Arwah dari Ruang VIP
Aroma dupa cendana menggantung di udara, menyatu dengan bau alkohol mahal yang tumpah di meja kaca. Musik lounge berdentum pelan, tapi telinga Ansel Ardhanata menangkap sesuatu yang lain. Bukan dari dunia ini. Bukan dari speaker di sudut ruangan. Tapi dari dinding.
"Dia belum pergi... masih di sini... panas... terbakar..."
Langkah Ansel terhenti di depan Ruang VIP nomor 3. Ruangan itu baru saja dikosongkan. Tamu sebelumnya keluar tergesa-gesa, katanya pusing, katanya sesak. Tapi Ansel tahu. Ada yang tertinggal di dalam.
Ia menyelipkan tangannya ke dalam saku hoodie hitamnya dan menggenggam gelang kayu cendana miliknya. Getaran halus menyambutnya. Tanda pasti: roh gentayangan.
Dengan napas pelan, Ansel membuka pintu.
Ruang VIP itu remang. Lampu gantung kristal bergetar samar, padahal tidak ada angin. Sofa beludru merah tampak masih hangat diduduki, dan di atas meja kaca ada sisa wine yang tumpah. Tapi itu bukan yang membuat Ansel terpaku.
Di pojok ruangan, melayang tanpa kaki, adalah sosok wanita dengan wajah hangus. Rambutnya terurai seperti benang-benang terbakar, matanya kosong, bolong, dan dari bibirnya yang mengelupas, suara lirih terdengar lagi.
"Panas... tolong... dia membakarku..."
"Tenang... Aku dengar kamu," bisik Ansel pelan. Ia berjalan perlahan, duduk di sofa yang paling jauh dari sosok itu, dan meletakkan setangkai bunga kenanga dari dalam tas kecilnya ke meja. "Kau tidak sendiri lagi. Aku akan bantu. Tapi katakan namamu."
Sosok itu perlahan mendekat. Suhu ruangan merosot drastis, dan kaca meja mulai membentuk embun meski di luar cuaca panas.
"Nama... nama... aku lupa... tapi dia... dia yang membakarku... karena aku tahu rahasianya..."
Tiba-tiba, roh itu menoleh cepat ke pintu, lalu menghilang secepat kilat.
"Ansel!"
Suara keras dari belakang membuat Ansel berdiri cepat. Seorang manajer tempat itu masuk dengan ekspresi panik. "Maaf, klien penting mau pakai ruangan ini. Kamu bisa selesaikan ritualmu di tempat lain?"
Ansel menatap kosong ke arah tempat roh tadi melayang. Masih terasa panas dan dingin sekaligus di kulitnya. Tapi ia tahu, roh itu tak akan pergi jauh. Tidak sebelum menyampaikan pesannya.
"Sudah selesai," ujar Ansel akhirnya. Ia mengambil bunga kenanga yang belum sempat terbakar dan memasukkannya kembali ke dalam tas kecil. "Tapi saran saya... jangan biarkan siapapun sendirian di sini malam ini."
Manajer itu mengangguk cepat, tak benar-benar mendengar. Ia buru-buru pergi, dan tak lama kemudian, pintu Ruang VIP terbuka lagi.
Yang masuk adalah pria jangkung dengan jas hitam, rambut disisir rapi, dan sorot mata tajam seperti elang. Ansel sempat menatapnya beberapa detik, dan tubuhnya langsung bereaksi.
Dada Ansel sesak. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut... tapi karena tubuh spiritualnya mengenali energi itu. Pria ini membawa sesuatu. Bukan roh, bukan makhluk, tapi... lubang.
Lubang gelap di aura pria itu, seperti portal yang belum tertutup. Ansel tidak pernah salah soal hal-hal begini.
Pria itu—yang ternyata adalah Reyshard Mahendra, bos mafia muda yang namanya sering muncul di berita kriminal, duduk di sofa tanpa berkata-kata. Tapi saat mata mereka bertemu, Ansel tahu: hidupnya baru saja berubah.
Karena pria itu... bukan dari alam biasa.
---
Ansel pulang malam itu dengan kepala berat. Bukan karena kelelahan, tapi karena rasa penasaran yang menusuk. Seumur hidupnya, ia sudah bertemu dengan ratusan entitas gaib. Tapi pria itu... sesuatu yang berbeda.
Sesampainya di apartemen kecilnya di daerah Kemang, Ansel langsung menyalakan dupa dan duduk bersila di ruang tamu. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata. Tangannya bergerak lambat membentuk mudra pemanggil penjaga gaib.
"Tunjukkan padaku... apa yang bersembunyi di balik sosok itu."
Asap dupa mulai membentuk pusaran. Suara lirih bergema, datang dari balik tirai antara alam. Sosok bayangan berdiri di depan Ansel, samar tapi kuat. Ia mengenalinya—penjaga yang biasa muncul saat dirinya dalam bahaya.
"Jangan terlalu dekat dengannya," bisik suara itu. "Dia bukan milik dunia ini sepenuhnya."
"Maksudmu Reyshard Mahendra?" tanya Ansel.
Bayangan itu mengangguk. "Dia pernah berurusan dengan sesuatu yang seharusnya tidak disentuh manusia. Dan kini, itu menempel padanya. Menunggu. Menggeliat."
"Kutukan?"
"Lebih dari itu. Ikatan."
Ansel membuka mata. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Dalam dunia spiritual, ikatan berarti kontrak. Dan tidak ada kontrak gaib yang bisa terjadi tanpa darah sebagai tumbalnya.
Ia berdiri, meraih ponselnya. Dalam pesan terakhir yang masuk, tertulis satu baris:
“Saya butuh bicara. Datanglah ke vila saya malam ini.”
Pengirimnya: Reyshard Mahendra.
Ansel menatap layar itu lama, sebelum akhirnya menjawab:
“Saya datang. Tapi jangan bohong pada saya lagi.”
Dan dalam hatinya, suara lirih yang tadi muncul di lounge kembali berbisik.
"Dia membakarku... karena aku tahu rahasianya..."
Malam itu, Ansel bersiap menuju kedalaman yang belum pernah ia jelajahi. Dan ia tahu, pintu dunia ini sudah mulai terbuka... sedikit demi sedikit.
---
(Bab 2 akan melanjutkan kedatangan Ansel ke vila Reyshard dan awal dari ikatan antara mereka.)