bc

World Explorer Alchemist

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
badboy
royalty/noble
no-couple
serious
loser
witty
another world
war
wild
like
intro-logo
Blurb

Life after the disaster of war with the advancement of steam engines from the western continent while the desert is still fighting wars and is only a spectacle of the sun and moon.

Zahab, a famous alchemist, must accept his fate amid his mission to save the world from the disaster of God's corrosion. Will he be able to save humanity amidst his amnesia due to an accident looking for artifacts in ruins?

This is the path of the four divinities: finding the truth among the seven wonders of the world that were eliminated in history only to restore the true creator.

Like a vast desert, an oasis is always the coolness sought by all explorers.

chap-preview
Free preview
Bab 1: Emas
Itu berawal dari setitik cahaya yang begitu cerah layaknya logam yang begitu murni, jatuhnya tetesan cahaya sebuah warna emas yang bersinar begitu terang dengan penuh kemuliaan. Dengan kesadarannya dari kehendak lagit ia bergerak menyatu dengan elemen lain untuk menurunkan anugrah bukti keagunggan sang langit yang begitu perkasa. Anak muda itu membuka matanya ditenggah hamparan padang pasir yang menjulang begitu jauhnya. Ingatan terakhirnya hanyalah perasaan kejatuhan dengan suara yang ricuh dari reruntuhan milik penggikut politeisme. Ia menghela nafas, ekpresinya begitu tenang untuk orang yang menggalami suatu musibah. Sepertinya dirinya telah menggalami hilang ingatan. Yah, setidaknya dia tersadar dalam penampilan yang baik dan tak serampanggan dengan demikian tidak akan menimbulkan penilaian buruk dari orang-orang yang berpapasan dengan dirinya nantinya. Jika tidak salah diarah barat daya ada permukiman yang terbuka terhadap orang asing, mungkin dia bisa menanyakan beberapa hal pada mereka. Ditenggah langkahnya yang memijak tanah berpasir ia kembali mencoba menggingat memori tentang kehidupannya dimasa lalu yang sayang sekali ia tidak dapat menggingat apapun disana. Kembali menghela nafas, ia akan bertanya pada dokter ketika kembali ke kota. Tapi sebelum itu ia harus mencari modal tertentu untuk kembali ke kota. Setidaknya itu akan membantunya mendapatkan ingatannya. Terlalu sibuk memikirkan untuk kedepannya ia tak sadar sebuah gumpalan pasir yang menyembul dengan begitu tinggi menembus gelombang panas padang pasir, itu semakin cepat ketika medekat kearahnya yang memnyebabkan dirinya harus menutup kedua bola matanya. Ketika dia merasa gumpalan yang membawa pasir itu telah berhenti kedua matanya terbuka. Di sana dia melihat sekelompok penjelajah padang pasir, dengan jumlah sekitar 7 orang diatas tunggangan seokor ungas yang berdiri begitu tegak dengan kisaran tinggi pada daun pintu. “Hei apa yang kau lakukan ditenggah padang pasir seperti ini, bukankah sudah diterbitkan peringatan bahwa perang antar suku sedang terjadi.” Ucap pemimpin mereka diatas tunggannya. Anak muda itu menjadi gagap seketika, pemberitahuan perang berada diluar penggetahuannya “Saat ini aku sedang ingin menggungsi ke suku pengguasa Oasis barat daya.” Pemimpin penjelajah itu menggernyit saat mendenggar kalimat itu “Aku akan memberi tahumu bahwa Suku pengguasa Oasis berada diarah sebrang sana.” Dagunya menunjuk pada jalur yang mereka tuju “Sedangkan tempat yang kau tuju saat ini adalah medan peperanggan.” Tubuh anak itu bergidik dengan wajah yang begitu terkejut “Haha, aku benar-benar minta maaf panasnya padang pasir membuatku buta arah.” Dia hanya menggeluarkan tawa garing, apa yang kau harapkan dari orang yang terbanggun dientah berantah dengan tanpa ingatan. Pemimpin itu hanya menghela nafas seolah dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini “Aku akan menggantarmu ke tempat mereka lagi pula aku ditugaskan untuk menggurus orang sepertimu. Naiklah.” “Aku benar-benar berterima kasih.” Anak muda itu mendekat kearah pimpinan penjelajah. Rambutnya yang sepanjang bahu berkibar saat naik keatas punuk burung unta, itu bergerak layaknya gelombang lautan yang tenang dalam warna emasnya. “Jika aku boleh tau apakah kalian penjelajah padang pasir.” Anak muda itu meninggikan suaranya akibat teredam oleh deburan langkah ungas yang ditunggangi. “Penjelajah padang pasir?” pemimpin kelompok itu balik bertanya dengan suara yang lebih tinggi “Kami pasukan penyergap malam al-lail dan aku Abqary.” Ucapnya dengan penuh kebanggaan saat burung unta itu berhenti diujung puncak padang pasir. “TURUN..” suaranya menggelegar dan dalam saat memberikan perintah kepada pasukan. Saat itulah burung-burung melompat dan menggunakan kedua kaki mereka untuk bergerak menuruni gunung pasir, kedua bola mata anak muda itu melebar begitu terkejut memperlihatkan warna lautan yang menkilap. Kedua kakinya masih merasakan debaran saat mereka telah sampai di oasis, ia turun dan disambut oleh penduduk Oasis. “Oh Abqary, orang tersesat dipadang pasir lagi.” Seorang anak muda dengan surai merah menyapa, anak muda yang kehilangan ingatan itu menggamati. Menurut penggamatannya anak laki-laki itu memiliki tinggi diatas rata-rata penduduk padang pasir dengan Pundak yang tidak lebar namun cukup untuk menjadi seorang petarung. Usianya mungkin mengginjak umur matang pada tahun ini. “Seperti yang kau lihat tanah gurun selalu membawa kejutan, dia hampir masuk ke perangkap para musuh jika kami tidak menemukannya.” Abqary menuruni tunggangannya dan melepas kain penutup wajah. Di sana dapat terlihat dengan jelas helai rambut panjangnya yang terbelah menjadi dua, tatapan matanya yang tajam menyatu dengan warna tanah padang pasir yang pekat tertuju pada orang asing yang diungsikan kedalam kemah penduduk. “Berhati-hatilah kami mendapat informasi bahwa musuh sedang menggincar ilmuan dari Benua Timur.” Abqary mengganti tunggangan unggasnya dengan kuda hitam, ia harus segera kembali ke medan peperangan untuk memimpin pasukan. “Aku menggerti semua orang yang menginjak Oasis adalah orang-orang yang mencintai perdamaian dan mereka yang mencintai perdamaian adalah saudara kami.” Ujar anak muda itu menggepalkan tanggan didada yang membusung lebar. Abqary menggangguk dan menaiki kuda hitamnya “Ingat baik-baik Amram tanah Oasis tidak akan pernah menumpahkan darah manusia.” Ia merapatkan tumpuannya dan menarik tali kekang memberikan tumpuan pada tumitnya agar kuda tersebut bergerak maju, dengan kecepatan yang stabil Abqary meninggalkan tanah Oasis. “Jangan lupa untuk berkunjung kembali saudaraku.” Amram berteriak ditenggah hembusan angin padang pasir, bola matanya yang berwarna senja menatap kepergian pejuang tanah gurun. Ia pun mengembalikan badannya, wajahnya tersenyum seolah akan menyambut tamu terhormat. Tubuhnya pun membuka tenda berwarna putih yang selalu melindunggi mereka dari alam gurun yang dipenuhi dengan ketidaktahuan. “Jadi apa yang mengganggumu saudaraku sampai kau bisa terdampar dipadang pasir yang terbentang begitu luas itu.” Ujarnya menduduki kursi ditenda tersebut. Anak muda yang hilang ingatan itu hanya terdiam wajahnya terlihat begitu rumit seolah dia kebinggungan harus menjelaskan dari mana “Kau tak perlu terburu-buru kami selalu mendenggarkan bahkan jika itu hanya kisah kebohongan.” Anak muda itu menghela nafas, dia mulai merasakan beban berat dipundaknya saat ini “Sejujurnya aku sendiri juga tidak begitu tau, aku hanya mendenggar suara ditenggah kegelapan seperti langit malam yang Panjang dan ketika aku tersadar aku telah berada ditenggah gurun.” Amram pun menggingat-ingat apakah ada kejadian seperti ini di masa lalu. Banyak orang yang menggalami hilang ingatan ketika terpapar panasnya padang pasir namun itu berbeda dengan yang diceritakan oleh orang asing didepannya, sepertinya orang ini adalah korban dari reruntuhan milik kepercayaan kuno. Tapi jika sampai membuatnya terpental ke tenggah padang pasir pasti terjadi sesuatu didalam reruntuhan. Apakah itu memiliki keterkaitan tulisan batu yang dijelaskan tetua. Amram pun tersenyum dan berdiri “Yah mari kita mencari petunjuk sembari memberikan laporan kehilanggan pada pemerintah setempat, tidak baik membiarkan keluarga menunggu kabar orang yang mereka sayangi.” Amram pun menggulurkan tanggannya “Untuk sementara kau boleh tinggal disini Tuan, perkenalkan namaku Amram pelindung tanah Oasis. Dan Tuan sendiri.” Dia bertannya ditenggah uluran tangannya yang menggantung. Anak muda berambut emas itu berpikir sebentar, harus dengan sebutan apa dia memperkenalkan diri “Zahab.” Ujarnya “Zahab sang penjelajah.” Jemarinya menjabat dengan tegas dan penuh kepercayaan diri. Amram pun tersenyum saat menerima jabatan itu “Selamat datang di tanah perdamaian saudaraku Zahab.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

His Redemption (Complete His Series)

read
5.7M
bc

Begging For The Rejected Luna's Attention

read
4.5K
bc

Getting Back My Secret Luna

read
5.5K
bc

Lauchlan The Betrayed (book 2 of Hell in the Realm series)

read
70.7K
bc

The Warrior's Broken Mate

read
203.4K
bc

True Luna

read
1.3M
bc

A Warrior's Second Chance

read
340.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook