"Mmh..." Lady hanya mampu mengerang tertahan. Sentuhan itu awalnya terasa lembut, hanya sebuah tekanan hangat yang membungkam bibir Lady. Namun, detik berikutnya, irama jantung Lady seolah dipaksa berhenti saat lumatan itu berubah menjadi lebih dalam dan menggebu. Narren tidak lagi memberikan celah untuk Lady sekadar menarik napas. Pria yang selama ini ia anggap sebagai berondong lugu itu kini menyerangnya dengan intensitas yang meluap-luap. Mata Lady membulat sempurna. Tubuhnya kaku, jemarinya yang masih memegang pisau dapur terasa lemas hingga benda tajam itu perlahan terlepas dari genggamannya. "Mmh..." Sekali lagi, suara memalukan itu keluar dari mulut Lady. Disertai cecapan-cecapan yang membuat suhu ruangan semakin memanas. Pikirannya mendadak kosong, benar-benar stuck, tak dap

