Tamara sudah di dalam apartemennya . Sepatu yang di belinya untuk ibunya Rubi sudah siap . Gaun yang akan di pakainya juga sudah siap .
Sebenarnya , tidak bisa disebut gaun juga . Baju itu sederhana . Panjangnya melebihi lutut sedikit dan lengannya menutupi sebagian kecil lengan atas Tamara . Warnanya tidak cerah , hanya saja Tamara menyukainya .
Warna maroon soft dan belahan d**a tidak terlalu rendah . Bagian belakang tertutup menjadikan dress tersebut pantas disebut drees formal .
Ponselnya berdering setelah Tamara selesai mandi . Tamara tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya .
“Sayang .” Ucap Tamara lalu tertawa mendengar dengusan di sebrang sana .
“Kenapa telepon ? Kangen ?” Kata Tamara lagi .
‘Enggak .’
Tamara tertawa , seperti biasa . Derian selalu membuatnya tertawa dengan sikap cueknya .
“Terus kenapa nelpon , nyeeeet ?”
‘Lagi apa ?’
Tamara mengerutkan keningnya , tumben sekali Derian bertanya seperti ini pada Tamara .
“Mau siap – siap makan malam . Lo ? Lagi apa ?”
‘Hem. Tiduran .’
Tamara menarik nafasnya malas , Derian ini , jauh dekat kelakuannya sama saja . Tetap cuek dan dingin .
“Kapan pulang ?”
Terdengar dengusan dari sebrang sana , Tamara tertawa kecil . ‘Gue baru berangkat kemarin sore , Ta .’
Tamara mengangguk lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian dalam . Dan di pakainya .
‘Makan malam sama siapa ?’
Tamara diam lupa menjelaskan .
“Lo inget waktu sekolah pas gue luka di pelipis ?”
‘Hem .’ Jawab orang di seberang sana .
“Ada dokter UKS yang lo cari . Ternyata itu nyokapnya Rubi temen kantor gue .”
Derian di sebrang sana mengangguk sambal mengingat dokter yang menjahit pelipis Tamara yang sampai sekarang masih berbekas di sana . Dokter itu sangat telaten dan melakukan pekerjaan yang baik .
Mungkin Tamara tidak tau jika saat dijahit Derian juga ngeri melihatnya . Derian masih di sana menatap Tamara yang memejamkan matanya menarik nafas juga merasakan sakit.
“Gue malam ini mau makan malam sama dia . Dokter itu .”
‘Pake baju yang bener .’
Lagi . Tamara dibuat tertawa .
“Gue beli baju . Nanti gue fotoin ke lo .”
‘Gue mau liat sekarang . Bisa video call ?’
Tamara diam . Benar – benar , tumben sekali bersikap seperti ini .
“Bukannya lo sibuk ?”
‘Lagi senggang .’
Setelah itu , Tamara mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video setelah Tamara memakai bajunya tentu saja .
Tamara hampir menjerit begitu Derian menerima panggilan videonya . Pasalnya , Derian sedang berendam di bathtub . Setau Tamara , Derian tidak begitu suka berendam . Di apartemennya , Derian jarang sekali berendam .
Kebanyakan , bathtub di pakai oleh Tamara . Dan tentu saja , ketika Tamara berendam , Derian selalu mengikutinya . Dan jika Derian tidak ada , Tamara akan leluasa memakai bathtub untuk dirinya sendiri .
Mungkin kalian tau , jika Derian tidak akan membiarkan Tamara menikmati waktunya sendiri saat berendam bersama . Dan sangat jelas , mereka akan melakukan kegiatan lain selain mandi dan berendam .
“Lo punya waktu buat berendam sekarang ?”
Tamara melihat Derian tersenyum kecil .
‘Ga boleh , Ta ?’
Tamara menggeleng , “bukan gitu . Lo bilang ke gue kalo lo ada kerjaan di sana . Dan kalo gue liat lo sekarang , lo sesantai itu kerjanya .”
‘Lo mau gue sibuk terus ?’
Lagi – lagi Tamara menggeleng , “ga gitu juga , Ri . Gue tanya aja . Bisa sesantai itu di sana ?”
‘Kenapa emang kalo sesantai ini ?’
Tamara mendengus melihat Derian yang sedikit mengangkat badannya dari air yang merendamnya . d**a lebarnya membuat Tamara sedikit menelan ludahnya susah payah .
Umpatan di dalam hati Tamara terus menerus mendorong kata – kata itu untuk keluar dari mulutnya . Sialan memang Derian ini .
“Kenapa duduk gitu ?”
Derian terkekeh , ‘kenapa ?’
“Derian . Gue susulin juga ke sana .”
Tamara benar – benar mengumpati Derian di dalam hati .
Derian gila .
Menyebalkan .
Sialaan .
‘Ke sini aja kalo berani .’
Tamara membuang nafasnya .
“Liat nih dress baru gue .”
Tamara memang mengalihkan pandangannya dari dadaa bidang milik Derian yang merupakan kesukaan Tamara . Daada itu yang biasa di jadikan bantal tidur oleh Tamara . Di jadikan dudukan kepalanya . Di jadikan sandaran . Pokoknya , Tamara sangat menyukainya .
Kamera Tamara teralih menjadi kamera belakang . Dan tentu saja , Tamara berdiri di depan cermin yang menunjukkan seluruh badannya .
“Bagus ga ?”
Derian mengangguk kecil lalu tersenyum. ‘Bagus .’
“Gue pergi bentar lagi .”
Lagi – lagi Derian mengangguk . ‘Hati – hati .’
Sekarang , Tamara ikut mengangguk .
‘Lo bawa mobil ?’
Tamara membalikkan lagi kameranya .
Siial .
Derian masih saja menunjukkan d**a bidangnya . Kemudian Derian mengangkat badannya . Kembali menunjukkan daadanya sekaligus otot perutnya .
“Derian , gue dandan dulu . Nanti gue telepon lagi .”
‘Oke .’
Tamara yakin .
Sangat yakin .
Setelah Tamara menutup teleponnya , Derian di sana tertawa . Membayangkannya saja membuat Tamara kesal . Bagaimana jika Derian ada di sampingnya yang mentertawai kegugupan Tamara saat melihat d**a di tambah lagi dengan otot perut yang sempurna .
Itu semua kesukaan Tamara .
Kelemahan Tamara juga .
Jika Tamara melihat itu secara langsung , Tamara akan lemas dan langsung memeluk Derian . Sekarang , Derian tidak ada di sini . Bukankah itu sangat menyiksa untuk Tamara .
“Derian sialan .”
‘Gue kangen lo .’
Tamara lagi – lagi mendengus .
Ditambah lagi umpataan dalam hatinya .
Tamara benar – benar tidak bisa jauh dari Derian . Dan saat Derian menambahkan kalimat itu pada pesan singkatnya . Tamara benar – benar tidak tahan . Tamara harus menemui Derian besok atau lusa .
Sialan memang Derian .
Entahlah . Umpatan keberapa yang keluar dari kata hatinya untuk Derian .
Tamara menghembuskan nafasnya kasar .
“Gue juga kangen lo .”
Tidak di sadari Tamara waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam . Dan malam ini , Tamara akan pergi menemui dokter lamanya . Dokter yang selalu memeriksa jahitannya ketika luka . Selalu memperhatikan Tamara .
Dunia memang sempit . Kenapa bisa juga , dokter itu adalah ibu dari teman dekatnya saat bekerja . Tamara sendiri sangat penasaran dengan remaja yang sering ibu Rubi ceritakan pada Rubi .
Dan , Tamara baru sadar .
Apa dokter itu selalu bersikap baik pada semua remaja yang berobat kepadanya ? Atau hanya kepada Tamara ?