Johan mengambil kertas tersebut dari Tiara, dan….
Degh
Johan cukup terkejut saat melihat kertas yang diberikan oleh Tiara adalah surat cerai dari pengadilan.
"Sejak kapan kamu mengurus perceraian kita?" tanya Johan tidak percaya. Sebenarnya yang membuat Johan tidak percaya itu bukan perkara surat cerai, tapi masalah waktu, kapan Tiara mengurus surat cerai tersebut, karena, setahu Johan, Tiara begitu sangat mencintai dirinya, bahkan Johan melihat dengan jelas, betapa terlukanya Tiara saat ia mengucapkan kata cerai, dan Johan juga melihat Tiara tidak pernah ada pergerakan yang menunjukkan kalau Tiara mengurus surat perceraiannya. Johan jadi penasaran, siapa orang yang membantu Tiara mengurus perceraiannya. Sekelebat Johan teringat akan sang Kakak, Alan. Johan menduga, kalau orang yang membantu Tiara untuk mengurus perceraiannya itu adalah, Alan. Alan pasti akan berusaha keras untuk memisahkan dirinya dengan Tiara, agar Lan bisa memiliki Tiara sepenuhnya, pikir Alan.
Tiara sendiri tidak menanggapi pertanyaan Johan. Tiara tetap memang lurus ke depan, bahkan sesekali Tiara melirik ke arah Fani, dengan lirikan tajamnya, dan tentunya tanpa disadari oleh Fani.
Fani yang sedikit kepo dan ingin tahu pasti apa isi surat yang diberikan oleh Tiara tadi pada Johan, langsung merebut kertas tersebut dari tangan Johan, dan membacanya.
Setelah Fani sudah memastikan kalau surat itu memang benar surat cerai, akhirnya Fani langsung mendekati Tiara, dan melempar surat cerai tersebut pada wajah Tiara.
"Tiara, kamu benar-benar keterlaluan! Sudah jelas kamu yang salah, tapi kenapa kamu tidak mau minta maaf sama Johan, justru kamu malah menceraikan Johan. Kurang baik apa sih Johan sama kamu!" teriak Fani dengan lantangnya, tepat di depan wajah Tiara, membuat kening Tiara berikut pertanda kalau ia sedang kebingungan.
"Fani, apa maksudmu? Disini aku yang diceraikan, bukan aku yang menceraikan." Ujar Tiara dengan tampang bingungnya.
"Kamu diceraikan oleh Johan, itu karena kesalahanmu sendiri. Harusnya kamu minta maaf, bukan malah mengambil tindakan dengan perceraian." Ujar Fani yang terus berada di pihak Johan, sedangkan Johan, ia hanya jadi pendengar setia.
Tiara sendiri yang mendengar ucapan Fani hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tawa renyahnya.
"Seharusnya kamu belajar lagi untuk bicara yang tepat. Ketahuilah, aku bercerai bukan karena kesalahanku, tapi karena mulut sesatmu. Kalau bukan karena mulut berbisa mu itu, aku juga tidak mungkin diceraikan oleh Mas Johan." Ujar Tiara tak ingin mengalah, dan apa yang dikatakan oleh Tiara kembali memancing emosi Johan, karena sepertinya Johan tidak terima kalau Tiara terus menyalahkan Fani.
Mendengar ucapan Tiara, Johan langsung mendorong tubuh Tiara agar tidak menyakiti Fani, dan Fani langsung menangis karena mendengar ucapan Tiara yang menyakiti hatinya.
"Tiara. Setelah aku menorehkan tinta berupa tanda tanganku, aku minta, kamu tidak lagi mengusik ketenangan ku, apalagi mengusik ketenangan Fani." Ujar Johan dengan penuh sungguh-sungguh, yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Tiara. Tiara terlihat tersenyum, namun. Air matanya Tetap menetes tanpa henti.
"Baik. Selagi kau tidak merasa menyesal, aku tidak akan mengusikmu lagi lagi. Katakan kalau kamu ingin menarik kata-katamu, sebelum aku keluar dari rumahmu." Ujar Tiara yang sedikit memberi kesempatan pada Johan, takut Johan berubah pikiran.
Johan langsung menandatangani surat perceraian itu dengan penuh keyakinan, dan menyerahkan pada Tiara, membuat Fani yang melihatnya langsung memeluk lengan Johan dengan sangat erat.
"Setelah kamu cerai dari Tiara, kamu sudah bebas dekat dengan wanita manapun." Ujar Fani yang membuat hati Tiara semakin terasa sakit.
Tiara langsung menghapus air matanya, dan mencoba untuk membesarkan hatinya, meyakinkan dirinya kalau ia tidak akan lagi mengenal Johan.
Tiara langsung pergi tanpa permisi, dan Johan memandangi kepergian Tiara dengan hati yang terasa sangat berat, tapi setelah Johan mengingat pengkhianatan yang dilakukan Tiara, dengan cepat Johan langsung mengalihkan pandangannya, dan masuk ke dalam rumahnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Alan setelah Tiara masuk ke dalam mobilnya.
Tiara yang mendapat pertanyaan tersebut dari Alan langsung tersenyum, dan menyerahkan surat cerainya pada Alan, membuat Alan sedikit terkejut. Hanya sedikit terkejut saja, lalu Alan melempar surat cerai tersebut pada Tiara lagi.
"Kamu datang kesini hanya untuk mengantar surat cerai mu pada Johan?" tanya Alan yang tidak mendapat tanggapan apapun dari Tiara, justru tubuh Tiara terlihat bergetar, dan sudah Alan pastikan kalau Tiara menangis. Tiara menghadap ke jendela, dan menumpahkan air matanya disana.
"Aku ingin melupakan dia, tapi dua tahun bersama tanpa adanya ujian, itu bukan hal yang mudah bisa aku lewati." Ujar Tiara yang merasa sulit untuk melupakan Johan, terlebih Tiara sedikit tidak terima karena Tiara memang merasa tertuduh. Tiara tidak pernah selingkuh, dan tidak pernah melakukan apa yang selalu Johan tuduhkan.
Alan menyentuh pundak Tiara, dan mengelusnya dengan lembut, berharap Tiara akan lebih tenang.
"Aku tidak tahu bagaimana cara minta maaf karena ulah Johan. Tapi percayalah, aku yakin, kamu akan dapat pengganti yang jauh lebih baik, dan bisa menjadikanmu ratu." Ujar Alan lembut, namun tetap tidak membuat Tiara tenang. Karena Alan memang tidak pernah berpengalaman dalam urusan membujuk seorang wanita, akhirnya Alan memutuskan untuk langsung membawa Tiara pergi.
Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan tetap membiarkan Tiara menangis, sampai Tiara benar-benar merasa puas.
Tiara yang merasa cukup lama dalam perjalanan, langsung menoleh pada Alan yang masih fokus pada kemudi.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Tiara saat menyadari kalau mereka tidak kunjung sampai ke tujuan.
"Ke tempat tinggal barumu," jawab Alan
"Hah, tempat tinggal baru? Maksudnya, aku pindah?" tanya Tiara ingin memastikan, dan langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Alan.
"Tapi kenapa, Mas? Aku sudah nyaman dengan tempat tinggal ku yang biasa," ujar Tiara yang tidak mengerti kenapa Alan membawanya pindah tempat.
Alan tidak lagi menanggapi pertanyaan Tiara. Alan tetap fokus pada kemudi, hingga mobil Alan berhenti di sebuah rumah mewah.
"Turun!" titah Alan tegas. Tiara turun dan terus melihat sebuah rumah mewah yang ada di depan matanya, dan tentunya itu sulit untuk Tiara percaya, kalau dirinya akan menepati rumah mewah tersebut, karena Tiara tidak pernah tinggal di rumah mewah.
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Alan saat melihat Tiara hanya diam saja dan tidak kunjung masuk ke dalam rumah yang sudah menjadi pilihannya.
Tiara yang mendapat pertanyaan tersebut langsung menoleh, dan menggelengkan kepalanya.
"Bukan tidak suka tapi ini terlalu mewah dan terlalu besar," jawab Tiara jujur, karena Tiara memang merasa itu terlalu berlebihan.
"Masuk kalau emang kamu, kalau tidak suka, kita bisa cari tempat lain!" ujar Alan tegas, dan itu membuat Tiara langsung membawa langkahnya mendekati pintu rumah mewah tersebut, dan membukanya setelah mendengar kalau pintu tidak dikunci oleh Alan.
Ceklek
"Jadi wanita ini yang akan tinggal di rumah ini