Bagaimana kalau aku mencari kebahagiaan dari Mas Alan?" tanya Tiara yang membuat Alan langsung tersenyum.
"Aku bukan alat yang suka kamu permainkan Tiara. Kalau kamu mau merebut Johan dari sahabatmu, akan aku bantu." Ujar Alan seraya berdiri dengan tegak dan menatap keluar jendela.
"Memangnya apa yang bisa Mas Alan bantu?" tanya Tiara yang sudah berubah jadi serius.
Alan mulai memberitahu Tiara apa yang akan ia lakukan untuk membantu Tiara agar bisa kembali bersama dengan Johan, dan mencoba untuk membuka hati Johan, agar Johan tidak termakan oleh omongan Fani.
Satu minggu sudah Tiara tidak bertemu dengan Johan, dan hari ini Tiara memutuskan untuk mendatangi rumah Johan.
Tiara sebenarnya masih ragu untuk menemui Johan, karena nomor ponselnya sudah di blokir oleh Johan, rasanya Tiara tidak memiliki harga diri saat ia mendatangi rumah Johan. Tapi, mengingat semua apa yang dikatakan oleh Alan, Tiara mencoba untuk tidak memikirkan soal harga diri, karena tujuan Tiara untuk memberitahu Johan kalau Fani bukan wanita baik-baik.
Tok tok tok
Tiara mulai mengetuk pintu rumah Johan dengan raut wajah yang terlihat sangat tenang.
Ceklek
"Mau apa kamu kesini?" tanya Johan datar
"Johan, aku butuh bicara sebentar. Aku tidak masalah kita pisah. Kita bisa pisah baik-baik, asal kamu mau percaya satu hal sama aku." Ujar Tiara dengan penuh keseriusan, namun tidak membuat Johan tertarik untuk bicara berdua.
"Bicara saja!" ujar Johan datar yang tidak ada niatan mengajak Tiara untuk masuk ke dalam rumahnya, membuat Tiara langsung mengepalkan tangannya kuat, karena secara tidak langsung, Johan mulai menunjukkan sikap tidak pedulinya terhadap dirinya.
"Apa aku boleh masuk, atau kita bicara di tempat lain?" tanya Tiara ragu-ragu
"Memangnya kamu siapa bisa menentukan Johan bicara dimana?" tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah Johan, membuat Tiara tidak percaya melihat keberadaan Susi di rumah Johan, ibu dari Fani.
"Kenapa Tante ada di rumah Johan?" tanya Tiara yang semakin membuat hatinya terasa panas.
"Kenapa? Kamu terkejut?" Susi malah balik tanya, membuat Tiara semakin terbakar emosi.
"Tentu saja aku terkejut, Tante. Tidak seharusnya Tante ada di rumah Johan." Ujar Tiara yang merasa sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Kenapa jadi kamu yang tidak terima, sedangkan Nak Johan saja tidak keberatan aku ada disini." Ujar Susi dengan santainya, dan itu semakin membuat Tiara tidak terima. Tiara langsung mendekati Susi, namun dengan cepat dihadang oleh Johan.
"Jangan sampai tanganmu menyentuh bagian tubuh Tante Susi." Ujar Johan menahan tangan Tiara, dan langsung menepisnya dengan cara kasar, membuat Tiara semakin terbakar emosi.
"Mas Johan, kita belum ceria sepenuhnya, aku masih ada hak atas kamu. Kamu tidak bisa giniin aku dong!" teriak Tiara dengan air mata yang sudah menetes tanpa sengaja, dan itu karena Tiara sangat sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh Johan terhadap dirinya. Padahal, surat-surat dari pengadilan agama, Johan masih suaminya, tapi Johan sudah bertindak terlalu jauh terhadap dirinya.
"Aku sudah mengurusnya. Begitu surat itu sudah selesai, maka hubungan kita juga sudah selesai. Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Aku banyak kerjaan." Ujar Johan tegas, membuat Tiara langsung menyentuh tangan Johan, dan meminta agar Johan tidak menyakiti dirinya terlalu dalam.
"Mas, kamu begitu sangat mencintai aku. Kamu begitu sangat peduli sama aku, kenapa hanya dengan fitnah Fani, kamu jadi seperti ini." Ujar Tiara sambil memegang tangan Johan, dan Jihan hanya diam saja.
"Mas, aku tahu kamu hanya tertipu dengan omongan Fani. Percayalah sama aku, aku tidak pernah mengkhianati kamu. Dia Kakak kamu, dia tidak mungkin melakukan hal itu sama kamu. Kita masih ada kesempatan untuk bersama, Mas. Aku akan memaafkan kesalahanmu." Ujar Tiara yang membuat Johan langsung melepaskan tangan Tiara dari tangannya dengan pelan, membuat Tiara dengan refleksnya memejamkan matanya karena ternyata Johan tidak berubah pikiran.
"Bukan Fani yang menipuku, tapi kamu yang menipuku," ujar Johan tegas, lalu membalikkan badannya membelakangi Tiara.
Susi yang mendengar ucapan Johan langsung memperlihatkan senyum sinisnya pada Tiara, dan bersedekap d**a.
"Tiara, mungkin kamu masih belum beruntung menipu seseorang hanya demi keegoisan kamu. Padahal, Tante melihat Nak Johan begitu sangat baik sama kamu, tapi kamu malah memanfaatkan kebaikan Nak Johan dengan tidak cukup satu pasangan. Kalau memang kamu ingin mengkhianati Nak Johan, kenapa kamu harus memilih selingkuhan dari keluarga Nak Johan sendiri, kenapa bukan pria lain?" ujar Susi yang membuat emosi Johan semakin terpancing saat mendengar kata-kata Susi.
Tiara yang mendengar ucapan Susi langsung mengangkat tangannya untuk menampar Susi, tapi dengan cepat Susi pergi pergi, dan ternyata kepergian Susi langsung tergantikan oleh Fani. Fani baru saja menuruni anak tangga dengan rambut yang masih masih basah.
"Ada apa ini?" tanya Fani dengan tampang sok polosnya.
Tiara yang mendengar pertanyaan Fani hanya mendecih penuh kebencian.
"Sudah basi, Fani. Aku mau kamu jujur sama semua orang, kalau kamu sengaja ingin menghancurkan pernikahan aku dengan Johan. Iya, kan!" bentak Tiara tepat di depan wajah Fani, membuat Fani dengan refleknya mundur untuk menghindari suara keras Tiara.
"Tiara, aku tidak pernah berniat untuk menghancurkan pernikahan kamu dengan Mas Johan. Aku memberi tahu Mas Johan, itu karena aku tidak tega dia di bodohi kamu. Aku berjanji, aku akan berusaha untuk menyatukan kalian. Tapi tolong, tolong jangan berpikir buruk tentangku." Ujar Fani yang langsung sesenggukan karena menangis, membuat Johan langsung menarik tubuh Fani dan memeluknya dari samping.
"Jangan pedulikan hubunganku dengan Tiara. Aku cukup merasa harus balas Budi terhadap kebaikan kamu, Karena aku yakin, tanpa kamu, mungkin sampai saat ini aku tidak tahu kalau wanita yang aku cintai hanya menjadikan aku ladang untuk mendekati Kak Alan." Ujar Johan yang kembali membuat Tiara menggelengkan kepalanya cepat, saat mendengar perkataan Johan yang menyakiti hatinya, dan tentunya itu sudah bukan lagi untuk yang pertama kalinya Tiara mendengar kata menyakitkan dari Johan.
"Baiklah. Kamu ingin pisah?" tanya Tiara pada Johan, dan mencoba untuk menebalkan hatinya agar tidak semakin sakit hati ataupun kecewa pada Johan.
Mendengar pertanyaan tersebut dari Tiara, Johan masih tetap diam.
Tiara membuka tasnya dan mengambil sebuah kertas putih di sana, lalu menyerahkan kertas putih tersebut pada Johan
"Akan aku terima kalau memang kamu tidak bisa mempertahankan pernikahan ini. Akan ku penuhi untuk bercerai. Dan aku harap, kamu tidak akan menyesal di kemudian hari!" ujar Tiara tegas.
Johan mengambil kertas tersebut dari Tiara, dan….
Degh