Fitri menatap Bisma yang tak seperti biasanya. Pria yang biasanya baik walau tegas kali ini tampak uring-uringan dan sensitive. Ia bisa melihat Bisma yang mengomeli anak buahnya karena ada beberapa hasil pekerjaan yang tidak tuntas.
Selama meeting perasaannya gelisah karena teringat akan Lara yang entah berada dimana. Ia mencoba menghubunginya terus tapi gadis itu tak mengangkat teleponnya.
“Dimana kamu?! Balas pesanku, kalau tidak aku akan menceritakan kejadian kemarin pada Eyang Ajeng dan tante Anita!” tulis Bisma mengirimkan pesan pada Lara sambil mendengarkan meeting.
Tak ada jawaban. Hanya tanda bahwa pesan itu sudah terbaca oleh Lara.
“Saya berikan kalian kebebasan untuk bekerja sesuai dengan cara kalian! Tapi tetap ada deadline yang harus dikejar. Bebas itu bukan santai!” tegur Bisma pada anak buahnya dengan wajah dingin seolah menahan amarahnya.
Rasanya ia ingin melampiaskan rasa gemas dan kesalnya pada Lara yang tak membalas pesan sekalian kepada karyawannya yang hari ini bekerja tidak tuntas dan tak seperti yang diharapkan. Tapi Bisma sadar, bahwa ia tak boleh melakukan hal itu karena tidak profesional mengaduk urusan pribadi ke dalam ranah pekerjaan.
Sedangkan di dalam ruangan tampak hening tak ada yang berani membantah. Bisma menghela nafas sesaat sambil menatap karyawannya satu persatu.
“Saya minta, bagaimanapun caranya sore ini sebelum pukul 5 semuanya sudah selesai dan tak ada lagi cela. Kalian semua pekerja profesional yang begitu saya hargai karena kemampuan kalian, dan saya harap untuk hal seperti ini kalian bisa mencari solusinya sendiri.”
Bisma menghembuskan nafas panjang sebelum menutup laptopnya seraya berkata, “Kita akan kembali meeting sore nanti, saya harap semua sudah bisa selesai dengan baik.”
Pria itu segera berdiri dan tubuhnya tiba-tiba mematung ketika melihat sebuah pesan masuk.
“Aku disini, kamar 304.”
Jawaban pendek Lara dan share lokasi membuat Bisma menghembuskan nafas lega walau hatinya masih kesal karena sikap Lara yang harus diancam dulu baru mau respon.
“Bapak! Bapak mau kemana?” tanya Fitri ketika melihat Bisma yang baru masuk ruangan segera keluar lagi mencantol tas ranselnya.
Sebagai asisten ia harus tahu apa yang atasannya kerjakan, selain itu Fitri merasa penasaran karena sikap Bisma yang murung tak seperti biasanya.
“Aku akan pergi dulu lalu akan kembali saat meeting sore nanti, tolong siapkan semuanya dan cek ulang sebelum kita meeting sore,” jawab Bisma cepat.
Fitri hanya bisa mengangguk perlahan, biasanya Bisma akan memberitahu kemanapun ia pergi, tapi kali ini Bisma seolah memberi batas padanya.
Bisma segera memasuki mobilnya lalu mencoba mencari lokasi yang Lara share. Rumah sakit? Pikir Bisma bingung. Apakah ia kembali sakit setelah ia tinggal kemarin? Kenapa satu pun keluarga Ajeng tak ada yang tahu?
Pria itu segera menepis pikirannya dan kembali fokus untuk menemukan Lara. Setelah sampai dirumah sakit, Bisma segera menanyakan ruangan yang disebutkan Lara. Ternyata itu adalah ruangan rawat inap kelas 3.
Perlahal Bisma masuk ke dalam kamar besar itu dan melihat ke kanan dan ke kiri di ranjang mana Lara berada. Ia mengintip ranjang berada paling sudut, dan benar saja, gadis itu tengah meringkuk ditutupi selimut tipis rumah sakit dengan botol infus yang menggantung di sisi ranjang.
“Lara!” panggil Bisma perlahan, membuat Lara segera menoleh kearah suara. Lara segera menarik selimutnya lalu menutupnya sampai kening ketika melihat raut wajah Bisma yang tampak marah.
“Aduh!” keluh Lara kesakitan ketika Bisma menyentil keningnya pelan.
Pria itu tiba-tiba merasa marah dan kesal karena menahan rasa khawatir pada Lara.
“Apa- apaan ini?! Kenapa kamu jadi terbaring disini?! Semua orang nyariin kamu!” tegur Bisma tanpa meninggikan suara dan duduk dikursi yang disediakan disamping ranjang.
Lara hanya diam dan mengusap keningnya yang terasa perih. Wajah gadis itu terlihat sangat pucat, dan tubuhnya terasa hangat.
“Aku sakit mas,” jawab Lara pendek.
“Setelah aku antar, kamu kemana?” tanya Bisma tak puas dengan jawaban Lara.
“Aku ke kost-an. Aku sudah tak ingin tinggal dirumah Eyang. Walau belum memindahkan semua barang tapi kost-an itu sudah bisa ditempati. Ternyata tadi pagi demamku sangat tinggi. Aku diantar Irna kesini,” jawab Lara pelan.
“Siapa Irna?”
“Sahabat kecilku, dia temanku dari kecil dan sekarang kami tinggal di kost-an yang sama.”
Bisma mengatur nafasnya perlahan lalu menatap meja nakas kecil yang berada di samping ranjang. Terdengar suara batuk dari pasien yang lain. Perlahan Bisma menoleh ke seluruh ruangan, melihat Lara berada diantara banyak pasien membuatnya termenung. Bahkan tak ada gelas atau botol air berada disisinya.
“Kamu mau minum? Biar aku belikan. Apa kamu tak ingin tukar kamar sekalian? Kenapa memilih bangsal seperti ini?”
“Ck! Aku cuma demam! Setelah cairan infus ini habis aku sudah boleh pulang. Aku berada di ruangan ini karena sesuai dengan isi kantong, ngerti kamu Bisma?” jawab Lara sambil menggerakan tubuhnya perlahan mencari posisi yang nyaman.
“Tunggu disini sebentar,” ucap Bisma sambil berdiri lalu meninggalkan Lara sendiri.
15 menit kemudian, pria itu kembali sambil membawa sebotol air mineral dan beberapa lembar kertas di tangannya.
“Ayo minum dulu,kamu pasti haus. Setelah ini aku akan mengantarmu pulang tapi sebelumnya kita akan menebus beberapa obat di apotek,” ucap Bisma sambil membantu Lara untuk duduk dan membukakan botol air mineralnya.
Benar saja, tak lama kemudian seorang perawat dan dokter datang mengunjungi Lara, memeriksa kondisinya dan melepaskan selang infus dari tangannya.
“Saya sudah melampirkan surat sakit biar mbak bisa beristirahat beberapa hari. Benar-benar istirahat ya mbak, dan cobalah untuk makan agar tenaganya kembali pulih,” pesan sang dokter.
Lara mengucapkan terimakasih dan mencoba untuk duduk.
Bisma segera merapikan rambut Lara dengan jari karena rambut Lara terlihat kusut. Membantunya membasuh wajah di wastafel dan mengeringkannya dengan tissue. Ada rasa sedih dihati Lara ketika melihat sikap Bisma yang merawatnya begitu telaten. Sikap yang sama seperti yang biasa Ega lakukan padanya jika Lara sedang sakit.
“Mau digendong gak?” tanya Bisma ketika Lara berjalan perlahan ketika mereka hendak keluar dari bangsal.
Lara segera menggelengkan kepalanya dan mencoba meraih lengan Bisma untuk ia rangkul karena kepalanya masih terasa pusing.
“Aku masih bisa jalan,” jawabnya perlahan dan memeluk lengan Bisma erat.
“Kamu tak ingin tinggal dirumah tante Anita? Ia memiliki banyak asisten rumah tangga, sehingga bisa membantu merawatmu?” tanya Bisma ketika Lara bersikeras untuk kembali ke kost-an.
“Nggak mas, aku gak mau ngerepotin orang lain. Lagi pula aku cuma akan tidur beberapa hari ini,” tolak Lara pelan.
Bisma hanya mengikuti keinginan Lara, dengan begini ia jadi tahu dimana gadis itu tinggal sekarang.
Tak lama mereka sudah sampai di kost an Lara. Bisma hanya bisa termenung ketika melihat kamar gadis itu masih kosong, diatas ranjangnya hanya ada sebuah sprei kusut tak terpasang dengan bantal tanpa sarung. Lara segera berbaring dan menggulung tubuhnya dengan sprei yang sebagian dijadikan alas, sebagian lagi selimut.
“Lara, kamu tak bisa tidur begitu, bahkan kamu tak memakai selimut,” ucap Bisma melihat Lara langsung berbaring tak peduli.
“Ini selimutku, ini sudah cukup. Semua barangku masih dirumah Eyang, setelah aku pulih nanti aku kesana untuk mengambilnya,” jawab Lara lirih mencoba untuk tidur.
Bisma menghela nafas panjang, ia mengusap rambut Lara perlahan lalu berbisik ditelinga gadis itu sesaat.
“Tunggu aku disini, aku segera kembali,” bisik Bisma.
Ia hampir saja mengecup pelipis Lara karena refleks, dan membuatnya tertegun beberapa detik. Bisma segera keluar dari kamar Lara dan segera pergi menuju sebuah tempat.
Bersambung.