Bab 9

1099 Words
“Kenapa tidak? Bella tidak akan pernah tahu kan? Kita bisa memiliki momen indah dan menggairahkan itu lagi, hanya untuk malam ini. Dan setelah itu, kita bisa kembali seperti sedia kala. Yang saling menjaga rahasia. Bagaimana?” Julian merasa d**a nya berdebar kencang. Kata-kata Nancy seperti sebuah mantra yang terus mengganggu pikirannya. Dia melihat ke mata wanita itu—mata yang penuh dengan hasrat dan rayuan yang sulit untuk ditolak. Sisi dirinya yang baik terus berkata untuk pergi, demi menjaga janjinya pada Bella dan pada dirinya sendiri. Tapi sisi buruk dalam dirinya semakin kuat, mengingatkannya akan sensasi yang mereka rasakan pada malam itu. Ketika tubuh mereka saling menyatu dan bergerak mengikuti irama yang sama, bagaimana semua beban dan kesusahan seolah lenyap hanya dalam hitungan menit. Julian benar-benar sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menyentuh pipi Nancy yang hangat. Kulitnya yang lembut membuatnya semakin tergoda. Dia tahu bahwa setiap detik yang dia habiskan di sini adalah kesalahan besar, tapi melangkah mundur sepertinya semakin sulit untuk ia lakukan. Sementara itu, Nancy melihatnya dengan pandangan yang semakin dalam, kemudian dia perlahan menjatuhkan bibirnya ke atas bibir Julian. Sentuhan itu begitu lembut seperti kapas, namun segera menjadi semakin dalam dan penuh hasrat. Julian mencoba untuk menolak, namun tubuhnya seolah memiliki pikiran sendiri. Dia merespons ciuman itu dengan sama intensnya, tangannya yang tadinya hanya menyentuh pipi wanita itu kini mulai merayap ke belakang lehernya, menariknya lebih dekat ke tubuhnya. Dengan gerakan yang lambat namun pasti, mereka saling melarikan diri dari dunia luar dan masuk ke dalam pelukan satu sama lain. Gaun hitam yang dipakai Nancy perlahan dilepaskan, dan jas serta kemeja Julian pun turut dilepaskan. Tanpa perlu banyak kata, mereka saling memahami keinginan yang tumbuh semakin besar di dalam diri masing-masing. Ranjang yang luas di kamar hotel itu menjadi tempat untuk mereka saling menghangatkan satu sama lain. Tubuh mereka menyatu dengan penuh hasrat membara dan bergerak seolah telah melakukan ini berulang kali sebelumnya. Setiap sentuhan, setiap ciuman, dan setiap suara yang keluar dari bibir mereka menjadi bagian dari irama yang hanya mereka sendiri bisa mengerti. Waktu seolah berhenti berjalan. Mereka lupa akan dunia luar yang penuh dengan masalah dan janji yang sudah dibuat. Hanya ada dirinya dan dia, hanya ada momen yang hangat dan menggairahkan ini yang membuat mereka merasa hidup dan bebas. +++ Di sebuah rumah besar yang terletak di kawasan pinggiran kota, Michael duduk di ruang tamu yang luas sambil menatap layar laptop di mejanya. Cahaya dari layar itu menerangi wajahnya yang tampak serius dan penuh kemarahan. Di layar tersebut terlihat beberapa foto dan rekaman video yang menunjukkan Julian yang sedang masuk ke dalam sebuah klub malam, kemudian keluar dengan seorang wanita yang tampak tidak sadarkan diri, dan akhirnya memasuki hotel bintang lima bersama-sama. Saat ini, di sebelahnya berdiri seorang pria muda dengan jas hitam yang rapi—Rey, anak buah pribadinya yang telah dia tugaskan untuk memata-matai Julian selama beberapa hari terakhir. “Kapan rekaman ini diambil?” tanya Michael dengan suara yang dalam dan penuh kemarahan. Matanya tidak pernah menyimpang dari layar laptopnya, melihat setiap detail dari apa yang terjadi pada malam itu. “Semalam, Tuan,” jawab Rey dengan suara yang tenang dan sopan. “Saya mengikutinya sejak dia keluar dari kantor sampai dia meninggalkan hotel sekitar jam lima pagi tadi. Saya juga telah mengambil foto tambahan dari luar kamar mereka untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar berada bersama di dalamnya.” Michael menghela napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak untuk mengendalikan amarah yang sedang membara di dalam dirinya. Julian adalah teman baiknya sejak lama. Mereka pernah menjalani banyak hal bersama, baik suka maupun duka. Michael sebenarnya tidak punya niat sama sekali untuk ikut campur dalam urusan pribadi Julian. Dia selalu berpikir bahwa setiap orang memiliki hak untuk menjalani hidup mereka sendiri dan membuat keputusan mereka sendiri. Namun ketika dia tahu bahwa Julian telah bermain serong dari Bella, semua rasa persahabatan itu seolah sirna dalam sekejap. “Kenapa dia harus melakukan ini?” bisik Michael dengan suara yang penuh dengan kekecewaan. Dia melihat ke arah foto Bella yang ada di dalam salah satu ponselnya. Wanita itu dengan senyum manisnya yang selalu mampu membuat hati orang menjadi hangat. Michael tahu bahwa Bella adalah orang yang baik dan tulus, wanita yang selalu memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang dicintainya, termasuk Julian. Mengetahui bahwa Julian telah menyakiti wanita itu dengan cara yang seperti ini membuatnya merasa sangat tidak terima. Bahkan ada rasa yang lebih dalam yang dia rasakan terhadap Bella, sesuatu yang dia tidak bisa ungkapkan untuk sekarang ini, sesuatu yang akan dia simpan sebagai rahasia hingga saat yang tepat tiba nantinya. “Saya juga menemukan fakta bahwa dia sering keluar sendirian akhir-akhir ini, Tuan,” ucap Rey lagi, memecah keheningan di ruangan itu. “Kadang dia pergi ke kantor pada malam hari padahal tidak ada pekerjaan yang mendesak, dan kadang dia pergi ke tempat-tempat yang tidak biasa dia kunjungi. Saya rasa ada sesuatu atau rahasia yang tuan Julian sembunyikan. Dan juga, dia sering ke rumah sekretarisnya itu.” Michael mengangguk perlahan, lalu kembali menatap ke arah layar laptopnya. Dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu tentang hal ini. Dia tidak bisa tinggal diam dan melihat Bella terluka begitu saja. Namun bagaimana cara yang tepat untuk memberitahukan hal ini kepada wanita itu tanpa menyakiti dia lebih dalam? Atau apakah dia harus berbicara dengan Julian terlebih dahulu, memberikan kesempatan padanya untuk mengakui kesalahannya dan memperbaiki semuanya sebelum terlambat? “Kau bisa pulang sekarang, Rey,” kata Michael dengan suara yang sudah lebih tenang. “Terima kasih atas informasi yang kau berikan. Lanjutkan tugasmu untuk memantau Julian. Jangan biarkan dia tahu bahwa kita sedang mengawasinya. Aku akan memutuskan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.” Rey dengan cepat mengangguk lalu kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan langkah yang lembut. Michael sendiri tetap duduk di tempatnya, menatap layar laptop yang sudah mati karena tidak disentuh dalam waktu yang lama. Pikirannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan dan pilihan yang harus dia buat. Dia tahu bahwa keputusan yang dia ambil nantinya akan berdampak besar pada kehidupan banyak orang—terutama Julian, Bella, dan bahkan dirinya sendiri. Namun satu hal yang dia yakini dengan pasti adalah bahwa dia tidak akan pernah membiarkan orang yang dia sayangi terluka tanpa ada yang bersedia untuk melindunginya. Michael berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah jendela besar di ruang tamu itu, melihat ke luar pada jalan-jalan kota yang selalu ramai. Dia tahu bahwa perjuangannya baru saja dimulai. Perjuangan untuk keadilan dan untuk melindungi orang yang dicintainya. Ini mungkin terkesan gila. Bagaimana bisa, orang yang baru saja resmi bercerai mencintai wanita yang masih bersuami? Tapi sumpah demi apapun juga, Michael siap menghadapi segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD