2

1025 Words
"Apa sebegitu berartinya Johan dihati kamu, sampai kamu tidak memikirkan kondisimu sendiri?" tanya seorang pria, pemilik mobil mewah yang berhenti di dekat Tiara. Tiara yang mendengar pertanyaan tersebut sedikit terkejut, dan setelah itu, Tiara langsung memejamkan matanya dengan tubuh yang mulai bergetar, yang artinya, Tiara kembali menangis dan kak ini, tangis Tiara semakin kencang dibandingkan sebelumnya. Alan mendekati Tiara dengan tangan kiri yang masih setia memegang payung hitam. "Masuk kalau kamu masih berat untuk keluar dari rumah ini!" titah Alan dengan penuh ketegasan. Yah, pemilik mobil mewah itu adalah Alan, Kakak dari Johan, lebih tepatnya, orang yang menjadi bahan dari kehancuran rumah tangga Tiara dengan Johan. Mendengar perintah tersebut, Tiara langsung menoleh dengan kedua mata yang terlihat merah, serta tangis yang mulai terhenti. "Mas Alan tidak tahu kalau Mas Johan sudah menceraikan aku? Bagaimana mana mungkin aku bisa ke rumah itu, sementara pemiliknya sendiri sudah melemparku keluar tanpa perasaan?" tanya Tiara dengan emosi yang mulai meledak-ledak. "Masuklah. Semuanya akan baik-baik saja kalau kamu mau menurut," ujar Alan tegas, dan hanya ditanggapi oleh tawa renyah oleh Tiara. "Baik-baik saja? Apanya yang akan baik-baik saja? Dirumah itu tidak hanya da Johan, tapi ada Fani. Johan sudah tidak butuh aku, lalu apa yang akan membuat semuanya jadi baik-baik saja?" tanya Tiara yang merasa Alan sedang ingin menghibur dirinya saja. "Siapa yang tidak tahu disana ada orang lain selain pemilik rumahnya. Cepat masuk, dan rebut kedudukan kamu sebagai istri dari pemilik rumah itu, kalau kamu memang masih memiliki rasa kelayakan dibandingkan dengan wanita yang ada di dalam rumah itu." Ujar Alan dengan penuh ketegasan, membuat Tiara langsung terdiam dan ingin masuk sesuai dengan perintah Alan, tapi Tiara masih terdiam. Tiara masih ingat dengan jelas, saat Johan mengusir dan bersumpah tidak akan mencintai dirinya lagi, itu membuat Tiara tidak memiliki kesempatan untuk merasa pantas menjadi istri dari Johan. "Sepertinya aku memang harus keluar dari rumah itu, dan benar-benar akan melakukan apa yang dituduhkan mereka." Gumam Tiara dalam hati yang merasa tidak perlu mengikuti saran dari Kakak iparnya tersebut, oh, ralat, mantan Kakak ipar lebih tepatnya. Tiara yang merasa butuh waktu untuk sendiri, akhirnya langsung membawa langkahnya untuk menjauh dari bawah payung hitam Alan, membuat Alan langsung mengernyitkan keningnya saat melihat Tiara memilih kehujanan. "Mau kemana kamu?" tanya Alan saat melihat Tiara membawa langkahnya menjauh dari posisinya, bukan untuk masuk ke dalam rumah Johan seperti sarannya. "Untuk mempersiapkan diri melakukan apa yang seharusnya aku lakukan!" jawab Tiara tegas. Alan langsung melangkah mendekati Tiara, ingin tahu apa yang akan dilakukan Tiara. "Masuk ke dalam mobil. Aku akan membantumu untuk kembali pada Johan." Ujar Alan yang langsung mendapat gelengan keras dari Tiara. "Aku tahu, Mas, apa yang harus aku lakukan." Ujar Tiara yang langsung masuk ke dalam mobil Alan, dan tanpa Alan atau Tiara sadari, ternyata ada seseorang yang merekam mereka berdua hingga mereka berdua pergi, barulah orang itu mematikan videonya. "Aku tidak tahu pria mana lagi yang menjadi target kamu selanjutnya Tiara, yang jelas aku benar-benar jijik sama kamu." Ujar Johan dengan penuh kebencian terhadap Tiara, saat melihat Tiara pergi dengan seorang pria. Yah, ternyata Johan tidak tahu kalau pria itu adalah kakaknya sendiri, itu karena Johan tidak mengenal mobil yang dipakai oleh Alan, karena mobil yang biasa dipakai oleh Alan, malam itu tidak dipakai oleh Alan, dan Alan malah membawa mobil pribadinya yang jarang diketahui oleh orang, termasuk Johan, karena mobil itu akan Alan pakai kalau Alan sedang bepergian sendiri Tanpa supir. Johan juga tidak bisa melihat sosok kakaknya, itu karena terhalang oleh derasnya hujan, ditambah tertutup oleh payung, hingga membuat Johan tidak sadar kalau pria yang bersama dengan mantan istrinya itu adalah kakaknya sendiri. "Apa yang akan kamu lakukan untuk merebut kebahagiaan kamu dari sahabat yang tidak punya hati itu?" tanya Alan seraya meletakkan Teh hangat untuk Tiara. "Membalas rasa sakitnya saat pria yang aku cintai menamparku untuk yang pertama kalinya hanya demi wanita lain. Di usir dengan cara hina, itu juga butuh balasan. Jadi aku tidak ingin merebut apapun, tapi membalas apapun yang dia lakukan terhadapku." Jawab Tiara dengan penuh ketegasan, membuat Alan sedikit terkejut, Karena Ternyata Tiara tidak ingin berusaha untuk merebut apa yang seharusnya menjadi kebahagiaan Tiara. Tiara masih sangat ingat jelas, saat Johan mengatakan dirinya wanita ular, sungguh sangat sakit hatinya. Bagaimana Tiara tidak merasa sakit hati yang teramat sakit, kalau dirinya yang biasa dicintai dan dijadikan ratu oleh calon suaminya, tiba-tiba setelah resmi jadi suaminya, ia diceraikan begitu saja, dan di hina dengan tanpa perasaan, tentu Tiara sangat terluka, terlebih Tiara 2 tahun mendapat kasih sayang yang tiada batas dari Johan, tentu sangat terluka dalam saat Tiara mendapat sikap tidak biasa dari Johan. "Memangnya apa yang akan kamu lakukan, kalau bukan untuk merebut Johan dari sahabatmu. Bukannya kamu sangat mencintai Johan?" tanya Alan yang sedikit tertarik untuk mengurus masalah adik iparnya. "Apa dia masih pantas mendapatkan cinta yang teramat suci dariku?" Tiara balik tanya dengan tawa renyahnya, karena menurut Tiara, sekarang di dunia ini tidak mengenal yang namanya cinta suci, yang penting mulutnya berbisa dan bisa meracuni pikiran orang, apapun itu tujuannya akan terselesaikan dengan mudah, pikir Tiara yang merasa Johan sangat mudah terpengaruh akan omongan orang lain, bukan memberi kepercayaan penuh terhadap pasangannya. Padahal sebenarnya, hubungan itu akan tetap aman kalau diantara keduanya saling terbuka, saling percaya, saling mengerti dan lainnya, bukan malah saling mencari kesalahan pasangan, lalu bubar seperti yang dialami oleh Tiara saat ini. Tidak ada angin tidak ada hujan, tepat di malam penggantinya, Johan menceraikan dirinya karena Fani memberikan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya tengah berada dalam gendongan Alan. Hanya dengan sebuah foto, dan juga penjelasan yang langsung dipercayai Johan, Johan langsung menceraikan dirinya detik itu juga. Jadi, sekarang Tiara sudah tidak percaya akan cinta suci, karena cinta suci itu sudah ternoda kalau terkena noda mulut berbisa seperti mulut Fani, pikir Tiara. Alan yang mendengar pertanyaan Tiara langsung menyentuh pundak Tiara, dan menatap wajah cantik dan juga imut Tiara dengan tatapan yang sangat mendalam. "Kamu lebih cantik dari sahabatmu. Carilah kebahagiaan mu yang sesungguhnya kalau memang kamu merasa bukan Johan kebahagiaan kamu, aku juga tidak akan memaksamu untuk kembali pada Johan, atau berusaha merebut Johan dari sahabat mu." Ujar Alan dengan penuh pengertian. "Bagaimana kalau aku mencari kebahagiaan dari Mas Alan…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD