Nancy masih berada di rumah itu hingga matahari mulai condong ke barat. Sejak pagi, mereka berpindah dari ruang tamu ke ruang makan, lalu kembali lagi ke sofa empuk tempat Bella biasa menghabiskan waktu siangnya. Obrolan mereka mengalir perlahan, kadang terhenti oleh keheningan yang justru terasa nyaman bagi Bella.
Namun menjelang sore, Nancy tampak lebih sering menunduk menatap layar ponselnya.
Jemarinya bergerak cepat, sesekali berhenti seolah membaca pesan yang panjang, lalu kembali mengetik. Wajahnya terlihat datar, nyaris tanpa ekspresi, dan itu membuat Bella sempat meliriknya dua kali.
“Nance?” panggil Bella pelan.
Namun, tidak ada jawaban.
“Nancy?” ulang Bella, kali ini sedikit lebih keras.
Nancy tersentak kecil, lalu mendongak. “Hm? Maaf, kau bilang apa?”
Bella tersenyum tipis. “Sepertinya aku sudah memanggilmu dua kali.”
Nancy terkekeh ringan, menaruh ponselnya terbalik di atas meja. “Maaf. Aku sedang membalas pesan dari kantor. Kau tahu sendiri, sejak aku pulang dari luar kota, pekerjaanku sangat menumpuk.”
Bella mengangguk, tidak menaruh curiga sedikit pun. Ia justru menyandarkan tubuhnya lebih nyaman di sofa.
Nancy menatap Bella beberapa detik, lalu seolah baru teringat sesuatu.
“Bel,” ucapnya pelan, nadanya berubah lebih serius. “Aku sebenarnya sudah lama ingin bertanya, tapi selalu ragu. Kau… tidak pernah terpikir untuk kembali bekerja sebagai desainer?”
Bella terdiam cukup lama mendapatkan pertanyaan seperti itu barusan.
Pertanyaan itu seperti menyentuh sisi dirinya yang sudah lama ia kubur dengan rapi. Ia menatap lurus ke depan, ke arah jendela besar tempat cahaya sore masuk secara perlahan.
“Ada,” jawab Bella pada akhirnya dengan jujur. “Aku sering memikirkannya.”
Nancy mengangguk pelan, seolah sudah menduga hal tersebut. “Aku tahu. Dan aku sungguh menyayangkannya, Bel. Kau itu sangat berbakat. Kau punya selera dan karakter desain yang kuat. Tidak banyak orang yang memiliki hal itu sepertimu.”
Bella tersenyum kecil, pahit. “Aku juga merindukan dunia itu. Segala prosesnya dari awal, sampai perasaanku sendiri saat melihat orang lain mengenakan hasil desainku.”
“Lalu kenapa kau berhenti?” tanya Nancy lembut, meski ia tahu jawabannya.
Bella menghela napas. “Sebenarnya, Julian tidak pernah melarangku secara langsung. Tapi setelah menikah, semuanya terasa berbeda. Aku memilih mundur karena ingin fokus menjadi seorang istri. Aku pikir itu yang terbaik saat itu.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang…” Bella menggantung kalimatnya. “Aku ingin kembali bekerja sebagai seorang desainer. Tapi aku belum berani membicarakannya dengan Julian. Aku takut itu justru akan menambah jarak di antara kami.”
Nancy menatapnya lama. Dalam sorot matanya, ada sesuatu yang sulit diterjemahkan—antara empati dan rasa bersalah yang cepat ia tekan dalam-dalam.
“Kau berhak memiliki hidupmu sendiri, Bel,” ujar Nancy. “Dan aku yakin, jika disampaikan dengan baik, Julian akan mengerti.”
Bella mengangguk kecil, meski wajahnya belum sepenuhnya yakin. Namun, saat sedang asyik membicarakan semuanya, percakapan mereka terhenti oleh suara pintu depan yang terbuka.
Bella refleks menoleh. Alisnya terangkat sedikit, jelas terkejut ketika melihat Julian melangkah masuk ke dalam rumah dengan jas masih melekat di tubuhnya.
“Julian?” ucap Bella spontan. “Kau pulang cepat sekali.”
Julian menoleh, ekspresinya terlihat datar namun terkejut sesaat. “Ada rapat yang dibatalkan.”
Nancy berdiri dari sofa, tersenyum ramah seperti biasa. “Hai, Julian. Lama tidak bertemu.”
“Hai, Nancy.” jawab Julian singkat.
Namun dalam sepersekian detik, mata mereka bertemu.
Hanya sekejap. Tapi cukup lama untuk menyimpan ketegangan yang tak terlihat oleh Bella. Tatapan itu cepat dialihkan, nyaris bersamaan, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Bella meraih jas dan tas kerja Julian. “Aku simpan dulu ini semua ke kamar.”
“Ya, sayang. Terima kasih,” jawab Julian.
Begitu Bella melangkah ke dalam, Julian mendekat satu langkah ke arah Nancy. Suaranya diturunkan, nyaris berbisik.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya cepat. “Apa kau mengatakan sesuatu padanya? Tentang… beberapa hari yang lalu?”
Nancy menatapnya dengan sorot mata penuh ketenangan, bahkan sedikit santai. Bibirnya kemudian melengkung tipis.
“Jika aku memberitahunya apa yang kita lakukan waktu itu,” jawabnya ringan, hampir berbisik juga, “mana mungkin saat ini dia masih bersikap manis padamu? Yang ada, kau sudah ditampar, Julian.”
Julian menelan ludah. Rahangnya menegang, tapi belum sempat ia membalas—
“Sayang,” suara Bella tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.
Julian dan Nancy langsung berjarak, ekspresi keduanya kembali normal dalam sekejap, seolah tak pernah terjadi percakapan apa pun di antara mereka berdua.
“Sudah kau simpan di kamar?" tanya Julian dan Arabella mengangguk. “Ya sudah, aku mau mandi dulu. Tolong siapkan dua teh setelah ini. Temanku akan kemari untuk membicarakan sesuatu."
“Teman?” ulang Bella, alisnya berkerut. “Temanmu yang mana?"
“Michael." jawab Julian, lalu segera melangkah pergi ke kamar tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Bella.
+++
Beberapa jam kemudian, rumah itu sudah tenggelam dalam keheningan. Tawa dan percakapan yang tadi memenuhi ruang tengah telah lama menguap, berganti dengan suara jangkrik dari luar dan desau angin yang menyelinap melalui celah jendela kamar.
Bella berdiri di depan cermin besar, mengikat rambut seadanya setelah berganti pakaian tidur. Gaun tipis yang ia kenakan jatuh lembut di tubuhnya, sederhana, tapi rapi—kebiasaan yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Di balik pantulan cermin, ia melihat Julian sudah berbaring di ranjang, bersandar pada kepala ranjang, sibuk menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat lelah, namun fokusnya tidak pernah lepas dari layar ponselnya.
Bella mematikan lampu meja rias, lalu berjalan pelan mendekati ranjang. Ia naik dan duduk di sisi lain, menarik selimut hingga menutupi setengah tubuhnya.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Hanya suara notifikasi ponsel Julian yang sesekali terdengar.
“Julian…” panggil Bella akhirnya, suaranya pelan, hampir ragu.
“Hm?” Julian tidak menoleh. Jempolnya masih bergerak di layar.
Bella menarik napas dalam. Ini saatnya. Ia sudah memikirkan kalimat ini sejak sore, sejak obrolannya dengan Nancy berputar-putar di kepalanya.
“Aku… ingin bicara soal sesuatu,” ucapnya.
Julian menghela napas pendek, lalu mematikan ponselnya dan meletakkannya di meja samping ranjang. Ia menoleh ke arah Bella, meski ekspresinya tetap datar.
“Soal apa?”
Bella menatap tangannya sendiri, jari-jarinya saling bertaut. “Soal kita," jawabnya.
Julian mengernyit samar. “Kenapa memangnya?”
Bella mengangkat wajahnya, berusaha tersenyum kecil. “Aku kepikiran… mungkin kita butuh waktu berdua. Benar-benar berdua. Bukan cuma akhir pekan seperti ini, tapi pergi berlibur. Staycation, atau ke luar kota. Apa pun. Aku pikir… itu bisa membantu hubungan kita yang kurang baik akhir-akhir ini.”
Julian terdiam beberapa detik. Tatapannya kosong, seolah sudah bisa menebak arah pembicaraan itu bahkan sebelum Bella menyelesaikan kalimatnya.
“Aku ingin kita lebih dekat lagi,” lanjut Bella, suaranya mengandung harap yang nyaris telanjang. “Aku rindu kita yang dulu.”
Julian menyandarkan punggungnya lebih dalam ke kepala ranjang. Tangannya terlipat di d**a. “Bel, aku sedang banyak pekerjaan.”
Bella mengerjap. “Aku tahu. Tapi ini hanya beberapa hari saja. Kita bisa atur—”
“Aku tidak punya waktu,” potong Julian, nadanya tegas. “Pekerjaanku sangat menumpuk. Setelah ini saja aku masih harus menyelesaikan beberapa hal.”
Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa jeda, dan tanpa usaha untuk melunakkan.
Wajah Bella langsung menegang.
“Oh,” ucapnya singkat.
Ia menunggu. Menunggu mungkin Julian akan menambahkan sesuatu. Menunggu mungkin ada kalimat seperti nanti kita lihat, atau lain kali, atau setidaknya pria itu akan bicara dengan nada menyesal karena tidak bisa pergi bersamanya.
Namun, tidak ada. Julian justru meraih ponselnya kembali, seolah percakapan itu sudah selesai.
Bella sontak mendengus kecil, nyaris tak terdengar. Dadanya terasa sesak, bukan karena marah semata, tapi karena kecewa yang terlalu sering ia rasakan belakangan ini.
“Baiklah,” ucapnya pelan.
Ia lalu mematikan lampu tidur di sisinya, membaringkan tubuh, dan memunggungi Julian. Punggungnya terasa kaku, bahunya naik turun menahan emosi yang tak ingin ia tumpahkan malam ini.
Julian melirik sekilas ke arah punggung istrinya. Namun ekspresinya tetap sama—tenang, dingin, dan nyaris tak terganggu. Ia tidak meraih Bella. Tidak meminta maaf. Tidak berusaha memperbaiki apa pun.
Baginya, penolakan yang ia lakukan itu wajar.
Sedangkan bagi Bella, jarak di antara mereka kini terasa semakin nyata.
Di kamar yang sama, di ranjang yang sama, dua tubuh berbaring dengan arah berlawanan—dipisahkan bukan oleh ruang, melainkan oleh perasaan yang perlahan menjauh tanpa suara.
Bella sampai berpikir, “sampai kapan akan terus seperti ini?”