04 - Pemuda Lugu

1234 Words
Menjelang malam, Lady membawa keluar selimut tebal dan sebuah bantal dari kamarnya. Ia tak menemukan Narren di ruang tamu. Namun, pintu kamar mandi tertutup rapat dengan siluet cahaya dari dalam, menandakan ada seseorang di sana. Alis Lady mengernyit menatap laptop mahal yang berada di atas meja ruang tamunya. Benda itu jelas bukan miliknya. Ia bahkan tak memiliki alat elektronik dengan merk serupa. Terlalu mahal baginya. Namun, jika bagi Lady saja benda itu terlalu mahal, lantas milik siapa lagi? Bukankah perekonomian Narren bahkan masih di bawah Lady? Jangankan elektronik mahal. Tempat tinggal saja, pemuda itu tidak punya. "Loh? Nyala? Jangan-jangan punya Narren beneran?" gumam Lady. Ia duduk di sofa sambil memperhatikan laptop itu. "Tapi kok dia bisa punya? Ini kan mahal. Kisaran di atas dua puluh juta. Kalau dia punya alat elektronik semahal ini, harusnya buat tempat tinggal dia nggak kesusahan dong?" Lady refleks menggerakkan kepalanya mendekat ke layar laptop tersebut. Membaca tulisan yang sedang ditampilkan. "Hotel Sky Marryland? Itu kan venue pernikahanku dengan Harris? Dan setahuku itu hotel berbintang lima. Buat apa Narren buka dokumen tentang hotel itu?" Suara pintu kamar mandi yang terbuka memaksa Lady untuk menoleh cepat. Narren berjalan ke arahnya. Ia melangkah lebar hingga hadapan Lady, kemudian menutup layar laptopnya kasar. "Eh?!" Lady tersentak kaget. Ia sontak berdiri dan menatap Narren dengan pupil melebar. "Kok gitu sih nutupnya? Kalau sampai rusak gimana?" Wajah pucat Narren seketika membaik. Pria itu tampak menghela napas lega. Namun, hal itu justru membuat Lady mengernyitkan keningnya. "Kamu kenapa?" Narren mengejap. "Enggak, nggak papa. Kamu kenapa keluar?" Narren berusaha mencairkan suasana dengan senyum tipisnya. Namun, di mata Lady, sikap pria itu justru tampak semakin janggal. "Kamu sakit?" Lady menyentuh wajah Narren. Kening, kemudian pipinya. "Enggak kok." Baru saja Lady akan menarik kembali tangannya, Narren sudah lebih dulu menahannya. Pemuda itu menggenggam tangan Lady dengan erat. Mata Lady membulat. "Kamu-" Narren mengeratkan pegangan tangannya. Membiarkan tangan Lady lebih lama membelai wajahnya. "Biarkan seperti ini sebentar saja!" ucap Narren. Lady mengernyit. Ia tidak tahu kenapa Narren menginginkan itu. Namun, ia mendiamkannya hingga pria itu menuntunnya untuk duduk di sofa, lalu melepaskan tangannya. "Ada apa?" Narren bermaksud menanyakan kembali alasan Lady ke ruang tamu. "Oh, ini!" Lady menyodorkan bantal dan selimut yang ia bawa. "Kamu yakin mau tidur di sini? Nggak papa? Badan kamu tinggi, dan sofaku tidak terlalu panjang. Takutnya kamu akan merasa tidak nyaman." Narren menerima bantal dan selimut itu dengan gerakan lambat. Pandangannya tidak lepas dari wajah Lady. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang terasa agak keras, lalu menatap Lady dengan senyum miring yang sulit diartikan—sebuah senyum yang tampak terlalu dewasa untuk pemuda yang Lady anggap lugu. "Kalau boleh jujur," suara Narren mengalun rendah, memecah keheningan ruang tamu yang temaram. "Aku akan jauh lebih senang kalau Kakak menyuruhku tidur di ranjang. Karena aku tidak yakin tubuhku akan baik-baik saja besok pagi jika aku harus semalaman berbaring di sini." Lady tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum akhirnya berpacu dua kali lebih cepat. Ia meremat ujung piyama satinnya dengan kuat hingga kain itu kusut dalam genggamannya. "M-maksud kamu apa?" tanya Lady, suaranya naik satu oktav. "Maksudku, sofa ini sepertinya tidak dirancang untuk tulang punggung manusia, Kak," jawab Narren santai, masih dengan senyum tipis yang memprovokasi itu. Batin Lady bergejolak hebat. "Apa dia baru saja menggodaku? Di malam pertama dia menumpang di sini?" Lady menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia berusaha keras berpikir positif. Mungkin Narren hanya jujur soal kenyamanan, bukan sedang berniat buruk. "Maaf, Narren. Tapi seperti yang kamu lihat sendiri, aku cuma punya satu ranjang di apartemen ini. Dan aku... aku belum terbiasa berbagi tempat tidur dengan orang asing," ucap Lady cepat, berusaha menjaga martabatnya. "Jadi, ya... sofa adalah pilihan terbaik untukmu malam ini." Lady segera membalikkan badan, berniat kabur ke kamarnya sebelum suasana semakin canggung. Namun, baru tiga langkah berjalan, kakinya terasa berat. Nurani Lady mulai berisik, menghakiminya habis-habisan. "Lady, lihat postur tubuhnya! Dia tinggi, bahunya lebar. Kalau dia tidur melungker di sofa kecil itu semalaman, besok pagi badannya pasti akan sakit semua. Bagaimana kalau dia tidak bisa pergi mencari kerja karena encok? Bukankah kamu yang akan rugi kalau dia terus-terusan hanya menumpang di sini?" Lady berhenti tepat di depan pintu kamar. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasa serba salah. Ia menoleh perlahan dan mendapati Narren sudah mencoba berbaring. Benar saja, kaki panjang pria itu menjuntai di ujung sofa, dan kepalanya harus tertekuk tidak nyaman agar bisa muat di bantalan sofa. Narren mendongak, menatap Lady dengan tatapan memelas. "Sempit banget ya?" gumam Lady lirih. Narren hanya menghela napas panjang tanpa menjawab. Namun ekspresi wajahnya seolah mengatakan, 'Punggungku akan patah sebelum fajar tiba.' Lady memejamkan mata sejenak. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Ayo Lady, berpikir jernih. Dia cuma pemuda naif yang baru lulus kuliah. Dia masih polos. Lihat wajahnya, dia kelihatan seperti anak baik-baik yang tidak mungkin macam-macam. Lagi pula, dia butuh perlindunganmu, bukan sebaliknya." Dengan keberanian yang dipaksakan, Lady berbalik sepenuhnya. "Narren?" "Iya, Kak?" "Nekat aja deh. Demi jiwa kemanusiaanku," putusnya lirih. "Kamu... kamu tidur di dalam saja. Bersamaku." Narren langsung menegakkan punggungnya. Ia mengernyitkan kening, menatap Lady dengan intens, yang membuat lutut Lady sedikit lemas. "Serius?" tanya Narren dengan nada tidak percaya. "Iya, serius. Daripada besok kamu sakit semua dan aku harus keluar uang lagi buat beli koyo atau bawa kamu ke tukang urut," jawab Lady, mencoba terdengar ketus untuk menutupi kegugupannya. Narren tidak langsung bangkit. Ia memastikan sekali lagi. "Kamu yakin tidak akan tiba-tiba menyesal di tengah malam dan menyuruhku keluar lagi ke sofa ini?" "Nggak akan! Lagian... lagian cuma tinggal tidur aja, kan? Kasurnya juga ukuran queen, cukup luas buat dua orang kalau kita nggak banyak tingkah. Kita bisa kasih batas bantal di tengah," cerocos Lady, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada menjelaskan pada Narren. "Baiklah kalau itu maumu, Kak," sahut Narren singkat. Narren akhirnya bangkit dari sofa. Ia menyampirkan selimut tebal yang diberikan Lady di pundaknya dan memeluk bantalnya sendiri. Saat Lady berbalik lebih dulu untuk masuk ke kamar—menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah semerah tomat—Narren berdiri diam di belakangnya. Sebuah senyum miring kembali terukir di wajah tampan pemuda itu. Bukan senyum memelas seperti tadi, melainkan senyum seorang pemburu yang baru saja dipersilakan masuk ke dalam sarang mangsanya. "Terima kasih atas tumpangannya, Kak Lady," bisik Narren pelan, hampir tak terdengar, sebelum ia melangkah masuk mengekor di belakang Lady. *** "Kenapa kamu masih berdiri di situ? Cepat naik ke sisi sebelah kiri," perintah Lady sesampainya di dalam kamar. Ia sudah memposisikan diri di sisi kanan, menarik selimut hingga ke d**a, dan menaruh dua bantal guling sebagai barikade di tengah-tengah mereka. Ia harus memastikan jika posisi tidur Narren berada dalam radius aman darinya. Narren menurut. Ia meletakkan bantalnya di sisi kiri, lalu perlahan naik ke atas ranjang. Kasur itu terasa sedikit amblas saat menopang berat tubuh Narren yang atletis. Lady bisa merasakan getaran itu dan entah kenapa, udara di kamar yang biasanya dingin karena AC, kini terasa sangat panas dan menyesakkan. "Kak Lady?" Lady berdehem kecil. Ini kali pertama ia membiarkan seorang pria tidur di ranjang yang sama dengannya. Bahkan, Harris sang mantan tunangannya pun tak ia beri akses masuk ke kamarnya. "Apa lagi?" sahut Lady tanpa menoleh, matanya terpejam rapat. "Selamat malam." Lady tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya pada gulingnya. Sementara Narren berbaring diam, menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang sangat jauh dari kata polos. Ia tersenyum menang. Seolah ia sudah berhasil melangkah lebih dekat ke arah yang menjadi tujuan barunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD