Mobil sudah terparkir tepat di samping restoran yang akan menjadi tempat makan malam keluarga Rubi . Rubi sempat mengatakan jika keluarganya sekarang adalah ayah , ibu dan dirinya sendiri .
Kakak – kakak Rubi sudah tidak bisa berkumpul seperti itu . Kakak – kakak Rubi sudah sibuk dengan urusannya dan juga keluarga . Hanya Rubi yang masih tertinggal . Dan tentu saja Rubi masih sama . Tidak terlalu di pentingkan .
Rencana malam ini sebenarnya untuk menyambut kembali ibunya yang sudah lama ada di luar negeri mengejar pendidikkan dan kembali pulang hari ini .
“Mara .”
Rubi datang menyambut Tamara yang baru saja masuk ke restoran itu . Lalu mengandengnya . Tamara terkekeh .
“Canggung ada di sana ?”
Rubi mengangguk , “sangat canggung .”
“Ini bukan acara buat gue sama nyokap lo . Tapi acara lo sama bokap dan nyokap lo .” Kata Tamara , “lagian , lo kenapa baru bilang sama gue kalau acara mala mini adalah acara keluarga lo setelah gue beli baju .”
Sekarang Rubi terkekeh , lalu menjawab , “gue kayaknya perlu bantuan lo kalo gini . Biar ga canggung – canggung amat . Jadi gue ajakin lo .”
Tamara mendesah , “gimana kalau sama gue jadi makin canggung .”
Gendikkan bahu Rubi membuat Tamara berhenti berjalan .
Rubi terkekeh lagi , “setidaknya , lo sama gue bisa ngomongin apaaaa gitu . Biar ga canggung kayak gini .”
Tamara samakin dibuat resah karena Rubi sudah menunjukkan tempat makan malam mereka . Ada ayah dan ibu Rubi di sana . Sedang berbincang kecil .
“Bu , ini teman kerja Rubi .”
Kata Rubi lalu menarik Tamara lebih dekat .
Ibunya Rubi berbalik karena posisinya memang membelakanginya . Tamara sudah memasang senyum terbaiknya . Kemudian berisiap untuk menyapa . Namun bukan Tamara yang menyapanya terlebih dahulu . Tapi , pelukan ibunya Rubi yang menyapa dirinya terlebih dahulu .
“Kamu sudah besar ternyata .” Sahutnya setelah memeluk Tamara .
Tamara dan Rubi bertatapan canggung .
“Yah , ini remaja putri yang sering ibu ceritakan .” Ucap ibu Rubi untuk ayahnya .
Dari sana , Rubi merasa salah ketika mengundang Tamara datang . Rubi merasa jika gara – gara Tamara ibunya tidak memperhatikan Rubi dengan baik . Dan satu lagi , Rubi sedikit membenci Tamara setelah mengetahui fakta yang menyedihkan untuknya .
“Duduk ,” suruh ibunya Rubi pada Tamara . “Rubi , duduk .”
Rubi mengangguk tanpa menatap ibu dan ayahnya juga Tamara di sampingnya . Tamara merasa sedikit bersalah pada Rubi . Tamara benar – benar memikirkan sebelum dia sampai ke sini . Apa ibunya Rubi punya hubungan dengan gadis remaja selain dirinya . Karena satahu Tamara , dokter di sekolahannya ini sangat baik terhadap banyak gadis remaja .
Dan juga , banyak di sukai oleh orang – orang seumuran Tamara saat itu .
“Gimana kabarnya , Mara ?”
Tamara tersenyum lalu mengangguk , “baik Dok- “
“Professor .” Kata Rubi pelan memotong perkataan Tamara .
Tamara mengangguk , “baik Prof .”
Ibunya Rubi terkekeh , “kita sedang tidak di kantor , Mara .”
Kecanggungan ini ditambah Tamara yang tidak nyaman di tempat duduknya . Tamara merasa Rubi tidak menyukainya sejak mengetahui Tamara adalah orang yang sering di ceritakan oleh ibunya saat – saat Rubi belum mengenali Tamara .
Sampai saat ini , Rubi juga tidak mengetahui keadaan sebenarnya dari sosok Tamara . Rubi dan Tamara berada di kampus yang sama , tapi tidak tau siapa dan dimana saat mereka masing – masing masih menggunakan seragam abu – abunya .
“Saya tidak menemui kamu lagi setelah lulus sekolah menengah atas , Mara . Bagaimana dengan keadaan tubuhmu ?”
Rubi benar – benar muak . Kenapa pertanyaan yang seharusnya untuk Rubi ditanyakan pada Tamara ? Orang asing dari luar keluarganya . Rubi mengumpati ibu dan ayahnya yang terus memperhatikan Tamara saat ini .
“Prof , bukankah seharusnya pertanyaan seperti itu ditanyakan dulu pada Rubi ?” Kata Tamara , “Rubi sudah lama tidak bertemu dengan Prof .”
Ibunya Rubi tersenyum lalu mengangguk , “kami nanti akan sering bertemu . Denganmu ? Kapan lagi akan bertemu ?” ucap ibunya Rubi , “panggil tante saja saat di luar seperti ini , Mara .”
Tamara lagi – lagi tersenyum canggung , “bukankah Rubi sudah mengatakan jika kami berada di tempat kerja yang sama ?”
Rubi mengangguk dalam duduknya , “aku udah bilang beberapa kali dan menceritakan tentang Mara di pesan singkat , bu .”
“Saya rasa saya masih muda ternyata saya sudah tua . Gampang lupa , Mara . Maaf , Rubi .”
Tamara tersenyum begitu makanan di hidangkan .
“Rubi yang memesan , semoga kamu suka ya .” Itu adalah ayahnya Rubi .
Tamara mengangguk lalu menatap Rubi , “thank you , Bin .” Ucap Tamara pelan .
Rubi tersenyum , dalam hati Rubi , Tamara juga sepertinya merasa bersalah . Dan berusaha untuk membuat ibunya sendiri memperhatikan Rubi . Tidak hanya memperhatikan Tamara seorang . Rubi merasa bersalah ketika tadi , hatinya mendadak membenci Tamara .
Tamara ternyata bukan orang seperti itu , Rubi beruntung mengenal Tamara yang selalu memperhatikan keadaannya . Keadaan sekitar juga tak luput menjadi bahan perhatiannya . Dan tentu saja , Rubi tidak seharusnya membenci Tamara . Tamara sendiri mungkin tidak tau , yang di ceritakan orang tua Rubi adalah dirinya sendiri .
“Makan , Rubi . Tamara .”
Rubi tersenyum begitu nama Rubi yang disebut ibunya terlebih dahulu .
“Kenapa ibu selalu memperhatikan Tamara dulu ?”
Pertanyaan itu membuat Tamara yang sedang menyuapkan makanannya menjadi berhenti di tengah – tengah . Pertanyaan Rubi juga membuat ayah dan ibunya tersenyum lalu terkekeh ringan .
“Kenapa kamu bertanya sekarang ? Bukankah harusnya sejak dulu – dulu ?” tanya ayah Rubi .
Benar juga . Rubi menyesalinya sekarang kenapa tidak mempertanyakan hal ini saat setiap kali ibu dan ayahnya membahas tentang anak remaja yang tidak di kenalnya itu dulu . Rubi juga tidak tau kenapa waktu ini tepat untuk membahasnya . Rasa penasaran Rubi mungkin sudah ada di puncaknya .
“Mungkin Rubi lebih nyaman setelah mengetahui siapa yang sedang di bicarakan kamu sama aku , ayah .”
“Benar .” Kata Rubi ringan .
Tamara terkekeh kecil , “harusnya lo tanya , Bin .”
“Ini gue lagi tanya , Mara .” Jawab Rubi lalu terkekeh menatap Tamara .
Tawa kecil susulan dari ayah dan ibunya Rubi membuat suasana tidak begitu canggung kemudian .
“Jadi , kenapa , Ayah ? Ibu ?” Tanya Rubi lagi .
“Sebenarnya , ibu tadinya mau mengadopsi Tamara jadi sodara perempuanmu .”