Bab 20. Bisma sang Perawat

1095 Words
Lara menggerakan tubuhnya perlahan, ia merasa tidurnya terganggu karena mendengar banyak suara dan merasakan ada orang yang bolak balik di sekitarnya. Tenggorokannya terasa sakit dan kering, tubuhnya pegal dan terasa ngilu. “Kamu sudah bangun?” tanya Bisma sambil menyentuh kening Lara. “Haus,” gumam Lara perlahan lalu mencoba melirik kearah jam dinding yang telah menunjukan pukul 2 siang. “Duduklah,” suruh Bisma tampak sibuk mondar mandir di dalam kamar kost Lara yang kecil. “Setelah minum, bersihkan tubuhmu dulu biar aku bereskan kamar ini,” suruh Bisma sambil memberikan segelas air untuk Lara. Lara yang masih sakit hanya bisa menurut dan ia memang butuh untuk membersihkan diri agar tubuhnya lebih segar. Setelah membersihkan diri, Lara hanya bisa berdiri bersandar ketika melihat Bisma sudah merapikan ranjangnya yang kini terbalut sprei dan bantalnya juga sudah terbalut sarung. Bahkan ia melihat guling yang begitu familiar. Guling kamar tidurnya di rumah Ajeng. “Ayo duduk, kamu harus makan dulu setelah itu minum obat,”suruh Bisma sambil menuntun Lara untuk kembali duduk diatas ranjang dan menempatkan 2 bantal dipunggungnya agar ia bisa duduk dengan nyaman. “Mas, kenapa kamarku tiba-tiba penuh?” tanya Lara bingung. Bahkan ia melihat ada dispenser air panas dan dingin dan tak ingat kapan ia membelinya. “Tadi aku kerumah eyang Ajeng. Pagi tadi Eyang yang memberitahuku bahwa kamu menghilang. Aku kesana untuk memberitahu bahwa kamu baik-baik saja tapi sedang sakit, sekalian aku meminta beberapa barang milikmu agar bisa dibawa kesini,” ucap Bisma mulai menyuapi Lara. Lara diam dan menerima suapan dari Bisma dan mencoba mengunyahnya pelan. Kini lemarinya ada beberapa pakaian harian agar ia bisa mengganti pakaian, laptop,skincare dan benda - benda harian yang biasa ia gunakan. “Siapa yang menyiapkan semua ini?” tanya Lara. “Bu Wita, dia yang menyiapkan semua kebutuhanmu, bahkan ia membekaliku dua kotak makan siang untuk kita.” Lara terdiam dan tampak pikirannya menerawang. Wita adalah ibu kandung Fitri yang juga asisten rumah tangga Ajeng. Perempuan itu selalu baik dan perhatian padanya, bahkan ia sangat tahu kebiasaan Lara dan selalu melayaninya dengan baik. Entah mengapa hatinya merasa sangat miris. “Ayo habiskan, setelah ini kamu harus minum obat dan kembali tidur. Aku harus kembali ke kantor,” bisik Bisma sambil terus menyuapi Lara. Saat ini ia hanya bisa menurut ucapan pria itu, bagaimanapun saat ini hanya Bisma yang mengerti kondisinya. Bisma menyisir rambut Lara sebelum gadis itu kembali berbaring. “Aku mungkin akan kembali agak malam, karena masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Aku sudah berbicara dengan penjaga kost-an ini dan memberi tahu kalau kamu sedang sakit. Aku minta tolong padanya untuk menerima makanan yang kupesan online untuk mengantarnya kesini. Kamar mu jangan dikunci, tolong berikan nomor kontak temanmu yang bernama Irna agar aku bisa menghubunginya jika kamu sulit dihubungi,” pesan Bisma panjang lebar sambil menyelimuti Lara. “Mas, aku boleh minta tolong?” pinta Lara. “Ya?” “Tolong scan surat sakitku, dan mengirimkannya ke Jessica, dia hrd di kantor ,” ucap Lara sambil mengambil handphone dan membuka handphone itu dengan fingerprint. “Setelah itu, tolong hapus semua pesan dari papa,” ucap Lara lirih sambil membalik tubuhnya. Bisma diam, ia tak menyangka Lara akan begitu percaya padanya. Memintanya untuk menghapus pesan dari Ega membuat Bisma sadar bahwa Lara masih sangat sedih, bahkan ia tak sanggup untuk membaca pesan dari ayahnya sendiri. Bisma segera mengirimkan surat sakit Lara kepada kolega kantornya, lalu mencoba untuk menghapus pesan-pesan dari Ega dan berusaha untuk tak membaca isinya. Walau begitu ia masih sempat terbaca ucapan permintaan maaf Ega pada Lara. Bisma tertegun ketika tak sengaja membaca pesan Silvy yang masuk dan tengah mencari anak gadisnya. “Lara, tolong hubungi mama. Mama sudah tahu semuanya… papamu sudah cerita.” Bisma terdiam membisu. Lara belum sempat membuka pesan Silvy ini. Perlahan Bisma membuka dan membalasnya. Memberitahu bahwa yang membalas ini adalah Bisma dan memberitahu dimana tempat tinggal Lara saat ini. “Hubungi aku saja tante, jika ingin bicara dengan Lara. Ia butuh waktu untuk tenang,” tulis Bisma. Ting. Sebuah balasan pun masuk ke dalam handphone Lara yang berisi tulisan Silvy yang meminta nomor handphone Bisma. Bisma segera membalasnya lalu menghapus semua chat dirinya dengan Silvy. “Maafkan aku Lara, tapi ini yang terbaik,” ucap Bisma dalam hati sambil menatap Lara yang tengah tertidur karena pengaruh obat. Bisma mencium kening Lara perlahan, entah karena kasihan atau perasaan lainnya tapi saat ini ia tak ingin Lara terluka semakin dalam. Membayangkan Silvy yang mengetahui perselingkuhan suaminya pasti akan membuat Lara semakin hancur dan terluka. Bisma segera meninggalkan Lara untuk kembali ke kantornya. Saat sampai sudah banyak pekerjaan yang menunggunya untuk diselesaikan. “Bapak!” panggil Fitri yang merasa lega melihat Bisma kembali. “Bapak dari mana saja? Pak Leo mencari bapak seharian ini. Semua yang bapak minta tadi pagi sudah selesai semua, satu jam lagi kita akan segera meeting,” ucap Fitri tampak cemas, karena ia mencoba menghubungi Bisma tapi pria itu tak mengangkatnya sama sekali. Bisma hanya mengangguk dan tampak menatap Fitri dalam. Ia jadi teringat pada Frida ketika ia datang ke kediaman Ajeng untuk meminta barang-barang Lara. “Anak itu apa sih maunya?! Apa dia gak peduli sama Eyang dan selalu dibuat sport jantung setiap hari seperti ini?!” keluh Ajeng tampak marah saking cemasnya pada Lara setelah mendengar penjelasan Bisma bahwa Lara berada di tempat kostnya dan jatuh sakit. “Apa kamu tanya kenapa dia jadi seperti ini? Eyang gak sanggup rasanya Bisma melihat Lara dengan semua ulahnya beberapa bulan ini?! Dia tuh kenapa?! Tanya Ajeng lagi. Bisma hanya diam dan tak sengaja saling pandang dengan Frida yang hanya duduk diam. Wajah perempuan itu tampak cemas dan hanya bisa memalingkan wajahnya ketika Bisma menatapnya, seolah Bisma memergoki dosanya sehingga ia merasa sangat bersalah. Kini dihadapannya ada Fitri yang tampaknya masih tak tahu menahu bahwa di rumahnya sedang kacau karena Lara yang tidak pulang tadi malam. Apakah ia benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Menyadari bahwa gadis ini menerima Reno tetapi juga tampak menyukainya membuat Bisma bertanya-tanya. “Bapak,” panggil Fitri lagi. Bisma terkesiap sesaat. “Maafkan aku, tadi kamu bicara apa?” tanya Bisma menyadari bahwa ia melamun dan sibuk dengan pikirannya sendiri. “Bapak baik-baik saja?” tanya Fitri pelan. “Hmm, iya … saya baik-baik saja. Aku bersiap dulu,” jawab Bisma perlahan sambil tersenyum pada Fitri sebelum memasuki ruang kerjanya kembali. Mendapatkan senyuman dari Bisma membuat Fitri merasa lega. Sudah beberapa hari ini atasannya itu terasa jauh. Dan Fitri bertekad untuk membuat Bisma kembali dekat dengannya. Ia yang merasa tak sanggup jika tak melihat Bisma sehari saja. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD