BAB 1 : KELINCI PUTIH
Daun berterbangan disambut angin kencang memenuhi cuaca ya sangat dingin. Orang-orang di keramaian sangat sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga tidak melihat sekitarnya. Suara yang bising memecah ketenangan dalam segala sudut sehingga semua yang di sana melihat ke arah suara bising.
Lantunan musik disebrang jalan memengaruhi cuaca dengan keelokan kelopak bunga yang bertebaran. Sapu di jalanan tampak menggores serpihan debu tipis membersihkan jalanan supaya bersih.
Teriakan yang memecah ketenangan pun telah datang, kaki jenjang yang cepat melangkah membuat jarak yang besar berhenti untuk menunggu seseorang,
“Ayo cepat Jeno!” teriak kencang seorang wanita dengan mulut yang kecil dan mungil terlihat gigi kelincinya saat berteriak.
Wanita itu berlarian lalu rambut yang panjang lurus terurai terhempas angin lalu seketika tangannya memindahkan rambut yang jelas warna cokelat kehitaman berkilau yang senada dengan jaket kulit yang dipakainya.
Wanita itu berlarian seperti takut tertinggal sesuatu dengan baju dan celana dengan warna yang sama membuat kulit putihnya tersikap oleh tubuh yang tidak bisa diam dengan berlarian mencari hal yang penting.
Wanita ini bernama Elysian Bellanca wanita yang sangat cantik memiliki kebiasaan memakan cokelat setiap kali dia jalan-jalan, dan sering mampir ke toko buku bersama Zoe dan Jeno dan suka mengoleksi buku-buku yang dia sukai.
Dia tidak mau ketinggalan dalam membeli buku edisi terbaru yang best seller yang mudah sekali kehabisan, maka dari itu dia berlari kencang seperti seseorang yang ketinggalan bus.
Tas gendong yang bergerak kesana kemari dengan langkah kaki tergesa-gesa langsung tiba-tiba berhenti ditengah jalan.
Dia menengok kebelakang seperti menunggu kedua orang yang tepat dibelakang jauh disekitarnya dan wanita ini berteriak lagi.
“Jeno, Zoey!” mereka pun segera menyusul wanita ini dengan berlarian menghampirinya, karena sangat lamban.
Kedua orang itupun terengah-engah dan berhenti tepat di sebelah wanita yang berteriak itu.
Wanita itu melihat sebuah toko buku yang sering mereka kunjungi tetapi tampak wajahnya sangat kecewa sekali.
“Kenapa berhenti?” tanya seorang pria yang menepuk pundak wanita yang bernama Elysian itu.
“Lihat toko nya tutup,” lirihnya.
Dibuat kecewa dan wajahnya cemberut lalu berjalan kembali kearah menuju pintu pulang. Dan kedua orang itu mengikutinya, satu orang wanita dan satu orang pria.
“Bagaimana ini? Aku ingin melihat buku edisi terbaru yang kemarin sudah aku simpan di sana!” gerutu Elysian agak kesal.
“Sabar Elysian, kita akan berkeliling mencari toko buku lain ya!” ucap pria itu meyakinkan dan mencoba memberi ruang kepada Elysian agar sedikit tenang dan tidak merasa kecewa dan kesal.
Teman-teman Elysian ini selalu menemaninya dalam membeli buku dan selalu menjadi teman akrab yang sering bersama seperti keluarga yang saling melengkapi.
Elysian pun melihat jam yang berada di tangan kanannya yang menggunakan jam tangan digital berwarna flamingo yang cantik, dan Jeno juga jadi ikut melihat jam dan jam yang di gunakan Jeno berbeda dengan Elysian dia menggunakan jam tangan digital serba hitam legam.
Pria yang lambat berjalannya karena terlalu santai itu bernama Jeno Claus selalu memakai hoodie biru dan selalu berpakaian rapi dan wangi sampai wanita yang melewatinya gagal fokus dan pastinya akan menatap ke arah Jeno.
Jeno selalu merapihkan rambutnya di mana gaya rambut Middle-parted hair yang sangat tertata baik berwarna hitam itu selalu bergerak beriringan, saat itu gaya rambut yang seperti aktor korea yang sangat populer dan cocok dengan wajah tampan Jeno dengan matanya yang berwarna cokelat membuat perpaduan sempurna terutama Jeno sangat dicintai oleh para wanita baik yang dia kenal maupun tidak.
Dia seorang pria yang Fashionable dan Trendy selain suka berdandan layak model juga wajah yang tampan memikat hati terutama langkah kaki yang jenjang membuat Jeno yang tingginya sekitar 185 cm tampak gagah dan selalu tersenyum.
Dan wanita yang santai selain Jeno itu bernama Zoe Yesica sering dipanggil Zoey oleh Elysian dan Jeno apalagi karena terlalu sering di panggil Zoey jadi mereka terkadang lupa nama aslinya. Penampilannya sangat rapi, rambutnya pendek dengan poninya yang manis berwarna cokelat, bertubuh setinggi Elysian, gaya rambut terkadang di ikat ke kanan atau tidak sama sekali seringnya tidak di ikat dengan bentuk wajah bulat baby face dengan pipi tirus, selalu memakai aksesoris bando dan memiliki tubuh yang terawat tetapi kali ini dia tidak menggunakannya.
Mata cantik yang sering di panggil Zoey ini sama dengan Jeno dan terkadang mereka juga memuji kecantikannya Elysian dengan melihat mata birunya itu seperti menggunakan softlens kenyataanya itu warna matanya yang unik.
Dalam perjalanan untuk mencari toko buku mereka melihat sekitar dengan harapan mereka menemukannya.
Namun, disekitar mereka hanya ada toko baju, toko makanan dan paling banyak ialah toko kecantikan. Mengitari selama satu jam mereka sempat beristirahat terlebih dahulu kedalam Café Coffee Lazata disebrang jalan. Mereka menikmati cookies, cake dan coffee yang baru saja mereka pesan.
Tepat di paling ujung dekat kaca jalan dari luar terlihat sangat jelas. Elysian yang berada di samping Zoe tepat berdampingan dengan kaca besar yang tembus ke arah luar melihat ada kelinci yang memakai pita berbentuk organza berwarna biru sedang sendirian didekat tiang.
Namun, perasaan yang kini dirasakan Elysian saat melihatnya sangat kuat untuk segera beranjak meninggalkan café dan segera menghampiri kelinci lucu itu, Zoe dan Jeno yang kebingungan melihat Elysian tidak berkata apa-apa hanya menatap tajam melihat ke arah luar dan sorot matanya penasaran dia pergi kemana sehingga bergegas keluar café secara tiba-tiba.
Zoe dan Jeno melihat Elysian ingin menyentuh kelinci berpita itu. Namun, tiba-tiba kelinci itu pergi meninggalkan Elysian, tak mau kehilangannya Elysian mengikutinya seperti ada firasat bahwa dia harus mengikutinya dengan baik.
Tak tanggung-tanggung Elysian mengendap-endap sepanjang jalan dan menelusuri jalan sempit melawan arus manusia, tetapi kelinci itu seperti menyadari keberadaan Elysian.
Karena Elysian tepat di belakang kelinci itu seperti detective yang mengikuti seorang pencuri, sampai kelinci itu masuk kedalam sebuah toko buku lewat pintu kecil khusus untuknya yang ditempatkan di pintu masuk.
Toko buku ini bernama toko Trouvaille toko yang sangat mewah ada tiga tingkatan lantai dan memiliki cat putih dipadupadankan dengan cat berwarna ungu muda sangat berkilau dan sangat megah untuk seukuran toko buku dan banyak kursi tempat membaca.
Betapa kagetnya Elysian yang mengikuti kelinci itu dari belakang ternyata ada juga toko buku yang berada di dalam jalan pintas yang tidak diketahui Elysian, akses jalan ini sangat jarang dikunjungi orang-orang sehingga Elysian bingung karena tidak ditemukan publik tidak ada jalan bagus dan sekitaran sangat sepi.
Saat Elysian berfikir memasuki toko itu tetapi Elysian melihat sekitar dan sadar bahwa Elysian cukup jauh berjalan menelusuri jalan pintas ini lalu ingin mencari teman-temannya.
Saat Elysian melihat ke belakang Elysian kaget melihat orang yang berada di belakangnya itu seperti seseorang yang keluar dari persembunyian, ya di belakangnya ada Zoe dan Jeno yang ternyata dari tadi mengikuti Elysian yang sedang mengendap-endap sepanjang jalan untuk mencari kelinci itu.
“Ah kalian ternyata aku terkejut, mengapa mengikutiku?“ tanya Elysian dengan wajah yang terkejut tidak menyangka, Elysian pun memegang dadanya karena saking terkejutnya.
“Elysian, kenapa kamu berjalan sejauh ini hanya karena mengikuti seekor kelinci?” tanya Zoe memegang pundak nya Elysian.
“Karena lucu, aku ingin memelihara kelinci manis itu tetapi selain itu aku memiliki firasat bahwa aku memang harus mengikutinya dan insting itu secara tiba-tiba hadir begitu saja. Namun, ada perasaan lain bahwa kelinci itu berbeda dengan kelinci pada umumnya. Apakah cuma perasaan aku aja ya, bagaimana menurut kalian?” tanya Elysian dengan mata berbinar.
“Mungkin perasaan kamu saja Elysian.”
“Iya benar Elysian,” timpal Zoe.
“Oh berarti aku doang yang merasa begitu,” lirih Elysian.
“Lalu kenapa tidak tangkap saja langsung, kenapa harus menunggu dan mengikuti kelinci itu?” tanya Jeno.
“Karena kelinci itu akan kabur seperti tadi saat aku mendekatinya dan larinya sangat kencang, sehingga aku berjalan pelan dan tanpa sadar sudah sejauh ini,” jawab Elysian.
“Bagaimana kalau kita masuk?” pinta Zoe mulai mendekati pintu masuk toko itu.
“Sebentar-” tahan Elysian.
Percakapan yang berisik itu membuat seseorang dibalik pintu jadi keluar dan saat dibuka pintunya sinar dari dalam sangat terang sehingga membuat mereka bertiga sangat terkejut dan terhanyut dalam kemewahan yang terdapat dari toko buku itu.
“Duh. kalian berisik sekali, Ayo cepat masuk jika kalian ingin membeli buku!” tegas seseorang yang membuat mereka bertiga tidak bisa berkata-kata karena terkesima melihat wajah pria itu.
Selain melihat kemewahan toko buku itu yang terlihat diluar tapi pria itu berpenampilan sangat elegan, berkelas, dan berwibawa. Memakai topi hitam baju rapi kameja hitam-putih dengan dasi hitam dan sarung tangan putih.
"Halo Tuan," sapa Jeno.
"Iya."
"Tuan, maaf ini toko apa ya?"
"Ini toko buku Trouvaille, toko buku serba ada kalau suka komik atau mau buku-buku populer di sini lengkap dan banyak pilihan."
"Kemungkinan karena kita pikir selintas melihat toko yang besar ini bukan toko buku sih."
"Menurut kalian ini toko apa memang?" tanya tuan.
"Mainan?" sahut Elysian
"Mana ada mainan Elysian, lihat di depan aja ada buku-buku yang terpampang jelas seperti toko majalah kupikir justru," balas Zoe.
"Mana ada sih, justru aku pikir ini hotel dan buku yang banyak ini cuma majalah untuk promosi saja."
"Justru yang kurang masuk akal jawaban Jeno," ejek Elysian.
"Iyakan, kupikir pemikiran dia saat melihat ini bisa lebih baik dari Elysian yang cuma jawab mainan."
"Diam kalian!" protes Jeno.
Mereka pun masuk kedalam toko buku itu.