Jeratan Sang Pemburu dan Lonceng Peringatan

831 Words
Telepon yang berdering di tengah keheningan pagi itu adalah palu godam yang menghantam ketenangan rapuh mereka. Suara di seberang sana, meskipun hanya sebuah bisikan berat, memiliki resonansi otoritas yang menusuk, melampaui frekuensi biasa, dan memicu naluri purba dalam diri Reyshard. Ia bisa merasakan energi di balik setiap intonasi, sebuah aura kekuasaan yang telah lama berdiam di kegelapan, kini bangkit dan bergerak. Mata keperakannya menatap Ansel, mengunci pandangan mereka dalam sebuah pengakuan tak terucap tentang bahaya yang baru saja mengetuk pintu. "Itu mereka," bisik Reyshard, suaranya mengandung campuran kekeruhan dan kejelasan yang mengerikan. "Para pemburu yang selama ini hanya bersembunyi di balik bayang-bayang. Mereka mencium aroma perubahan dalam diriku." Ansel merasakan getaran halus yang menembus ke dalam tulang sumsumnya. Itu bukan rasa takut yang biasa, melainkan semacam antisipasi primordial terhadap kekuatan yang tak dapat diukur. Ia telah menyaksikan Reyshard bertransformasi, menyaksikan kekuatannya bangkit, dan kini ia tahu, kebangkitan itu tidak datang tanpa konsekuensi. Dunia spiritual, yang selama ini ia selami dengan hati-hati, kini bergeser, memperlihatkan jurang yang lebih dalam dan ancaman yang lebih besar. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Ansel, nadanya tenang, namun sorot matanya tajam. Ia adalah jangkar bagi Reyshard, cermin yang memantulkan ketenangan dalam badai. Reyshard meletakkan ponselnya, tatapannya menyapu sekeliling ruangan yang terasa mendadak sempit. Aroma cendana yang masih samar, sisa-sisa ritual yang mereka lakukan di malam sebelumnya, kini terasa seperti bau mesiu setelah ledakan. "Kita tidak bisa bersembunyi," katanya, lalu ia melangkah ke jendela, menyingkap tirai. Kota di bawah sana masih diselimuti kabut tipis, namun di balik kabut itu, Reyshard bisa merasakan mata-mata yang tak kasat mata mulai bergerak, menyusuri setiap lorong dan jalanan, mendekat. "Pesan yang mereka sampaikan bukan ancaman kosong," lanjut Reyshard. "Mereka akan datang. Cepat atau lambat. Dan mereka menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar kekuasaan mafia. Mereka ingin kunci." Ansel berdiri, berjalan mendekati Reyshard, bahu mereka nyaris bersentuhan. "Kunci ke Segel Utama?" Reyshard mengangguk. "Dan mereka percaya aku adalah kunci itu. Aku melihatnya saat aku menyatu dengan 'bayangan' di Situs Gunturwana. Ada sebuah visi... sebuah gerbang kolosal yang terukir simbol-simbol kuno, terkunci rapat oleh rantai-rantai astral. Di depan gerbang itu, berdiri Nayaka. Ia tidak sendiri. Ada entitas-entitas lain yang tak berbentuk, berbisik tentang era baru, tentang d******i yang akan datang." "Ini bukan lagi hanya tentang kutukan pribadimu, Rey," ujar Ansel, suaranya perlahan mengeras. "Ini tentang nasib dua dunia. Dunia manusia, dan dunia di balik tirai." Mereka berdua terdiam, membiarkan implikasi dari pengakuan itu meresap. Reyshard, seorang bos mafia yang dulunya hanya memikirkan wilayah kekuasaan dan intrik bisnis, kini mendapati dirinya berada di garis depan perang spiritual yang melampaui akal sehat. Dan Ansel, seorang paranormal yang tenang, kini menjadi penasihat utama dan pelindung bagi seseorang yang memegang takdir di tangannya. "Kita perlu bergerak," kata Reyshard, tekadnya mengeras, mengusir sisa-sisa kelemahan dari tubuhnya. "Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Arkava. Ibuku. Mereka pasti meninggalkan petunjuk. Aku tidak bisa membiarkan Nayaka mendapatkan apa yang dia inginkan." Ansel menatap Reyshard, ada kekaguman yang samar di matanya. Pria di depannya ini telah melewati neraka, dan kini ia bangkit dengan tekad yang membara. "Aku akan menyiapkan semua yang kita butuhkan. Mantra pelindung, ramuan penyembuh, dan... beberapa koneksi lama." Reyshard mengangguk, lalu pandangannya beralih ke jendela lagi. "Aku akan memanggil Theo. Kita membutuhkan dia. Dunia mafia dan dunia gaib kini terjalin, dan kita butuh kedua sisi untuk bisa bertahan." Tak lama kemudian, Theo tiba di rumah tua itu. Wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan dari pertempuran di stasiun, namun begitu ia melihat sorot mata Reyshard yang kini berbeda, Theo tahu, ini bukan sekadar pertemuan biasa. Reyshard menceritakan semua penglihatannya—tentang Nayaka, Segel Utama, dan perannya sebagai kunci. Theo, meskipun kaget, menerima semua itu dengan keteguhan yang mengejutkan. Ia adalah sahabat sejati, bukan hanya di dunia keras mafia, tetapi juga di hadapan ancaman yang melampaui batas logika. "Jadi, kita akan perang, begitu?" tanya Theo, senyum tipis terukir di bibirnya, bukan senyum kecut, melainkan senyum seseorang yang siap menghadapi tantangan. "Ini lebih dari sekadar perang, Theo," jawab Reyshard. "Ini tentang menjaga keseimbangan. Tentang mempertahankan apa yang seharusnya tidak disentuh." Ansel mendekat, membawa sebuah gulungan peta kuno yang ia temukan di antara barang-barang peninggalan ibunya Reyshard. "Peta ini... ini menunjukkan situs-situs Arkava yang tersebar di seluruh nusantara. Ada satu titik yang mencolok, tertulis dengan simbol yang sama dengan yang ada di kitab ibumu." Reyshard menatap peta itu, matanya menyipit. "Apa itu?" Ansel menunjuk sebuah lokasi terpencil di pedalaman hutan Kalimantan. "Ini disebut 'Pusat Denyut Dimensi'. Konon, di sanalah Segel Utama Arkava yang sebenarnya bersemayam. Tersembunyi, terlindungi, dan menunggu pewaris sejati untuk membukanya... atau menguncinya selamanya." Detik itu juga, sebuah lonceng tua di puncak menara gereja di kejauhan berdentang tiga kali. Suaranya bergema di udara, membawa pesan yang lebih dari sekadar penanda waktu. Itu adalah lonceng yang hanya berdentang pada saat-saat penting, saat perubahan besar akan terjadi di alam raya. Reyshard dan Ansel saling pandang. Mereka tahu, waktu mereka tidak banyak. Nayaka dan pasukannya sedang bergerak. Dan takdir, dengan segala kompleksitasnya, telah memilih mereka sebagai bidak utama dalam permainan yang tak terduga ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD