Bab 5

903 Words
Hubungan Aryan dan Mauren semakin hari semakin dekat keduanya tak menyadari adanya benih-benih cinta yang mulai tumbuh dihati masing-masing. Mauren pun kini setiap hari telah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yakni memepersiapkan segala keperluan Aryan. "Nanti sore aku berangkat ke Bali ada meeting disana kamu ikut ya" ucap Aryan lalu mengecup hidung Mauren yang sedang memasangkan dasinya. Mauren sudah kebal dengan kebiasaan baru Aryan padanya yang suka mencium dan memeluknya, ia sudah lelah bertengkar dengan Aryan dengan masalah yang sama. "Tapi kuliahku" ucap Mauren. "Cuma sehari Ren, besok sore juga sudah pulang" ucap Aryan. "Baiklah nanti aku siapkan keperluan kamu, ya udah turun yuk sarapan" ucap Mauren. Dan keduanya segera turun menuju ruang makan disan sudah ada Nancy dan Chandra yang sedang sarapan. "Mauren nanti ikut kamu Ar ke Bali" tanya Chandra. "Iya pah Mauren ikut" ucap Aryan. "Jangan lupa ya nanti oleh-olehnya buat mama dan papa" ucap Nancy. "Mama mau apa" tanya Mauren. "Cucu" ucap Nancy. "Mah apaan sih kita udah sering membicarakan ini" ucap Aryan mengingatkan mamanya. "Iya-iya" ucap Nancy. Dalam perjalanan menuju kampus Mauren hanya diam memikirkan perkataan mertuanya. "Kenapa sih diam aja" ucap Aryan mengusap pipi Mauren pandangannya masih tetap fokus ke jalan. "Aku mikirin apa yang dibilang mama tadi" ucap Mauren. "Udah gak usah dipikirin" ucap Aryan. "Mama kan tau kita menikah gak atas nama cinta, kita gak saling mengenal awalnya dan mana mungkin kita memberikan cucu buat mama" ucap Mauren. "udah gak usah dipikirin" ucap Aryan lagi. Tak berapa lama kini mereka sudah tiba di kampus Mauren. "Nanti aku jemput" ucap Aryan ia mengecup kening Mauren kebiasaannya yang baru saat akan berpisah dengan Mauren. "Hati-hati" ucap Mauren lalu ia segera turun dari mobil. Mauren berjalan masuk ke dalam area kampusnya dan dilihatnya Michelle dan Ule yang sedang duduk di kantin. "Ren nanti sore ikut kita jalan yuk" ucap Michelle. "Gue gak bisa mau pergi sama Aryan" ucap Mauren. "Susah emang ngajakin orang yang punya laki" ucap Michelle. "Mau kemana sih lo" tanya Ule pada Mauren. "Gue mau ke Bali menemani Aryan dia ada meeting disana" ucap Mauren. "Meeting? di Bali? Bikin dede kali nih di Bali" canda Michelle tertawa. "Apaan sih lo" ucap Mauren kesal. Pukul dua siang Mauren telah menunggu jemputan Aryan di depan kampusnya ditemani Michelle Ule juga Rendi. Ke empatnya terlihat bercanda sangat akrab sampai klakson mobil Aryan menghentikan tawa mereka. "Pulang sekarang" Aryan menarik Mauren masuk ke mobilnya, ia tidak suka melihat Rendi ada didekat Mauren. "Duluan" ucap Mauren dan diangguki ketiga sahabatnya itu. "Kamu kenapa sih suka banget ngelawan aku, sudah aku bilang aku gak suka kamu dekat dengan Rendi" ucap Aryan, ia mulai menjalankan mobilnya menuju pulang ke rumah. "Kenapa sih Ar kamu, aneh tau gak kamu cemburu?" tanya Mauren. "Iya aku cemburu kenapa puas kamu" ucap Aryan ia meninggikan nada bicaranya. "Udahlah aku malas berantem" ucap Mauren, ia membenarkan posisi duduknya dan memejamkan matanya. --- Aryan dan Mauren kini beserta staff kantornya sudah berada di bandara mereka hanya diantar supir. "Ar jam berapa penerbangannya" ucap Mauren sambil berjalan masuk ke dalam bandara, ia melingkarkan tangannya di lengan kekar Aryan. "Kamu maunya jam berapa" Aryan balik bertanya. "Maksud kamu" ucap Mauren tak mengerti. "Kita naik private jet" ucap Aryan. "Punya kamu" tanya Mauren. "bukan, punya papa" sahut Aryan. Mauren melangkahkan kakinya menaiki anak tangga private jet mertuanya. "Wow amazing.... aku gak nyangka kamu sekaya ini" ucap Mauren. "Udah deh gak usah berlebihan gitu" ucap Aryan sambil menarik Mauren duduk disampingnya. Setelah satu jam perjalanan kini mereka telah berada di kamar hotelnya. "Mau ke pantai" tanya Aryan sambil memeluk Mauren dari belakang. Saat ini mereka sedang berada dibalkon kamarnya yang menghadap ke arah pantai. "Boleh yuk" ucap Mauren, ia hanya mengenakan baju kaos tanpa lengan dan celana super pendek. "Sebentar" Aryan mengambil kameranya. Dan keduanya segera turun ke pantai. "Ke sana yuk Ar" Mauren menarik Aryan menuju bibir pantai dan berjalan menyusuri pantai. "Foto yuk" ucap Aryan, ia dan Mauren berselfi mengambil berbagai gaya romantis keduanya sudah tak mengingat lagi akan perjanjian pernikahan yang mereka buat namun keduanya masih menyangkal akan adanya cinta di hati masing-masing. "Mas tolong fotoin dong" ucap Aryan pada seorang wisatawan yang berada tak jauh darinya. Dan wisatawan tersebut mengambil kamera Aryan memulai membidik foto. Aryan menarik pinggang Mauren agar menempel ditubuhnya dan menarik tengkuk Mauren lalu mendaratkan bibirnya di bibir istrinya tersebut dan cklekk..... wisatawan tersebut mengambil gambar Aryan yang sedang mencium Mauren, Mauren yang kaget atas perlakuan Aryan hanya terdiam kaget pasalnya selama ini Aryan hanya menciumnya sebatas di kening dan hidungnya saja. "Terima kasih" ucap Aryan menerima kembali kameranya sementara Mauren masih terbengon ditempatnya. "Ren kamu kenapa" tanya Aryan yang berpura-pura tak mengerti akan sikap Mauren, ia sebenarnya mengetahui kekagetan Mauren karena ciuman itu. "Ah... gak papa ko" ucap Mauren mencoba biasa saja. "Lihat deh baguskan hasilnya" ucap Aryan, ia memeluk Mauren dari belakang. "Oh iya bagus" ucap Mauren, entah kenapa ia merasa sangat gugup jantungnya berdetak begitu cepat. "Ke sana yuk kayanya bagus viewnya buat foto" ucap Mauren. "Gendong...." ucap Mauren manja. "Manjanya... ayo naik" Aryan menyodorkan punggungnya dan Mauren pun langsung naik. Aryan yang mempunyai hobi photogphy kini terlihat tengah membidik Mauren dengan berbagai macam gaya dengan pemandangan sunset yang menjadi backgrounnya. "Coba lihat Ar hasilnya" ucap Mauren dan Aryan pun berjalan mendekat memperlihatkan hasil fotonya. "Bagus fotonya" Mauren tersenyum melihat hasil fotonya yang bagus. "Iya yang di foto cantik sih makanya bagus hasilnya" ucap Aryan sambil memeluk pinggang Mauren. "Apaan sih gombal banget" ucap Mauren. Keduanya berdiri menikmati indahnya sunset dipinggir pantai. Aryan menarik pinggang Mauren dan mengecup bibirnya lalu melumatnya perlahan dan Mauren pun membalas lumatan bibir Aryan ia melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Keduanya saling melumat dan memagut di tengah keindahan sunset. Keduanya berhenti saat mereka merasa pasokan oksigennya telah habis. "Maaf Ren....." ucap Aryan sambil mengusap bibir Mauren. "Gapapa itu hak kamu kan" ucap Mauren dan Aryan pun memeluknya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD