Tamara sedang berlibur sebelum Derian pergi . Mereka masih berada di atas kasur . Bergulat dengan suara desahan yang terus menerus mereka keluarkan . Mereka tersenyum saling mengusap dan membelai . Setelah erangan kenikmatan itu , Tamara yang berguling ke samping . Karena sebelumnya , Tamara ada di atas Derian .
“Masih pagi , Derian .”
Derian menatap Tamara yang ada di sampingnya . “Gue tau .”
Tamara terkekeh lantas berdiri tanpa sehelai benang pun .
“Kemana ?” Tanya Derian yang masih tidak melepaskan pandangannya dari tubuh telanjang Tamara .
“Mandi . Ini jadwal gue belanja bulanan . Dapur , kamar mandi sama kulkas udah kosong .”
Derian lantas bangkit lalu berlari memeluk Tamara . Hal itu membuat Tamara tertawa . Mereka pasti akan melakukannya lagi . Di kamar mandi . Di bawah guyuran shower yang mengalirkan air dingin untuk hawa dan tubuh panas dua orang yang sedang berhubungan dengan sangat intens tersebut .
“Lo mau ditemenin ga ?”
“Huh apa ?”
Tamara tidak bisa menanggapi pertanyaan Derian karena sibuk memasang bajunya . Baju bertali di bagian belakang punggung Tamara yang sedikit terbuka itu membuat Tamara sedikit kesulitan . Jadi dari tadi Tamara memasangnya dengan focus .
“Ta .”
“Hmm ?” Tamara menganggapi tanpa melihat Derian yang kini tersenyum melihat Tamara yang focus karena bajunya itu .
Langkah Derian mendekati Tamara tidak terasa oleh Tamara . Tiba – tiba saja Derian sudah memeluknya dari belakang .
“Ri , gue lagi pake baju ah .”
Derian tidak menghiraukan perkataan Tamara . Dirinya terus – terusan memeluk Tamara sampai Tamara kesal lalu berbalik menatap Derian .
“Derian Gustira .” Ucap Tamara kesal .
“Apa Tamara Andreas ?”
“Ngapain sih lo ah .” Kata Tamara lalu berjalan ke arah meja rias dengan mulut yang terus – terusan memaki Derian pelan .
“Lo mau kemana ?”
“Mall .”
“Pake baju ini ?”
Derian menunjuk baju Tamara dari atas sampai ke bawah . Baju yang sedang dikenakan oleh Tamara berupa dress dengan Panjang selutut berwarna hitam , dengan lengan tiga perempat dan bagian belakang yang terbuka hanya di batasi tali – tali kecil di sana . Yang mengikat satu sama lain sisi kanan dan kirinya .
Tamara mengangguk polos .
“Ganti ga ?”
Ucapan Derian membuat Tamara terkekeh . “Kenapa sih , Ri ? Punggung gue adalah bagian terbaik dari tubuh gue . Itu juga lo yang bilang .”
Anggukan kecil dari Derian membuat Tamara menganggukkan lagi kepalanya .
“Iya emang .” Derian menghembuskan nafas kasarnya . “Tapi gue ga suka berbagi .”
Tamara tertawa , “okay , karena lo mau nemenin gue jadi gue ganti .”
“Lo denger tadi gue ngomong ?”
Anggukan Tamara membuat Derian berdesis kesal . “Kalo denger kenapa ga langsung ganti baju ?”
Kekehan Tamara kembali membuat Derian kesal . “Gue mau beli baju . Yang terbuka gini gue jual aja gimana ?”
“Setuju .”
Giliran seperti ini aja cepat .
“Kalo perlu gue beliin baju buat lo .”
“Bener ya awas kalo omong doang .”
Derian mengangguk , “baju tidur semua gue beliinnya .”
Nah kan ? Derian menyebalkan .
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Derian sudah memegang tangan Tamara erat . Baju Tamara di ganti dengan baju yang lebih normal . Kaos crop top dengan celana jeans selutut membuat kesan Tamara adalah orang yang santai . Dan memang seperti itu faktanya .
Namun , Derian tidak melepaskan tangan di genggamannya itu sedari tadi masuk ke mall ini . Derian sungguh amat sangat tidak membiarkan Tamara lepas dari kukungannya . Tapi Derian hanya bisa menurut ketika Tamara menariknya ke bagian dimana baju – baju cantik mengantung di etalase toko atau di bagian dalam toko .
Derian bahkan rela memilihkan baju untuk Tamara . Sekaligus membayarnya . Sebenarnya , Tamara sudah mengeluarkan kartu kreditnya , tapi Derian mendahului gerakan Tamara . Lantas Tamara mengalah , karena jika Tamara memaksakan keinginan , Derian pasti akan mendebatnya . Dan Tamara sedang malas berdebat . Apalagi besok Derian pergi ke Surabaya .
“Ri , makan hayuk . Laper .”
Derian dengan kedua tangan penuh megangguk . Satu tangan kanannya memegang belanjaan milik Tamara dan juga miliknya . Tangan kirinya menuntun anak kecil yang merengek meminta makan di sebelahnya .
“Makan apa ?”
Tamara malah tersenyum kecil , “sea food ? Makanan korea ? Jepang ? Italia ?”
Derian lantas menarik Tamara pelan . Memasuki restoran makanan Jepang . Tamara tersenyum . Makanan favorit Derian adalah sushi . Jadi jangan tanyakan kenapa Derian menarik Tamara ke sini .
“Udah lama ga makan sushi .”
Derian mengangguk lalu mulai memesan . Sedangkan Tamara di depannya duduk sambil membuka ponselnya . Ada beberapa pesan di aplikasi chat di ponselnya .
‘Dokter Mara , salam kenal ini Liana .”
Tamara tersenyum , seingat Tamara Liana adalah perawat yang membantu saat kejadian kecelakaan beruntun di rumah sakit beberapa hari yang lalu .
“Iya , Liana . Salam kenal . Bukankah kita sudah berkenalan ?”
Setelah membalas pesan itu , Tamara menatap Derian yang tengah menatapnya seakan bertanya Tamara sedang membalas pesan dari siapa .
“Ini Liana . Perawat baru di rumah sakit . Dia yang bantuin gue buat gawat darurat di UGD .”
Derian mengangguk , “gimana kerja lo ?”
Tamara menatap Derian tidak percaya . Tumben amat anak ini menanyakan kerjaannya di rumah sakit . Begitulah batin Tamara .
Tapi Tamara tersenyum , “baik .”
Mengingat kejadian di rumah sakit , Tamara belum bercerita pada Derian mengenai dia di temui bunda dan adik yang bahkan Tamara sendiri tidak menginginkannya . Mungkin , sekarang waktu yang tepat .
Tamara menatap Derian yang sedang memainkan ponselnya tanpa ekspresi . Sudah biasa . Bagi Tamara .
“Gue mau bilang sesuatu deh , Ri .”
“Apaan ?” Kata Derian tanpa menatap Tamara .
“Liat gue sih .”
Derian menurut . Dia menyimpan ponselnya kemudian menatap Tamara yang terkekeh .
“Jadi waktu itu ada kecelakaan beruntun gitu di rumah sakit . UGD rame banget .” Tamara menjeda memeriksa apa Derian masih memperhatikannya atau tidak .
“Lanjut , abis itu kenapa ?”
Tamara menarik nafasnya , “ada satu dari wali pasien yang manggil gue . Dan lo tau ga itu siapa ?”
Derian menggeleng .
“Itu bu- “
Tangan Derian memutuskan kata yang akan keluar dari mulut Tamara . Ada panggilan masuk ke ponselnya . Tamara menghembuskan nafas kesalnya . Libur gini masih ngerjain kerjaan . Batin Tamara .
Pesanan makanan mereka sudah datang dan membuat Tamara tersenyum senang lalu menatap Derian yang tadi menjauh untuk menerima telepon ke ponselnya . Tamara malas menunggu , akhirnya Tamara makan sushinya duluan .
“Ta , gue ada urusan .”
Sudahlah , Tamara malas kalua sudah begini .