"Aku pasti akan bertanggung jawab atas dirimu."
Lady mengatur napasnya yang masih tersengal, sesaat setelah ia membawa kabur pemuda asing yang ia cium di depan calon suaminya.
"Nama kamu siapa?"
Pria itu menatap Lady tanpa berkedip. Lady sampai harus melambaikan tangannya di depan lelaki itu untuk membuyarkan lamunannya.
"Narren."
Lady mengangguk paham. Suaranya terdengar berat dan begitu maskulin meski dari wajahnya pemuda itu masih tampak sangat muda.
"Oke, Narren. Namaku Lady. Aku rasa kamu jauh lebih muda dariku. Dan soal tadi, aku pasti akan memberikan kamu kompensasi. Maaf banget, ya..."
"Kamu tinggal di daerah sini? Sudah lulus kuliah?" tanya Lady lagi.
"Aku baru saja tiba di Jakarta kemarin malam. Aku... juga baru lulus kuliah-"
"Ah... sudah kuduga. Jadi kamu baru di sini? Kamu pasti belum punya pekerjaan dan rumah tinggal, kan?" potong Lady.
Pria itu mengernyit menatap Lady. Seolah ada yang salah dari ucapan perempuan itu. Belum sempat ia menjelaskan, Lady sudah lebih dulu bicara.
"Begini saja. Aku juga sedang tidak punya banyak uang karena setelah ini Papa pasti bakalan ngusir aku dari rumah. Buat sementara, gimana kalau kamu tinggal di apartemenku dulu? Itung-itung sebagai kompensasi, dan kamu juga bisa berhemat sampai kamu dapat pekerjaan," tawar Lady.
Tubuh Narren menegang seketika.
Tidak. Dia bukan orang seperti yang Lady pikir. Ia tak sepolos dan sesusah itu. Ya. Ia baru saja tiba dari Jakarta. Namun, ia bukan dari daerah lain yang berniat merantau mengadu nasib. Dia baru saja kembali dari Amerika setelah menyelesaikan studi S1 nya di salah satu perguruan tinggi ternama di sana.
"T- tinggal bersamamu?"
Lady menatap Narren tajam. "Kamu baru lulus. Berarti usiamu baru awal dua puluhan. Kamu harus bicara sopan padaku!"
"Oke, maaf. Tapi-"
"Jadi gimana? Kamu mau?" potong Lady.
Narren mengepalkan tangannya. Namun, sesaat kemudian pria itu mengangguk hingga membuat Lady dapat bernapas lega.
"Bagus kalau begitu. Mulai hari ini pindahlah ke tempatku! Dan selama kamu belum mendapat pekerjaan, aku akan menanggung kebutuhanmu. Bagaimana?"
Pria itu tersenyum miring. Mengacungkan tangannya untuk mengajak Lady bersalaman.
"Baiklah. Mulai sekarang aku akan menggantungkan hidupku padamu, Kak."
Lady tersenyum canggung. Ketika menatap wajah pemuda itu cukup lama, akhirnya ia baru sadar jika Narren memiliki paras yang luar biasa tampan. Jauh lebih tampan jika dibanding Harris.
Hanya saja... dia masih terlalu muda untuk Lady.
"Astaga! Kamu mikir apa, sih? Lagian kenapa kalau dia masih muda? Apa hubungannya denganku? Kan malah bagus, aku tidak harus memberinya kompensasi yang mahal. Lagian... aku masih butuh dia. Karena beberapa waktu ke depan Harris pasti masih akan cari tahu soal aku dan Narren. Kalau Narren pergi, semua rencanaku akan kacau," batin Lady.
"Kak?" Kini, giliran Narren yang membuyarkan lamunan Lady.
Lady mengejap. Ia menarik tangannya hingga tautannya dengan Narren terlepas.
"Di mana barang-barangmu? Biar aku bantu bawa ke apartemenku," tawar Lady.
Narren menggeleng. "Aku bisa meminta temanku buat bantu pindahan. Soalnya semua barangku ada di kontrakan dia."
"Eh? Nggak papa?"
"Nggak papa." Narren memperhatikan penampilan Lady yang begitu menawan. Wanita itu tampak begitu cantik dengan balutan gaun berwarna putih serta make up nude-nya.
Ya. Ini harusnya menjadi hari bahagia Lady. Dia harusnya menjadi ratu seharian ini. Namun, semua kacau.
"Sebaiknya kita segera ke apartemen Kakak supaya Kakak bisa berganti pakaian," usul Narren.
Lady menunduk memandangi pakaiannya. Ia mengangguk setuju. "Naik taksi aja, nggak papa, kan?"
Narren menggeleng. "Biar aku yang pesan."
"Eh? Jangan! Aku aja. Simpan saja uangmu! Kamu masih harus berhemat sampai kamu dapat pekerjaan yang layak nanti, Narren!"
Lady segera sibuk dengan ponselnya. Memesan taksi online untuk dirinya dan Narren.
Sementara itu, tanpa Lady sadari, Narren tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari Lady. Pemuda itu menatap Lady dengan tatapan penuh arti.
"Aku tidak tahu apa yang menarik dalam dirimu. Tapi entah kenapa aku merasa sayang menyia-nyiakan tawaranmu untuk tinggal bersama," batin Narren.
"Sepertinya, ikut dalam alur permainanmu akan cukup menarik."
Beberapa saat kemudian, Lady mendongak. Ia menatap Narren hingga tatapan keduanya bertemu. Sepasang mata itu tampak begitu jernih. Narren terkesima dalam sesaat.
"Sudah dapat! Ayo kita tunggu di depan sana saja!"
Entah sadar atau tidak, Lady mengaitkan jemarinya pada milik Narren. Ia menarik pemuda itu untuk berjalan bersamanya.
Lady tampak biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.
Namun, hal yang berbeda terjadi pada Narren. Ada sengatan kecil yang menjalar di seluruh tubuhnya ketika kulitnya kembali bersentuhan dengan Lady.
Ini aneh. Karena selama dua puluh dua tahun hidupnya, ini adalah kali pertama Narren merasakan hal tersebut.