BAB 7 TERHEMPAS

1634 Words
Dokter sudah memperbolehkan Sastri pulang. Meskipun masih harus kontrol Sastri lega, karena akhirnya bisa kembali menghirup udara bebas tidak lagi terbaring di bangsal rumah sakit. Bu Bardi membimbing putrinya masuk ke rumah dan menyuruhnya istirahat di kamar. Sastri menuruti perintah ibunya. Tapi belum juga Sastri mulai beristirahat, di luar kamar terdengar ibunya ribut dengan Rita. “Dokter bilang Mbak Sastri kenapa Bu? Aku hanya mau memastikan kalau Mbak Sastri beneran gak hamil!” ucap Rita tegas pada ibunya. Bu Bardi mengelus d**a. Menatap nyalang pada putri keduanya itu. Lalu Bu Bardi menimpali ucapan Rita “maksud kamu apa, bertanya begitu tentang kakakmu, kamu gak bosan-bosan menyakiti kakakmu. Sastri sudah cukup sakit dengan caramu melangkahinya menikah lebih dulu, kenapa harus ditambah dengan pertanyaanmu yang seolah menghinanya?” Bu Bardi berbicara panjang lebar. Rita tak mau kalah dengan ucapan wanita yang telah bertaruh nyawa melahirkan dirinya beberapa tahun silam. “Ibu gak tahu si, bagaimana pergaulan Mbak Sastri di Jakarta, gonta-ganti pacar Bu!” Sastri yang mendengar itu, bangkit dari duduk dan melangkah keluar, sakit sekali dengan ucapan mulut pedas adik yang begitu disayanginya. Meski dalam hati membenarkan ucapan Rita yang menyinggung tentang kehamilan, tapi dia tak terima dengan tuduhan gonta-ganti pacar seperti yang disampaikan Rita pada ibunya. “Rita, bisa bicara baik-baik gak kamu, apa mau kamu sebenarnya?” hardik Sastri pada adiknya. “Sudah-sudah ko malah ribut, malu didengar tetangga! Rita rubah sifatmu, sekarang statusmu seorang istri, kalau sifatmu seperti ini terus kasihan suamimu!” “Bisa-bisa malu nanti suamimu!” Bu Bardi terus berbicara tanpa jeda, tak memberi ruang untuk Rita untuk membantahnya. “Urus rumah tangga kalian, dengan kamu mendahului kakakmu menikah pun sebenarnya sudah membuat sakit hati kami, orang tuamu. Tapi karena Sastri rela dilangkahi, maka kami pun menikahkanmu, jadi tolong, jangan terus sakiti kami!” Ketika itu, muncul Bobby yang baru pulang membeli tiket diantar oleh Parman, penjaga sekaligus sopir kios. “Ada apa Bu? Ko sepertinya Ibu ribut sama Rita?” tanya Bobby pada mertuanya. “Kamu dari mana Bob?” sang mertua balik bertanya. “Saya baru saja beli tiket Bu, rencana nanti sore kami berangkat ke Jakarta” jawab Bobby. “Ya, kita mau segera ke Jakarta lagi Bu!” Rita ikut menimpali ucapan suaminya. “Lebih baik kalian segera berangkat, aku muak dengan cara kamu Rita, kamu adik gak tau diri!” sindir Sastri. Bu Bardi menghela napas berat. Tak kuasa untuk menyuruh Rita segera pergi ke Jakarta, namun juga tak mampu untuk mencegahnya. Jadi menurutnya, apa yang mereka putuskan, semoga itu yang terbaik. *** Sore itu, pukul 14:30 Rita dan Bobby telah bersiap untuk keberangkatannya ke Jakarta. Sengaja minta diantar Parman ke agen bus malam yang kan membawa mereka ke Jakarta. “Kang Parman, sampeyan sudah cukup umur lho, ko masih sendiri saja!” celetuk Rita menggoda laki-laki yang telah beberapa waktu menjadi pegawai Pak Bardi bapaknya. Parman hanya tersenyum. Sementara Bobby memilih lebih banyak diam. Dengan dia memutuskan menikahi Rita, ada rasa bersalah menyelusup di hatinya. Caranya menyakiti Sastri sungguh terlalu. Terselip sedikit sesal telah termakan godaan dan hasutan Rita, hingga akhirnya lebih memilih menikahi Rita dan mencampakkan Sastri. “Atau jangan-jangan sampeyan masih berharap berjodoh sama Mbak Sastri ya Kang, ayo ngaku Kang!” kembali Rita menggoda Parman. “Siapa saya, siapa Mbak Sastri, siapa bapak sama ibu Bardi Mbak. Bagai pungguk rindukan bulan bila saya lakukan itu!” jawab Parman ringan akhirnya. “Siapa tahu nanti Bapak yang menjodohkan kalian Kang!” ucap Rita lagi. “Aamiin!” ucap Parman singkat. Parman menepikan roda empat yang dikemudikannya, mematikan mesinnya. Membuka bagasi mengeluarkan barang bawaan anak majikannya tersebut. Mereka sudah sampai di agen. Setelah dirasa tak ada yang tertinggal, Parman berpamitan pada Rita dan Bobby untuk pulang. Dengan hati berbunga penuh harap bisa bersanding dengan gadis pujaan, Parman kembali mengemudikan roda empat itu kembali menuju ke rumah sang majikan. *** “Huek...” “Huek...” Terdengar Sastri sedang mual di kamarnya. Pak Bardi yang sedang duduk beristirahat di ruang tengah, tergopoh memanggil istrinya yang sedang menjerang air di dapur. “Bu, Bune, itu si Gendhuk ko masih begitu saja, masih muntah-muntah!” Bu Bardi yang mendengar ucapan suaminya segera menghampiri kamar Sastri. “Ndhuk, kamu kenapa lagi? Ko masih muntah terus?” Bu Bardi bertanya dengan nada panik sembari mendorong pintu kamar putrinya itu. Bu Bardi memegang jidat Sastri, lalu katanya, “tidak demam, suhunya juga normal, apa yang kamu rasakan sekarang Sastri?” Sastri menggeleng lemah. Tetap berusaha menutupi kehamilannya dari ibunya. Pak Bardi ikut menghambur ke kamar sang putri. “Kita berobat lagi saja ya Sas!?” pinta Pak Bardi sang bapak. Kembali Sastri hanya menggeleng lemah. Ada rasa takut yang cukup kuat menguasai gadis cantik yang malang itu. Bingung, harus mencari cara agar semua baik-baik saja. Bayangan kemurkaan sang bapak bila sampai tahu kenyataan sebenarnya sudah menghantuinya. Stress. Pusing. Sakit hati. Kecewa. Semua rasa itu bercampur jadi satu, membuatnya semakin mual. Belum lagi kehamilan di trimester pertama, sungguh menyiksa. “Ya sudah kalau tidak mau, bapak gak maksa, tapi obat dari rumah sakit di habisin ya, biar cepat pulih, makan yang cukup. Istirahat cukup, jangan berpikir yang berat-berat! Anak bapak cantik, pasti banyak laki-laki di luaran sana yang mau sama kamu, jangan berkecil hati karena sudah dilangkahi adikmu ya Ndhuk! Bapak pengin kamu cepat sehat dan bantu-bantu lagi di kios!” ucap Pak Bardi panjang lebar memberi nasihat dan menghibur hati anak gadisnya yang sedang terpuruk itu. Sastri coba mengulas senyum demi mendengar nasihat laki-laki yang telah mengukir jiwa raganya dan membesarkannya dengan kasih sayang itu. Namun senyumnya getir, pahit, seperti hidupnya saat ini. *** Hari berganti, minggu berlalu. Sastri sudah berangsur sehat meskipun badannya menjadi kurus kering. Sastri juga sudah bisa beraktifitas di kios melayani pembeli. Dia tidak sendiri di sana, ada Parman yang membantunya. Sementara bapaknya ada di tempat lain mengurus bisnisnya yang lain. Sebuah ladang pembibitan bermacam-macam tanaman dari buah-buahan dan berbagai macam bunga. “Mbak, saya ikut prihatin atas apa yang Mbak rasakan, saya pernah merasakannya juga Mbak, dilangkahi adik laki-laki saya yang mendahului saya menikah!” ucap Parman memecah suasana. Sastri mengulas senyum mendengar penuturan Parman. “Terima kasih Kang, atas simpatinya ya!” balas Sastri. Suasana cukup canggung. Sastri memilih banyak diam. Apa yang diucapkan Parman baru saja, belumlah sesakit yang dia rasakan. Dihianati pacarnya, setelah dinodai dan kini dia hamil, yang seharusnya bertanggung jawab sudah menikahi adik kandungnya sendiri. Mendapati Sastri yang lebih memilih tidak banyak bicara, Parman tidak bisa berbuat banyak, hanya menuruti saja kata anak majikannya itu. Padahal sesungguhnya Parman berharap bisa lebih dekat dengan Sastri dan perlahan bisa mengambil hatinya. Hingga beberapa hari lamanya suasana seperti itu berlangsung. *** Bu Bardi sedang terlibat perbincangan serius dengan Sastri. “Sas, ini apa? Ko ada keterangan seperti ini dari dokter Nurul, ini ..., bukankah ini hasil tes urine kamu waktu di rumah sakit?” Sastri tergagap mendengar kalimat ibunya baru saja. Tangannya terulur meraih selembar kertas dari rumah sakit yang dipegang ibunya. Kertas yang berisi keterangan bahwa dari tes urine, Sastri dinyatakan positif hamil. ‘Ya ampun, kenapa kertas ini tidak aku lenyapkan saja coba, ko teledor banget aku ya, terus aku harus ngomong apa coba sama ibu’ Sastri membatin. “Ko malah bengong Sas?” Sastri menatap sekejap mata ibunya, lalu menunduk, mengamati kertas di tangannya. “Ayo jawab Sastri, apa maksudnya ini? Jangan bilang kamu beneran hamil seperti kata adikmu!?” Sastri mengangkat wajahnya. Pias. Pucat pasi, ada aliran air mata yang menganak sungai membasahi seluruh wajahnya. Bu Bardi terkesiap melihat hal itu. “Jadi benar Sas, iya, dengan kamu menangis seperti ini, ibu menganggap jawaban kamu iya” Bu Bardi tak kuasa lagi menahan tangis. Ikut bingung harus berbuat apa mendapati anak kesayangannya memberikan aib yang begitu besar serta memalukan. *** “Pak, ibu mau bicara!” “Bicara apa to Bu, bapak ini baru datang ko disambut begitu?” “Ini tentang anakmu Pak, anak gadis kita!” “Kenapa, dan siapa?” “Anakmu hamil, Sastri hamil Pak!” Pak Bardi terkejut bukan main mendengar kalimat terakhir istrinya. Pak Bardi memegangi jidatnya, sambil menunduk, memijit jidatnya mendadak pening. Rentetan kejadian akhir-akhir ini sangat menguras tenaga dan pikiran. Dari Rita yang mendadak dilamar dan meminta segera dinikahkan. Kini malah dihadapkan dengan kenyataan pahit, anak gadisnya yang sulung hamil diluar nikah. Pak Bardi bangkit berdiri. Berjalan menuju kamar Sastri. Tanpa memanggil dan mengetuk, didorongnya pintu kamar tersebut. Ternyata tidak dikunci. Sastri menunduk dengan wajah basah oleh airmata. Menangis. Hanya itu yang Sastri lakukan saat ini. Semua hancur berkeping. Masa depannya suram. Gelap. Pekat. Seperti malam panjang tanpa bintang dan rembulan. Harapannya hanya fajar esok hari yang mungkin akan mengantar mentari bersinar cerah. Itupun kalau tidak tertutup mendung. Pak Bardi menyebut nama anak gadisnya. “Sastri...!” Dengan wajah yang masih basah oleh air mata, Sastri mendongak demi mengindahkan panggilan sang Bapak. Lalu saat berikutnya kembali tertunduk dengan isak tertahan. “Bapak hanya ingin tahu siapa laki-laki yang telah menanam benih di rahimmu. Dia harus bertanggungjawab.!?!” Pak Bardi berkata tegas. Bagai petir menyambar disiang bolong mana kala Sastri mendengar kalimat bapaknya. Mana mungkin Sastri berterus terang tentang laki-laki tersebut. Sedangkan laki-laki tersebut sudah menyandang gelar suami untuk perempuan lain yang juga adik kandungnya sendiri. *** Bu Bardi mendekap erat tubuh Sastri. Seburuk apapun Sastri saat ini, bila mungkin buruk, namun seorang ibu tak kan tega membiarkan anak kandungnya terpuruk dalam luka dan kesedihan. Bagaimanapun juga, Sastri butuh dukungan, butuh sesorang tempatnya untuk berbagi rasa. Pelan sang ibu berkata, “Ndhuk, benar kata bapakmu, kami harus tahu siapa yang sudah berbuat begitu kepadamu?” Bu Bardi merangkai kalimat selembut mungkin demi menjaga perasaan anak gadisnya. Bukan jawaban yang diberikan Sastri. Tapi justru tangis yang kembali pecah. Berat sekali rasanya menyampaikan kebenaran. *** ????? Tetep ya gaes aku tungguin like dan komen serta ratingnya Biar semangat nulisnya ??? ??? ????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD