08 - Dia... Melamarku?

1248 Words
"Menikahlah denganku. Aku tidak main-main," Narren mengeratkan genggamannya. "Aku janji, jika kamu bersedia menikah denganku, aku akan menjagamu dari Harris. Aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau mengganggumu lagi seumur hidupnya. Aku akan menjadi tamengmu." "Uhuk! Uhuk!" Lady tersedak ludahnya sendiri. Suara batuknya menggema di ruang tamu yang mendadak terasa menyempit. Seluruh sel saraf di otaknya seolah mengalami freeze, berhenti berfungsi tepat saat kalimat sakral meluncur dari bibir Narren. Ia menatap pemuda itu dengan pandangan yang sulit dijelaskan-antara ngeri, bingung, dan tidak percaya. "Apa aku salah dengar? Dia baru saja melamarku? Dia? Anak muda yang kemarin kupungut di pesta pernikahanku sendiri?" "N-Narren... kamu... kamu pasti sudah gila," gumam Lady setelah berhasil menguasai napasnya. Ia tertawa sumbang, sebuah tawa defensif untuk menutupi detak jantungnya yang menggila. "Kamu pasti terlalu banyak menonton drama atau sedang stres karena belum dapat pekerjaan, ya? Makanya jadi ngaco begitu." Narren tidak tertawa. Wajahnya tetap tenang, sedalam samudera yang tidak terusik badai. "Aku tidak sedang bercanda. Aku serius ngajak Kakak buat nikah." Lady segera menarik tangannya dari genggaman Narren dengan gerakan kasar. Ia bangkit berdiri, berusaha menciptakan jarak fisik karena ia merasa aura Narren mulai mengintimidasi akal sehatnya. "Cukup, Narren. Obrolan ini sudah terlalu melantur. Mungkin kamu lelah setelah seharian mencari kerja, atau kepalamu terbentur sesuatu saat di jalan," Lady meracau, tangannya bergerak gelisah merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. "Aku mau ke dapur. Aku haus. Ya, aku benar-benar butuh minum. Kamu... kamu istirahatlah. Lupakan semua omong kosong tadi." Lady melangkah cepat menuju area dapur minimalisnya. Ia tidak menoleh ke belakang. Namun ia bisa merasakan sepasang mata tajam milik Narren terus mengikuti setiap gerakannya. Ia meraih gelas, menuang air dari dispenser, dan meneguk air dingin seolah-olah tak terjadi apa-apa. Namun, belum sempat ia meletakkan gelasnya kembali, suara langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Narren tidak membiarkannya kabur. Pemuda itu kini berdiri di pintu masuk dapur, hanya berjarak beberapa langkah darinya. "Kakak menghindari pertanyaanku?" suara Narren mengalun rendah, masuk ke pendengaran Lady seperti sebuah simfoni yang berbahaya. "Apakah itu artinya... Kakak menolakku?" Lady memutar tubuhnya dengan cepat. Ia terperanjat mendapati Narren sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. "Astaga! Kamu ini seperti hantu!" "Aku butuh jawabanmu," tuntut Narren. Ia tidak bergeming. Lady menghela napas panjang, mencoba memanggil kembali sisi dewasanya. "Narren, dengar. Kamu itu masih sangat muda. Kamu baru saja lulus kuliah. Hidupmu itu masih panjang, Narren. Kamu seharusnya memikirkan bagaimana cara membangun karier, bagaimana mencari pekerjaan yang mapan, bagaimana melihat dunia luas. Bukan malah mengikatkan dirimu pada wanita yang baru saja batal nikah dan punya segudang masalah seperti aku." Narren menyipitkan matanya. Sebuah senyum miring yang tipis muncul di sudut bibirnya. Senyum yang selalu membuat Lady merasa ada sesuatu yang salah dengan penilaiannya terhadap pemuda ini. "Jadi..." Narren melangkah maju, satu langkah yang membuat Lady terpaksa menyandarkan pinggulnya ke pinggiran wastafel. "Kakak menolakku hanya karena aku masih muda dan belum mapan?" Lady menelan ludah, berusaha keras untuk tidak terpesona oleh aroma parfum Narren yang entah kenapa terasa sangat mewah untuk ukuran seorang pengangguran. "Bukan cuma itu. Tapi itu faktor utama! Pernikahan bukan cuma soal status, Narren. Pernikahan itu nggak bisa asal. Itu sangat kompleks. Soal cara berpikir yang setara. Kamu dan aku... kita berada di fase hidup yang berbeda. Aku butuh seseorang yang bisa mengimbangiku, bukan seseorang yang harus kubimbing." "Bimbing?" Narren tertawa kecil. Tawa itu terdengar sedikit mengejek. Ia melangkah maju lagi, memojokkan Lady hingga wanita itu tidak punya ruang gerak lagi. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran wastafel, mengunci tubuh Lady di antara kedua lengannya. "Kakak pikir aku butuh bimbingan?" "N-Narren, apa-apaan ini? Mundur!" seru Lady gugup. "Katakan padaku, Kak," Narren sedikit merunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lady. Jarak mereka sangat dekat, hingga Lady bisa melihat kilatan misterius di iris mata hitam pekat milik Narren. "Kalau karierku sudah baik, kalau aku sudah mapan, dan aku bisa membuktikan bahwa cara berpikirku jauh lebih dewasa dari yang Kakak bayangkan... apa alasan Kakak untuk menolakku?" Lady merasa otaknya mulai meleleh. Tekanan dari aura dominan Narren membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dalam kepanikannya, ia melontarkan jawaban asal, sebuah tantangan yang ia pikir tidak mungkin bisa dipenuhi oleh pemuda di depannya dalam waktu dekat. "Oke! Oke! Kalau kamu memang sudah mapan, kalau kamu bisa membuktikan bahwa kamu bukan sekadar anak muda yang cuma punya modal tampang, dan kalau kamu benar-benar bisa mengimbangi caraku memandang kehidupan... maka ya, aku tidak punya alasan lagi untuk menolakmu!" Lady berteriak di depan wajah Narren. "Tapi kamu tahu sendiri itu tidak mungkin sekarang, kan? Kamu saja masih butuh tumpanganku! Jadi sekarang, tolong mundur!" Alih-alih mundur, Narren justru tersenyum lebar. Bukan senyum jenaka, tapi senyum kemenangan seorang predator yang baru saja mendapatkan apa yang diinginkannya. "Begitu ya?" bisik Narren. Suaranya berubah menjadi sangat seduktif, berat, dan dalam. Ia memajukan wajahnya lebih dekat lagi, hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Lady. "Kakak terlalu meremehkanku. Kakak pikir aku selugu itu?" Lady merinding. Bulu kuduknya berdiri saat merasakan napas hangat Narren di lehernya. "Aku sudah bilang, aku bukan anak kecil. Aku sudah sangat dewasa dalam banyak hal yang bahkan tidak bisa Kakak bayangkan," lanjut Narren dengan nada yang sangat sugestif. Matanya perlahan turun, menatap bibir Lady dengan intensitas yang membuat wanita itu merasa sesak napas. "Jika Kakak butuh bukti bahwa aku bisa mengimbangimu dan seberapa dewasanya aku... aku bisa membuktikannya malam ini juga. Di sini. Sekarang." Lady terbelalak. Jantungnya berdentum begitu keras hingga terasa seperti mau melompat keluar. "Apa yang dia katakan? Bukti apa?!" "Kamu... kamu bicara apa sih?!" Lady segera menggunakan seluruh kekuatannya untuk mendorong d**a Narren. Beruntung baginya, Narren membiarkannya lolos. Pria itu melepaskan kunciannya sambil terkekeh rendah, melihat Lady yang terengah-engah seperti orang yang baru saja lolos dari maut. "Aku cuma bercanda, Kak. Kenapa mukamu sampai sepucat itu?" ucap Narren santai. Namun matanya tetap memancarkan kilat yang sama. "Tapi soal tawaranku tadi... pegang kata-kataku. Aku akan buktikan bahwa aku benar-benar layak menjadi suamimu." Lady tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan Narren. Atmosfer di apartemen itu mendadak terasa berat untuk ia hirup. "Terserah! Terserah apa katamu!" Lady berseru sambil berjalan setengah berlari menuju kamarnya. "Dan satu lagi! Malam ini... jangan mimpi tidur di ranjang! Kamu tidur di sofa! Titik!" BRAKK! Lady membanting pintu kamarnya dan segera menguncinya dari dalam. Ia bersandar di balik pintu, memegangi dadanya yang masih naik turun. "Gila. Dia benar-benar gila. Dan aku... aku juga gila karena hampir saja terpengaruh oleh kata-katanya," batin Lady merutuki dirinya sendiri. "Tapi... apa kata-kataku tadi tidak terlalu jahat? Sebenarnya wajar kan jika dia belum mapan? Dia baru saja lulus kuliah." "Aku tidak bermaksud membuatnya berkecil hati. Aku hanya ingin dia tahu kalau perbedaan usia kita terlalu jauh, dan dia masih sangat muda." Di luar, Narren masih berdiri di dapur. Ia menyentuh pinggiran wastafel tempat Lady bersandar tadi, lalu menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Senyum miring itu tidak hilang dari wajahnya. "Sofa ya?" gumam Narren pelan pada dirinya sendiri. Ia melonggarkan kerah kemeja putihnya yang terasa sedikit mencekik. "Tidak apa-apa untuk malam ini. Tapi sebentar lagi... kamu sendiri yang akan memintaku masuk kembali ke sana." Narren berjalan perlahan menuju sofa. Ia merebahkan tubuhnya yang atletis di sana, menatap langit-langit apartemen yang sederhana itu. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah ponsel. Sebuah notifikasi muncul di layar-sebuah laporan bisnis dari perusahaan raksasa. "Tunggu saja, Kak Lady. Kejutan untukmu akan segera dimulai." Narren memejamkan matanya, membiarkan keheningan malam menyelimuti apartemen itu, sementara di dalam kamar, Lady masih terjaga dengan pikiran yang kacau balau, membayangkan betapa hidupnya telah berubah total hanya dalam waktu dua hari sejak ia memutuskan untuk mencium pria asing di hari pernikahannya yang hancur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD