Bella terbangun dengan dahi berkerut ketika tangannya meraba sisi ranjang yang terasa dingin. Ia lantas dengan refleks membuka kedua matanya secara penuh. Ia tak menemukan Julian di sisinya.
“Julian?” panggilnya pelan.
Karena tidak ada jawaban sama sekali, Bella akhirnya mendudukkan diri, menarik selimutnya turun, lalu bangkit dari ranjang. Ia melangkah ke kamar mandi, mengetuk pintu meski sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Julian tidak ada di dalam kamar mandi. Bella dengan cepat berbalik dan keluar dari kamar. Ia berjalan menuju dapur, siapa tahu sang suami ada di sana, entah sedang membuat sarapan atau membuat kopi. Namun, nihil. Tidak ada siapapun di sana.
Langkah Bella mulai tergesa. Ia berjalan menuju ruang tamu, namun ternyata tidak terlihat juga batang hidung Julian. Bella akhirnya berhenti tepat di depan jendela. Ia menyingkap tirai tipis dan mengintip ke luar dan mendapati mobil Julian sudah tidak ada di depan.
Bella sontak menghembuskan napasnya pelan. “Pasti sudah berangkat ke kantor,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Rasa bersalah mendadak muncul dalam hatinya. Bella bahkan sampai mengusap wajahnya pelan, lalu mengumpati dirinya sendiri karena bangun kesiangan. Bahkan semalam pun ia memilih tenggelam dalam kecewa dan membiarkan pagi mencurinya begitu saja.
“Bodoh sekali! Bagaimana bisa aku bangun terlambat hari ini?” kesal Bella. “Dia pasti tidak sempat sarapan apapun."
Meski kesal pada penolakan Julian semalam, Bella tidak pernah benar-benar tega pada pria itu. Ia selalu memastikan Julian selalu sarapan di rumah. Itu caranya mencintai, dengan melayaninya. Meski hal-hal sekecil itu tak pernah terlihat.
“Apa sebaiknya aku bawakan saja ya makanan untuknya ke kantor?” monolognya.
Lalu tak butuh waktu berpikir yang lama, Bella akhirnya memutuskan untuk membuatkan makanan dan memberikannya pada Julian ke kantor. “Ya, benar! Aku harus membawakan makanan untuknya ke kantor."
Sedetik kemudian, Bella mendadak ragu. Wajahnya terlihat seperti orang yang tengah berpikir keras.
“Tapi bagaimana jika dia tidak senang aku tiba-tiba datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu? Ah, tidak mungkin! Dia pasti senang. Ya, dia pasti senang!”
Bella mulai melangkah untuk pergi menuju dapur, sambil terus menyakinkan dirinya sendiri, bahwa sang suami pasti akan sangat senang dengan kehadirannya nanti di kantor.
Mana mungkin ada suami yang tidak senang jika didatangi oleh istrinya sendiri? Tidak mungkin, bukan?
Sementara itu, Julian yang saat ini baru saja tiba, tampak memberikan sebuah kode pada sekretarisnya—Karen, untuk ikut masuk ke dalam ruangannya sekarang juga.
Karen tentu saja langsung bangkit dari kursinya dan berjalan cepat mengikuti Julian dari belakang. Senyum di wajahnya tampak menawan, dengan bibir berwarna merah menyala seperti darah.
“Kunci pintunya!” titah Julian.
Karen dengan cepat mengunci ruangan tersebut, sesuai dengan perintah yang Julian ucapkan barusan. Sebelum memutar tubuhnya untuk menghadap pria itu, Karen masih sempat-sempatnya merapikan rambut dan membuka salah satu kancing kemeja teratasnya. Bermaksud untuk menarik perhatian dan menggoda pria itu.
Namun, ketika ia berbalik, Julian ternyata tengah melangkah mendekat ke arahnya tanpa banyak bicara. Tatapannya terkunci pada wanita itu dengan tatapan yang berbeda.
Dengan satu gerakan cepat, pria itu menarik pergelangan tangan sang sekretaris, membuat Karen terkejut sesaat sebelum senyum di bibirnya kembali merekah.
“Pak Julian…” ucap Karen pelan, nyaris berbisik.
Julian tidak menjawab. Tangannya masih menggenggam tangan Karen, menyeretnya lebih dekat hingga jarak di antara mereka lenyap. Hening menyelimuti ruangan itu, hanya tersisa napas yang mulai tak beraturan.
Karen mendongak, menatap Julian dengan sorot mata penuh keberanian. Ia tidak mundur. Justru sebaliknya—ia melangkah maju, menutup sisa jarak dengan caranya sendiri. Tangannya bahkan mulai bergerak membelai d**a Julian tanpa ragu, seolah sudah sangat hafal dengan situasi seperti ini.
“Kau tau apa yang aku inginkan saat ini?" tanya Julian memastikan, sembari menarik wanita itu perlahan menuju sofa panjang yang ada di ruangannya tersebut.
Karen mengangguk dengan cepat. Jemarinya masih bertengger di d**a pria itu. Bahkan berhasil melepaskan satu kancing teratas kemeja yang dipakai oleh pria itu.
“Tentu saja saya tau apa yang anda inginkan,” jawab Karen, sembari mendudukkan diri di atas pangkuan pria itu. “Jadi, ingin dimulai dari mana dulu, Pak Julian sayang?”
Julian tersenyum, lalu menarik kemeja yang dipakai oleh wanita itu dengan cukup kasar. Sampai-sampai membuat kancing-kancing kemejanya terlepas.
“Terserah, mulai saja. Yang terpenting, puaskan aku sekarang juga, Karen!”
Ini bukan kali pertama untuk keduanya. Julian sering kali memakai sekretarisnya sendiri untuk memuaskan hasratnya. Dan Karen dengan suka rela melakukannya, hanya karena rasa sukanya pada Julian sejak pertama kali ia bekerja di perusahaan tersebut.
Karen begitu lihai, bergerak di atas tubuh Julian dengan d**a yang terbuka. Bibirnya juga tak berhenti mengeluarkan suara desis yang semakin menambah gelora panas dalam diri Julian.
“Kau memang pintar membuatku lupa segalanya, Karen.” gumam Julian rendah.
Karen tersenyum puas saat mendengarnya. Ia menyukai pujian itu. Sangat menyukainya, apalagi dari mulut Julian—pria yang ia sukai.
“Saya hanya melakukan apa yang anda mau,” balas Karen lembut, namun nada suaranya terdengar penuh percaya diri.
Ruangan itu kembali sunyi. Pintu masih terkunci rapat, dan tirai jendela yang sengaja ditutup. Seolah dunia luar tidak ada yang boleh tahu apa yang sedang mereka lakukan pagi ini.
Julian memejamkan mata sesaat. Baginya, sensasi yang berantakan, spontan, dan tanpa beban seperti ini justru terasa memabukkan. Tidak ada emosi yang perlu dijaga. Hanya dorongan sesaat yang dipenuhi tanpa banyak kata.
“Kau… memang sangat lihai dalam memuaskanku.” ucap Julian, jujur tanpa tedeng aling-aling.
Pujian itu tentu saja membuat senyuman Karen semakin lebar. Dadanya terasa berbunga-bunga. Ada rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan.
“Saya senang jika anda merasa puas,” jawab Karen ringan. “Dan anda tidak perlu khawatir.”
Julian membuka matanya, menatapnya tajam.
“Saya bisa melakukan ini kapan saja,” lanjut Karen, mendekatkan wajahnya. “Setiap hari pun tidak masalah. Saya akan selalu siap… selama anda menginginkannya, sayang.”
Julian tidak langsung menjawab. Namun caranya yang tidak menjauh, dan tidak menghentikan apa pun—sudah menjadi jawaban yang cukup jelas.
Sepuluh menit kemudian, Karen keluar dari ruangan Julian. Namun, baru saja menutup pintu, ia terkejut dengan kemunculan seorang pria berperawakan tinggi.
“T-tuan Michael—”
“Kenapa?” sela pria itu—Michael Alexander. “Kenapa kau terlihat terkejut sampai gugup seperti itu melihatku?"
Michael memperhatikan sekretaris Julian dengan tatapan penuh kecurigaan. Ia menelitinya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum sinis.
“Apa Julian baru saja menyusahkanmu?” tanya Michael, sambil menunjuk bagian collarbone wanita itu yang dipenuhi dengan bekas kemerahan yang segar.
Mata Karen sontak melotot, dan refleks menutupinya dengan tangan. Pertanyaan yang sangat menohok kembali ia dapatkan jika berhadapan langsung dengan pria itu seperti sebelum-sebelumnya.
Sial!
“Lain kali, beritahu Julian untuk menyewa hotel bintang lima. Sangat disayangkan sekali bukan, kau dipakai di tempat kerja begini?”