10 - Selalu Ada

1242 Words
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat lima belas menit. Angka digital di jam dinding apartemen itu seolah mengejek Narren yang sejak tadi tak bisa diam. Ia mondar-mandir di ruang tamu yang sempit, sesekali menyibak gorden hanya untuk melihat deretan lampu jalanan di bawah sana. Pikirannya kalut. Lady belum pulang. Gadis itu bahkan tidak bisa ia hubungi sejak tadi. "Sial," umpat Narren rendah. Ia meraih ponselnya, menatap kolom chat yang masih menyisakan centang dua abu-abu. Tak ada balasan. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari perempuan itu. Narren menghela napas kasar. Ia menekan sebuah nomor di daftar kontaknya yang tersembunyi. Begitu sambungan terhubung, suaranya berubah menjadi sangat dingin, jauh dari kesan pemuda lugu yang ia tampilkan di depan Lady. "Cari dia. Sekarang," perintah Narren tanpa basa-basi. "Mohon maaf, Tuan Muda, kami sudah menyisir rute dari kantornya hingga area sekitar rumah orang tuanya, tapi mobil Nona Lady tidak terdeteksi di jalan utama. Kami kehilangan jejak di sekitar area perumahan lama," suara di seberang telepon terdengar gemetar. "Kalian tidak berguna," desis Narren. "Cari di setiap sudut yang memungkinkan. Aku tidak mau tahu, satu jam lagi aku harus tahu dia ada di mana. Kalau sampai lecet sedikit saja, kalian tahu konsekuensinya." Narren mematikan sambungan telepon dengan kasar. Ia meremas ponselnya. Rasa cemas ini asing baginya. Ia tidak pernah secemas ini pada siapa pun. "Kenapa kamu tidak angkat teleponku?" gumamnya geram. Tak tahan lagi dengan kebisingan di kepalanya, Narren kembali mencoba menghubungi nomor Lady. Ia sudah bersiap untuk diabaikan lagi. Namun kali ini, pada nada sambung kelima, telepon itu terangkat. Hening. Tak ada suara di seberang sana. "Halo? Kak? Kamu di mana?! Kenapa baru diangkat? Kamu tahu jam berapa sekarang? Kenapa belum pulang?! Kamu bahkan nggak bisa dihubungi sejak tadi." Narren langsung menyerocos tanpa memberi jeda. Suaranya meninggi, campuran antara rasa lega dan amarah yang meledak. Hening masih menyelimuti sambungan itu. Hanya terdengar deru halus mesin mobil yang masih menyala dan suara napas yang tidak beraturan. "Kak! Jangan diam saja! Kamu di mana?! Aku akan jemput sekarang. Katakan lokasimu!" Narren setengah membentak, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Lalu, sebuah suara yang sangat kecil, parau, dan bergetar hebat akhirnya terdengar. Suara yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan Narren dalam sekejap. "Narren..." Narren terdiam. Jantungnya mencelos. "Kak? Kamu kenapa? Kamu menangis?" "Narren... tolong," Lady terisak pelan, berusaha menahan tangisnya namun gagal. "Bisa... bisa kamu turun ke basement sekarang? Bawa jaket hoodie-ku yang hitam, topi, sama masker di laci meja rias. Tolong... bawa itu sekarang." Narren mengernyitkan keningnya, rasa bingung kini bercampur dengan kekhawatiran yang memuncak. "Basement? Kamu sudah di bawah? Kenapa tidak langsung naik? Dan kenapa minta barang-barang itu? Apa yang terjadi, Kak? Apa ada yang menyakitimu?!" "Jangan tanya apa-apa dulu... tolong lakuin saja. Aku... aku tunggu di area parkir P-3. Cepat, Narren." Klik. Sambungan diputus sepihak. Narren menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia berlari ke kamar Lady, menyambar jaket, topi, dan masker seperti yang diminta, lalu melesat keluar apartemen menuju lift. Pikirannya terbang ke mana-mana. "Kenapa dia butuh masker dan topi? Apa dia terluka? Apa Harris mencarinya lagi?" Begitu pintu lift terbuka di lantai P-3, Narren berlari menyisir deretan mobil yang terparkir. Suasana basement itu sepi dan dingin. Narren menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari mobil Mazda putih milik Lady. Tiba-tiba, dari sudut area yang agak gelap, sepasang lampu depan mobil menyala terang sesaat, memberikan kode. Narren langsung yakin bahwa Lady ada di dalam mobil itu. Ia pun berlari mendekat. Lady tidak turun. Ia hanya menurunkan kaca mobilnya sedikit, hanya cukup untuk mengeluarkan tangannya. "Ini," ucap Narren napasnya terengah-engah. Ia menyodorkan barang-barang yang diminta. "Kak Lady, buka pintunya. Biarkan aku masuk. Kamu kenapa?" Lady tidak menjawab. Tangannya meraih jaket dan topi itu dari tangan Narren dengan gerakan cepat dan kasar. Ia menghindari kontak mata, wajahnya tertunduk dalam kegelapan kabin mobil. Narren menahan kaca mobil itu agar tidak ditutup sepenuhnya. Matanya yang tajam berusaha menembus kegelapan untuk melihat wajah Lady. Ia menangkap pantulan sisa air mata di pipi Lady dan cara wanita itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak. "Kamu menangis," ucap Narren, suaranya kini merendah, penuh selidik. "Siapa yang melakukannya? Harris? Apa dia mengganggumu lagi?" "Bukan urusanmu, Narren. Makasih barangnya. Sekarang kamu balik ke atas duluan. Aku... aku butuh waktu sebentar di sini," ucap Lady ketus, suaranya masih sengau. Ia menarik kasar jaketnya hingga terlepas dari tangan Narren. Narren menghela napas berat. Berusaha mengabaikan perkataan dari bibir Lady. Tanpa menunggu izin, Narren melepaskan tangannya dari kaca, berjalan memutar dengan langkah lebar, dan langsung membuka pintu penumpang samping. Ia masuk dan duduk dengan tenang di sana, menutup pintu dengan bunyi blam yang cukup keras. Lady terlonjak kaget. Ia menoleh ke samping dengan mata sembab yang memerah. "Narren! Apa-apaan sih?! Keluar! Aku bilang aku mau sendiri!" "Katakan apa yang terjadi," perintah Narren. Suaranya kini sangat dingin, sangat tegas, dan penuh otoritas. Hilang sudah kesan pemuda lugu yang selama ini ia tampilkan di depan Lady. Di kursi samping itu, Narren tampak seperti seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis. "Narren, keluar! Aku tidak mau bicara!" Lady berteriak frustrasi, air mata kembali jatuh membasahi pipinya yang bengkak. "Aku tidak akan keluar sampai kamu bicara," sahut Narren tanpa emosi. Ia menatap wajah Lady dengan saksama. "Siapa yang menamparmu? Wajahmu bengkak, Kak. Jangan pikir aku tidak bisa melihatnya meski di tempat gelap seperti ini." Narren ingin menggapai wajah Lady, untuk memeriksa lebih detail apa saja yang telah terjadi di sana. Namun, Lady menghindar. Lady terdiam. Ia memalingkan wajahnya kembali ke depan, meremas kemudi mobilnya kuat-kuat. Rasa perih di pipinya tak sebanding dengan rasa sesak di dadanya saat diingatkan kembali tentang pertengkarannya dengan sang ayah. "Memang apa urusan kamu? Kamu cuma orang asing yang kebetulan aku kasih tumpangan. Jangan bersikap seolah kamu punya hak untuk tahu segalanya tentang hidupku." "Aku punya hak karena aku tinggal bersama denganmu. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, orang-orang akan mencariku lebih dulu," balas Narren cepat. "Lagi pula aku berutang budi pada Kakak. Kakak sudah baik memberiku tumoangan. Bagaimana pun juga, aku harus melindungi Kakak." Lady masih terdiam. Bibirnya tampak bergetar menahan isakkan. "Katakan, Kak. Apa ini karena Harris? Apa dia datang dan mengganggumu lagi saat aku tak di sisimu?" Lady menggigit bibir bawahnya begitu kuat hingga mungkin akan berdarah. Ia memejamkan mata, membiarkan memori tentang tamparan ayahnya dan kata-kata kasar yang menghujam jantungnya berputar kembali. 'Kamu bukan anakku!' Kalimat itu terus terngiang, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan diri yang ia miliki. Bahkan... ayahnya saja telah tega membuangnya. Keheningan di dalam mobil itu terasa mencekam. Narren tidak mendesak lagi, ia hanya menunggu. Ia bisa melihat bahu Lady yang gemetar hebat, menandakan wanita itu sedang berperang dengan emosinya sendiri. Detik demi detik berlalu. Hanya suara deru AC mobil yang mengisi kekosongan di antara mereka. Lady merasa berada di titik nadir hidupnya. Ia dibuang oleh keluarganya, dikhianati cintanya, dan kini ia merasa tidak punya tempat untuk pulang selain apartemen yang harus ia bagi dengan pria asing ini. Lady menarik napas panjang, sebuah napas yang terdengar sangat berat dan penuh keputusasaan. Ia perlahan menoleh sedikit ke arah spion tengah, menatap bayangan mata Narren yang sedang memperhatikannya. "Narren..." suara Lady terdengar sangat tenang, ketenangan yang lahir dari rasa hancur yang sudah mencapai batasnya. "Ya?" Lady terdiam sejenak, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dirinya. Ia teringat ancaman ayahnya, ia teringat wajah sombong Harris, dan ia teringat bagaimana Narren melindunginya saat Harris datang kemarin. "Tawaran kamu..." Lady menjeda kalimatnya. Suaranya bergetar. Namun matanya menatap tajam ke arah Narren melalui spion. "Tawaran kamu buat ajakin aku nikah kemarin... itu masih berlaku, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD