti menggumam saja.
‘Muntah-muntah...’ Rita membatin, ‘jangan-jangan Mbak Sastri hamil, dan itu anaknya Mas Bobby, tapi... tidak, itu tidak boleh terjadi, Mas Bobby itu milikku, gak rela aku kalau harus mengembalikannya lagi pada Mbak Sastri’
Senja telah datang, dan petang menjelang.
Kesibukan masih nampak di kediaman Pak Bardi. Sore itu di rumah yang cukup besar itu sedang digelar acara kenduren dan esok hari akan diadakan pesta pernikahan sederhana.
Setelah selesai acara kenduren, warga yang diundang membawa pulang nasi berkat mereka. Sebagian ada yang datang lagi ke rumah Pak Bardi untuk jagongan, ada juga yang tetap memilih untuk tidur di rumah.
Cukup ramai suasana malam itu.
Bobby dan Rita nampak selalu tersenyum melihat para tamu.
“Rita, istirahat dulu, besuk pagi-pagi kamu harus dirias lho, biar gak ngantuk, ajak Bobby istrirahat juga!” sang ibu mengingatkan.
“Iya Bu!” jawab Rita.
“Ayo Mas, istirahat!” ajaknya pada Bobby.
Bobby hanya menurut saja. Memilih tak banyak bicara.
Mereka beranjak dan menuju ke kamar, beristirahat.
***
Bobby berbaring, memandang langit-langit kamar.
Sementara Rita yang tidur di dipan sudah berlayar ke samodera mimpi.
Pikiran Bobby kalut.
‘Bagaimana bisa akhirnya aku akan menikahi Rita? Padahal, jelas-jelas Sastri jauh lebih cantik, lebih dewasa, tapi hanya karena masa lalunya, aku telah menyakitinya! Dan dari kemarin aku datang ke rumah ini, hanya sekilas melihatnya, apa dia baik-baik saja?’
Bobby berbicara sendiri dalam hati. Ada rasa bersalah terhadap perempuan secantik Sastri. Tapi juga tak mungkin lari dari pernikahan ini. Pernikahan dengan Rita, adik semata wayang Sastri yang telah menjeratnya dengan cinta buta.
Memaksa terpejam, namun tak juga bisa. Dan Bobby memilih keluar kamar mencari udara segar untuk menghilangkan pikiran suntuknya.
Jarum pendek jam menunjuk angka 2, berarti sudah dini hari. Para tamu yang jagongan sudah pulang sebagian dan tinggal beberapa saja yang masih duduk, ada juga yang tertidur di kursinya.
Bobby memilih duduk di pojokan tarub menyendiri. Masih memikirkan tentang Sastri. Bobby mencintai keduanya. Tapi Rita yang telah memenangkan hatinya. Alasan karena Bobby orang pertama yang menyentuhnya, maka Rita menuntut tanggungjawab Bobby tanpa menghiraukan perasaan Sastri.
Bobby tak dapat menolaknya. Walau dalam hati kecilnya dia merasa jadi orang yang kejam, menyakiti Sastri sedemikian rupa.
***
Di kamar Sastri.
Terbaring memandang langit-langit kamar. Matanya basah oleh air mata. Hatinya perih. Tak tahu harus berbuat apa.
Kalau saja tak memikirkan perasaan kedua orangtuanya, ingin rasanya Sastri bicara jujur atas apa yang sudah terjadi. Tapi semua ditahannya dan dipendam sendiri, demi orangtuanya.
Mengingat saat-saat pertama Bobby menyatakan cinta, membuatnya menangis, saat Bobby bilang hanya ada Sastri dihatinya. Bahagia Sastri saat itu. Harapan ke depan untuk merengkuh manisnya hidup dengan Bobby terbayang di depan matanya. Sampai-sampai saat itu Sastri lupa akan luka dan noda yang telah ditorehkan Indra untuknya.
Saking terlenanya dengan cintanya Bobby, Sastri pun seolah lupa dengan teman baik seperti Agung.
Sampai pagi menjemput, Sastri tak bisa tidur, matanya selalu basah. Seakan ada derita di atas derita, ada luka di atas luka.
Bagaimana tidak, Bobby menghianatinya dan pagi menjelang siang nanti bakal bersanding dengan adik yang disayanginya, meski Rita telah dengan sangat kejam menyakitinya.
***
Pagi menjelang. Perias pengantin sudah datang dari habis subuh tadi. Wajah Rita sudah dimake up sedemikian rupa. Manglingi memang.
Bobby juga sudah bersiap.
“Mbak Sastri mana Bu, gak keliatan?” tanya Rita.
“Masih di kamarnya mungkin, coba ibu lihat dulu ya!”
Bu Bardi meninggalkan kamar tempat di mana Rita sedang disiapkan untuk acara akad nikah yang tidak lama lagi akan dilaksanakan.
Tok!
Tok!
Tok!
“Sas, kamu masih di kamar Ndhuk, kamu baik-baik saja kan?”
Terdengar pintu dibuka dari dalam. Nampak Sastri melongok ke luar kamar, mempersilakan ibunya masuk.
“Aku gak apa-apa Bu, aku baik-baik saja!”
“Tapi kantung mata kamu, kamu seperti habis nangis, kenapa? Kamu sedih ya,...”
Bu Bardi meraih tubuh sulungnya, mendekap erat dalam pelukan, menyalurkan kekuatan untuk putrinya itu.
“Sas, ibu tahu perasaanmu saat ini, kamu yang sabar ya, tidak lama lagi putri ibu yang cantik ini juga pasti ketemu jodoh!” sang ibu menghibur.
Sastri semakin terisak dalam pelukan perempuan berusia 43 tahun tersebut.
Bukan sedih karena dilangkahi sang adik, tapi sedih karena diri yang ternoda dan berdosa, ditambah lagi, orang yang sedang berbahagia menunggu kata ‘sah’ itu mereka yang telah membuat luka sangat dalam.
Demi orangtuanya, Sastri menutupi semuanya, merelakan haknya dirampas demi sang adik bahagia. Adik yang tak tahu diri tentunya.
“Bu, maafin aku ya, aku gak sanggup keluar menyaksikan akad nikahnya Rita, ibu gak apa-apa kan?” Sastri memohon pada ibunya.
Bu Bardi merenggangkan dekapannya, ditatapnya wajah kuyu putrinya. Ada raut lelah yang mendalam di sana. Bu Bardi menganggukkan kepalanya pelan, tanpa mengucapkan apa pun lalu kemudian pamit keluar.
***
Rita sudah siap dengan busana pengantinnya. Demikian juga Bobby. Mereka duduk mengapit Pak Bardi selaku wali nikahnya Rita.
Di hadapan mereka, Bapak Penghulu juga sudah bersiap untuk menikahkan. Petugas pencatat nikah juga sudah siap di tempatnya.
Para saksi sudah menunggu peristiwa sakral akad nikah dilaksanakan.
Bapak penghulu menjabat tangan Pak Bardi dan bertanya apakah Pak Bardi ingin menikahkan putrinya sendiri atau mewakilkannya kepada beliau. Pak Bardi menjawab, bahwa beliau ingin mewakilkan menikahkan putrinya kepada Pak Penghulu. Setelah berikrar mewakilkan, pak Penghulu menjabat tangan Bobby dan membacakan akad nikah mereka.
“Saudara Bobby!”
“Ya!”
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Rita binti Bardi dengan mas kawin emas seberat 5gram yang telah dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Sastri Binti Pak Bardi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi, ?”
“Tidak Sah.” Para saksi serempak menjawab.
Pak penghulu mengulangi lagi ikrar akad nikah yang dijawab salah oleh Bobby.
Sementara itu, mata Rita berkaca-kaca, kesal campur malu, kenapa bisa Bobby gak konsen dan salah menyebut namanya, malah menyebut nama kakaknya.
Bobby mengusap wajah kasar. Malu juga. Kenapa bisa salah begitu. Apakah sebenarnya yang dirasakan Bobby. Kenapa menyebut Sastri tadi.
Setelah 3 kali mengulang, akhirnya Bobby menjawab dengan benar, dan pernikahannya dengan Rita sudah sah dimata agama dan negara dan memiliki kekuatan hukum karena sudah dicatat oleh petugas pencatat nikah. Akta nikah juga sudah ditandatangani Bobby.
Seusai acara akad nikah, tidak ada pesta resepsi. Di samping tanpa rencana, kedua orang tua Rita juga sengaja tidak menyebar undangan, mengingat ada hati yang tengah terluka karena pernikahan Rita.
Pak Bardi dan istrinya tidak tahu kejadian sebenarnya, baik Sastri maupun Rita tidak ada yang bercerita perihal aib tersebut. Jadi mereka hanya semata-mata menjaga perasaan gadis cantik yang dilangkahi adiknya. Terlebih Sastri juga pernah terluka sebelum ini karena Indra.
Seusai acara, kediaman Pak Bardi nampak sepi. Para tetangga yang membantu persiapan semua sudah pulang. Tinggal beberapa saja yang merupakan kerabat dekat keluarga itu.
Setelah selesai beberes mereka yang masih tertinggal pun segera berpamitan untuk pulang.
Rita dan Bobby sudah masuk ke kamar.
***
Di dalam kamar sepasang pengantin baru itu sepertinya ada keributan.
“Mas, apa maksudmu sampai salah sebut nama tadi?” tanya Rita sambil membelakangi suaminya yang duduk di dipan.
“Maafkan aku, aku gerogi jadi salah...!”
“Gerogi kamu bilang, ...” Rita melotot menatap Bobby yang sudah resmi jadi suaminya beberapa menit yang lalu.
“kalau gerogi itu gak sampai berkali-kali...!”
“Namanya grogi ya gimana lagi, ko kamu jadi kasar begini, kamu ... Kamu gak selembut yang ku duga ternyata, apa yang kamu minta aku sudah turutin, tapi kamu...” Bobby tak melanjutkan kalimatnya, karena terdengar suara Sastri di kamar sebelah.
“huek..., huek...” beberapa kali Sastri terdengar memuntahkan isi perutnya.
Rita gegas mengetuk pintu kamar Sastri dan tanpa menunggu dibuka dari dalam, Rita mendorong pintu tersebut.
“Kenapa Mbak, jangan-jangan kamu hamil, sama siapa Mbak?” Rita berseloroh membuat mata Sastri membulat, melotot pada adiknya menahan amarah.
“Keluar kamu, menolong tidak malah ngomong yang bukan-bukan. Keluar,...” usir Sastri kasar.
Bu Bardi yang mendengar ribut-ribut itu tergopoh menghampiri kamar anak gadisnya yang sulung.
“Kenapa Sas, kamu mual-mual lagi? Kita ke dokter saja ya Ndhuk, ibu takut tipesmu kambuh!”
“Halah Bu, manja amat, palingan Mbak Sastri hamil tu, kemarin-kemarin pacaran ma siapa Bu, nikahin sekalian!”
“Jaga bicaramu Rita, Sastri ini kakakmu yang sudah rela dilangkahi adiknya, pasti dia kecapean, kita ke rumah sakit saja!”
Gegas Bu Bardi mencari suaminya dan meminta mengantar Sastri ke rumah sakit. Bu Bardi turut serta.
***
Sementara Sastri di rumah sakit dengan ke dua orang tuanya, di rumah si pengantin baru masih terus cekcok.
“Rita, kenapa kamu menuduh Sastri seperti itu, apa maumu aku sudah turutin. Tapi kamu malah fitnah Sastri begitu, apa maumu sebenarnya?”
“Kenapa kamu marah begitu Mas, ouh jangan-jangan kamu masih suka sama Mbak Sastri...”
Bobby diam. Tidak ingin semakin ribut. Rita masih nampak emosi.
Tapi Bobby segera meredam emosi Rita.
“Sekarang kamu istriku, bisa kan menurut padaku, perbaiki jalan kita yang salah. Cukup kita menyakiti Sastri, jangan fitnah dia lagi, kasihan.”
Rita mendorong d**a suaminya kuat-kuat. Bobby terduduk, tidak membalas Rita yang kasar memperlakukannya.
Rita keluar kamar.
Bobby menepuk jidatnya.
‘Kalau benar Sastri hamil, pasti itu anakku’ Bobby membatin.
Pusing dengan jalannya. Keluar kamar menyusul istrinya.
“Sudah jangan marah-marah terus, ayo kita susul bapak sama ibu ke rumah sakit, kita harus tahu keadaan Sastri.”
Kali ini Rita menurut.
Membonceng Bobby ke rumah sakit tempat di mana Sastri berobat.
***
Rita sudah syah menikah, terus gimana nasib kakaknya selanjutnya?
Ikuti terus kisahnya ya reader sayang, jangan lupa like, komen , dan subsscribe nya serta rating bintang limanya
??????
Terima kasih