DA DA BIDANG DERIAN

1146 Words
Tamara sudah di dalam apartemennya . Sepatu yang di belinya untuk ibunya Rubi sudah siap . Gaun yang akan di pakainya juga sudah siap . Sebenarnya , tidak bisa disebut gaun juga . Baju itu sederhana . Panjangnya melebihi lutut sedikit dan lengannya menutupi sebagian kecil lengan atas Tamara . Warnanya tidak cerah , hanya saja Tamara menyukainya . Warna maroon soft dan belahan d**a tidak terlalu rendah . Bagian belakang tertutup menjadikan dress tersebut pantas disebut drees formal . Ponselnya berdering setelah Tamara selesai mandi . Tamara tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya . “Sayang .” Ucap Tamara lalu tertawa mendengar dengusan di sebrang sana . “Kenapa telepon ? Kangen ?” Kata Tamara lagi . ‘Enggak .’ Tamara tertawa , seperti biasa . Derian selalu membuatnya tertawa dengan sikap cueknya . “Terus kenapa nelpon , nyeeeet ?” ‘Lagi apa ?’ Tamara mengerutkan keningnya , tumben sekali Derian bertanya seperti ini pada Tamara . “Mau siap – siap makan malam . Lo ? Lagi apa ?” ‘Hem. Tiduran .’ Tamara menarik nafasnya malas , Derian ini , jauh dekat kelakuannya sama saja . Tetap cuek dan dingin . “Kapan pulang ?” Terdengar dengusan dari sebrang sana , Tamara tertawa kecil . ‘Gue baru berangkat kemarin sore , Ta .’ Tamara mengangguk lalu berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian dalam . Dan di pakainya . ‘Makan malam sama siapa ?’ Tamara diam lupa menjelaskan . “Lo inget waktu sekolah pas gue luka di pelipis ?” ‘Hem .’ Jawab orang di seberang sana . “Ada dokter UKS yang lo cari . Ternyata itu nyokapnya Rubi temen kantor gue .” Derian di sebrang sana mengangguk sambal mengingat dokter yang menjahit pelipis Tamara yang sampai sekarang masih berbekas di sana . Dokter itu sangat telaten dan melakukan pekerjaan yang baik . Mungkin Tamara tidak tau jika saat dijahit Derian juga ngeri melihatnya . Derian masih di sana menatap Tamara yang memejamkan matanya menarik nafas juga merasakan sakit. “Gue malam ini mau makan malam sama dia . Dokter itu .” ‘Pake baju yang bener .’ Lagi . Tamara dibuat tertawa . “Gue beli baju . Nanti gue fotoin ke lo .” ‘Gue mau liat sekarang . Bisa video call ?’ Tamara diam . Benar – benar , tumben sekali bersikap seperti ini . “Bukannya lo sibuk ?” ‘Lagi senggang .’ Setelah itu , Tamara mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video setelah Tamara memakai bajunya tentu saja . Tamara hampir menjerit begitu Derian menerima panggilan videonya . Pasalnya , Derian sedang berendam di bathtub . Setau Tamara , Derian tidak begitu suka berendam . Di apartemennya , Derian jarang sekali berendam . Kebanyakan , bathtub di pakai oleh Tamara . Dan tentu saja , ketika Tamara berendam , Derian selalu mengikutinya . Dan jika Derian tidak ada , Tamara akan leluasa memakai bathtub untuk dirinya sendiri . Mungkin kalian tau , jika Derian tidak akan membiarkan Tamara menikmati waktunya sendiri saat berendam bersama . Dan sangat jelas , mereka akan melakukan kegiatan lain selain mandi dan berendam . “Lo punya waktu buat berendam sekarang ?” Tamara melihat Derian tersenyum kecil . ‘Ga boleh , Ta ?’ Tamara menggeleng , “bukan gitu . Lo bilang ke gue kalo lo ada kerjaan di sana . Dan kalo gue liat lo sekarang , lo sesantai itu kerjanya .” ‘Lo mau gue sibuk terus ?’ Lagi – lagi Tamara menggeleng , “ga gitu juga , Ri . Gue tanya aja . Bisa sesantai itu di sana ?” ‘Kenapa emang kalo sesantai ini ?’ Tamara mendengus melihat Derian yang sedikit mengangkat badannya dari air yang merendamnya . d**a lebarnya membuat Tamara sedikit menelan ludahnya susah payah . Umpatan di dalam hati Tamara terus menerus mendorong kata – kata itu untuk keluar dari mulutnya . Sialan memang Derian ini . “Kenapa duduk gitu ?” Derian terkekeh , ‘kenapa ?’ “Derian . Gue susulin juga ke sana .” Tamara benar – benar mengumpati Derian di dalam hati . Derian gila . Menyebalkan . Sialaan . ‘Ke sini aja kalo berani .’ Tamara membuang nafasnya . “Liat nih dress baru gue .” Tamara memang mengalihkan pandangannya dari dadaa bidang milik Derian yang merupakan kesukaan Tamara . Daada itu yang biasa di jadikan bantal tidur oleh Tamara . Di jadikan dudukan kepalanya . Di jadikan sandaran . Pokoknya , Tamara sangat menyukainya . Kamera Tamara teralih menjadi kamera belakang . Dan tentu saja , Tamara berdiri di depan cermin yang menunjukkan seluruh badannya . “Bagus ga ?” Derian mengangguk kecil lalu tersenyum. ‘Bagus .’ “Gue pergi bentar lagi .” Lagi – lagi Derian mengangguk . ‘Hati – hati .’ Sekarang , Tamara ikut mengangguk . ‘Lo bawa mobil ?’ Tamara membalikkan lagi kameranya . Siial . Derian masih saja menunjukkan d**a bidangnya . Kemudian Derian mengangkat badannya . Kembali menunjukkan daadanya sekaligus otot perutnya . “Derian , gue dandan dulu . Nanti gue telepon lagi .” ‘Oke .’ Tamara yakin . Sangat yakin . Setelah Tamara menutup teleponnya , Derian di sana tertawa . Membayangkannya saja membuat Tamara kesal . Bagaimana jika Derian ada di sampingnya yang mentertawai kegugupan Tamara saat melihat d**a di tambah lagi dengan otot perut yang sempurna . Itu semua kesukaan Tamara . Kelemahan Tamara juga . Jika Tamara melihat itu secara langsung , Tamara akan lemas dan langsung memeluk Derian . Sekarang , Derian tidak ada di sini . Bukankah itu sangat menyiksa untuk Tamara . “Derian sialan .” ‘Gue kangen lo .’ Tamara lagi – lagi mendengus . Ditambah lagi umpataan dalam hatinya . Tamara benar – benar tidak bisa jauh dari Derian . Dan saat Derian menambahkan kalimat itu pada pesan singkatnya . Tamara benar – benar tidak tahan . Tamara harus menemui Derian besok atau lusa . Sialan memang Derian . Entahlah . Umpatan keberapa yang keluar dari kata hatinya untuk Derian . Tamara menghembuskan nafasnya kasar . “Gue juga kangen lo .” Tidak di sadari Tamara waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam . Dan malam ini , Tamara akan pergi menemui dokter lamanya . Dokter yang selalu memeriksa jahitannya ketika luka . Selalu memperhatikan Tamara . Dunia memang sempit . Kenapa bisa juga , dokter itu adalah ibu dari teman dekatnya saat bekerja . Tamara sendiri sangat penasaran dengan remaja yang sering ibu Rubi ceritakan pada Rubi . Dan , Tamara baru sadar . Apa dokter itu selalu bersikap baik pada semua remaja yang berobat kepadanya ? Atau hanya kepada Tamara ?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD