Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah-celah gorden kamar apartemen Lady yang berwarna krem.
Deru halus mesin pendingin ruangan menjadi latar belakang sunyi yang biasanya menenangkan bagi Lady. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah kehangatan asing yang tidak biasanya ia rasakan. Sesuatu yang terasa hangat, kokoh, dan berdetak di dekat telinganya.
Lady bergerak pelan, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman. Namun, ia merasa tubuhnya terkunci. Sebuah beban berat melingkar sempurna di pinggangnya. Hidungnya menghirup aroma maskulin yang sangat kental, campuran antara sabun mandi yang ia sediakan semalam dan aroma alami kulit pria yang segar.
Perlahan, kelopak mata Lady terbuka. Pandangannya masih agak kabur. Namun ketika fokusnya kembali, matanya membulat seketika.
Wajah tampan Narren berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Pria itu masih terlelap, napasnya yang teratur terasa hangat menerpa kening Lady.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, kepala Lady kini bertumpu dengan nyaman di atas lengan kekar Narren. Tangan Lady sendiri secara tidak sadar mencengkeram bagian d**a kaus tipis yang dikenakan Narren.
"Astaga..." batin Lady menjerit kencang. Jantungnya berpacu kencang seolah ia baru saja melakukan maraton. Suara detaknya begitu keras hingga ia takut akan membangunkan pria di hadapannya.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku bisa berakhir seperti ini?" Lady mematung, tidak berani menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Pikirannya melayang pada barikade guling dan bantal yang ia susun rapi semalam. Ia melirik ke arah kaki mereka, dan benar saja, guling-guling itu sudah tertendang, dan kini tergeletak mengenaskan di ujung ranjang.
"Lady, kamu gila! Kamu benar-benar gila! Bagaimana bisa kamu tidur berpelukan dengan orang asing yang baru kamu kenal kemarin? Di mana harga dirimu? Di mana kewaspadaanmu?" jerit batinnya lagi.
Ia merasa sangat berdosa, merasa telah mengkhianati prinsip-prinsip yang selama ini ia pegang teguh. Apalagi, yang tidur beramanya kini adalah seorang anak muda yang masih tampak begitu lugu.
Namun, di tengah rasa bersalah yang menghimpit, ada bagian kecil dari hatinya yang berbisik dengan lancang. "Tapi... kenapa ini terasa sangat nyaman? Kenapa pelukan anak ini terasa jauh lebih menenangkan daripada pelukan Harris selama kami berpacaran?"
"Enggak, enggak! Ini salah! Ini nggak seharusny terjadi!" Lady menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran liar itu. Ia menatap wajah tidur Narren. Bulu mata pria itu panjang, rahangnya tegas, dan bibirnya sedikit terbuka.
"Dia kelihatan sangat tenang. Sangat polos. Dia pasti tidak sadar kalau dia memelukku. Iya, pasti itu reflek karena kedinginan atau karena kasurnya terlalu sempit untuk dipakai berdua," Lady berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, Lady mulai melepaskan tangan Narren dari pinggangnya. Ia menahan napas setiap kali Narren sedikit bergerak atau bergumam dalam tidurnya.
Setelah berhasil membebaskan pinggangnya, ia perlahan mengangkat kepalanya dari lengan Narren dan menggantinya dengan bantal dengan gerakan secepat kilat.
Berhasil.
Lady segera turun dari ranjang dengan langkah berjinjit. Ia meraih handuk dan pakaian ganti dari lemari, lalu berlari masuk ke kamar mandi dengan jantung yang masih berdentum tak keruan.
Begitu pintu kamar mandi tertutup dan terkunci, Lady menyandarkan punggungnya di pintu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasakan panas yang menjalar di pipinya.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" bisiknya pada pantulan dirinya di cermin. "Kamu hampir saja kehilangan akal sehat, Lady. Jangan sampai kamu tertipu lagi oleh wajah tampan. Ingat misimu! Dia cuma alat untuk balas dendam pada Harris. Tak lebih dari itu!"
Lady segera menyalakan shower dengan suhu air dingin, berharap air itu bisa membekukan debaran jantungnya yang masih tidak terkendali.
Di luar, di atas ranjang yang masih terasa hangat, kelopak mata Narren perlahan terbuka tepat setelah suara gemericik air dari kamar mandi terdengar.
Tidak ada sisa-sisa kantuk di matanya. Sebaliknya, matanya tampak sangat jernih dan penuh dengan kilat kecerdikan.
Narren menarik lengannya yang tadi dijadikan bantal oleh Lady, lalu melipat kedua tangannya di bawah kepala, menjadikan tangannya sendiri sebagai tumpuan sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Sebuah senyum miring perlahan muncul di sudut bibirnya. Senyum yang akan membuat siapa pun yang melihatnya merasa merinding karena aura d******i yang terpancar.
"Sangat menggemaskan," gumam Narren pelan. Suaranya terdengar jauh lebih dalam dan serak khas bangun tidur.
Narren sebenarnya sudah terbangun sejak satu jam yang lalu. Sejak cahaya pertama masuk ke kamar itu, ia sudah terjaga. Namun, ia sengaja tetap diam. Ia sengaja tidak bergerak sedikit pun saat menyadari posisi mereka yang saling berpelukan.
Sejujurnya, ia sangat menikmati momen itu. Merasakan kehangatan tubuh Lady, menghirup aroma rambutnya yang wangi vanila, dan merasakan detak jantung wanita itu yang tidak beraturan saat ia mulai terbangun. Ia bisa merasakan betapa paniknya Lady, betapa wanita itu berusaha keras untuk lepas tanpa membangunkannya.
"Kamu pikir aku sepolos dan selugu itu, ya?" batin Narren geli. "Aku tidak mungkin mengabaikan momen yang sangat berharga seperti ini. Tapi tenang saja. Cepat atau lambat, aku akan bisa terus merasakan kehangatan tubuhmu di dalam dekapanku."
Narren bangkit dari ranjang. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku karena harus mempertahankan posisi yang sama selama berjam-jam demi membiarkan Lady tidur dengan nyaman. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi, membayangkan Lady yang sedang berusaha berusaha menyangkal perasaannya sendiri di dalam sana.
"Alat balas dendam, ya?" Narren terkekeh pelan, mengingat ucapan lirih Lady yang sempat ia dengar samar. "Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi pemegang kendali di antara kita setelah ini."
Narren melangkah keluar kamar. Ia menuju dapur kecil di sudut apartemen Lady. Ia membuka lemari pendingin dan mendapati isinya sangat menyedihkan. Hanya ada beberapa batang sawi yang mulai layu, telur, dan sisa kentang di pojok laci bawah.
"Gadis ini benar-benar tidak bisa mengurus dirinya sendiri," gumam Narren sambil menggelengkan kepala.
Tangannya bergerak dengan cekatan. Ia mulai mengupas kentang, merebusnya, lalu menghaluskannya dengan sedikit mentega dan garam yang ia temukan di lemari bumbu. Ia menggoreng dua butir telur mata sapi dengan tingkat kematangan yang sempurna—kuning telur yang masih setengah cair, namun pinggirannya garing keemasan.
Tak lupa, ia memotong sawi dan menyajikannya menjadi salad sederhana dengan perasan jeruk nipis dan sedikit minyak zaitun yang ia temukan di pojok lemari.
Dalam waktu singkat, meja makan kecil yang tadinya berdebu kini sudah tertata rapi. Aroma mentega dan telur goreng memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah yang hangat yang mungkin sudah lama tidak dirasakan oleh Lady.
Narren duduk di salah satu kursi, menatap hasil karyanya dengan puas. Ia sengaja membuat porsi yang pas untuk dirinya dan Lady.
"Kakak tenang saja. Setelah ini, ada aku yang akan selalu mengurusmu dengan baik," bisik Narren pada dirinya sendiri sembari menunggu sang tuan rumah keluar dari kamarnya. "Aku harap kamu suka kejutan kecil ini. Karena setelah ini, kamu harus segera membiasakan diri untuk menerima semua kejutan dan perhatian dariku."
Narren menyesap air putih dingin. Matanya tertuju pada pintu kamar yang masih tertutup. Sementara pikirannya sudah melanglang buana memikirkan langkah yang akan ia ambil selanjutnya untuk membuat Lady benar-benar menjadi miliknya.