Gadis itu tengah tak bisa tidur dan asik menonton film di ruang keluarga di rumah utama yang biasanya sepi. Mendengar ada seseorang masuk membuatnya penasaran dan melihat Bisma dan Fitri yang masuk ke dalam rumah tanpa menyadari kehadirannya.
Melihat adegan Fitri yang jatuh ke pelukan Bisma membuatnya segera mengabadikannya dengan handphone.
“Yah, ke gap lagi selingkuh!” ucap Lara tanpa ragu dan beban sambil terus mengambil video Bisma dan Fitri.
“Lara! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!” ucap Fitri histeris dan segera berdiri menjauhkan diri dari Bisma.
“Ck! Panik amat sih! Wajar kok, sama - sama suka, kenapa mesti malu dan menyembunyikan perasaan masing-masing?” sindir Lara santai sambil berjalan ringan sedikit meliuk-liuk masih memegang handphone dan membuat gaun tidurnya tersingkap.
“Bukan begitu!” ucap Fitri panik.
“Matikan handphone mu!” suruh Bisma dengan nada keras menatap Lara marah.
“Nggak! Enak aja suruh-suruh! Kenapa? Malu kepergok? Tenang saja, aku tak akan memperlihatkannya pada Reno.”
“Lara! Aku tahu kamu kesal karena–”
“Stt! Gak usah pakai aku sebagai alasan untuk menutupi perasaan kalian berdua! Walau Reno tahu kamu menyukai atasanmu ini, dia tetap tak akan melirik ke arahku bukan?!”
Lara tertawa puas bisa membuat Fitri menekuk wajahnya. Melihat wajah Fitri yang tampak terintimidasi dengan ucapan Lara, refleks Bisma menyambar handphone Lara. Lara yang tak siap dengan sikap Bisma mencoba menahan tapi akhirnya handphone itu jatuh dan pecah.
“Handphoneku!” pekik Lara terkejut dan segera mengambil handphonenya.
Bisma tampak puas seraya berkata,
“Nanti aku ganti!”
Mendengar ucapan Bisma, Lara mendengus marah. Ia segera memukul d**a Bisma seraya berteriak.
“Sialan kamu!”
“Kamu yang memulai!”
“Bela saja terus perempuan munafik itu!” jerit Lara marah.
“Siapa itu?! Fridaa … coba cek siapa itu?! Siapa yang bertengkar tengah malam begini?”
Mendengar suara Ajeng membuat Fitri dan Bisma pucat pasi.
“Kami disini eyang! Lihat ada …hppp!”
Bisma segera membekap mulut Lara dengan tangannya dan segera menarik gadis itu ke arah ruangan lain yang gelap.
Sikap spontan Bisma hanya untuk menjaga Ajeng agar tidak salah paham tentang kehadirannya, apalagi ucapan Lara bisa semakin memprovokasi keadaan. Bisma menahan sekuat tenaga rasa sakit jari tangannya yang tengah digigit Lara kuat-kuat. Walau sakit, Bisma tetap bertahan untuk membuat Lara tak bersuara.
Terdengar suara - suara ramai di ruangan sebelah seolah bertanya apa yang terjadi. Samar-samar Bisma bisa mendengar suara Fitri seolah menahan mereka untuk tidak kearah ruangan dimana Bisma dan Lara berada.
“Nggak ada apa-apa eyang,” ucap Fitri mencoba menahan Ajeng.
Tetapi langkah itu semakin mendekat, membuat Bisma segera melepaskan tangannya dan menarik wajah Lara cepat ke arah wajahnya.
Tiba-tiba lampu di ruangan tempat Bisma dan Lara bersembunyi menyala begitu terang. Ajeng dan Frida tampak terkesiap ketika melihat pemandangan di hadapan mereka. Bisma dan Lara tengah berciuman sambil berpelukan erat. Saking eratnya tanpa sadar Bisma menarik pakaian Lara sehingga pahanya terlihat setengah.
Lara segera mendorong tubuh Bisma menjauh dari tubuhnya. Ia tampak terkejut karena ciuman dadakan Bisma dan juga kehadiran Ajeng.
“Apa-apaan kalian?!” pekik Ajeng marah melihat adegan yang terasa tak pantas dihadapannya.
“Eyang! Ini bukan seperti yang Eyang pikirkan!” ucap Lara panik.
“Diam! Eyang kecewa sama kamu! Tengah malam pakai pakain tidur tipis dan berciuman dalam gelap! Seperti p*****r!” ucap Ajeng begitu emosi tak bisa menahan ucapannya.
“Bukan begitu Eyang! Fitri yang selingkuh sama mas Bisma! Aku memergoki mereka bahkan aku foto dan video, tapi mas Bisma menjatuhkan handphoneku! Dia menciumku untuk mengalihkan perhatian!” ucap Lara tak terima dan mencoba menjelaskan.
“Ayo kamu jelaskan mas!” suruh Lara setengah berteriak pada Bisma.
Tapi Bisma hanya diam dan menatap Lara penuh kemenangan.
“Sudah! Diam! Memangnya kami semua gak tahu tentang sikapmu yang ingin terus menerus menyakiti Fitri karena Reno! Tante pikir kamu hanya marah sesaat, tapi ini sudah berlebihan Lara! Jelas-jelas kamu yang berciuman dengan Bisma, bisa - bisanya kamu menuduh Fitri yang berselingkuh!” ucap Frida dengan nada marah mendengar ucapan Lara yang seolah ingin menjatuhkan anak angkatnya – Fitri.
“Selalu aku yang salah! Selalu Fitri yang seperti malaikat!” pekik Lara marah mendengar ucapan Frida.
“Eyang perlu bicara sama kamu dan Bisma! Ikut keruangan Eyang sekarang!” ucap Ajeng sambil menatap Bisma dan Lara tajam.
“Gak! Aku gak mau! Buat apa?! Untuk memberikan penjelasan! Tak akan ada yang percaya! Bahkan pria b******k ini juga akan membela Fitri! Fitri yang sempurna! Fitri yang baik hati! Fitri yang luar biasa!”
Plak. Sebuah tamparan mendarat di pipi Lara membuat Lara diam membisu sesaat. Tamparan itu berasal dari Frida yang merasa tak terima anaknya diejek seperti itu oleh Lara.
Hening.
“Lara, maafkan tante…,” ucap Frida ketika menyadari sikap spontannya kepada Lara.
Lara hanya bisa diam menahan air mata yang ia tahan sekuat tenaga agar tidak tumpah. Lara hanya diam menatap Frida marah sambil menyentuh pipinya yang terasa panas sebelum akhirnya ia berjalan setengah berlari menuju kamarnya sambil menangis.
“Lara! Tunggu!” panggil Ajeng.
Tapi Lara sudah tak peduli. Sedangkan ditempat yang sama Bisma hanya bisa diam membisu melihat kekacauan yang ia buat untuk melindungi Fitri. Gadis yang ia lindungi hanya bisa berdiri mematung sambil menangis menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika melihat Frida menampar Lara.
***
Bisma menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di dalam kamar tidurnya. Waktu sudah menunjukan pukul 1.30 malam dan ia baru sampai dirumah setelah insiden di rumah Ajeng. Perlahan ia mengacak-acak rambutnya sendiri dan tak menyangka bisa terlibat drama cinta segitiga antara Lara dan Fitri.
Perlahan Bisma menghela nafasnya perlahan. Niatnya yang ingin melindungi dan membela Fitri dari sikap ‘jahat’ Lara, kini ia malah membuat Lara terlihat benar-benar jahat dan ia sendiri terjebak di dalamnya. Ia sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Ajeng dan ucapan Ajeng benar-benar menohok perasaannya.
“Mendengar ceritamu, Eyang merasa bersalah pada Lara. Eyang mengerti jika Lara merasa kecewa dan marah pada Fitri. Tapi kedekatanmu dengan Fitri juga bisa membuat orang membenarkan tuduhan Lara, bahwa kalian memiliki perasaan satu sama lain sedangkan saat ini Fitri baru saja menerima pinangan seseorang,” ucap Ajeng ketika ia mengajak Bisma untuk berbicara berdua di ruangan kerjanya.
“Eyang tahu kamu sangat memperhatikan dan memperdulikan Fitri, entah sebagai keluarga atau atasannya. Tapi, kalau Eyang boleh kasih saran, bolehkah jika kalian memiliki hubungan profesional saja saat ini? Atau kalau boleh jujur, apakah sebenarnya kamu memang memiliki perasaan pada Fitri? Jika iya, Eyang juga harus bertanya pada Fitri apa ia memiliki perasaan yang sama padamu. Karena ada orang lain yang tengah menunggu Fitri sebagai istrinya diluar sana. Reno harus diberikan penjelasan jika Fitri memutuskan untuk bersama kamu. Tapi sebelum itu, Eyang mau bertanya dengan sungguh-sungguh untuk memiliki hubungan dengan Fitri?”
Pertanyaan itu membuat Bisma seolah tersadar akan perasaannya. Ia memang menyukai Fitri, tetapi di todong untuk memiliki hubungan dengan gadis itu sebagai pertanggung jawaban karena telah membuat Fitri memilih dirinya rasanya ia belum siap.
Ia sudah pernah gagal dalam pernikahan, usianya juga masih 35 tahun dan ia masih menikmati masa lajangnya sebelum ia memutuskan untuk memiliki pasangan hidup lagi.
Kali ini dirinya malah teringat pada Lara. Teringat raut wajah Lara yang marah sampai tubuhnya bergetar membuat Bisma merasa sedikit bersalah, seharusnya ia tak bersikap berlebihan seperti itu, tetapi sikap Lara membuatnya ikut gila.
Bersambung.