Bab 6

915 Words
Malam hari setelah makan malam Aryan dan Mauren kembali menuju kamarnya, Mauren pun segera mengganti bajunya dengan baju tidurnya yang bertali spagheti dan langsung naik ke tempat tidur. Ia menata tempat tidur dan meletakkan satu guling ditengah sebagai pembatas, ia selalu saja melakukan itu setiap hari walaupun pada akhirnya guling tersebut selalu disingkirkan Aryan. Setelah mematikan rokoknya Aryan segera naik melepaskan bajunya dan naik keranjang, awalnya Mauren keberatan melihat Aryan yang tidur tanpa baju namun sekarang semuanya sudah terbiasa baginya. Aryan naik ke tempat tidur dan menyingkirkan guling pembatas lalu memeluk Mauren dari belakang. "Ren...." ucap Aryan lalu mengecup pundak Mauren. "Hhmmm.... apa...." sahut Mauren. "Kamu sama si Rendi itu ada hubungan apa sih" ucap Aryan sambil mengusap-usap perut Mauren. "glGak ada, dia cuma senior di kampus aku" ucap Mauren. "Beneran" ucap Aryan sambil kembali mengecup leher Mauren. "Aku gak bakat buat bohong Ar" ucap Mauren. "Ya sudah tidurlah" Aryan kemudian mengecup pipi Mauren dan memeluknya dari belakang dengan sangat erat. --- Pagi hari Mauren terbangun saat mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, ia tau betul Aryan-lah yang berada di dalam sana, Mauren segera bangun menyiapkan keperluan Aryan yang akan berangkat meeting dan memesan sarapan. "Pagi Ren...." Aryan mengecup kening Mauren, ia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. "Nih pakaian kamu sudah aku siapkan" ucap Mauren, ia segera membantu Aryan memakai pakaiannya, mengancingkan bajunya dan memakaikan dasinya. "Terima kasih Ren..." ucap Aryan lalu merapikan rambutnya. "Sarapan dulu Ar..." ucap Mauren, ia berjalan ke meja kecil yang ada di kamarnya. Setelah menyelesaikan sarapannya Aryan segera berangkat ke tempat meetingnya. "Aku berangkat ya, jangan kemana-mana tunggu aku pulang" ucap Aryan lalu mengecup kening dan bibir Mauren dengan lembut. Mauren yang mendapat perlakuan seperti itu terkaget dan bengong. Setelah Aryan berangkat meeting Mauren segera mandi membersihkan dirinya lalu ia mulai menyibukkan dirinya dengan membuka laptop miliknya yang dibawanya mengerjakan skripsinya. Pukul tiga siang Aryan telah kembali dari meetingnya. "Hai kamu sudah pulang, gimana meetingnya" tanya Mauren. "Lancar... kamu ngapain?" tanya Aryan sambil melepaskan jas dan dasinya. "Ini mengerjakan skripsi dari pada gak ada kerjaan" ucap Mauren. "Khh... kamu sudah makan?" tanya Aryan sambil naik ke tempat tidur dan duduk disamping Mauren. "Sudah tadi makan di kamar aja, kamu sudah?" Mauren balik bertanya. "Sudah..." sahut Aryan sambil memeluk Mauren dari samping dan menyandarkan dagunya di bahu perempuan itu. "Kamu kenapa cape?" Tanya Mauren. "Hhmmm.... siap-siap yuk sebentar lagi kita pulang" ucap Aryan. ---- Aryan dan Mauren kini berada di bandara mereka dan langsung masuk ke private jetnya. "Kenapa kita pisah sama staff kantor kamu" tanya Mauren saat pesawat yang membawanya dan Aryan sudah berada di atas awan. "Mereka akan balik ke Jakarta dan kita akan ke Jogja" ucap Aryan sambil memeluk Mauren. "Ngapain ke Jogja" tanya Aryan Mauren mendongak menatap Aryan. "Kamu gak kangen sama ibu kamu" ucap Aryan lalu mengecup hidung Mauren. "kangen banget.... tapi rumahku jauh dari kota Ar, memang kamu mau ke sana" ucap Mauren. "Kalau aku gak mau aku gak bakalan ngajakin kamu ke Jogja" ucap Aryan. "Terima kasih Ar..." ucap Mauren dan tak lama ia tertidur dalam dekapan Aryan l. Pesawat yang membawa keduanya kini telah mendarat di bandara Jogja Mauren begitu bersemangat ingin bertemu ibunya. "Duh seneng banget kayanya" ucap Aryan. "Iyalah kan mau ketemu ibuku" ucap Mauren semangat. Cukup lama mereka dalam perjalanan menuju tempat tinggal Mauren yang berada jauh dari perkotaan, mereka diantar supir kantor cabang perusahaan Aryan. Dan kini mobil yang mengantar Aryan dan Mauren telah tiba dindepan rumah oranh tua Mauren. Mauren terperangah kaget melihat keadaan rumahnya yang semakin bagus dan bertambah besar. "Ini... beneran rumahku...." tanya Mauren tak percaya, ia segera masuk dan mencari ibunya. "Ibu......" teriak Mauren. "Mauren.... nak akhirnya kalian datang juga" ucap Ajeng ibu Mauren. "Ibu.... Mauren kangen banget" ucap Mauren memeluk ibunya. "Ibu juga kangen nak...." ucap Ajeng. "Bu.. rumahnya...." ucap Mauren seraya menatap sekeliling rumah ibunya yang semakin bagus. "Iya rumah ini diperbaiki suamimu dia memaksa ibu untuk memperbaikinya" ucap Ajeng. "Ar... kamu..." ucap Mauren. "Iya aku menyuruh orangku untuk memaksa ibu memperbaiki rumah ini" ucap Aryan tersenyum. "Dasar pemaksa, tapi terima kasih" ucap Mauren yang kemudian beralih memeluk Aryan. "Permisi bu makanannya sudah siap" ucap seorang perempuan yang usianya kira-kira seusia Aryan. "Dia siapa bu" tanya Mauren. "Ini Wati dia bekerja membantu ibu di rumah kiriman ibu mertua mu" ucap Ajeng. --- Setelah selesai makan malam Mauren langsung masuk ke kamarnya, ia duduk di depan meja riasnya membersihkan make up di wajahnya. "Ren..." panggil Aryan yang sedang duduk ditepi ranjang. "Hhmmm apa..." ucap Mauren sambil terus membersihkan make upnya. "Aku... aku..." ucap Aryan. "Aku apa Ar yang jelas dong kalau ngomong" ucap Mauren. "Aku mau meminta hakku sebagai seorang suami" ucap Aryan. "Kamu serius dengan ucapanmu" ucap Mauren sambil menatap Aryan dari cermin riasnya. "Aku serius dengan ucapanku Ren" ucap Aryan. "Surat perjanjian itu....." ucap Mauren. "Aku gak perduli dan persetan sama surat itu....." ucap Aryan, ia berjalan mendekati Mauren. "Ambillah Ar apa yang jadi hak kamu aku sudah siap" ucap Mauren. "Kamu serius" tanya Aryan. "Ya aku serius" angguk Mauren. Aryan pun membimbing Mauren menuju tempat tidur dan merebahkannya lalu ia mulai mendaratkan bibirnya di bibir istrinya tersebut dan melumatnya dengan sangat lembut. Mauren pun membalas ciuman dan lumatan bibir sang suami ia melingkarkan tangannya di leher pria itu. Keduanya saling melumat dan memagut. Aryan menurunkan ciumannya ke leher Mauren dan mengecupnya hingga meninggalkan jejak merahnya, tangan Aryan bekerja meremas gundukan kenyal d**a Mauren yang masih terbungkus rapi. Malam itu menjadi malam yang sangat panas untuk keduanya mereka bercinta dan memadu kasih, menuntaskan gairah yang ada. "Aku mencintaimu Ren" ucap Aryan setelah mendepatkan pelepasannya. "Ap... ap.... apa....." ucap Mauren tak percaya dengan pendengarannya. "Aku mencintaimu Mauren Agnesia" bisik Aryan menatap Mauren. "Aku juga mencintaimu" Mauren memeluk Aryan dan ia menangis bahagia. "Kangan menangis dong sayang" ucap Aryan, ia mengusap air mata Mauren yang menetes. "Aku terlalu bahagia Ar" ucap Mauren tersenyum. Keduanya saling memeluk dan mendesah lega karena telah mengungkapkan perasaannya masing-masing. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD