Setibanya di rumah sakit terdekat, Sastri di papah ke UGD. Niatnya hanya rawat jalan.
“Kenapa Mbak?” tanya suster yang langsung mendampingi dokter yang memeriksa Sastri.
“Mual Sus, muntah, gak bisa makan” jawab Sastri.
“Mulai dari kapan Mbak?” dokter ikut bertanya.
“Seminggu yang lalu dok!” jawab Sastri lagi.
“Tensinya rendah dok, sepertinya Mbak ini juga kelelahan, apa gak sebaiknya rawat inap saja Dok?” suster bertanya.
“Tensi berapa Sus?” tanya dokter Nurul, terbaca namanya di id card yang menggantung di lehernya.
“85/60, Dok!”
“Ya sudah, diinfused dulu ya Mbak, supaya membaik, ada tenaga, supaya kami bisa memeriksa darah dan urine nya sekalian, biar tahu ada penyakit serius atau tidak, gak apa-apa kan Mbak?” tanya dokter Nurul lagi.
Sastri mengangguk.
Suster dengan sigap memasang jarum dan selang infused di punggung tangan Sastri.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, suster itu gegas pergi dan menyiapkan kamar rawat untuk Sastri.
Setelah selesai menyiapkan kamar rawat, Sastri diminta duduk di kursi roda, dan suster tersebut mendorongnya menuju kamar rawat.
“Mbak, nanti kalau sudah pingin pipis, tolong tampung sedikit urine nya di tabung ini ya. Nanti ibu tolong bantu putrinya ya Bu!”
Bu Bardi mengangguk dan tersenyum.
Dokter Nurul berlalu.
Tinggal Sastri dan ibunya di ruangan itu. Pak Bardi sendiri sedang mengurus administrasi rumah sakit.
“Gimana Sas. Masih mual terus? Wajahmu sampai pucat pasi begitu! Ibu tahu kamu banyak pikiran, ikhlaskan yang sudah terjadi ya Ndhuk, mungkin ini jalan hidupmu, semoga Allah segera angkat sakitmu, sehat kembali, tersenyum lagi, semangat ya Sas!?!?” Bu Bardi mengelus rambut putrinya sambil melontarkan kalimat yang menghibur.
Sastri mengangguk dengan bibir menyungging senyum kecil.
“Bagaimana Bu, Sastri masih muntah terus?” tanya Pak Bardi yang muncul tiba-tiba.
“Sepertinya reda Pak, semoga gak terjadi hal buruk ya, kita sama berdoa Pak!”
“Aamiin, Bu! Kalau begitu bisa bapak tinggal dulu ya Bu, ambil perlengkapannya Sastri. Tadi buru-buru jadi ada banyak yang tidak dibawa!” Pak Bardi berpamitan.
Bu Bardi mengangguk mengiyakan kalimat suaminya. Pak Bardi segera berlalu meninggalkan kamar Sastri dan menuju ke mobil.
***
Bobby memarkir motor yang dikendarainya bersama Rita, di area parkiran rumah sakit tempat Sastri dirawat. Rumah sakit tersebut tidak begitu besar, dan hanya berlantai 1, lebih mirip klinik sebenarnya, tapi bukan klinik.
Rita dan suaminya berjalan bersisian, menuju kamar rawat Sastri.
Ketika telah sampai, Rita mengintip dulu dari luar.
Tampak di dalam ruangan tersebut ibu dan kakak semata wayangnya.
Sepertinya mereka tidak sedang terlibat pembicaraan serius, jadi Rita langsung menerobos masuk.
“ Bu, mbak Sastri kenapa kata dokter?”
“Gak apa-apa...!”
“Gak sedang hamil kan Bu?” Rita berseloroh yang membuat mata Sastri membulat sempurna, marah, melotot kepada adiknya tapi tidak berkata-kata apa pun. Ada sorot kekecewaan yang dalam terhadap adiknya itu. Entah apa maunya Rita?
“Kenapa memelototi aku begitu Mbak, aku kawatir aja, takutnya Mbak Sastri salah bergaul dan ...”
“cukuuup Rita, ...!” potong Sastri. Lalu lanjutnya “keluar kamu, ajak suamimu pergi dari sini?”
Sastri emosi. Rita beranjak pergi. Entah itu anak apa maunya, terus merongrong jiwa sang kakak.
“Kenapa kamu semarah itu Sas? Kamu jangan begitu Ndhuk, nanti sakitnya susah sembuhnya!” sang ibu menasihati.
Sastri hanya bisa tergugu. Menangis, tidak mungkin dan belum mampu bercerita yang sebenarnya telah terjadi beberapa bulan terakhir.
Bu Bardi merengkuh pundak putrinya, diusapnya rambut Sastri.
“Oh ya Ndhuk, tadi kan dokter meminta kamu menampung urine, ayo ibu antar ke kamar mandi!” Bu Bardi mengingatkan.
Sastri menurut. Dipapah ibunya ke toilet pasien yang ada di dalam ruangan tersebut.
Sesuai permintaan dokter, Sastri menampung urine nya di sebuah tabung kecil ukuran sekitar 5cm.
Sekembalinya mereka dari toilet, seorang perawat melintas, dan tabung tersebut mereka titipkan ke perawat tersebut untuk dibawa ke Labotatorium untuk dicek.
***
“Mbak, ini hasil lab sudah keluar, disamping tipesnya yang memang sangat tinggi, Mbak juga sedang hamil...!” ucap dokter Nurul yakin. Membuat mata Sastri membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang disampaikan dokter Nurul tersebut.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Kebetulan Bu Bardi juga sedang keluar, Pak Bardi juga belum datang lagi setelah tadi pamit mengambil perlengkapan.
Meskipun hati kecil Sastri mengiyakan ucapan dokter Nurul, tapi sekuat tenaga dia menampik kebenaran itu. Sastri tidak ingin merusak rumah tangga Rita. Sebenci apapun Rita padanya, namun Sastri tidak membalasnya.
“Dok, boleh minta tolong?”
“Iya Mbak, gimana?” jawab dokter Nurul.
“Tolong rahasiakan kehamilan saya ini ya, dari siapa pun, obati tipes saya saja Dok, jangan menyinggung kehamilan ini dihadapan keluarga saya!” pinta Sastri.
“Memang kenapa Mbak, suaminya ada kan?” tanya dokter Nurul tak mengerti.
“Sudahlah Dok, tolong saya dan saya minta jangan mengorek urusan pribadi saya lebih jauh!”
Dokter Nurul mengangguk, dan kemudian pamit keluar dari kamar rawat Sastri.
Sepeninggal dokter Nurul, Sastri menangis terisak. Sedih. Bingung, harus diapakan janin di rahimnya itu. Digugurkan, menambah dosa, dosa zinanya saja sudah sangat besar ditambah lagi membunuh semakin menggunung itu dosa. Dipertahankan? Aib! Bagai melempar kotoran ke wajah kedua orang tuanya. Siapa yang kan jadi bapaknya.
Sastri mengelus perut datarnya seraya membatin ‘maafkan ibu Nak, insya Allah, siap gak siap, ibu akan tetap merawatmu, meskipun ayah kandungmu sudah menyakiti ibu, berkhianat dan menikahi Rita bibimu sendiri’
Sastri menyusut air mata dengan punggung tangan. Berusaha tegar, demi orang tuanya.
***
“Sebenarnya mau kamu itu apa Rita? Aku sudah bersedia menjadi suamimu, karena aku pikir kamu perempuan baik-baik, mampu menjaga kehormatan, beda dengan Sastri yang menurutmu gampangan, tapi nyatanya apa, akhlakmu jauh dari kata baik, kamu terus-terusan menyakiti Sastri!?” ucap Bobby panjang lebar, menegur sikap Rita terhadap kakak kandungnya.
“Kenapa ngomong begitu Mas, kamu menyesal menikahiku, dan lebih ingin menikahi mbak Sastri yang kotor itu?”
Bobby menghela napas, bagaimanapun juga, dulu sebelum kena hasutan dan rayuan Rita, dia begitu menyayangi Sastri dan berjanji untuk menerima Sastri apa adanya.
Namun semua berubah setelah kehadiran Rita.
Rita bilang Sastri gampangan, hanya karena masa lalu Sastri dengan Indra. Tapi Rita tidak jauh lebih baik dari kakaknya, nyatanya dia serahkan keperawanannya kepada Bobby pacar kakaknya. Lebih parah lagi, setelah dirinya digarap Bobby, Bobby juga menggarap Sastri, tanpa pengaman. Benar-benar mereka dibutakan oleh cinta.
Kini semua sudah terjadi.
“Kalau benar Sastri hamil, aku yakin itu anakku, aku akan menikahinya dan meninggalkan kamu!” ancam Bobby.
“Enak saja kamu Mas, kamu sendiri yang sudah menyetujui semua, kenapa sekarang kamu bicara begitu?”
Rita menjawab ucapan Bobby dengan emosi.
Hening sesaat.
Lalu kemudian, “aku gak kan melepasmu lagi untuk Mbak Sastri.!”
“Kamu egois, aku gak sangka ternyata sifat aslimu seperti ini!” lagi Bobby membentak istri yang baru tadi pagi dinikahinya.
Mau jadi apa rumah tangga mereka nanti? Belum juga sepekan, masalah mulai muncul. Bukan tak mungkin Bobby membuktikan ancamannya. Tapi Rita pasti tak tinggal diam.
Rita mendekati suaminya, menyentuh lengan kekar lelaki yang telah menikahinya pagi tadi, dengan sedikit paksaan mungkin. Karena Rita meminta Bobby untuk tutup mulut. Dan Bobby menuruti semua yang dipinta Rita.
“Maaasss, kita sudah resmi menikah, ini malam pertama kita lho, masa iya diisi dengan pertengkaran.!?” Ucap Rita dengan selembut mungkin.
“Aku capek, maaf!” sahut Bobby ketus.
“Masss, kenapa si kamu?”
Bobby tak menyahut, menjatuhkan diri di kasur berbaring miring membelakangi istrinya.
Ada rasa yang banyak berkurang. Memang dari awal Rita yang menggoda, bukan salah Bobby bila kini semua jadi begini. Bobby bersikap dingin.
***
“Gimana rasanya Ndhuk, apa mualnya sudah berkurang?” tanya Bu Bardi.
Sastri membalikkan badan menatap ibunya.
“Kenapa kamu menangis Sas? Kamu masih mikirin tentang adikmu itu ya?”
Belum sempat Sastri menjawab, Pak Bardi muncul di depan pintu.
“Sudah datang, Pak?” sapa Bu Bardi kepada suaminya.
“Iya Bu, tadi bapak ngaso dulu, rasanya capek luar biasa. Gimana keadaan Sastri?” Pak Bardi balik bertanya.
“Entah itu Pak, sepertinya Sastri sedih. Pasti ucapan Rita sangat menyakitinya!”
Hening sesaat. Lalu...
“Kita salah apa ya Pak, ko sampai Rita sifatnya seperti itu. Dari masih sekolah dulu, kakaknya sudah selalu mengalah. Sampai sekarang, Sastri pun masih harus mengalah masalah jodoh. Sastri gak kalah cantik dari Rita, sifatnya juga sangat baik, tapi kenapa ko malah harus merasai sakit seperti ini?” ucap Bu Bardi lagi dengan nada keluhan.
Pak Bardi hanya memegangi jidatnya saja, membenarkan ucapan sang istri.
Sementara Sastri, lagi-lagi menangis. Membenarkan ucapan ibunya juga. Tapi yang sesungguhnya dirasakan Sastri jauh lebih sakit daripada apa yang digambarkan ibunya baru saja.
Bu Bardi mengusap pundak Sastri seolah menyalurkan kekuatan untuk putri sulungnya itu.
Sastri memejamkan mata. Jiwanya sangat lelah, dan raganya juga sedang melemah. Tanpa daya dan tidak tahu harus berbuat apa. Sakit ini teramat parah. Entah kapan, di mana dan siapa yang akan mengobatinya.
Belum lagi masalah kehamilannya, bagaimana cara menyembunyikannya, atau bagaimana caranya berterus terang pada orangtuanya, karena Sastri yakin ayah dari anak yang dikandungnya adalah Bobby, pacar yang berkhianat dan menikahi adiknya.
Sastri pasrah dengan keadaan ini. Cepat atau lambat, pasti orang tuanya tahu tentang kehamilannya. Dengan ataupun tanpa dia yang berbicara, namun janin di rahimnya tidak bisa berbohong, pasti segera terbongkar.
***
Sastri jatuh sakit, moga cepat sembuh ya readers sayang, ...
Tetep...
Jangan lupa, like, komen, subscribe dan ratingnya ya
???
???
???
??????