03 -Tinggal Denganku?

1021 Words
Lady mempersilakan Narren duduk di sofa. Mereka telah sampai di apartemen minimalis Lady yang ia beli dengan uangnya sendiri. "Hanya ini yang aku punya sekarang. Apartemen ini cuma terdiri dari tiga ruangan. Aku tidak punya kamar lebih. Kamu... tidak keberatan kan kalau sementara tidur di sofa?" Narren menatap Lady ragu. Ini benar-benar di luar dugaannya. Ia tak pernah berpikir jika dirinya harus tinggal di tempat sekecil ini. Tanpa semua fasilitas yang selama ini ia nikmati. Narren mengangguk kaku. Laki-laki itu tampak kikuk, seperti tidak terbiasa. "Kenapa? Tempatnya di bawah ekspektasimu, ya?" tanya Lady. "Kamu tenang aja. Aku punya pekerjaan tetap kok. Nanti kalau aku ada uang lebih, kita bisa cari apartemen yang lebih besar." "Tidak. Itu bukan masalah," bantah Narren. Lady tersenyum lega. Ia mempersilakan Narren untuk duduk. "Oh iya kamu ngapain di hotel itu tadi? Biaya tidur semalam di hotel itu kan sangat mahal. Nggak mungkin kan kamu habis menginap di sana?" "Aku cuma... mencoba melamar kerja di sana." Lady menatap Narren tidak sendu. "Maaf, bukannya meragukanmu. Tapi itu kan hotel bintang lima. Kualifikasinya pasti sangat tinggi. Memang mereka mau menerima fresh graduate kayak kamu?" "Aku punya kenalan yang kerja di sana. Semoga dia bisa bantu," jawab Narren. Lady menganggukkan kepalanya. Ia memberi semangat pada Narren, sebelum ia beralih ke kamar untuk membersihkan diri. Lady menatap wajahnya dari pantulan kaca di kamar mandi saat ia membersihkan make up-nya. Gerakan tangannya melamban. Tiba-tiba wajah Narren muncul di benaknya. "Dia tidak kelihatan seperti orang susah. Kalau cuma lihat sekilas, dia kayak eksekutif muda. Siapa sangka kalau tempat tinggal saja dia nggak punya?" lirih Lady. Senyum mengembang di bibirnya. "Tapi bagus lah. Dengan begitu aku nggak harus bayar mahal buat dapat pacar sewaan untuk bisa lepas dari Harris." Usai membersihkan diri, Lady keluar dari kamar mandi. Namun ia terperanjat mendapati Narren yang berada di ambang pintu kamarnya. Matanya membulat. Kedua tangannya sontak menyilang di depan d**a, karena ia hanya mengenakan bathrobe putih. "K- kamu? Kok kamu nggak ngetuk dulu?!" sentak Lady. Wajah Narren menegang. Pria itu menelan salivanya dengan susah payah, sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya ke samping. "M- maaf. Tadi aku sudah ngetuk pintu tapi nggak ada jawaban," balas Narren. Lady berusaha mengatur napasnya. Ia memperbaiki bathrobe-nya sebelum kembali bicara. "Ada perlu apa?" "Aku butuh charger. Ponselku mati. Aku tidak bisa menghubungi temanku yang aku titipi barang-barangku." "O- oh... itu! Ambil saja di laci meja sebelah sana!" Tanpa melihat ke arah Lady, Narren segera mencari benda yang ia cari di laci meja dekat pintu. Setelah ketemu, ia buru-buru keluar. Lady menghela napas lega. Ia memukul kepalanya sendiri, merutuki kecerobohannya yang tidak mengunci pintu kamar terlebih dahulu. "Bodoh banget sih! Udah tahu ada orang asing mau tinggal di sini. Cowok lagi. Bisa-bisanya aku teledor!" runtuk Lady. Ia berjalan ke lemari. Mengambil satu set pakaian, kemudian segera memakainya. Setelah itu, ia keluar, bergabung dengan Narren yang sedang duduk di sofa depan. "Tadi ponsel kamu bunyi. Ada telepon dari kontak yang namanya Harris. Dia... calon suamimu?" tanya Narren hati-hati. Lady refleks mendengus sebal. "Mantan calon, lebih tepatnya. Soalnya nggak bakalan jadi nikah." Narren tampak tertarik dengan topik itu. Baru kali ini ia menjumpai seorang gadis yang mengacaukan pernikahannya sendiri. Terlebih, sampai melibatkannya. Tak banyak wanita di dunia ini yang berani menyentuh Narren sembarangan. Namun Lady, melakukan lebih dari sekadar menyentuh di hari pertama pertemuan mereka. "Kenapa kamu batalin pernikahanmu sendiri? Dengan cara yang cukup berani. Kamu tidak takut dengan semua konsekwensinya?" Lady merebahkan tubuhnya berbaring di sofa dengan begitu santai. Tatapannya menerawang ke arah langit-langit. "Aku udah nggak mikirin apapun lagi. Terserah orang mau menilaiku seperti apa. Yang aku tahu, aku cuma mau memukul mundur Harris dan nunjukin ke dia kalau aku udah nggak se-berharap itu ke dia," terang Lady. Narren terdiam sejenak. Ia memperhatikan bagaimana Lady tenggelam dalam memori-memori pahitnya. "Sepertinya dia sudah sakit terlalu dalam," batin Narren. Lady duduk dengan tergesa. Tangannya menghapus air matanya dengan cepat. "Maaf maaf. Jadi curhat. Oh iya. Kamu mau makan apa?" Narren tak langsung menjawab. Ia menatap Lady dengan tatapan yang begitu dalam. Lady menjentikkan jarinya, membuyarkan lamunan pemuda itu. "Hey, denger aku, kan?" Narren mengejap. "Terserah kamu aja." Lady meraih ponselnya. Jemarinya sempat terhenti bergerak ketika ia menemukan jejak-jejak riwayat panggilan dari Harris. Namun, setelah ia menemukan kembali kesadarannya, ia segera menghapus semua jejak itu. Ia membuka aplikasi pesan antar. "Aku lagi nggak mau makan nasi. Pengen makan yang berkuah dan pedas. Bakso, seblak, sop ayam, soto... kamu pilih mana?" "Kamu nggak punya bahan makanan di sini?" Narren balik bertanya. Lady mengalihkan tatapannya ke arah Narren. "Aku lupa bilang. Aku nggak terlalu pintar masak. Cuma ada mie instan, telur sama sawi aja." Narren mengangguk paham. "Mau coba mie rebus buatanku? Daripada beli, nanti sampai sini sudah nggak terlalu panas." Lady menatap Narren ragu. "Kamu bisa masak?" Narren tersenyum miring. "Kita nggak akan pernah tahu sebelum mencobanya sendiri." Lima belas menit kemudian, Narren membawa dua mangkuk mie lengkap dengan kuah creamy-nya ke hadapan Lady. Kemudian ia duduk di lantai, di seberang gadis itu. Ia menyodorkan sepasang sumpit dan satu sendok pada Lady. "Kok baunya beda sama yang biasa aku buat?" lirih Lady. "Cepat dicoba!" Lady segera mencicipi mie buatan Narren. Ternyata benar, mie buatan Narren lebih lezat dari buatannya. Meski sama-sama mie instan, tetapi mie buatan Narren memiliki tingkat kematangan yang lebih sempurna. Ditambah telur yang telah bercampur dalam kuah, memberikan kesan creamy sekaligus gurih. "Kamu pinter masak juga ya ternyata? Padahal cuma mie. Tapi rasanya enak," puji Lady. "Mau coba masakanku yang lain?" Lady menatap Narren dengan alis mengernyit. "Kamu bisa masak yang lain juga?" Narren mengangguk tanpa ragu. "Kamu tenang saja. Selama aku tinggal di sini, aku akan pastikan kamu makan makanan yang enak setiap hari." "Wow. Aku jadi penasaran sama masakan-masakan kamu berikutnya," ucap Lady. "Oh iya. Kalau kamu butuh uang untuk belanja bahan masakan, bilang aja! Sekalian kirim nomor rekeningmu supaya bisa langsung aku transfer." "Nggak perlu. Aku masih ada sedikit tabungan. Soal makan-" "Eitsss! Kamu kan belum punya pekerjaan. Lebih baik simpan saja uangmu! Biar sementara aku yang cover semuanya," potong Lady. Setelah itu, Lady sibuk menikmati mie pedasnya. Ia sampai tidak sadar jika pria di hadapannya terus menatapnya sembari tersenyum penuh arti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD