Bab 9. Kepergok

1319 Words
“Itu bukannya atasan kamu ya?” tanya Reno ketika ia baru saja mematikan mesin mobil dan melihat Bisma tengah melintas melewati mobil dimana Reno dan Fitri berada. Pria itu tampak melangkah dengan langkah berat sambil mengusap-usap bibirnya perlahan sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri. Fitri segera membuka safety belt dan bergegas keluar dari mobil, bisa tapi sayangnya saat Fitri memanggil Bisma, pria itu tak melihatnya dan sudah meninggalkan pekarangan rumah Ajeng yang luas. “Fit,” panggil Reno dengan suara lembut ketika melihat Fitri tampak gelisah setelah tak berhasil menyapa Bisma. “Ngapain ya pak Bisma datang, tadi pagi bukannya dia sudah mampir?” tanya Fitri sambil menatap Reno. Reno hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang sambil mengikuti langkah Fitri dari belakang memasuki rumah utama. “Mas Reno mau minum apa? Biar aku ambilkan,” tanya Fitri sambil meletakan tasnya. “Apa saja,” jawab Reno singkat dan membuat Fitri segera berjalan menuju ruang makan. Langkahnya terhenti saat melihat Lara tengah di depan kulkas tengah mengambil es batu dan memasukkannya dalam kantong plastik kecil lalu mengompres bibirnya. Kedua gadis itu akhirnya saling menatap dan terdiam kaku sebelum akhirnya Lara bergerak pelan hendak meninggalkan Fitri. “Bibirmu kenapa?” Fitri mencoba membuka pembicaraan dengan Lara. “Bibirku digigit mas Bisma! Ciumannya payah! Aku menggigitnya dan dia gigit balik!” jawab Lara ketus sambil berjalan meninggalkan Fitri. Mendengar ucapan Lara, Fitri segera menahan langkah sepupu angkatnya itu. “Lara! Aku tahu kamu marah padaku dan mas Reno karena hubungan kami, tapi jangan berbohong dengan menggunakan nama orang lain untuk mencoba mengganggu perasaanku.” “Ck! Siapa yang bohong? Besok, Senin. Kamu tanya saja sama orangnya langsung dikantor. Jika dia jujur pasti dia akan mengakui hal ini. Kenapa? Kamu marah? Tenang saja, dia melakukan ini just because an eye for an eye…,” jawab Lara enteng dengan nada setengah mengejek dan tersenyum sebelum meninggalkan Fitri sendirian. Hati nya merasa puas karena bisa membuat Fitri kalang kabut. Ia tahu Fitri memiliki hati yang sensitif dan perasa, gadis itu pasti akan gelisah karena Lara mengganggu pujaannya. Lara mendengus kesal saat bercermin dan melihat bibir atasnya begitu bengkak sehingga ia tampak aneh. Ingatan Bisma yang menyambar dan melumat bibir Lara sebelum mengigitnya membuat Lara kesal, karena pria itu sempat mencium bibirnya. Berbeda dengan Lara yang langsung menggigit bibir Bisma hanya untuk mengalihkan perhatian pria itu agar ia bisa membuka kunci mobil. “Sialan! Dasar b******k!” gumam Lara kesal. Gadis itu segera menghempaskan tubuhnya keatas ranjang dan kembali mengompres bibirnya perlahan. Sebelum ini tak pernah ada yang menyentuh bibirnya selain Robin, cinta sejatinya. Diruangan yang lain Fitri tengah duduk bersama Reno dan menyajikan minuman untuk kekasihnya. “Bisma atasan kamu itu kok sering sekali kerumah ini? Apa dia sedang mendekati Lara?” Pertanyaan Reno membuat Fitri tersedak. “Ih! Nggak! Gak mungkin pak Bisma suka sama Lara. Gimanapun pak Bisma masih ada hubungan keluarga walau cukup jauh dengan keluarga ini. Dia lagi sering kemari karena beberapa hari yang lalu kami semua mendapatkan undangan untuk hadir di pembukaan toko bunga ibunya pak Bisma. Tadi pagi dia datang juga untuk mengantarkan bunga, tapi malam ini ia datang aku tak tahu alasannya,” jawab Fitri mencoba menjelaskan hubungan mereka. “Dikantor … kamu dekat dengannya kah?” tanya Reno perlahan. “Kami memang dekat, bagaimanapun aku berada di dalam tim yang sama dengan pak Bisma.Kenapa mas?” ucap Fitri balik bertanya. “Tidak apa-apa. Hanya saja dia pria yang tampan dan menarik, aku hanya takut dia tertarik padamu.” “Ih, apa sih mas Reno! Pak Bisma memang orang baik, aku sudah pernah cerita bukan, kalau dia yang merekomendasikan aku untuk mendapatkan beasiswa dari yayasan kantornya. Dan sekarang aku diberikan kesempatan untuk bisa langsung bekerja, jadi aku memang sangat menghormatinya.” Mendengar ucapan Reno, hati Fitri merasa senang sekaligus tak enak. Ia tak bisa membohongi dirinya bahwa saat ini perasaannya mendua. Hatinya untuk Reno tapi ia juga mengagumi Bisma bahkan kali ini sering membuat jantungnya sampai berdegup lebih cepat. *** “Pak Bisma,” sapaan Fitri membuat Bisma menoleh kearah suara. Gadis ayu itu sudah tersenyum manis ke arah. “Saya bawakan sarapan untuk bapak,” ucap Fitri sambil memamerkan beberapa tumpuk kotak makan sambil berjalan ke arah Bisma yang baru saja sampai ke kantor. “Jadi hari ini kita tidak sarapan diluar? Baiklah, ayo masuk,” ajak Bisma sambil membukakan pintu ruang kerjanya untuk Fitri. “Kamu bawa apa?” tanya Bisma sambil meletakan tasnya di sisi meja. “Saya bawain beberapa untuk bapak. Mau yang mana? American breakfast? Atau Ubi bakar madu? Traditional but everlasting dan masih anget lagi,” goda Fitri sambil membuka dua kotak bento yang ia bawa. “Ck! Tentu saja aku pilih ubi ini daripada yang lain. Makan real food seperti in akan terus membuat tubuh dan stamina bagus, biar ganteng terus!” ucap Bisma menatap ubi bakar itu senang lalu mengedipkan matanya sebelah pada Fitri. Fitri tersipu malu dan segera mengupaskan ubi lalu memberikannya pada Bisma. Wajahnya tertegun sesaat ketika melihat Bisma makan ubi itu dengan perlahan dan hati-hati bukan karena masih panas, tetapi karena ia tampak sedikit kesakitan. “Kenapa pak?” tanya Fitri pelan. “Ck! Bibirku masih sakit di bagian dalamnya,” jawab Bisma spontan sambil meringis. Di dalam hati ia merasa kesal karena Lara benar-benar menggigit bibirnya sekuat tenaga sampai masih terasa sedikit perih. Fitri diam mematung, mendengar ucapan Bisma ia jadi teringat ucapan Lara padanya. “Abis ciuman ya pak?” goda Fitri cepat. “Kalau yang terjadi padaku disebut ciuman, semua orang didunia ini akan berhenti untuk mencium.” Jawaban spontan Bisma membuat Fitri menelan ludahnya, tiba-tiba lidahnya terasa kelu dan merasa takut jika apa yang diucapkan Lara itu benar. Apa yang terjadi? Apakah benar Lara berciuman dengan Bisma? Bagaimana ia menanyakannya?” “Kok bengong?” tanya Bisma melihat reaksi Fitri. “Oh nggak, kok pak … cuma merasa penasaran saja dengan orang yang mendapatkan ciuman dari bapak,” jawab Fitri pelan. “Gak usah penasaran! Dia gak penting! Dia juga gak sebaik kamu,” jawab Bisma sambil menyelipkan rambut dibalik telinga Fitri dan kembali asik memakan ubinya. Fitri hanya tersenyum dan menatap Bisma dalam, mencoba menahan hatinya yang berdegup begitu kencang. Bisma mencuri pandangan ke arah Fitri yang sempat menundukan kepalanya sambil tersenyum. Di dalam hatinya ia mempertanyakan ucapan Lara, bahwa Fitri juga memiliki perasaan padanya. *** “Ayo aku antar pulang,” ucap Bisma saat melihat Fitri tengah membereskan laptopnya. Mereka baru saja selesai bekerja saat waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Sudah hampir 4 hari ini tim di bawah kepemimpinan Bisma harus lembur untuk mengumpulkan dan mempersiapkan presentasi untuk investor baru. “Gak usah pak, saya bisa pulang sendiri,” jawab Fitri santai sambil terus membereskan mejanya. “Biarkan aku mengantarmu pulang, aku tak ingin Eyang Ajeng dan Tante Frida menjadi cemas karena beberapa hari ini kita harus terus lembur.” Fitri hanya bisa mengangguk ketika Bisma segera mengambil laptop dari tangannya dan mengikuti langkah pria itu menuju tempat parkir di basement. Selama perjalanan, keduanya berbincang begitu ramai dan menyenangkan. Rasanya malam itu tak ingin berakhir untuk Fitri, begitu pula dengan Bisma. “Mau mampir dulu pak?” tanya Fitri penuh harap. Entah mengapa Bisma menganggukan kepala dan akhirnya mereka berdua tersenyum sebelum masuk ke dalam rumah utama. “Bapak mau minum apa? Biar aku buatkan,” tanya Fitri senang. “Tidak usah buatkan aku apapun, temani saja aku sebentar lagi,” pinta Bisma saat menyadari bahwa waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, dan tentu saja ia tak bisa berlama-lama di rumah itu. Fitri pun mengangguk dan segera menghempaskan dirinya disofa disisi Bisma. Tapi sofa itu terlalu empuk sehingga ia malah terhempas mengenai tubuh Bisma sehingga mereka saling berpelukan sesaat. Fitri dan Bisma terdiam sesaat sampai terdengar suara blitz dari handphone. “Ups! Lupa dimatikan volumenya,” ucap Lara santai sambil memegang handphone ke arah Fitri dan Bisma seolah tengah mengambil foto mereka berdua yang tengah bermesraan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD