Jadi wanita ini yang akan tinggal di rumah ini?" tanya seseorang tiba-tiba, membuat Tiara terkejut kalau ternyata di rumah itu ada orang lain selain dirinya dan Alan.
"Iya. Dia Tiara. Dia yang akan tinggal di rumah ini." Jawab Alan tegas lalu pergi setelah menyuruh Tiara masuk, dan tentunya Alan juga memberitahu Tiara, kalau rumah itu sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
"Ternyata kamu. Ingat, kamu memang sudah bercerai dari Pak Johan, tapi bukan berarti kamu masih memiliki kesempatan untuk mendekati Pak Alan." Ujar Indri Seraya menunjuk wajah Tiara dengan penuh kebencian.
"Kamu siapa? Peringatan macam Apa itu ?" tanya Tiara saat Tiara menangkap raut wajah penuh ketidak sukaan dari wajah Indri.
"Aku asisten Pak Alan. Aku susah payah mencari rumah ini, ternyata hanya cuma buat kamu saja," jawab Indri Seraya memutar bola matanya meremehkan Tiara.
"Oh ya Tuhan. Kenapa ada banyak orang yang bermuka dua di sekitarku, pertama sahabatku, sekarang asisten dari Mas Alan. Ternyata di dunia ini untuk menemukan orang yang benar-benar tulus baik sama kita, itu ternyata sangat sulit. "Gumam Tiara dalam hati Seraya memandang Indri yang terus memandang dirinya dengan penuh kebencian, yang Tiara sendiri tidak tahu kenapa Indri begitu sangat membenci dirinya, pasalnya mereka juga tidak pernah bertemu, dan ini merupakan pertemuan pertama mereka, tapi Indri sudah menunjukkan raut ketidaksukaannya pada Tiara.
"Ini kunci rumahnya. Tapi kamu jangan senang dulu, karena rumah ini tidak akan selamanya menjadi milikmu. Rumah ini akan jatuh pada pemilik yang sebenarnya. Jadi kamu jangan merasa senang. "Ujar Indri sambil menyerahkan kunci rumah pada Tiara sesuai dengan yang diperintahkan oleh Alan, saat Alan memerintahkan Indri untuk mencari rumah mewah untuk menjadi tempat tinggal baru Tiara.
Tiara langsung mengambil kunci rumah tersebut dari tangan Indri, dan langsung meninggalkan Indri sebelum Indri keluar dari rumahnya. Entah kenapa Tiara jadi malas meladeni orang yang bermuka dua, orang seperti Fani.
Tiga hari Tiara tinggal di rumah yang diberikan oleh Alan, dan selama itulah Tiara tidak keluar dari rumah, dan hanya menggunakan waktu selama tiga hari itu dengan menangis.
Mungkin saja kalau Johan menceraikan dirinya dengan alasan yang masuk akal, bukan karena Fani, Tiara masih bisa menerima atau bersabar, dan tidak terlalu larut dalam kesedihannya. Tapi, yang menjadi permasalahan bagi Tiara, Tiara merasa sangat kecewa dan sangat sakit hati, itu karena Johan menceraikan dirinya karena hanya seorang Fani seorang.
Tiara yang merasa sudah lelah menangis seharian, memutuskan untuk membersihkan dirinya karena sejak tadi pagi Tiara tidak ke kamar mandi.
Tiara menghabiskan satu jam di kamar mandi untuk berendam, dan setelah itu Tiara Kembali keluar dari kamar mandi dan dikejutkan oleh keberadaan Alan.
"Kenapa Mas Alan ada dikamar ini?" tanya Tiara Seraya memegang handuk putihnya yang melilit di tubuh polosnya, agar tidak terjatuh.
Alan sendiri tidak merasa sungkan, dan tetap berdiri di dekat ranjang Tiara, namun tidak memandang Tiara.
"Aku pikir kamu masih betah menangis. Makanya aku datang untuk memastikan sendiri kalau kamu sudah tidak menangis lagi. Menurutku, sederas apapun dan sebanyak apapun air mata yang kamu keluarkan, itu tidak akan merubah keadaan. Dan aku harap, kamu bisa bangkit dan melanjutkan kehidupan barumu tanpa adanya Johan. "Ujar Alan yang tidak ingin melihat wanita sebaik Tiara terlalu larut dalam kesedihan karena diceraikan oleh adiknya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Johan, sampai Johan mengambil tindakan yang di luar batas, di mana Johan langsung menceraikan Tiara tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu, pikir Alan. Menurut Alan juga, sekalipun Tiara bersalah, Johan tidak seharusnya langsung menceraikan Tiara di malam pernikahannya langsung, dan akan lebih baik mereka bisa diskusikan terlebih dahulu, atau mencari jalan keluarnya dengan cara lain, tanpa harus melibatkan sebuah perceraian. Tapi sayang, mungkin adiknya terlalu bodoh, sampai mengambil tindakan dengan mengakhiri pernikahannya, pikir Alan.
Tiara yang mendengar ucapan Alan hanya mendesah kasar, karena ternyata Alan tahu kalau dirinya beberapa hari ini, atau lebih tepatnya selama ia tinggal di rumah yang diberikan oleh Alan hanya digunakan untuk menangis saja.
"Terima kasih atas perhatian Mas Alan. Sebenarnya hari ini aku juga sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan tentang Mas Johan, karena aku benar-benar sudah menutup hati untuk mengukir nama Mas Johan di hatiku. "Ujar Tiara dengan penuh sungguh-sungguh, yang langsung mendapat senyuman singkat dari Alan, karena ternyata Tiara mau menerima takdirnya yang tidak bisa bersama dengan Johan.
"Cepat pakai baju, nanti kamu masuk angin. Aku tunggu di depan, Lalu setelah itu kita makan malam di luar." Ujar Alan meminta Tiara untuk segera berpakaian, lalu Alan dengan cepat membawa langkahnya keluar dari kamar Tiara. Tiara sedikit memperlihatkan senyumnya, karena ternyata Alan begitu sangat perhatian terhadap dirinya. Memang selama ini, bahkan saat ia Berpacaran dengan Johan sekaligus, Alan selalu memberi pengertian penuh terhadap dirinya, bahkan selalu membela dirinya saat Johan dan dirinya sendiri Sedang bertengkar.
Tiara keluar dari kamarnya setelah merubah penampilannya bak bidadari.
Alan yang melihat kedatangan Tiara yang begitu sangat cantik langsung menatap Tiara tanpa berkedip, dan tentunya Jangan ditanya kenapa Alan tidak berkedip, itu karena Alan terpesona akan kecantikan Tiara. Wajar saja Alan terpesona, karena memang semua mata seorang pria mengagumi kecantikan Tiara, terlebih wajah Tiara memang sangat cantik.
"Kalau kamu ada kepikiran untuk bekerja, kamu bisa memberitahuku aku. Kamu bisa bekerja di kantorku. "Ujar Alan Seraya menyalakan mesin mobilnya untuk menuju ke sebuah restoran.
"Tidak usah, Mas. Sebenarnya aku sudah punya pekerjaan, dan selama ini aku memang sedang bekerja, tapi tanpa sepengetahuan mas Johan. Dan tentunya pekerjaanku juga bukan pekerjaan yang berat. "Ujar Tiara menolak niat baik Alan untuk menolong dirinya atau memberinya sebuah pekerjaan.
"Kerja di bagian apa, dan di kantor mana? "tanya Alan sedikit penasaran .
"Suatu saat nanti aku akan memberitahu Mas Alan, dimana aku bekerja. Dan untuk saat ini, maaf ini privasiku." Ujar Tiara yang sedikit ragu untuk memberitahu Alan di mana dirinya bekerja. Beruntungnya Alan tidak begitu memaksa, dan Alan juga tidak keberatan Kalau Tiara tidak akan memberitahu dirinya di mana dirinya bekerja.
Sesampainya di restoran, Tiara dan Alan masuk ke sebuah restoran seafood Korea.
Baru saja Tiara masuk ke resto tersebut, semua pengunjung di resto tersebut langsung memandang Tiara, dan Langsung melempar bisikan sesama teman atau pasangan mereka, membuat Tiara merasa risih.
"Ternyata benar, mereka berkhianat. Tega ya mereka. Padahal Pak Johan sangat baik, tapi malah dikhianati oleh istri dan Kakaknya," ujar salah satu pengunjung yang sangat terdengar jelas di telinga Tiara, membuat mata Tiara langsung mengembun.
Tiara mengepalkan tangannya kuat, dan membawa langkahnya mendekati sebuah meja, dimana orang yang ada di meja itu adalah orang yang berhasil memancing emosi Tiara.
"Aku kuat. Aku ikhlas menjalani semuanya, meski pengorbanan ku untuk Mas Johan berakhir sia-sia," gumam Tiara dalam hati saat mendengar deretan bisikan penuh hinaan.
Tiara berhenti di sebuah meja yang ada 3 wanita di sana, dan
Pyar