Lampu koridor apartemen yang remang menyambut langkah Lady yang terasa seberat timah. Seharian ini ia memaksakan diri untuk bekerja, menulikan telinga dari bisik-bisik rekan kerjanya yang tentu saja sudah mendengar kabar heboh tentang batalnya pernikahan sang kekasih.
Kepalanya berdenyut nyeri. Yang ia inginkan hanyalah merebahkan diri di sofa, mungkin meminta Narren membuatkan teh hangat, dan melupakan fakta bahwa hidupnya sedang berantakan.
Namun, harapan itu pupus saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri di depan pintu unit apartemennya. Pria itu memakai kemeja yang kusut, rambut yang biasanya tertata rapi kini berantakan, dan wajahnya tampak sangat kalut sekaligus marah.
Harris.
"Lady! Akhirnya kamu pulang juga!" Harris berseru saat melihat Lady mendekat. Ia langsung berdiri tegak, wajahnya merah padam.
"Apa-apaan ini? Kenapa kamu mengganti kata sandi pintu apartemenmu? Aku sudah berdiri di sini hampir dua jam seperti orang bodoh!"
Lady menghentikan langkahnya beberapa meter dari Harris. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Kenapa kamu kaget? Bukankah seharusnya kamu sadar diri bahwa kamu sudah tidak punya hak lagi untuk masuk ke sini?"
"Tidak punya hak? Lady, kita ini calon suami istri! Masalah kemarin itu pasti cuma kekhilafanmu, kan? Kamu stres karena tekanan pernikahan, lalu kamu melakukan tindakan gila itu untuk mencari perhatianku? Iya, kan?" Harris mendekat, mencoba meraih bahu Lady, tapi Lady menghindar dengan cepat.
"Berhenti di situ, Harris," desis Lady dingin. "Jangan sebut kita calon suami istri. Pernikahan itu sudah batal. Dan aku mengganti password karena aku tidak ingin ada sampah yang masuk ke tempat tinggalku."
"Sampah?" Harris tertawa sinis, matanya melotot. "Aku memberikanmu segalanya, Lady! Aku menaikkan derajatmu dan keluargamu dengan posisiku sebagai seorang direktur perusahaan besar! Dan kamu menyebutku sampah?"
Lady memutar bola matanya malas. Ia sudah berkali-kali mendengar kalimat-kalimat itu dari Harris. Bodohnya, dulu ia terperdaya dan menganggap Harris memang sebagai penyelamatnya.
"Aku menuntut penjelasan sekarang juga! Kenapa kamu mempermalukanku di depan semua kolega bisnis dan keluarga besarku? Kenapa kamu mencium pria asing itu?!"
Lady menatap Harris dengan tatapan kosong. "Kamu mau penjelasan? Harusnya kamu tanya pada dirimu sendiri dan pada Santi. Kamu pikir aku buta? Kamu pikir aku tuli saat kamu memasangkan cincin ke jari sepupuku dan bilang kalau aku cuma 'istri pajangan' yang mudah diatur?"
Seketika, wajah Harris memucat. Kepercayaan dirinya luruh dalam sekejap. Namun ia dengan cepat memasang topeng kepolosan yang membuat Lady ingin muntah.
"Santi? Apa maksudmu? Lady, kamu pasti salah paham. Santi itu sepupumu, dia sedang membantuku memilih perhiasan... ya, itu untuk kejutanmu! Kamu pasti salah dengar. Aku tidak pernah bilang begitu. Aku hanya mencintaimu! Kau harusnya tahu itu."
"Berhenti berbohong, Harris!" teriak Lady, suaranya bergema di koridor yang sepi. "Aku melihatnya sendiri. Aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri. Jangan buat dirimu semakin menjijikkan dengan berpura-pura polos. Sekarang, pergi dari sini sebelum aku panggil keamanan!"
Lady mencoba melewati Harris untuk menekan kode pintu, namun dengan kasar Harris mencengkeram lengan Lady, memutarnya hingga wanita itu memekik kesakitan.
"Lepaskan! Sakit, Harris!"
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu menjelaskan siapa pria itu!" Harris berteriak tepat di depan wajah Lady.
Cengkeramannya semakin kuat. "Siapa laki-laki itu? Apa kamu sudah berselingkuh dariku selama ini? Apa kamu sengaja menjadikan Santi alasan untuk lari bersama pemuda sialan itu?! Jawab aku, Lady!"
"Ssshhh... sakit! Lepas, bodoh!"
"Nggak akan! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu jelaskan semuanya. Kita harus selesaikan masalah ini sekarang. Lalu kita akan bahas ulang masalah-"
"Lepaskan dia!"
Suara itu rendah, namun memiliki getaran otoritas yang sanggup menghentikan detak jantung target bicaranya.
Harris dan Lady menoleh ke arah lift. Narren berdiri di sana. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuhnya dan celana kain hitam. Penampilannya rapi seperti seseorang yang baru saja pulang dari wawancara kerja. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan fitur wajahnya yang tegas dan tajam.
Narren melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya terasa mengintimidasi.
"Siapa kau? Oh, kamu si berondong sialan itu?" Harris mendengus, meski ia tanpa sadar melangkah mundur selangkah. "Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan calon istriku!"
Narren tidak membalas ucapan Harris. Matanya hanya tertuju pada tangan Harris yang masih mencengkeram lengan Lady. Dalam gerakan yang begitu cepat hingga nyaris tak terlihat, Narren meraih pergelangan tangan Harris dan menekannya di titik saraf tertentu.
"Argh!" Harris melepaskan Lady seketika, mengaduh kesakitan sambil memegangi tangannya yang mendadak mati rasa.
Narren segera menarik Lady ke belakang punggungnya. Dengan gerakan protektif, ia melingkarkan lengannya di pinggang Lady, merapatkan tubuh wanita itu ke sampingnya.
"Kamu tanya siapa aku?" Narren menatap Harris dengan tatapan sedingin es. "Namaku Narren. Dan aku adalah calon suami Lady yang sebenarnya."
Mata Lady membulat sempurna. Ia menoleh ke arah Narren, ingin memprotes. Namun tekanan tangan Narren di pinggangnya seolah memintanya untuk diam dan mengikuti permainan.
"Calon suami? Hah! Jangan bercanda!" Harris berteriak frustrasi. "Lady, apa ini benar? Kamu memilih sampah ini daripada aku?!"
"Jaga mulutmu," potong Narren tajam. Suaranya tidak keras, namun mengandung ancaman yang sangat nyata. "Lady sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang bagaimana kamu memperlakukannya sebagai pajangan. Sekarang, kuberikan kamu satu kesempatan. Pergi dari sini dan jangan pernah berani menampakkan wajahmu di depan Lady lagi. Atau, aku pastikan posisimu yang kamu banggakan itu akan hancur dalam semalam."
Harris tertawa mengejek, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Menghancurkanku? Kamu pikir kamu siapa, anak ingusan? Aku ini seorang direktur! Tidak ada orang yang bisa menyentuhku dengan mudah. Apalagi cuma anak ingusan yang mungkin bahkan tidak punya pekerjaan sepertimu!"
Narren tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap Harris lurus. Tatapan itu begitu tajam, begitu mengintimidasi, seolah-olah Narren sedang melihat seekor serangga yang siap ia injak kapan saja. Ada aura kekuasaan yang sangat besar memancar dari diri Narren, sesuatu yang tidak mungkin dimiliki oleh pemuda biasa.
Nyali Harris ciut. Entah kenapa, ia merasa jika ia terus berada di sana, sesuatu yang sangat buruk akan terjadi padanya. Ia melangkah mundur, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur lebur.
"Sialan! Awas kamu, Lady! Kamu juga! Urusan kita belum selesai! Aku akan pastikan kalian berdua menyesal!" ancam Harris sambil berjalan terburu-buru menuju lift.
Setelah pintu lift tertutup, koridor kembali hening. Narren segera melepaskan rangkulannya di pinggang Lady dan berbalik menghadapnya.
"Kakak tidak apa-apa?" tanyanya lembut, sangat kontras dengan suaranya saat menghadapi Harris tadi.
Narren meraih tangan Lady, mengecek telapak tangan dan kemudian lengannya. Wajahnya langsung mengeras, rahangnya mengatup rapat saat melihat bekas cengkeraman Harris yang memerah di kulit putih Lady.
"b******n itu benar-benar kasar," desis Narren geram. Ibu jarinya mengusap lembut bagian yang memerah itu. "Sakit sekali?"
Lady menarik tangannya pelan, merasa canggung dengan perhatian Narren. "Nggak apa-apa, Narren. Cuma merah sedikit. Nanti juga hilang."
"Ini harus dikompres," ucap Narren tegas.
"Iya, nanti aku kompres di dalam," Lady menghela napas, kepalanya terasa semakin berat. "Ayo masuk dulu, sebelum ada tetangga yang keluar karena keributan tadi."
Mereka masuk ke dalam apartemen. Lady langsung menjatuhkan dirinya di sofa, memijat pelipisnya. Narren tanpa diminta langsung menuju dapur, mengambil es batu dan membungkusnya dengan handuk kecil, lalu kembali dan berlutut di depan Lady untuk mengompres lengannya.
"Narren, kamu harus hati-hati," ucap Lady sambil menatap langit-langit. "Harris itu orangnya nekat. Dia punya koneksi, dia punya uang. Tadi kamu bilang begitu ke dia... aku takut dia akan menargetkanmu. Dia bisa saja mencelakaimu kalau dia merasa terhina."
Narren mendongak, menatap Lady dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kakak mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja! Kamu itu di sini karena aku yang menarikmu masuk ke masalahku. Aku nggak mau kamu kenapa-napa," sahut Lady jujur.
"Harris itu kejam. Dia akan melakukan apa saja untuk menjatuhkan orang yang dia benci."
"Biarkan saja dia mencoba," sahut Narren santai, masih telaten mengompres lengan Lady. "Aku tidak takut padanya, Kak. Justru aku lebih khawatir padamu. Bagaimana kalau dia datang lagi saat aku sedang tidak ada?"
"Aku bisa jaga diri. Dia akan pergi kalau sudah bosan," Lady menatap Narren serius. "Tapi kamu, Narren... kamu seharusnya tidak bilang kalau kamu calon suamiku. Itu terlalu berisiko. Harris akan merasa terancam dan mungkin akan melakukan hal jahat padamu. Lagipula, itu kan cuma sandiwara kita kemarin."
Narren menghentikan gerakannya. Ia menatap Lady dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat Lady merasa seolah-olah seluruh rahasianya sedang dibaca.
"Siapa bilang aku cuma bersandiwara?" tanya Narren rendah.
Lady mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
Narren meletakkan handuk es itu di meja, lalu meraih kedua tangan Lady dan menggenggamnya erat. "Aku serius dengan ucapanku tadi, Kak."
"Narren, jangan bercanda. Kita baru kenal kemarin. Kamu bahkan belum punya pekerjaan tetap, kamu—"
"Menikahlah denganku."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Narren, memotong kalimat Lady dan membuat suasana di ruangan itu mendadak beku. Lady terpaku, matanya membulat menatap Narren yang masih berlutut di depannya dengan wajah yang sangat sungguh-sungguh.
"N-Narren... kamu bicara apa? Menikah? Kamu sadar nggak sih apa yang kamu omongin?" Lady mencoba menarik tangannya, namun Narren menahannya.
"Aku sangat sadar. Menikahlah denganku. Aku tidak main-main," Narren mengeratkan genggamannya.
"Aku janji, jika kamu bersedia menikah denganku, aku akan menjagamu dari Harris. Aku akan memastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau mengganggumu lagi. Aku akan melindungimu dari apapun."