Usia kehamilan Mauren kini sudah memasuki bulan ke tiga dan terlihat perutnya yang sedikit membuncit Aryan pun semakin over protektif padanya dan Mauren pun yang semakin manja.
Sore hari Aryan melangkahkan kakinya memasuki kamar setelah pulang dari kantor, dilihatnya Mauren tertidur meringkuk dibawah selimut didekatinya dan dikecupnya kening perempuan itu dengan sangat lembut lalu diusapnya perutnya.
"Kamu sudah pulang" ucap Mauren yang terbangun.
"Maaf aku membangunkanmu" ucap Aryan dan ia mengecup bibir Mauren.
"Gapapa kok lagian aku sudah lama juga bobonya" ucap Mauren.
"Yank..." Mauren beringsut duduk dipangkuan sang suami lalu melingkarkan tangannya di leher pria tampan itu, ia mencium aroma sekitar ketiak Aryan yang sangat disukainya.
"Apa..... manja banget sih" ucap Aryan sambil memeluk pinggang Mauren.
"Kamu gak kangen sama aku" ucap Mauren.
"Apa sih tiap hari juga ketemu" ucap Aryan.
"Bukan, kangen itu yank" ucap Mauren.
"Terus apa aku gak ngerti" ucap Aryan berpura-pura.
"Masa gak ngerti sih" ucap Mauren.
"Ngomong yang jelas dong sayang" ucap Aryan menggoda.
"Kamu gak kangen sama ini" Mauren mengarahkan tangan Aryan ke pangkal pahanya.
"Oohhh... itu ya kangenlah yank" ucap Aryan lalu mengecup hidung mancung Mauren.
"Lalu kenapa kamu gak pernah minta dan ngajakin aku lagi setelah aku hamil, apa kamu jajan di luar ya" ucap Mauren curiga.
"Huss ngomongnya kok gitu sih, aku gak pernah jajan diluar sayang ngelirik yang lain aja sudah gak pernah apa lagi sampai jajan diluar" ucap Aryan.
"Lalu kenapa kamu gak pernah minta" selidik Mauren.
"Dokter bilangkan jangan dulu, kamu kenapa sih sayang nanya begituan,kamu pengen ya" ucap Aryan.
"Nah tuh tau... ayo yank udah lama" ucap Mauren tanpa malu lagi, ia mengusap d**a Aryan.
"Kalau bicara yang jelas sayang biar aku ngerti jangan mutar-mutar gini, anak kita.... dokter bilangkan jangan dulu" ucap Aryan lagi.
"Kemaren pas kamu gak bisa nganterin aku check up aku konsultasi soal itu dan dokter bilang sudah boleh tapi pelan-pelan saja" ucap Mauren dengan wajah memerahnya.
"Kaya lagu kotak pelan-pelan saja" ucap Aryan tertawa.
"Apaan sih kamu" tawa Mauren.
"Masih sore nanti malam ya" ucap Aryan.
"Mau sekarang yank" ucap Mauren yang tak dapat menahan hormon kehamilannya.
"Ayolah kamu yang mengundang" ucap Aryan tak berlama-lama.
Aryan segera melepaskan seluruh pakaiannya hingga full naked dan Mauren pun melakukan hal yang sama, keduanya sama-sama sudah tanpa sehelai benang pun.
"Aku mencintaimu" Aryan merebahkan Mauren dan mendaratkan bibirnya di bibir istrinya tersebut.
Decapan ciuman terdengar dari bibir keduanya, mereka saling melumat dan memagut. Aryan menciumi leher dan daun telinga Mauren.
Tokk... tokk.. tokk....
"Den..." panggil bibi dari luar.
"Cckkkk ganggu banget sih, tunggu ya yank" Aryan menarik selimut menutupi tubuh Mauren dan meraih handuk yang ada di ujung ranjangnya lalu dililitkan di pinggangnya.
"Ada apa bi" ucap Aryan membuka pintu dengan wajah kusutnya.
"Itu bi dipanggil ibu Nancy" ucap Bi Surti yang mengerti, ia sempat melihat ke kamar Mauren yang hanya menutup dirinya dengan selimut.
"Ngapain sih" omel Aryan.
"Gak tau den" ucap Surti.
"Bilang mama aku lagi sibuk jangan di ganggu dulu" ucap Aryan lalu masuk kembali ke kamar dan menguncinya.
Ia kembali melepas handuknya dan menarik selimut yang menutup tubuh Mauren.
"Tunggu bibi bilang apa" ucap Mauren saat Aryan akan kembali mencumbunya.
"Mama cari aku, aku bilang aja lagi sibuk jangan diganggu dulu" ucap Aryan lalu mengecup bibir Mauren.
Aryan menurunkan ciumannya ke perut Mauren dan mengusapnya.
"Daddy mau main-main dulu ya nak sama mami kamu jangan ngintip ya" ucap Aryan lalu mengecup perut Mauren.
Desah dan lenguhan terdengar dari bibir keduanya saling bersahutan, beruntung kamar itu kedap suara hingga teriakan keduanya tak terdengar hingga keluar.
Mauren mendesah lelah kala aktifitas mereka selesai, Aryan pun menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka berdua. Pria tampan itu mengecup kening Mauren dengan lembut.
"Istirahatlah aku tau kamu cukup lelah" ucap Aryan.
Mauren menelusupkan wajahnya diketiak Aryan kebiasaannya akhir-akhir ini yang sangat disukainya.
"Dedenya gapapakan" ucap Aryan seraya mengusap perut Mauren.
"Tentu saja gapapa dad" sahut Mauren.
"Gak ngintip kan tadi dek" canda Aryan lagi.
"Ya enggaklah, apaan sih kamu" tawa Mauren.
"Ya sudah tidurlah yank, aku tau kamu cukup lelah" ucap Aryan.
"Kamu jangan pergi, peluk akunya" ucap Mauren manja.
"Iya... astaga istriku manjanya" ucap Aryan tertawa.
Dan tak lama Mauren tertidur pulas Aryan pun segera melepas pelukannya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Bersambung