Sepanjang perjalanan pulang Aryan terus menggenggam tangan Mauren sehingga ia menyetir hanya dengan satu tangannya, keduanya begitu bahagia mendengar kabar yang dikatakan dokter Ayu tadi.
"Terima kasih sayang sudah membuatku menjadi calon daddy" Aryan mengecup punggung tangan Mauren.
"iamu bahagia" ucap Mauren menatap sang suamk.
"Tentu aku sangat bahagia... made in Jogja nih" ucap Aryan, ia mengusap perut Mauren yang masih rata.
"Apaan sih kamu" ucap Mauren tertawa.
"Iya dong bikinnya kan di Jogja sayang" ucap Aryan yang ikut tertawa.
Aryan dan Mauren masuk rumah dengan senyum yang mengembang.
"Gimana Ar, apa kata dokter" tanya Nancy yang sedang bersantai bersama suaminya.
"Duduk dulu mah" ucap Mauren.
"Kita punya sesuatu buat mama dan papa" ucap Aryan, ia duduk di samping Mauren dan memeluknya dari samping.
"Sesuatu apa sih Ar" ucap Chandra.
"Nih, buka aja pah" ucap Aryan, ia memberikan amplop hasil pemeriksaan Mauren pada Chandra.
"Jadi papa dan mama akan dapat cucu" ucap Chandra setelah membaca hasil pemeriksaan Mauren.
"Iya pah..." jawab Mauren tersenyum.
"Maksud papa apa" tanya Nancy bingung.
"Mama akan jadi oma, Mauren hamil..." ucap Aryan sambil mengusap perut Mauren.
"Benarkah" ucap Nancy tak percaya.
"Iya mah mama akan jadi oma" ucap Mauren tersenyum.
"Selamat ya nak" Nancy berpindah duduk di antara Aryan dan Mauren lalu mencium pipi menantunya.
"Selamat ya Ren papa senang banget bakalan jadi opa" ucap Chandra.
"Mauren aja nih yag dikasih selamat Aryan juga dong pah mah, Aryan sama Mauren kan satu team" ucap Mauren.
"Iya selamat deh buat kamu juga Ar" ucap Nancy pada putranya.
Mauren merebahkan tubuhnya di tempat tidur, seperti biasa ia selalu meletakkan guling pembatas di tengah ranjangnya.
"Ngapain sih pakai ginian lagi" Aryan melemparkan guling pembatasnya dan memeluk Mauren sambil mengusap perutnya.
"Biasanya juga gitukan" ucap Mauren.
"Sekarang gak kita gak memerlukan itu lagi sayangku" ucap Aryan.
"Yank...." panggil Mauren.
"Hhmmm.... apa cantik..." sahut Aryan.
"Tumben kamu gak minta" ucap Mauren sambil memainkan jari Aryan yang mengusap perutnya.
"Aku gak mau nyakitin kamu juga anak kita dan tadi dokter bilangkan kalau untuk saat ini dikurangi dulu olah raga malam kita, apa kamu nih yang pengen" ucap Aryan mengggoda Mauren.
"Gak, siapa yang pengen udah ah aku ngantuk" ucap Mauren.
"Ya sudah bobo yuk" ucap Aryan.
"Yank...." panggil Mauren lagi.
"Apa sayang...." sahut Mauren lagi.
"Besok aku sidang skripsi doakan ya biar lancar" ucap Mauren.
"Besok ya... iya aku doakan semoga kamu lulus dengan hasil yang memuaskan" ucap Aryan.
"Ya sudah bobo yuk, usap-usap yank perut aku" ucap Mauren dan Aryan pun mengusap perut istrinya yang masih rata.
"Selamat bobo sayang mimpi yang indah" Aryan mencium kening Aryan lalu keduanya saling melumat sebelum akhirnya memejamkan mata memasuki alam mimpi.
----
Cahaya matahari pagi masuk menyinari kamar Aryan dan Mauren, Mauren mengulet pelan lalu membuka matanya.
"Dasar m***m tidur aja masih m***m pikirannya" ucap Mauren, saat merasakan tangan Aryan yang berada di breastnya.
"Aku dengar lho sayang kamu ngomong apa" ucap Aryan lalu meremas breast Mauren pelan.
"Iiihhhh.... apaan sih lepas gak" omel Mauren seraya memukul tangan Aryan yang masih meremas breastnya.
"Enak tau sayang" ucap Aryan yang kini beralih mengecup leher istri cantiknya tersebut.
"Iya enak di kamu, awas ya kalo sampai merah leher aku, aku gantung kamu" omel Mauren.
"Ngeri banget sih kamu. Selamat pagi anak daddy, mami kamu bawel banget" ucap Aryan yang mengecup perut Mauren.
"Dasar tukang adu" ucap Aryan.
"Biarin ngadu juga sama anak aku" ucap Aryan mengusap perut Mauren.
Mauren kemudian tersenyum sambil menatap Aryan.
"Yank kamu mau anak kita cewek apa cowok" ucap Mauren.
"Kalau kamu maunya apa" tanya Aryan.
"Iiihh.. ditanya malah balik nanya" omel Mauren.
"Apa aja sayang terserah Tuhan mau kasih cewek atau cowok yang penting dia sehat dan tak kurang apa pun" ucap Aryan.
"Bisa banget sih suami aku" ucap Mauren lalu mengecup bibir Aryan.
"Oh ya kamu sidang jam berapa sayang" tanya Aryan.
"Jam sembilan" sahut Mauren sambil menciumi area ketiak Aryan.
"Sudah jam tujuh bangun yuk siap-siap" ucap Aryan.
"Nanti dulu yank...." ucap Mauren manja ia semakin menciumi area ketiak Aryan.
"Kamu ngapain sih ciumin di situ, jorok tau" ucap Aryan.
"Enak yank wangi" ucap Mauren.
"Wangi dari mana sayang orang aku belum mandi gini, sudah ah ayo mandi aku mau ke kantor juga" ucap Aryan, ia mengangkat Mauren ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Aryan berusaha mati-matian menahan hasratnya melihat tubuh mulus istrinya yang sangat menggodanya. Ia tak ingin menyakiti istri dan anaknya apabila menuruti hasratnya itu.
Keduanya keluar dari kamar mandi, Mauren hanya melilitkan handuk di d**a sampai sebatas pahanya dan handuk yang melilit rambutnya sedangkan Aryan hanya melilitkan handuk dipinggangnya.
Mauren langsung berjalan ke lemari pakaian menyiapkan pakaian suaminya.
"Sayang...." Aryan yang tidak tahan melihat tubuh Mauren yang hanya berlilitkan handuk langsung memeluknya dari belakang lalu mengecup lehernya dan meremas breastnya.
"Yank... kamu pengen ya...." ucap Mauren yang sangat mengerti keinginan Aryan.
"Aku bisa menahannya aku gak mau kamu dan anak kita tersakiti" ucap Aryan sambil mengecup leher sang istri.
"Aku gak papa kok" ucap Mauren, ia memejamkan matanya dan menggigit bibirnya menahan desahannya yang akan keluar.
"Kamu gapapa tapi aku gak mau menyakiti anak kita" ucap Aryan.
"Pengertian banget sih kamu yank..." Mauren berbalik dan memeluk sang suami.
"Siap-siap yuk" ucap Aryan.
Seperti biasa Mauren selalu membantu Aryan mengenakan pakaian kerjanya.
"Kamu sidangnya jam sembilan kan sayang, nanti diantar sama pak Ujang aja ya" ucap Aryan lalu mengecup kening Mauren.
"Iya... yuk sarapan" ucap Mauren.
Setelah selesai sarapan seperti biasanya pula Mauren selalu mengantarkan sang suami ke depan pintu.
"Aku berangkat dulu ya sayang dan sukses buat sidang kamu semoga berhasil, daddy kerja dulu ya nak" ucap Aryan lalu mengecup perut Mauren yang masih rata.
"Maminya gak dicium juga" ucap Mauren.
"Oh mami mau dicium juga sini daddy cium" dan tanpa mengenal tempat keduanya saling melumat dan memagut hingga kehabisan oksigen
"Hati-hati yank" ucap Mauren melepaskan suaminya pergi bekerja.
Bersambung