HARI DENGAN DERIAN

1119 Words
Tamara sedang berlibur sebelum Derian pergi . Mereka masih berada di atas kasur . Bergulat dengan suara desahan yang terus menerus mereka keluarkan . Mereka tersenyum saling mengusap dan membelai . Setelah erangan kenikmatan itu , Tamara yang berguling ke samping . Karena sebelumnya , Tamara ada di atas Derian . “Masih pagi , Derian .” Derian menatap Tamara yang ada di sampingnya . “Gue tau .” Tamara terkekeh lantas berdiri tanpa sehelai benang pun . “Kemana ?” Tanya Derian yang masih tidak melepaskan pandangannya dari tubuh telanjang Tamara . “Mandi . Ini jadwal gue belanja bulanan . Dapur , kamar mandi sama kulkas udah kosong .” Derian lantas bangkit lalu berlari memeluk Tamara . Hal itu membuat Tamara tertawa . Mereka pasti akan melakukannya lagi . Di kamar mandi . Di bawah guyuran shower yang mengalirkan air dingin untuk hawa dan tubuh panas dua orang yang sedang berhubungan dengan sangat intens tersebut . “Lo mau ditemenin ga ?” “Huh apa ?” Tamara tidak bisa menanggapi pertanyaan Derian karena sibuk memasang bajunya . Baju bertali di bagian belakang punggung Tamara yang sedikit terbuka itu membuat Tamara sedikit kesulitan . Jadi dari tadi Tamara memasangnya dengan focus . “Ta .” “Hmm ?” Tamara menganggapi tanpa melihat Derian yang kini tersenyum melihat Tamara yang focus karena bajunya itu . Langkah Derian mendekati Tamara tidak terasa oleh Tamara . Tiba – tiba saja Derian sudah memeluknya dari belakang . “Ri , gue lagi pake baju ah .” Derian tidak menghiraukan perkataan Tamara . Dirinya terus – terusan memeluk Tamara sampai Tamara kesal lalu berbalik menatap Derian . “Derian Gustira .” Ucap Tamara kesal . “Apa Tamara Andreas ?” “Ngapain sih lo ah .” Kata Tamara lalu berjalan ke arah meja rias dengan mulut yang terus – terusan memaki Derian pelan . “Lo mau kemana ?” “Mall .” “Pake baju ini ?” Derian menunjuk baju Tamara dari atas sampai ke bawah . Baju yang sedang dikenakan oleh Tamara berupa dress dengan Panjang selutut berwarna hitam , dengan lengan tiga perempat dan bagian belakang yang terbuka hanya di batasi tali – tali kecil di sana . Yang mengikat satu sama lain sisi kanan dan kirinya . Tamara mengangguk polos . “Ganti ga ?” Ucapan Derian membuat Tamara terkekeh . “Kenapa sih , Ri ? Punggung gue adalah bagian terbaik dari tubuh gue . Itu juga lo yang bilang .” Anggukan kecil dari Derian membuat Tamara menganggukkan lagi kepalanya . “Iya emang .” Derian menghembuskan nafas kasarnya . “Tapi gue ga suka berbagi .” Tamara tertawa , “okay , karena lo mau nemenin gue jadi gue ganti .” “Lo denger tadi gue ngomong ?” Anggukan Tamara membuat Derian berdesis kesal . “Kalo denger kenapa ga langsung ganti baju ?” Kekehan Tamara kembali membuat Derian kesal . “Gue mau beli baju . Yang terbuka gini gue jual aja gimana ?” “Setuju .” Giliran seperti ini aja cepat . “Kalo perlu gue beliin baju buat lo .” “Bener ya awas kalo omong doang .” Derian mengangguk , “baju tidur semua gue beliinnya .” Nah kan ? Derian menyebalkan . * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Derian sudah memegang tangan Tamara erat . Baju Tamara di ganti dengan baju yang lebih normal . Kaos crop top dengan celana jeans selutut membuat kesan Tamara adalah orang yang santai . Dan memang seperti itu faktanya . Namun , Derian tidak melepaskan tangan di genggamannya itu sedari tadi masuk ke mall ini . Derian sungguh amat sangat tidak membiarkan Tamara lepas dari kukungannya . Tapi Derian hanya bisa menurut ketika Tamara menariknya ke bagian dimana baju – baju cantik mengantung di etalase toko atau di bagian dalam toko . Derian bahkan rela memilihkan baju untuk Tamara . Sekaligus membayarnya . Sebenarnya , Tamara sudah mengeluarkan kartu kreditnya , tapi Derian mendahului gerakan Tamara . Lantas Tamara mengalah , karena jika Tamara memaksakan keinginan , Derian pasti akan mendebatnya . Dan Tamara sedang malas berdebat . Apalagi besok Derian pergi ke Surabaya . “Ri , makan hayuk . Laper .” Derian dengan kedua tangan penuh megangguk . Satu tangan kanannya memegang belanjaan milik Tamara dan juga miliknya . Tangan kirinya menuntun anak kecil yang merengek meminta makan di sebelahnya . “Makan apa ?” Tamara malah tersenyum kecil , “sea food ? Makanan korea ? Jepang ? Italia ?” Derian lantas menarik Tamara pelan . Memasuki restoran makanan Jepang . Tamara tersenyum . Makanan favorit Derian adalah sushi . Jadi jangan tanyakan kenapa Derian menarik Tamara  ke sini . “Udah lama ga makan sushi .” Derian mengangguk lalu mulai memesan . Sedangkan Tamara di depannya duduk sambil membuka ponselnya . Ada beberapa pesan di aplikasi chat di ponselnya . ‘Dokter Mara , salam kenal ini Liana .” Tamara tersenyum , seingat Tamara Liana adalah perawat yang membantu saat kejadian kecelakaan beruntun di rumah sakit beberapa hari yang lalu . “Iya , Liana . Salam kenal . Bukankah kita sudah berkenalan ?” Setelah membalas pesan itu , Tamara menatap Derian yang tengah menatapnya seakan bertanya Tamara sedang membalas pesan dari siapa . “Ini Liana . Perawat baru di rumah sakit . Dia yang bantuin gue buat gawat darurat di UGD .” Derian mengangguk , “gimana kerja lo ?” Tamara menatap Derian tidak percaya . Tumben amat anak ini menanyakan kerjaannya di rumah sakit . Begitulah batin Tamara . Tapi Tamara tersenyum , “baik .” Mengingat kejadian di rumah sakit , Tamara belum bercerita pada Derian mengenai dia di temui bunda dan adik yang bahkan Tamara sendiri tidak menginginkannya . Mungkin , sekarang waktu yang tepat . Tamara menatap Derian yang sedang memainkan ponselnya tanpa ekspresi . Sudah biasa . Bagi Tamara . “Gue mau bilang sesuatu deh , Ri .” “Apaan ?” Kata Derian tanpa menatap Tamara . “Liat gue sih .” Derian menurut . Dia menyimpan ponselnya kemudian menatap Tamara yang terkekeh . “Jadi waktu itu ada kecelakaan beruntun gitu di rumah sakit . UGD rame banget .” Tamara menjeda memeriksa apa Derian masih memperhatikannya atau tidak . “Lanjut , abis itu kenapa ?” Tamara menarik nafasnya , “ada satu dari wali pasien yang manggil gue . Dan lo tau ga itu siapa ?” Derian menggeleng . “Itu bu- “ Tangan Derian memutuskan kata yang akan keluar dari mulut Tamara . Ada panggilan masuk ke ponselnya . Tamara menghembuskan nafas kesalnya . Libur gini masih ngerjain kerjaan . Batin Tamara . Pesanan makanan mereka sudah datang dan membuat Tamara tersenyum senang lalu menatap Derian yang tadi menjauh untuk menerima telepon ke ponselnya . Tamara malas menunggu , akhirnya Tamara makan sushinya duluan . “Ta , gue ada urusan .” Sudahlah , Tamara malas kalua sudah begini .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD