"Sambutan perwakilan wisudawan akan diwakili oleh wisudawan terbaik periode ini yang berasal dari Fakultas Kimia, Nadia Citra Prasetya." Demikian ucapan sang pembawa acara pagi itu.
Sosok perempuan cantik dengan tinggi semampai dan kulitnya yang putih berjalan menuju podium kehormatan. Sebelumnya, ia menunduk hormat ke arah para akademisi univeraitas kemudian melakukan hal yang sama ke arah teman-teman sesama wisudawan. Tak lupa pada para tamu undangan, para wali wisudawan. Meskipun hanya terlihat sedikit karena tertutup pakaian toganya, penampilan Nadia benar-benar layaknya bidadari. Mempesona.
Semua mata menatap kagum pada putri kerajaan Farma Health grup itu. Bukan hanya karena pesonanya yang mampu menyihir siapapun yang hadir di auditorium itu, tetapi juga karena isi pidatonya yang menarik. Disampaikan dengan sangat lugas, dinamis dan komunikatif. Nadia tidak hanya menyampaikannya sebagai seorang wisudawan, namun juga sebagai seorang perempuan, anak, dan teman.
"Universitas sudah memberikan segala yang terbaik untuk kita. Saai ini sudah menjadi tugas kita bersama untuk membesarkan almamater kita." Demikian penutup sambutan Nadia yang membuat tepuk tangan bergemuruh. Sekaligus standing occasion. Nadia telah melaksanakan tugasnya dengan sangat sempurna hingga tidak ada satu orangpun yang tak kagum padanya. Bahkan hingga rektor dan dekan fakultasnya spontan menuju podium tempatnya berdiri untuk memberikan ucapan selamat, khusus.
Begitu acara selesai, seseorang dengan pakaian toga akademik berjalan mendekati Nadia dengan ekspresi bahagia dan mata yang berbinar cerah.
"Prof bangga padamu, Nad. Semoga ilmu yang kamu dapat bermanfaat bagi bangsa dan dunia. Senang pernah memilikimu sebagai mahasiswa selama bimbingan."
"Saya yang berterima kasih pada Prof. Anne. Ilmu dan segala hal yang profesor berikan menjadikan saya seperti ini. Ini semua berkat profesor." Nadia hendak menjabat tangan profesor anggun tersebut. Namun, profesor Anne malah meraih bahu Nadia untuk memeluknya. Beberapa kamera mengabadikan moment tersebut.
"Semoga Tuhan memberkatimu, Nadia." Doa yang begitu tulus terucap begitu profesor muda itu mengurai pelukannya terhadap Nadia.
"Amin. Terima kasih banyak, Prof," lirih Nadia.
Profesor Anne berlalu dan kini giliran Nadia melakukan sesi foto bersama teman-teman sejurusan, sefakultas dan seangkatannya. Dan juga beberapa teman- temannya yang lain serta adik tingkatnya yang datang untuk memberikan selamat. Rona bahagia tampak menghiasi wajah masing-masing. Setelah puas berfoto Nadia melangkahkan kaki menuju lobby auditorium untuk mencari keberadaan orang tuanya. Dengan kondisi tangan yang sudah penuh hadiah Nadia akhirnya menghambur ke arah ibunya. Ralat, sangat penuh.
"Mamah. Tolongin napa," ujarnya manja membuat Kartika tertawa renyah.
"Sini, sini. Hadiahnya biar di bawa pak Affan ke mobil," kata Darmawan yang detik itu juga langsung dilaksanakan oleh sang supir. Nadia mengibaskan tangannya ringan. Wajah cantiknya terlihat lelah namun tak mengurangi sedikitpun kecantikannya.
Beberapa jurnalis baik media umum maupun internal universitas mendekat untuk melakukan wawancara. Sudah menjadi tradisi bahwa menjadi wisudawan terbaik harus menjalani sesi wawancara pasca upacara wisuda. Tak berlangsung lama, hanya sekitar 30 menit para pencari berita itu sudah sangat puas dengan Nadia. Dengan pesona dan juga buah pemikirannya.
"Selamat ya, Sayang. Papah bangga sama kamu," kata Darmawan sambil memeluk putri tersayangnya itu dengan mata berkaca-kaca. Tak disangka, putrinya yang dulunya sangat manja itu kini menjadi kebanggaan keluarga.
"Terimakasih, Pa-Pah," ujar Nadia terbata. Tiada kebahagiaan yang mampu melebihi hal ini, batin Nadia. Membuat kedua orang tuanya bangga adalah impian terbesar Nadia.
Darmawan mengurai pelukannya terhadap Nadia. Kemudian mencium kening putrinya itu. Giliran Kartika yang memberi pelukan selamat.
"Mamah nggak tau lagu harus ngomong apa. Kakak kamu juga terlihat sangat bahagia dari sana." Ucapan Kartika membuat Nadia tertegun.
"Kak Alvin?" tanya Nadia. Kartika mengangguk.
"Tadi sewaktu kamu pidato, mamah dan papah video call sama kakak kamu. Kita lihatin kamu ke Alvin." Nadia kembali memeluk ibunya. Terdiam beberapa saat. Beberapa kamera wartawan mengabadikan momen keluarga yang sangat menarik perhatian tersebut.
Kalaulah boleh jujur, Nadia sangat mengharapkan kehadiran Alvin. Sekarang. Disini. Mengabaikan perasaannya terhadap Alvin, laki-laki tampan itu tetaplah kakaknya. Sudah delapan tahun mereka berpisah. Dan selama itu pula tidak sekalipun Alvin pulang ke Indonesia. Alvin beralasan agar studinya segera selesai, sebab jika pulang ke Indonesia dia akan menjadi malas kembali ke Swiss. Benar, Alvin tengah berjuang menempuh masternya di ETH Zurich, Swiss.
"Kenapa sayang? Kangen sama Alvin?" tanya Darmawan memperhatikan ekspresi putrinya yang terdiam semenjak mereka memasuki mobil. Nadia hanya tersenyum tipis sambil menyandarkan kepala di bahu ibunya.
"Kak Alvin nggak punya cita-cita pulang gitu Pah, Mah? Mau jadi bule apa dia?" kata Nadia kesal tapi justru mengundang tawa kedua orang tuanya.
Wajar jika Nadia begitu rindu pada Alvin. Selama ini dia hanya melihat Alvin lewat foto dan video call. Meski selalu dilakukan beramai-ramai karena Alvin hanya akan menelfon lewat ponsel ibunya. Itupun sangat jarang, mungkin hanya pada moment tertentu seperti lebaran, tahun baru atau jika salah satu dari mereka berulang tahun.
****
Sementara di Zurich...
Belum jam lima pagi waktu Zurich handphone Alvin melengking kencang karena dia lupa mengaktifkan mode getar. Nama ibunya terpampang dilayar. Segera ia menekan tombol hijau.
"Halo Mah," sahut Alvin dengan suara khas bangun tidur.
"Halo, Vin. Kamu baru bangun?"
"Iya nih Mah. Alvin banyak deadline kemarin. Ada apa Mah?" Ia sedikit menajamkan pendengarannya karena merasa sang ibu sedang berada di tengah keramaian.
"Mamah ganti ke panggilan video ya."
"Iya Mamah. Tapi Alvin masih muka bantal banget lho ini," kata Alvin yang tak dihiraukan oleh Kartika.
Alvin sedikit mengucek matanya kemudian menatap layar handphonenya. Ia melihat pemandangan yang ... Seketika Alvin merubah posisinya yang tadinya berbaring kini duduk tegap bersandar.
Dari layar, Alvin mengerti kedua orang tuanya tengah menghadiri upacara wisuda adiknya. Alvin menepuk dahinya kenapa ia bisa melupakan momen penting Nadia. Alvin memperhatikan, di deretan mahasiswa paling depan tidak nampak adiknya. Padahal Alvin yakin, kedua orang tuanya jelas duduk di kursi VIP karena beberapa hari sebelumnya ayahnya mengabari jika Nadia menjadi lulusan terbaik. Sudah pasti akan mendapatkan prioritas.
Mata Alvin terpaku begitu ibunya memfokuskan kamera ke arah podium. Disana berdiri sosok yang selalu membuat hati Alvin bergetar. Nampak adiknya tengah memberikan sambutan wisudawan. Alvin harus berterimakasih karena ibunya sudah mengganti handphone dengan kualitas kamera yang sangat luar biasa sehingga wajah Nadia terlihat jelas di layar ponsel Alvin. Segera ia menyambar earphone yang terletak di nakas agar bisa lebih jelas lagi mendengar suara Nadia.
Tanpa sadar Alvin tersenyum. Meskipun wajahnya masih khas bangun tidur. Melihat wajah cantik adiknya. Meskipun tubuh Nadia tertutup toga, Alvin bisa menjamin begitu toga dilepas maka pesona Nadia akan semakin membuatnya jatuh hati. Ekspresi bahagia Alvin tak lepas dari perhatian Darmawan dan Kartika.
"Nanti mamah kirim foto adik kamu." Terdengar suara ibunya. Alvin mengangguk sambil tersenyum. Sepanjang panggilan Alvin hanya melihat Nadia karena memang ibunya sengaja mengaktifkan kamera belakang. Sepuluh menit berlalu Kartika mengakhiri panggilannya setelah Alvin berkata ingin ke kamar mandi.
Sebenarnya Alvin berbohong. Ia hanya tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui betapa terpesonanya dia terhadap Nadia. Ia tidak sanggup menahan hasrat dalam hatinya. Adik kecilnya itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat anggun. Saat masih kecil dan menggemaskan saja Alvin sudah terjatuh dalam pesonanya, apalagi sekarang.
Alvin masih berada di balkon apartemennya. Masih jam delapan pagi, dan hari ini dia hanya memiliki satu agenda. Siang nanti dia harus ke kampus untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya. Tahun ini Alvin memiliki agenda besar, menuntaskan masternya dan segera pulang ke tanah air. Ia sudah sangat rindu pada keluarganya.
Alvin duduk di bangku sambil menyesapi kopinya. Ia belum sarapan. Wajah tampannya tak berhenti tersenyum sejak ia membuka mata. Handphone Alvin bergetar, segera ia menyambar benda itu begitu melihat nama ibunya. Tampak Kartika mengirim foto kepadanya.
Senyum Alvin semakin melebar begitu membuka pesan dari ibunya. Tampak adiknya yang tengah berdiri disamping kolam ikan miliknya dulu. Dengan berbalut kebaya biru kombinasi silver dan kain jarik cokelat muda, Alvin seperti tersihir. Tampaknya foto itu diambil pagi harinya sebelum mereka berangkat. Dan ibunya tak hanya mengirim satu, namun beberapa foto. Ada juga foto saat Nadia saat berada di tempat acara wisudanya.
Namun senyum Alvin seketika menyusut menyadari betapa menariknya adiknya itu. Pasti banyak laki- laki yang jatuh dalam pesona Nadia. Hatinya sedikit memanas akibat pemikirannya sendiri.
Alvin sedikit terlonjak begitu ibunya melakukan panggilan video lagi. Segera ia menata hati dan ekspresinya karena dia yakin pasti ada ayah dan juga adiknya mengingat acara Nadia pasti sudah selesai.
"Halo, Mah."
"Hai Sayang. Udah rapih banget, Nak? Mau keluar?"
Alvin tersenyum. "Iya Mah, tapi masih nanti. Mamah lagi dimana?"
"Kita lagi makan siang, Sayang.." Kartika mengalihkan layar ponselnya ke wajah Nadia.
"Ada apa Mah?" Terdengar suara lembut yang selalu bisa memporak-porandakan hati Alvin.
"Kakak kamu," jawab Kartika singkat. Nadia segera mengambil alih handphone ibunya. Tampak Alvin yang mengenakan kemeja hitam membuatnya bak pangeran dalam drama korea favoritenya.
"Hai Nad." Alvin berusaha mengendalikan suasana hatinya. Jantungnya berdegup sangat kencang begitu mendapati wajah ayu Nadia di layarnya.
"Hai, Kak. Nggak punya cita-cita pulang? Nggak bakal makin putih juga tinggal lama-lama disana," seloroh Nadia dengan nada menyolot membuat Alvin terkekeh. Tak hanya Alvin, kedua orang tuanyapun ikut tertawa.
"Iya, iya. Sabar. Udah kangen ya? Oh ya, selamat ya Nad. Cie udah sarjana nih anak manja." Alvin meledek Nadia membuat wajah gadis itu bersemu. Hanya saja Alvin tidak menyadarinya. Andai saja dia tahu, pasti Alvin akan segera memesan tiket pesawat untuk pulang.
"Mau muji apa mau ngeledek sih," ujar Nadia dengan tatapan memicing. Alvin kembali tertawa.
"Jangan ngambek ah, malu sama gelarnya."
"Kak Alvin nyebelin." Nadia memanyunkan bibirnya seolah marah. Yang sebenarnya adalah pengalihan agar tidak nampak kegugupannya. Tapi yang Alvin tahu, adiknya hanya gemas padanya.
"Tapi ganteng kan," ujar Alvin sambil memainkan alisnya. Nadia hanya menampilkan ekspresi jengah.
"Salah apa gue punya saudara model begini," celetuk Nadia pelan.
"Yaudah kamu lanjut makannya. Salam buat Mamah sama Papah ya. Kak Alvin mau ketemu dosen ini," kata Alvin mengalihkan pembicaraan. Ia tidak sanggup terlalu lama menatap wajah Nadia. Bisa bobol pertahanannya nanti. Tampak Nadia menghela nafas lemah.
"Iya deh. Cepetan lulusnya. Ngabisin duit," ujarnya sambil mencibir. Sontak Alvin melotot.
"Enak aja. Kamu juga sama." Nadia hanya menjulurkan sedikit lidahnya membuat Alvin bertambah gemas.
"Yaudah, bye Kak," kata Nadia sambil melambaikan telapak tangannya. Alvin membalas hal serupa.
"Bye Nad."
Alvin menghembuskan nafasnya pelan begitu panggilan ditutup. Menormalkan detak jatungnya. Matanya kembali menatap foto Nadia, seulas senyum tipis terukir dibibirnya.
“I love you, Nadia,” desis Alvin pelan.
Sementara Nadia tak kalah bahagianya, bisa bercanda lagi dengan Alvin setelah sekian lama. Meskipun tak lama waktunya. Baru kali ini Nadia dan Alvin melakukan video call hanya berdua. Dan harus dia akui, kakaknya selain kini bertambah tampan, juga semakin hot.