Bab 10

1206 Words
Julian sudah berada di kantor pagi-pagi sekali. Ia sedang duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangannya sambil memainkan ponsel. Layar ponselnya menampilkan chat dari Bella—pesan yang dikirim jam tiga pagi, bertanya di mana dia dan apakah dia baik-baik saja. Belum sempat dia balas, karena setelah keluar dari hotel bersama Nancy, dia langsung menuju kantor tanpa berpikir dua kali. Jantungnya berdebar kencang setiap kali melihat nama sang istri muncul di layar. Ia mencoba mengetikkan beberapa kata, tapi kemudian menghapusnya satu per satu. Bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan bahwa dia baru saja menghabiskan malam bersama wanita lain? Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka dengan tergesa-gesa tanpa ada suara ketukan sebelumnya. Julian sedikit terkejut dan segera meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di hadapannya. Karen, sekretarisnya itu datang sambil membawa sebuah paperbag berisi celana, kemeja, dan juga jas untuk Julian pakai. Kakinya berjalan dengan cepat menuju arah Julian, wajahnya menunjukkan ekspresi campuran antara perhatian dan keraguan. “Anda meminta saya untuk membawakan pakaian ganti pagi-pagi seperti ini, Pak Julian?” ujar Karen dengan nada mesra yang khasnya, meletakkan paperbag di atas meja kerja yang besar di tengah ruangan. “Jujur, saya terkejut saat anda mengatakan sudah berada di kantor tadi. Bahkan di saat semua karyawan belum ada yang datang ke kantor. Apa anda tidak pulang ke rumah semalam?” Karen mendekat ke arah Julian, tangannya secara tidak sengaja menyentuh bahu pria itu. Sikapnya yang posesif terasa jelas dalam setiap gerakan dan kata-katanya. Ia selalu menganggap bahwa hubungan mereka yang lebih dari sekadar atasan dan sekretaris itu spesial. Karen selalu merasa bahwa Julian miliknya, bahkan meskipun dia tahu bahwa pria itu sudah memiliki istri. Julian sedikit menjauh dari sentuhan Karen, matanya terlihat tidak fokus. Ia tahu bahwa harus segera memberikan alasan yang bisa dipercaya sebelum wanita itu mulai mengajukan lebih banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. “Aku menginap di tempat Michael semalam,” jawabnya. Karen mengerutkan kening, ekspresi keraguan di wajahnya semakin jelas. Ia sudah cukup mengenal Julian selama bertahun-tahun, dan bisa merasakan ketika pria itu sedang berbohong. “Kalau memang anda memang menginap di sana, bukankah harusnya anda bisa meminjam pakaian ganti milik tuan Michael? Saya pikir, Anda memiliki ukuran badan yang hampir sama dengannya. Tapi kenapa harus menghubungi saya dan meminta pakaian ganti?” Julian merasa dahinya mulai berkeringat. Alasan yang dia buat memang tidak terlalu masuk akal, dan dia tahu bahwa Karen tidak akan mudah diperdaya. Ia mencoba mengubah ekspresinya menjadi lebih tenang dan yakin. “Aku tidak terbiasa mengenakan pakaian milik orang lain. Kau pikir aku harus memaksa untuk meminjam dan memakai pakaian Michael? Oh, atau sebenarnya kau tidak suka saat aku memerintahkanmu untuk membawakan pakaian ganti untukku?" Karen dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan begitu maksud saya. Saya hanya merasa keheranan saja. Karena ada opsi yang lebih mudah, kenapa anda harus memilih untuk menghubungi saya?” ”Ya karena aku masih teringat jika ada pakaian milikku yang masih ada di rumahmu, Karen!” seru Julian. “Hm, untung saja memang masih ada pakaian milik anda yang tertinggal di rumah saya. Jika tidak, sepertinya saya yang akan pusing mencarikan pakaian ganti untuk anda pagi-pagi begini.” Julian menghela napasnya dengan pelan, lalu berdiri dari duduknya. Ia membuka paperbag itu dan mengeluarkan satu per satu isi di dalamnya, seolah memberi dirinya waktu untuk menyusun kembali pikirannya yang semrawut. Karen memperhatikan itu dengan seksama, matanya terus mengikuti setiap gerakan yang Julian lakukan tanpa berkedip sedikitpun. “Kau bisa keluar sebentar,” ucap Julian dengan nada bicara yang terdengar datar. “Aku akan berganti pakaian.” Karen lantas dengan cepat tersenyum kecil, senyum yang mengandung makna lain. “Tentu, Pak Julian. Saya tunggu di luar.” Namun sebelum benar-benar melangkah pergi, ia menambahkan dengan suara rendah, “tapi setelah itu, saya ingin bicara." Julian tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat. Begitu pintu tertutup, Julian menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Tangannya meremas rambutnya sendiri karena sedikit merasa frustasi. Kepalanya terasa berat secara tiba-tiba. Bayangan wajah Bella bahkan kembali muncul, lengkap dengan pesan-pesan cemas yang belum sempat ia balas. Julian pun dengan cepat menatap ponselnya lagi, membaca ulang pesan yang sama untuk kesekian kalinya. Julian memejamkan mata sejenak. Ada rasa bersalah yang mendadak menekan dadanya, namun anehnya, ia tidak segera bangkit untuk melakukan hal yang benar. Sebaliknya, ia memilih menundanya—seperti yang selalu ia lakukan. Berpikir jika tidak akan menjadi masalah apapun nantinya, mesti ia lagi-lagi harus mengabaikan Bella yang notabenenya adalah istrinya sendiri. Beberapa menit kemudian, Julian keluar dari ruang ganti kecil dengan pakaian yang sudah rapi. Di sana, Karen sudah menunggu di dekat meja kerja, menyandarkan tubuhnya dengan santai. Lalu begitu melihat Julian keluar, kedua matanya pun langsung terlihat berbinar macam orang yang sedang jatuh cinta. “Seperti biasa,” ucap Karen pelan. “Anda selalu terlihat menawan.” pujinya. Julian menatapnya sekilas, namun tak ingin menyahutnya. Pria itu justru menatapnya dengan tatapan serius. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Masalah pekerjaan? Atau ada dokumen penting yang belum aku tandatangani?” Karen menegakkan tubuhnya, dan dengan cepat merubah ekspresinya menjadi lebih serius. “Bukan, bukan soal pekerjaan. Tapi tentang anda. Semalam...” Ia melangkah lebih dekat. “...anda tidak pulang. Apa sebenarnya ada masalah di kediaman tuan Michael? Karena saya lihat-lihat, anda terlihat gelisah saat—” “Siapa yang sedang gelisah? Aku hanya kurang tidur,” potong Julian cepat. Karen tersenyum tipis. “Kurang tidur karena apa Pak Julian sayang?” Julian menatapnya tajam. “Jangan melewati batas, Karen.” Lagi-lagi Karen tersenyum dengan tenang saat ini. Ia bahkan semakin mendekat, dan suaranya dibuat merendah. “Saya sangat peduli pada anda, dan anda tahu itu. Saya juga tahu, setiap kali anda seperti ini, pasti ada sesuatu yang sedang anda sembunyikan kan, sayang?” Julian terdiam, membuat keheningan mengambil alih suasana di antara mereka. Ia tahu Karen tidak bodoh. Wanita itu terlalu lama berada di sisinya untuk tidak mengenali perubahan-perubahan kecil dalam dirinya. “Aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan banyak hal padamu, Karen.” ujar Julian. “Ingatlah batasanmu.” Karen tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Mungkin memang benar yang anda katakan itu. Anda tidak punya kewajiban apapun untuk menjelaskan semuanya atau mengatakan apapun itu pada saya. Tapi apa anda lupa? Anda bahkan selalu datang pada saya setiap kali anda butuh yang namanya sebuah pelarian.” Ucapan wanita itu mampu membuat Julian terdiam lebih lama. Matanya bahkan berpindah arah, menatap jendela besar di belakang meja kerjanya. Ia tahu apa yang Karen maksud. Dan itu membuatnya semakin terperangkap dalam kebohongannya sendiri. “Keluar dari ruanganku,” ucap Julian pelan namun tegas. “Aku ingin sendiri.” Karen menatapnya beberapa detik, seolah menimbang-nimbang sesuatu. “Baik. Tapi ingat, Pak Julian—saya selalu ada untuk anda. Jadi, jangan bersikap acuh dan sok galak seperti tadi pada saya. Itu bukan anda sekali.” Setelah mengatakannya, Karen dengan cepat berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang tertinggal di ruangan tersebut. Sementara itu, begitu pintu tertutup, Julian kembali mendudukkan dirinya. Fokusnya kini tertuju pada ponselnya yang menyala karena ada pesan baru yang baru saja masuk. Julian menghela napas dengan tatapan malas. Seolah muak ketika mengetahui jika pesan tersebut dari Bella—istrinya. Meski begitu, pada akhirnya Julian memilih untuk membalasnya dan berharap agar Bella berhenti untuk mengirim pesan padanya. “Merepotkan,” gerutunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD