Bab 12

1070 Words
Aryan turun dari kamarnya dengan rambutnya yang masih basah. "Seger amat tuh muka" ucap Nancy. "Iya dong harus itu..." ucap Aryan. "Istri kamu itu lagi hamil Ar jangan diajakin olahraga terus kasian dia kecapean" ucap Nancy mengingatkan. "Mauren mah yang ngajakin, dan dokter bilang sudah boleh" ucap Aryan. "Oohhh jadi ceritanya tadi habis buka puasa pantes mama gak boleh ganggu" ucap Nancy tertawa. "Mama apaan sih" omel Aryan. "Dokter bilang boleh juga jangan terlalu sering Ar kasian Mauren" ucap Nancy. "Iya mah Aryan tau kok" ucap Aryan. Cukup lama ibu dan anak itu berbincang. Mauren turun dari kamarnya dan terlihat sudah segar. "Sudah mandi sayang" tanya Aryan. "Sudah, bi Mauren lapar siapin makanan dong" ucap Mauren pada art di rumah mertuanya tersebut. "Ya jelaslah lapar orang habis diporsir gitu sama Aryan kamu" ucap Nancy tertawa. "Yank mama tuh ngeledekin kita..." ucap Mauren manja. "Mama ngiri kali sayang" ucap Aryan. "Iihhh siapa yang iri" ucap Nancy. Dan tak lama makanan yang Mauren inginkan telah tersaji dihadapannya. "Yank...." ucap Mauren. "Iya-iya aku icipin dulu" ucap Aryan. "Gimana enak gak yank" ucap Mauren. "Enak, mau aku suapin" tanya Aryan. "Boleh tapi pakai tangan ya yank" ucap Mauren. "Iya...." angguk Aryan. "Kenapa sih tiap mau makan pasti di icipin Aryan dulu" tanya Nancy. "Dedenya yang mau mah, gak enak rasanya kalo gak dicicipin Aryan" ucap Mauren sambil menerima suapan dari tangan Aryan. Mauren makan dengan lahap. "Selesai.... aku cuci tangan dulu ya" ucap Aryan begitu makanannya habis. "Tunggu yank" ucap Mauren. "Apalagi sayang" ucap Aryan. "Aku mau ini" ucap Mauren menunjuk jari tangan Aryan, ia pu  menjilati jari tangan suaminya satu persatu sampai bersih. "Ya ampun sayang kalau lihat kamu gini pikiran aku jadi kemana-mana" ucap batin Aryan, ia meneguk air liurnya melihat Mauren yang menjilati jari tangannya. "Sudah yank enak banget" ucap Mauren. "Aneh banget sih kamu" ucap Aryan menggelengkan kepalanya. ---- "Yank bete... jalan yuk" ucap Mauren saat ini ia sedang duduk mengangkang dipangkuan Aryan didalam kamarnya. "Mau kemana" tanya Aryan. "Ke mana aja" ucap Mauren lalu mengecup leher sang suami. "Ya sudah ayo turun ganti baju dulu" ucap Aryan. Aryan dan Mauren turun dari kamarnya keduanya segera keluar rumah. "Naik motor ya yank" ucap Mauren. "Gak, malam gini naik motor nanti masuk angin sayang" ucap Aryan. "Mau naik motor yank, anak kamu nih yang pengen" ucap Mauren sambil mengusap perutnya. "Iya.... kalau sudah bawa-bawa anak mana bisa nolak sih aku" ucap Aryan, ia mengeluarkan motor besarnya. "Ayo naik, mau kemana nih kita" ucap Aryan. "Jalan aja dulu yank" ucap Mauren, ia memeluk Aryan dengan erat dan menyandarkan kepalanya dipunggung Aryan. Aryan memacu motor besarnya cukup kencang membelah jalanan ibu kota. "Yank ke cafe sana yuk duduk santai..." ucap Mauren, ia menunjuk sebuah cafe mewah. "Boleh deh..." Aryan mengarahkan motornya ke arah cafe tersebut. Mauren melingkarkan tangannya ke lengan Aryan, keduanya memasuki cafe mewah tersebut. Aryan dan Mauren duduk di salah satu pojok cafe yang menatap ke arah jalan keduanya menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan. "Aryan" seorang wanita seumuran Nancy menyapa Aryan. "Oh hai tante apa kabar" ucap Aryan. "Baik, tidak bisakah kamu memanggil mama seperti dulu" ucap Leni mamanya Shilla. "Maaf tante Aryan sudah tidak mempunyai ikatan apa-apa lagi dengan Shilla dan sudah sepatutnya Aryan memanggil dengan sebutan tante" ucap Aryan. "Dia" ucap Leni menatap Mauren yang duduk diam disamping Aryan. "Kenalkan tante ini Mauren istri Aryan" ucap Aryan. "Hallo tante" ucap Mauren mengulurkan tangannya dan disambut Leni. "Jadi ini Ar perempuan yang menggantikan Shilla di hari pernikahan kalian" ucap Leni. "Iya benar tante dan mama memilihkan wanita yang sangat tepat buat Aryan, dia sangat mengerti bagaimana Aryan dan sekarang kami sedang menanti kelahiran buah hati kami" ucap Aryan tersenyum. "Kamu hamil" tanya Leni pada Mauren. "Iya tante tiga bulan" sahut Mauren. "Coba saja Shilla tidak bertindak bodoh di hari pernikahan kalian pasti sekarang kalian sudah bahagia" ucap Leni tanpa memikirkan perasaan Mauren, Mauren yang mendengar ucapan Leni hanya diam ia merasa tidak dihargai sebagai istri Aryan. "Semuanya sudah berlalu tante Tuhan memang tidak menakdirkan Aryan dan Shilla bersatu, dan sekarang Aryan sudah bahagia bersama Mauren" ucap Aryan, ia mengecup punggung tangan Mauren dan tentu saja membuat Leni merasa kesal melihatnya. "Apa kamu tidak ingin menemui Shilla dia ada di rumah dia telah kembali dari pelariannya" ucap Leni. "Tidak tante, menemui Shilla sama saja Aryan menyakiti hati Mauren" ucap Aryan. "Mah...." seorang lelaki memanggil Leni yang ternyata adalah ayah Shilla. "Om.... apa kabar" ucap Aryan Mauren. "Hai Ar... oh ya Shilla ada di rumah temui dia" ucap ayah Shilla dan Aryan hanya tersenyum. "Ya sudah kami duluan ya Ar" ucap mama Shilla. Mauren terus menerus diam ia merasa tidak dihargai, kehadiarannya disamping Kevin tidak dianggap orangtua Shilla. "Sayang...." ucap Aryan. "Kalau kamu mau menemui Shilla temui saja aku gapapa" ucap Mauren, ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan cafe tersebut. Setelah membayar makanannya Aryan segera mengejar mm Mauren yang telah meninggalkan cafe itu, namun ia tak menemukan istrinya tersebur. Aryan mencoba menghubunginya namun tak kunjung diangkat. ---- Mauren masuk rumah dengan berlinang air mata, ia langsung masuk kamarnya. "Loh Ren kamu kenapa sayang" tanya Nancy yang melihat menantunya menangis, ia kemudian menyusul ke kamarnya. "Gapapa mah...." ucap Mauren. "Bukannya kamu tadi sama Aryan, ke mana dia" tanya Nancy. "Gak tau" ucap Mauren sambil menghapus airmatanya. "Kalian berantem" ucap Nancy dan Mauren hanya diam. Suara motor Aryan terdengar baru masuk halaman dan Nancy segera menyambangi anaknya itu. "Ar... kenapa Mauren pulang sendiri" tanya Nancy. "Dia ada di rumah mah" tanya Aryan. "Iya dia pulang menangis, kalian berantem" tanya Nancy. "Dia ngambek mah, tadi Aryan ketemu tante Leni dan om Ari" ucap Aryan. "Ketemu dimana mereka ngomong apa saja" tanya Nancy. "Ketemu di cafe mah gak sengaja, mereka minta Aryan buat menemui Shilla dan Mauren marah" ucap Aryan. "Ya pantaslah kalau istrimu marah" ucap Nancy. ---- "Sayang...." Aryan memasuki kamarnya dan ia melihat Mauren meringkung dibawah selimut. "Sayang jangan seperti ini dong" ucap Aryan ia naik ke ranjang dan memeluk Mauren dari belakang. "Ckk... sana ah lepasiiin..." ucap Mauren marah. "Jangan ngambek dong.... aku gak ada niat buat ketemu Shilla yang aku sayang cuma kamu" ucap Aryan sambil mengusap perut Mauren. "Iiiiiiihhhh....." Mauren menggigit tangan Aryan. "Sakit sayang......" ucap Aryan sambil mengusap tangannya. "Aku keseeeeellllll sama kamuuu" Mauren memukul d**a Aryan. "Maaf ya daddy janji gak bakalan bikin mommy kecewa" ucap Aryan lalu mengecup perut Mauren. "Awasss ya kalau sampai ketahuan ketemu Shilla" omel Mauren. "Iya enggak" ucap Aryan. "Peluk yank mau bobo" ucap ll Mauren yang seketika berubah manja, sejak hamil moodnya memang sering berubah. "Bersih-bersih dulu sana cuci kaki ganti baju baru bobo" ucap Aryan. "Iya...." Mauren segera turun dari ranjangnya, ia ke kamar mandi membersihkan dirinya. Tak lama Mauren keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya yang sudah menempel di tubuhnya. "Selamat tidur anak daddy mimpi yang indah ya...." Aryan mencium perut  Mauren lalu beralih melumat bibir perempuan cantik itu. Aryan kemudian merentangkan tangannya dan agar Mauren bisa mencium aroma ketiaknya dengan bebas. "Wangi banget..." ucap Mauren. "Aneh banget bini gue, masa ketiak dibilang wangi" ucap batin Aryan, ia mengusap perut sang istri. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD