06 - Jangan Jatuh Cinta!

1508 Words
Lady keluar dari kamar mandi dengan kepulan uap air yang masih mengikuti langkahnya. Handuk putih melilit rambutnya yang basah, sementara ia sudah mengenakan pakaian santai berupa kaus kebesaran dan celana kain pendek. Matanya langsung menyapu ke arah tempat tidur, tapi kosong. Selimut sudah terlipat rapi, sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan mengingat ia mengira anak muda seperti Narren akan bangun dengan kondisi kasur berantakan. "Narren?" panggilnya lirih. Suaranya masih agak serak khas bangun pagi. Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Lady mengernyit, sedikit rasa cemas menyelinap di benaknya. "Apa dia pergi? Apa dia sadar kalau tadi aku memeluknya ssat aku tidur, lalu berpikir aneh-aneh tentangku dan memilih kabur?" Lady buru-buru melangkah keluar kamar menuju ruang tengah untuk memastikan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu menuju dapur. Aroma harum mentega yang dipanaskan dan gurihnya telur yang digoreng menyapa indra penciumannya. Di sana, di balik konter dapur yang minimalis, Narren berdiri membelakanginya. Pria itu masih mengenakan kaus yang sama dengan semalam. Namun lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk dengan sempurna. Dengan gerakan yang sangat luwes, Narren membalikkan telur di atas teflon menggunakan spatula kayu, sementara tangan kirinya dengan lihai mengaduk kentang yang sedang ia haluskan di dalam mangkuk besar. Lady terpaku. Pemandangan itu terasa begitu... hangat. Begitu nyata sampai-sampai ia harus mengerjapkan mata berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. "Narren?" Lady akhirnya bersuara, kali ini sedikit lebih keras. Narren sedikit menoleh, memberikan senyum miring yang kini mulai Lady kenali sebagai ciri khasnya. "Pagi, Kak. Pas banget, sebentar lagi matang." Lady berjalan mendekat dengan ragu, matanya tertuju pada piring yang sudah tertata rapi di atas meja. Ada salad hijau segar, telur mata sapi yang pinggirannya terlihat garing sempurna, dan gumpalan mashed potato yang terlihat sangat creamy. "Kamu... kamu benar-benar masak semua ini?" tanya Lady dengan nada tidak percaya. Ia berdiri di samping Narren, memperhatikan bagaimana pria itu mematikan kompor dengan gerakan satu tangan yang sangat cekatan. "Memangnya ada orang lain lagi di apartemen ini selain kita berdua?" sahut Narren jenaka. Ia memindahkan telur itu ke atas piring. "Bukan itu maksudku. Maksudku... kok kamu bisa masak? Dan kelihatannya kamu sangat... ahli?" Lady menunjuk ke arah mashed potato yang teksturnya terlihat sangat halus tanpa gumpalan. "Bahkan aku saja kalau bikin kentang tumbuk seringnya masih keras-keras di tengah." Narren terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar rendah dan maskulin, membuat tengkuk Lady sedikit meremang. "Ini bukan keahlian khusus, Kak. Rahasianya cuma ada di teknik menekan dan suhu menteganya saja." "Tetap saja," Lady menyilangkan tangan di depan d**a, matanya menatap Narren dengan penuh selidik. "Anak muda seusiamu, baru lulus kuliah, biasanya lebih akrab dengan mie instan atau makanan pesan antar. Tapi kamu? Kamu bahkan tahu cara bikin salad dengan dressing yang baunya enak begini." Narren meletakkan spatula ke dalam bak cuci piring, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Lady. Ia menyandarkan pinggulnya pada pinggiran konter, menatap Lady dengan tatapan yang sangat tenang. "Aku punya rahasia kecil, Kak," ucap Narren, suaranya merendah. Jantung Lady berdesir. "Rahasia apa?" "Dari dulu aku lebih sering tinggal sendiri," jawab Narren, kembali ke nada suaranya yang biasa. "Waktu sekolah, terus lanjut kuliah, aku jarang sekali punya waktu untuk sekadar cari makan di luar kalau sedang sibuk. Jadi, ya... aku terbiasa masak sendiri. Lama-lama jadi hobi karena lidahku cukup pemilih." Lady mengangguk-angguk pelan, meski batinnya masih sedikit sangsi. "Tinggal sendiri? Baru lulus kuliah? Tapi kenapa pembawaannya tidak seperti anak muda biasanya? Dia punya aura yang cukup kuat." "Jadi, kamu belajar masak otodidak?" tanya Lady lagi, mencoba menggali informasi lebih dalam. "Bisa dibilang begitu. Internet adalah guru yang hebat, Kak. Dan karena aku tidak punya banyak uang, masak sendiri jauh lebih hemat daripada harus makan makanan pesan antar setiap hari." Lady merasa sedikit kasihan mendengar ucapan Narren. "Kasihan sekali dia, pasti dulu dia harus berhemat luar biasa selama kuliah." Ia teringat betapa mewahnya laptop yang ia lihat semalam dan merasa mungkin itu adalah satu-satunya barang mewah hasil menabung bertahun-tahun yang dimiliki Narren. "Wah, aku jadi merasa malu," gumam Lady sambil melirik dapur kecilnya yang kini terlihat jauh lebih hidup. "Aku yang punya apartemen, malah kamu yang menjamu." "Anggap saja ini balasan pertama untuk kompensasi yang Kakak janjikan," sahut Narren sambil meraih lap tangan. "Dan juga ucapan terima kasih karena sudah mengizinkanku tidur di ranjangmu semalam. Itu adalah tidur paling nyenyak yang pernah kurasakan dalam waktu yang sangat lama." Wajah Lady langsung memanas seketika. Memori tentang bagaimana mereka bangun dalam posisi berpelukan tadi pagi menyerang otaknya tanpa ampun. Ia berdehem keras, mencoba mengalihkan perhatian. "I-iya, itu... lupakan saja. Itu cuma karena aku tidak punya tempat tidur lain di sini." Narren hanya tersenyum tipis, seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di pikiran Lady. Ia melangkah mendekat ke arah Lady, membuat wanita itu refleks mundur satu langkah hingga punggungnya menyentuh kulkas. "Rambutmu masih basah sekali, Kak," ucap Narren. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh handuk yang melilit kepala Lady. "Nanti kamu bisa pusing kalau dibiarkan terlalu lama. Ayo, balik ke kamar, biar aku bantu keringkan pakai hairdryer." Mata Lady membulat. "Eh? Nggak! Nggak usah!" "Kenapa? Aku tidak akan menggigitmu, Kak," goda Narren dengan nada suara yang sangat lembut. "Bukan begitu! Aku... aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil yang harus dikeringkan rambutnya setelah mandi," tolak Lady dengan tegas. Ia merasa bahaya jika ia membiarkan Narren menyentuhnya lagi. Kejadian di tempat tidur tadi pagi sudah cukup untuk merusak sistem kerja jantungnya seharian. Narren menghentikan gerakan tangannya di udara. Ia menatap Lady dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara gemas dan sesuatu yang lebih dalam. "Aku cuma mau membantu. Kamu sudah menyiapkan tempat tinggal untukku, masak hanya ini yang bisa kulakukan?" "Membantu masak saja sudah lebih dari cukup, Narren," Lady meraih ujung handuk di kepalanya, menahannya dengan kuat. "Sekarang, mending kamu mandi saja. Baumu sudah bau bumbu dapur dan asap telur. Sana mandi, biar setelah itu kita bisa sarapan bareng sebelum dingin. Aku tidak suka makan mashed potato yang sudah keras." Narren terdiam sejenak, lalu akhirnya menurunkan tangannya. Ia menghela napas pendek, namun senyum miring itu kembali muncul. "Galak sekali. Padahal tadi pagi sepertinya kamu sangat tenang." "Narren!" sentak Lady, wajahnya kini benar-benar merah padam. "Oke, oke. Aku mandi sekarang," Narren mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. "Tapi janji, jangan mulai makan duluan sebelum aku keluar." "Iya, iya! Cepat sana!" Narren berjalan melewati Lady untuk menuju kamar mandi. Namun ia sempat berhenti tepat di samping telinga Lady. "Jangan lupa dikeringkan rambutnya, Kak. Aku tidak mau Kakak sampai sakit di hari pertamaku tinggal di sini." Setelah membisikkan itu, Narren masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan bunyi klik yang pelan. Lady berdiri mematung di dapur. Tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang. "Anak itu... dia benar-benar bukan anak muda biasa. Kenapa dia bisa begitu... begitu dominan?" Lady menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia harus segera mengeringkan rambutnya dan menenangkan diri. Ia berjalan kembali ke kamar, meraih hairdryer miliknya, dan mulai mengeringkan rambutnya dengan pikiran yang masih melayang-layang. "Dia bilang dia terbiasa tinggal sendiri. Dia bilang dia masak karena harus berhemat. Tapi cara dia bicara, cara dia menatapku... itu bukan tatapan orang yang butuh perlindungan," batin Lady. Suara hairdryer yang menderu seolah tenggelam oleh suara pikirannya sendiri. Lady menatap pantulan dirinya di cermin. Rambutnya mulai mengembang, dan wajahnya perlahan kembali ke warna normal. "Ingat, Lady. Harris masih berkeliaran di luar sana. Kamu tidak boleh kehilangan fokus. Narren hanya pion dalam permainanmu untuk menyakiti dan membuat Harris menjauh. Jangan sampai pion ini malah membuatmu jatuh cinta," gumamnya pada diri sendiri. Namun, bayangan Narren yang sedang memasak tadi terus muncul di benaknya. Cara pria itu memegang spatula, cara dia tersenyum, dan cara dia memeluknya semalam... semuanya terasa terlalu indah untuk sekadar disebut permainan. "Aku harus tetap waspada," Lady mematikan hairdryer-nya. "Sangat waspada. Jangan sampai aku berpikiran yang tidak-tidak tentang Narren." Ia menyisir rambutnya yang kini sudah kering dan harum. Setelah merasa cukup rapi, ia keluar dari kamar. Tepat di saat yang sama, pintu kamar mandi terbuka. Narren keluar dengan uap air yang masih menguar dari tubuhnya. Pria itu hanya mengenakan celana kain panjang yang tadi ia bawa, sementara tubuh bagian atasnya masih polos, memperlihatkan otot-otot perut yang terbentuk sempurna dan d**a yang bidang. Lady terkesiap, segera memalingkan wajahnya ke arah lain. "N-Narren! Pakai bajumu!" Narren terkekeh pelan sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. "Maaf, Kak. Aku lupa bawa kaus ganti ke dalam. Sebentar ya." Narren masuk ke dalam kamar dengan santainya, sementara Lady masih berdiri mematung di depan meja makan, berusaha keras menghapus bayangan tubuh Narren dari ingatannya. "Tuhan... apa yang sudah aku bawa ke dalam rumahku sendiri?" batin Lady pasrah. Beberapa menit kemudian, Narren keluar dengan kaus hitam yang pas di tubuhnya. Ia duduk di kursi seberang Lady dan memberikan senyum lebarnya. "Ayo sarapan, Kak. Sudah kubilang kan, jangan sampai dingin," ajak Narren dengan suara ceria, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Lady duduk dengan kaku, meraih garpunya. "Selamat makan," gumamnya pelan. Mereka pun mulai menikmati sarapan buatan Narren dalam keheningan yang terasa aneh. Namun di sisi lain, entah kenapa... terasa begitu hangat. Lady mulai berpikir, jika mungkin keberadaan Narren akan menimbulkan sesuatu di luar rencananya. "Apapun itu... asal aku tidak jatuh cinta padanya, maka semua akan baik-baik saja, kan?" batin Lady.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD