09 - Merasa Terbuang

1592 Words
PLAKKK! Suara hantaman telapak tangan yang bertemu dengan kulit pipi itu menggema, memantul di antara dinding-dinding ruang tamu kediaman Lukman. Kepala Lady terlempar ke samping dengan kencang. Untuk beberapa detik, telinganya berdenging hebat, menyisakan keheningan yang menyakitkan di tengah atmosfer yang membara. Rasa panas yang membakar seketika menjalar di pipi kirinya, menjalar hingga ke rahang, disusul rasa kebas yang perlahan berubah menjadi denyut nyeri yang menusuk. Lady tidak bergerak. Ia tidak memegang pipinya yang mulai membengkak. Ia hanya mematung, membiarkan rambut panjangnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang kian memucat. "Ayah?" suara Lady keluar sebagai bisikan yang gemetar, nyaris tak terdengar. "Jangan panggil aku Ayah! Aku tidak sudi punya anak yang tidak tahu cara menjaga kehormatan orang tua sepertimu!" Lukman berteriak, napasnya memburu. Ia berdiri dengan d**a membusung, menunjuk-nunjuk wajah putrinya dengan telunjuk yang gemetar karena amarah. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan kemarin? Kamu menghancurkan martabat keluarga besar kita di depan ratusan mata! Kamu mencium laki-laki asing, entah dari mana asalnya, di depan calon suamimu sendiri! Di depan kolega-kolega Harris yang terhormat! Apa kamu sudah gila, hah?!" Lady perlahan mendongak. Di balik helaian rambutnya, matanya merah dan berkaca-kaca, namun ada binar pemberontakan yang belum padam. "Ayah hanya peduli pada martabat? Ayah tidak bertanya kenapa aku melakukannya? Ayah tidak ingin tahu apa yang dilakukan pria 'terhormat' pilihan Ayah itu di belakangku?" "Aku tidak butuh alasan!" Lukman kembali menggelegar, suaranya naik satu oktav hingga membuat pajangan kristal di atas meja bergetar. "Alasan apa pun tidak akan membenarkan tindakan murahanmu! Harris itu laki-laki mapan! Dia direktur perusahaan besar! Dia punya masa depan yang akan menjamin hidupmu sampai tua! Kalau ada masalah kecil, kamu seharusnya bicara, bukan malah bertingkah seperti perempuan jalanan di depan altar!" "Masalah kecil?" Lady tertawa sumbang, setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang memar. "Ayah bilang pengkhianatan itu masalah kecil? Dia selingkuh, Yah. Selama ini, dia menipuku. Bagimu, lebih baik aku hidup dalam kebohongan daripada aku membela harga diriku sendiri?" "Harga diri itu apa? Kamu pikir itu lebih penting dari keberlangsungan dan nama baik keluarga kita?" Lukman melangkah maju, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Lady. "Harga diri kita sudah habis sejak kamu membatalkan pernikahan itu! Kamu pikir siapa kamu? Kamu cuma perempuan biasa, Lady! Tanpa Harris, kamu bukan siapa-siapa! Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Kamu harus pergi ke rumah Harris sekarang juga. Berlututlah, minta maaf padanya! Katakan kalau kamu hanya sedang stres kemarin! Yang penting, minta dia menjadwalkan ulang pernikahan kalian secepatnya!" "Tidak akan," sahut Lady dengan suara dingin dan tajam. "Aku lebih baik mati daripada harus menyerahkan hidupku pada laki-laki b******n seperti dia." "KAU!" Lukman mengangkat tangannya lagi, hendak mendaratkan tamparan kedua. "Sudah, Mas! Cukup! Jangan pakai kekerasan!" Tante Sarah, adik dari ayah Lady, berlari kencang dari arah dapur. Ia langsung merentangkan kedua tangannya di depan Lady, memposisikan dirinya sebagai perisai. Wajah Tante Sarah tampak pucat pasi melihat pipi keponakannya yang sudah membiru. "Sarah, minggir! Anak ini harus dididik dengan keras! Dia sudah membuatku malu di depan teman-temanku dan kolega bisnisku!" Lukman mencoba mendorong Sarah dengan kasar. "Tapi tidak begini caranya, Mas! Lady sedang berduka, dia dikhianati! Tolong dengarkan dia sekali saja!" Sarah memohon dengan suara parau. "Dukanya tidak sebanding dengan malu yang aku tanggung! Lepaskan, Sarah!" Lukman menarik bahu Sarah dengan kuat agar bisa menjangkau Lady. "NGGAK AKAN! JANGAN SENTUH LADY LAGI!" teriak Tante Sarah sambil mencoba menepis tangan kakaknya. Dugh! Dalam kekacauan dorong-mendorong itu, tangan Lukman yang terayun liar untuk menyingkirkan Sarah justru mengenai pelipis wanita paruh baya itu dengan sangat keras. Tante Sarah terpekik, tubuhnya yang tak lagi muda terhuyung ke belakang. Kepalanya menghantam sudut meja kopi dari kayu jati yang tajam sebelum akhirnya ia jatuh terduduk di lantai. "TANTE!" Lady memekik histeris. Ia langsung berlutut di samping Tante Sarah yang merintih kesakitan, memegangi kepalanya yang mulai mengeluarkan darah segar. "Tante Sarah, Ya Tuhan... Tante nggak apa-apa? Maafin Lady, Tante... maafin Lady..." Lady menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, kekecewaan, dan luka yang sangat dalam. "Lihat apa yang Ayah lakukan? Ayah menyakiti satu-satunya orang yang peduli padaku demi membela laki-laki yang sudah menyakiti hati anak Ayah! Ayah tega menyakiti Tante Sarah?!" Lukman sempat terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan kilatan rasa bersalah saat melihat adiknya terluka. Namun, egonya yang setinggi gunung segera mengambil alih. Ia tidak mau terlihat lemah di depan putrinya yang dianggap membangkang. "Ini semua karena kamu, Lady!" Lukman menunjuk Lady dengan jarinya yang gemetar, mencoba mengalihkan tanggung jawab. "Kalau kamu tidak membangkang, Ayah nggak akan memukul adik Ayah sendiri. Sarah tidak akan terluka! Kamu pembawa sial bagi keluarga ini!" "Pembawa sial? Hanya karena aku menolak untuk diperbudak oleh laki-laki pilihan Ayah, aku jadi pembawa sial?" "Iya! Kamu harus sadar posisi kamu! Kamu itu perempuan! Di mata dunia, kalau pernikahan batal, perempuanlah yang akan dicap buruk! Orang akan mengira kamu yang punya cacat! Kamu mau hidup dengan tatapan menghina dari orang-orang seumur hidupmu?! Kamu mau jadi perawan tua yang tidak laku karena reputasimu sudah hancur?!" Tante Sarah mencoba bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. "Mas... tolong, jangan bicara begitu pada Lady..." "Diam, Sarah! Kamu juga yang selalu memanjakannya sampai dia jadi pemberontak seperti ini! Pikirkan masa depanmu! Siapa lagi yang mau dengan perempuan yang sudah membuat skandal besar?" Lukman kembali menatap Lady. Lady menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, seolah-olah seluruh oksigen di dunia ini telah habis terbakar oleh kemarahan ayahnya. Ia menatap ruang tamu rumahnya—rumah yang dulu terasa hangat, kini terasa seperti penjara bawah tanah yang dingin. "Ayah sangat takut aku tidak laku?" Lady bertanya dengan nada yang tiba-tiba tenang, namun ketenangan itu terasa lebih menakutkan daripada teriakannya tadi. "Ayah sangat takut namamu tercemar karena aku dianggap perempuan buangan?" "Tentu saja! Nama baik adalah segalanya!" sahut Lukman tanpa ragu. "Baiklah kalau begitu," Lady menghapus air matanya dengan gerakan kasar, tatapannya kini mengeras. Ia seolah baru saja mengambil sebuah keputusan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya. "Ayah tidak perlu khawatir. Ayah tidak perlu malu karena aku gagal menikah. Karena aku... aku tetap akan menikah." Seketika, raut wajah Lukman melunak. Seulas senyum lega yang terasa meremehkan muncul di wajahnya. Ia menarik napas panjang, merasa telah memenangkan perdebatan itu. "Nah, begitu dong. Akhirnya otakmu jalan juga. Memang seharusnya begitu. Cepat ganti bajumu, kita pergi ke rumah Harris sekarang—" "Aku bilang aku akan menikah. Tapi laki-laki itu bukan Harris. Dan tidak akan pernah lagi ada nama Harris dalam hidupku." Hening seketika mencekam ruangan itu. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu. Wajah Lukman yang tadinya mulai tenang, kini kembali berubah menjadi merah keunguan, jauh lebih parah dari sebelumnya. "Maksudmu apa? Menikah dengan siapa?! Jangan bilang kamu mau menikah dengan pemuda pengangguran yang kamu cium di pesta pernikahanmu itu! Kamu mau menikah dengan sampah yang tidak punya masa depan?!" "Laki-laki mana pun, Ayah. Selama dia menghargaiku sebagai manusia, bukan sebagai mainan seperti Harris pilihan Ayah," Lady menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja dan tas kerjanya dengan gerakan cepat. "Mulai detik ini, jangan pernah sebut nama Harris lagi di depanku. Dan jangan harap aku akan kembali untuk meminta maaf padanya." "LADY! JANGAN BERANI-BERANI KAMU MELANGKAH KELUAR DARI RUMAH INI!" Lukman mencoba mengejar, namun Lady sudah lebih dulu bergerak menuju pintu. "Aku cuma mau ambil barang-barangku yang tersisa. Dan mobil ini... mobil ini atas namaku, hasil keringatku sendiri. Ayah tidak punya hak untuk menahannya." Lady berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh untuk terakhir kalinya pada Tante Sarah yang menatapnya dengan pandangan sedih. "Tante, Lady pamit. Maaf karena Lady, Tante harus terluka. Lady janji akan menjaga diri." "LADY! KALAU KAMU PERGI SEKARANG, JANGAN PERNAH ANGGAP AKU AYAHMU LAGI! KAMU BUKAN ANAKKU!" Lukman berteriak sekuat tenaga hingga suaranya pecah. Lady memejamkan mata sejenak, merasakan perih yang luar biasa mendengar kalimat itu. Namun, ia tidak berbalik. "Baiklah. Kalau itu yang Ayah inginkan." Lady melangkah lebar keluar, menuruni anak tangga teras dengan terburu-buru. Ia tidak mempedulikan teriakan ayahnya yang terus mengumpat di belakangnya. Ia masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan sangat keras, dan menyalakan mesin hingga menderu kencang. Tangannya gemetar hebat saat memegang kemudi, dan pandangannya mulai kabur karena air mata baru yang mendesak keluar. Mobil itu melesat keluar dari halaman rumah, meninggalkan bayang-bayang masa lalunya yang kini hancur berkeping-keping di belakang. Begitu sampai di jalan raya, pertahanan Lady benar-benar runtuh. Ia menangis tersedu-sedu, membiarkan isakannya memenuhi kabin mobil yang tertutup rapat. Bahunya terguncang hebat. Pipi kirinya yang bengkak terasa sangat perih terkena air mata yang asin, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa hancur di dalam dadanya. "Kenapa harus begini?" Ia meratapi nasibnya di sela-sela tangis yang menyayat. "Kenapa Ayah nggak mau mikirin perasaanku sama sekali? Apa kolega dan nama baik keluarga lebih penting daripada aku, putrinya sendiri?" Ia memukul-mukul kemudi dengan frustrasi, mencoba mengeluarkan semua sesak yang menghimpit paru-parunya. Ia merasa seperti sampah yang dibuang oleh semua orang yang harusnya melindunginya. Drrtt... drrtt... Ponselnya di kursi penumpang bergetar. Lady melirik sekilas dengan mata sembabnya. Nama 'Narren' muncul di layar. Ia mengabaikannya. Ia sedang tidak ingin bicara, tidak ingin mendengar suara siapa pun. Ia merasa seluruh dunia sedang menertawakannya. Namun, di tengah kemarahan dan rasa sakitnya, bayangan Narren yang berlutut di depannya semalam kembali muncul. Bayangan Narren yang menawarkan diri menjadi tamengnya. "Menikah?" gumam Lady dengan suara parau yang nyaris habis. "Apa aku benar-benar harus menikah dengan pemuda itu hanya untuk menunjukkan pada Ayah kalau aku bisa hidup tanpa pilihannya? Apa aku harus melakukan kegilaan itu untuk membalas Harris?" Lady terus memacu mobilnya, melaju menembus keramaian kota Jakarta yang terasa asing baginya hari ini. Pikirannya berkecamuk antara harga diri yang terluka dan keputusasaan yang mendalam, mencari jalan keluar di tengah kegelapan yang mengepung hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD