KEBIASAAN TAMARA

1024 Words
Tamara di tahan oleh kakak kelasnya saat dalam perjalanan ke toilet . Di depan lapangan basket yang tengah di tonton oleh kebanyakan orang dari penggemar pemain basket sekolahan .  "Gaya amat lo pake perban di dahi lo . Serasa curi perhatian banget ya lo ?" Sandra. Dia tertawa puas dibarengi kacung - kacung di belakangnya. "Apaan sih ? Ga penting banget ," kata Tamara lalu beranjak berjalan dari situ. Tapi kemudian bahunya di dorong hingga mengenai pintu loker yang kebetulan ada di sana . Biasanya untuk menyimpan handuk kecil atau baju olahraga pemain lapangan . Suara menggema dari dorongan keras Sandra terhadap bahu Tamara membuat kumpulan yang tadi menonton anak-anak basket kini tertuju pada pem- bullyan yang dilakukan Sandra dan kawan – kawannya . Tidak hanya penonton basket yang kini mengalihkan perhatiannya . Melainkan anggota basket yang sedang bermain pula ikut memberi perhatian pada Sandra sang ratu drama di sekolah ini . Ada Derian dan teman – temannya .   "Apaan sih , San ? Ga usah kayak gini juga ," sahut Tamara yang malu jadi bahan perhatian. "Waaaah . Lo bener - bener ga sopan sama kakak kelas ya . Panggil kakak kek apa kek . Ini malah langsung sebut nama . Lo kira lo siapa hah ?" Kali ini tangan Sandra mendorong kepala Tamara ke arah kanan tangan Tamara . "Mau lo apa sih ?" Penonton yang lainnya hanya diam memperhatikan . Seolah ini adalah tontonan menarik , sebagian dari penonton mulai merekam dengan kamera ponselnya . "Buka perban lo . Lo gaya - gaya amat anjir ke sekolah pake begituan. Abis tarung dimana mbak ?" Nada Sandra yang ia keluarkan dari mulutnya itu seolah meremehkan Tamara yang benar -benar sedang terluka . "Gue jatoh. Pelipis gue luka . Jadi wajar 'kan kalo gue pake perban ?" Sandra berdecak , "alaaah . Palingan lo mau diperhatiin sama orang - orang di sini ‘kan ? Hahaha dasar kurang perhatian ." Kata – kata dari Sandra cukup membuat amarah Tamara naik . Tapi masih sempat Tamara tahan dengan mengepalkan tangannya sekuat mungkin . Tidak mungkin Tamara memukul wajah Sandra di sini . Apalagi katanya ,  Sandra adalah anak dari penyumbang dana sekolahan . Bisa - bisa, Tamara yang di keluarkan dari sekolah dengan catatan sudah berbuat kriminal di sekolah . "Kalo lo ga mau buka , sini gue bukain . Betapa baiknya 'kan gue ?" Tamara tidak sempat menepis karena sedetik setelah Sandra berujar seperti itu , perban di pelipis Tamara di tarik paksa sampai wajah Tamara harus terlempar ke samping . Tamara berdesis merasakan sakitnya . Derian ingin sekali menghentikan itu semua ketika Tamara mengangkat lagi wajahnya dan darah mengalir dari pelipisnya . Semua orang di sana menahan nafas ketika Tamara menatap Sandra tajam . "Sudah puas , San? Buat apa gue ngebuat - buat hal kayak gini . Sori , gue bukan lo yang suka berdrama .” Tamara menarik nafasnya, “dan gue bukan lo yang pengen di perhatiin sama orang - orang di sekeliling lo ." Kata Tamara tak acuh dengan sekelilingnya. "Jadi kalo boleh gue tanya , siapa yang kurang perhatian sekarang ? Gue ? Atau lo ?" Kata Tamara dengan nada meremehkan dan tersenyum miring . Sandra juga kaget . Darah itu mengalir menyentuh dagu Tamara . Luka yang Tamara dapat dari pertikaian ayah dan bundanya belum kering sepenuhnya . Bahkan dia bisa dengan jelas bagaimana luka yang ada di pelipis Tamara . Sandra sudah di tanggung malu, lalu dengan cepat dia membubarkan semua orang yang sedari tadi berkumpul untuk menyaksikan kejadian yang ada di sana . Tamara menyentuh pelipisnya dengan tangan kanannya . Tapi serasa tangan kanannya penuh, tangan kirinya yang akan menggantikan itu . Tapi saat tangan kirinya akan menyentuh pelipisnya sendiri , tangan lain menahannya. Dan yang Tamara rasakan , sesuatu penekan lukanya .   Derian ada di depan Tamara. Menahan tangan kirinya , lalu tangan Derian yang lain memegang seragamnya di pelipis Tamara sedikit menekan agar darahnya tidak terus mengalir. Derian satu langkah di belakang Derian yang melihat itu seakan terbakar hatinya. Derian mundur lalu mulai memainkan bola basketnya lagi. "Lo perlu UKS ," kata Derian . Tamara diam menatap Derian dengan sebelah matanya . Mata yang satunya lagi tertutupi seragam yang kini menekan luka Tamara . "Dan lo. Perlu seragam baru ." Tamara membuka matanya . “Bad dream ?” Kemudian Tamara tersenyum saat Derian di sampingnya bertanya . “Bukan , mimpi indah . Gue mimpi lo dengan kaos putih polos nahan darah di kening gue .” Derian mendesah, “gue ga mau inget gituan .” “Kenapa ? So sweet banget tau lo pas waktu itu .” Tamara menggoda Derian .   Derian berbalik menyamping memeluk Tamara . Dadanya yang telanjang sengaja dia lekatkan pada kepala Tamara . “Ri , lo ga pake baju , ah .” Ucapan Tamara membuat Derian terkekeh . “Apa ? Lo pernah bilang suka .” “Suka apa ?” “Suka kalo gue telanjang .” Tamara ikut terkekeh lalu mengeratkan pelukannya . Tamara memang pernah mengatakan itu . Tamara sendiri merasa bahwa jika Derian tidur di sampingnya , bertelanjang d**a , rasanya Tamara akan tidur nyenyak dantidak akan mimpi buruk . “Lo beneran ga bisa bolak balik aja seminggu nanti ?” “Bisa .” Kata Derian membuat Tamara menongkak dan tersenyum . “Janji ya ?” “Iya kalo lo mau buat gue mati .” Dengan sekali sentak, Tamara menjauhkan dirinya dari tubuh Derian . Derian b******k . Sudah membuat Tamara senang malah di hancurkan begitu saja . Apa tidak sakit ? Dasar . Derian . Dia malah tertawa kecil lantas memeluk Tamara lagi namun di tolak oleh Tamara . “Oh ga mau di peluk ?” “Ya lo abis gitu . Masa udah buat gue seneng , lo timpuk gue .” “Pake duit mau ?” Tamara tertawa lantas menggeleng . “Lo pulang dengan selamat aja gue udah bersyukur . “ Derian tersenyum sambil membalas pelukan Tamara . “Tidur lagi , Ta . Masih malem .” “Lo yakin mau tidur ?” Derian terkekeh begitu Tamara mengeratkan pelukannya pada d**a telanjang Derian . Sialan cewek ini . Umpat Derian dalam hati . Sepertinya , Derian tidak bisa melepaskan Tamara begitu saja . Apalagi sudah menggoda Derian dengan sikap anak kecil yang tidak yakin akan keputusannya . “Lo udah membangunkan singa lapar , Andreas .”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD