#skip satu bulan kemudian
Mauren terbangun dari tidurnya di pagi hari ia berlari ke kamar mandi dalam keadaan polos dan memuntahkan isi perutnya.
"Kamu kenapa sayang" tanya Aryan yang masuk ke kamar mandi dan mengusap tengkuk Mauren yang masih muntah.
"Kamu keluar aja ini menjijikan Ar" ucap Mauren.
"Apaan sih kamu, ya sudah selesaikan" ucap Aryan, ia kemudian membawa Mauren kembali ke ranjang.
"Kamu kenapa sih" tanya Aryan sambil membantu Mauren memakai pakaiannya.
"Gak tau mual banget kaya di kocok-kocok gitu perut aku" ucap Mauren.
"Ya sudah nanti kita periksa ke dokter ya" ucap Aryan.
"Gak usah Ar aku gak papa kok" ucap Mauren.
"Aku gak suka loh kamu manggil nama aku gak sopan tau manggil nama suami" ucap Aryan.
"Iya maaf trus kamu mau dipanggilnya apa" ucap Mauren manja.
"Terserah kamu aja maunya apa" ucap Aryan.
"Sudah sana kamu mandi mau ke kantor kan" ucap Mauren.
"Mandi bareng" ucap Aryan ia segera mengangkat Mauren ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan sarapan keduanya pun segera berangkat.
"Kamu beneran gapapa kan sayang" ucap Aryan khawatir.
"Iya aku gak papa kamu tenang aja" ucap Mauren menenangkan suaminya.
"Kalau ada apa-apa kamu telpon aku ya biar aku jemput" ucap Aryan.
"Iya yank.... sudah deh gak usah bawel gitu" ucap Mauren.
"Apa tadi kamu manggil aku apa" ucap Aryan tersenyum.
"Sidah deh gak usah geer cuma panggilan itu sekarang yang ada dipikiran aku" ucap Mauren.
"Gapapa aku senang kok ada perubahan panggilan buat aku" ucap Aryan tersenyum.
"Ya sudah aku masuk ya" ucap Mauren dan Aryan pun mengecup kening dan bibir istrinya.
"Hati-hati sayang" ucap Aryan.
Aryan segera memacu mobilnya menuju kantor.
Siang hari setelah urusannya selesai di kampus Mauren meminta ijin pada Aryan untuk pergi dengan temannya tentunya dengan berbagai macam pertanyaan barulah Aryan mengijinkannya.
"Mau kemana nih kita" tanya Mauren.
"Mall sudah lamakan kita gak jalan bareng gini" ucap Ule.
Setelah tiba di mall ketiganya memasuki sebuah cafe untuk mengisi perut mereka. Namun bukannya makan Mauren hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Lo kenapa Ren ko gak dimakan makanannya" tanya Michelle.
"Enek Chell gak nafsu makan gue" sahut Mauren.
"Lo baik-baik ajakan" ucap Michelle.
"Iya gue sehat ko cuma lagi gak nafsu makan aja" ucap Mauren.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersama sahabatnya akhirnya Mauren kembali pulang.
"Sore amat pulangnya Ren" ucap Nancy.
"Iya mah tadi jalan sama teman sebentar" ucap Mauren, ia masuk rumah sambil memijat pelipisnya.
"Kamu kenapa sayang" tanya Nancy pada menantunya.
"Gapapa mah cuma sedikit pusing, Mauren ke kamar dulu ya" ucap Mauren, ia segera berlalu menuju kamarnya dan merebahkan dirinya.
"Aku kenapa sih dari tadi pagi gak enak badan gini" ucap batin Mauren.
Tak lama Aryan telah pulang dari kantor ia langsung masuk kamar dan mendapati Mauren yang sedang berbaring sambil memejamkan mata dan memijat pelipisnya.
"Yank kamu kenapa..." Aryan menghampiri Mauren.
"Pusing sama mual banget yank gak hilang-hilang dari pagi" ucap Mauren.
"Ya sudah nanti kita periksa ke dokter ya, kamu sudah makan" tanya Aryan.
"Gak bisa makan yank mual banget" sahut Mauren.
"Ya sudah sebentar ya aku minta bibi buatkan bubur dulu" ucap Aryan.
Pria itu segera keluar kamarnya dan menuju dapur.
"Bi buatin bubur dong buat Mauren" ucap Aryan.
"Lo Mauren kenapa Ar" tanya Nancy.
"Mual katanya mah" ucap Aryan.
"Tadi baik-baik saja, mama lihat dulu deh" ucap Nancy.
Nancy berjalan ke kamar anaknya, sementara Aryan membantu bibi membuatkan bubur untuk Mauren.
Nancy masuk ke kamar anaknya dilihatnya Mauren meringkuk didalam selimut.
"Ren kenapa sayang" tanya Nancy, ia duduk ditepi ranjang Mauren lalu mengusap rambut menantunya tersebut.
"Mauren gapapa mah cuma pusing sama mual aja" ucap Mauren.
"Kita panggil dokter ya biar di periksa" ucap Nancy khawatir.
"Gak usah mah paling dibawa tidur juga sudah baikan ko" ucap Mauren.
"Kamu memang susah kalau dibilangin" omel Nancy.
Tak lama Aryan masuk kamar dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat.
"Sayang makan dulu ya" ucap Aryan.
"Yuk bangun makan dulu nak" ucap Nancy.
"Gak mau mah Mauren mual banget" ucap Mauren.
"Ayo ah bangun di isi dulu perutnya mau mama apa Aryan yang suapin" ucap Nancy.
"Mama aja deh" ucap Mauren, Nancy menyuapi sang menantu dan Aryan duduk disampingnya.
Hueekkk.... huueeekkk....
Mauren berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
"Astaga...." Nancy mengikuti Mauren dan mengusap tengkuknya.
"Mual banget mah...." keluh Mauren.
"Sepertinya kamu memang harus memeriksakan diri ke dokter sayang" ucap Nancy.
"Aryan setuju sama mama" ucap Aryan yang berdiri dibelakang Mauren.
"Gak ah mah malas" ucap Mauren.
"Kok malas sih, udah ayo Ar bawa istrimu ke dokter sekarang" ucap Nancy tak ingin dibantah.
Mauren dengan wajah ditekuknya masuk ke mobil bersama Aryan mereka berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.
Sesampainya di rumah sakit Aryan langsung membawa Mauren ke dokter keluarganya yaitu dokter Andika.
"Ada yang bisa om bantu Ar" tanya dokter Andika.
"Gini om Mauren nih dari tadi pagi mual terus dan muntah-muntah mulu" ucap Aryan.
"Oh ya sudah kita periksa dulu ya" ucap dokter Andika.
Mauren mengikuti dokter Andika dan berbaring di ranjang pasien untuk diperiksa.
"Sepertinya salah kalau kamu membawa Mauren kepada om" ucap dokter Andika.
"Maksud om apa, saya sakit apa om" tanya Mauren.
"Ayo ikut om biar dokter Ayu yang menangani kamu" ucap dokter Andika.
Aryan dan Mauren mengikuti langkah dokter Andika ke ruangan dokter Ayu yang tak jauh dari ruangannya.
"Dokter kandungan" Aryan membaca plakat yang berada di depan ruangan dokter Ayu.
"Kenapa kita kesini om" tanya Mauren heran.
"Sudah masuk saja" ucap dokter Andika.
Setelah menjelaskan keluhan Mauren pada dokter Ayu dokter Andika segera kembali ke ruangannya meninggalkan Mauren dan Aryan.
"Mari bu Mauren kita periksa dulu" ucap dokter Ayu.
Mauren berbaring di ranjang pasien dan dokter Ayu membuka sedikit baju pasiennya tersebut di bagian perutnya dan memberikan jel pada perutny lalu meletakkan sebuah alat yang tersambung pada monitor.
"Benar dugaan saya bu Mauren tengah mengandung dan lihat ini titik kecil ini adalah calon bayi kalian" ucap dokter Ayu, ia mengarahkan tangannya pada monitor.
"Jadi dok istri saya....." ucap Aryan yang berdiri di samping Mauren.
"Iya pak, bu Mauren saat ini sedang mengandung usia kehamilannya baru 2 minggu" ucap dokter Ayu.
Sedangkan Mauren sudah tak dapat bicara apapun lagi ia menitikkan air mata harunya, ia tak menyangka ada kehidupan didalam perutnya.
Setelah mengambil vitamin di apotik Aryan segera membawa Mauren pulang tentunya bersama berita bahagia yang akan mereka sampaikan pada orang tuanya.
Bersambung