Jalan menuju vila Reyshard Mahendra sunyi dan diselimuti kabut tipis. Tak ada rumah lain dalam radius satu kilometer. Ansel memandangi gerbang besi hitam dengan simbol tak dikenal yang terpahat di bagian tengah. Sekilas mirip simbol kuno dari Tibet, tapi lebih gelap… dan terasa salah.
Sopir pribadi Reyshard—seorang pria tua berwajah kaku—membuka pintu = membisu.
Saat masuk ke dalam bangunan utama, udara menjadi lebih berat. Interior vila mewah itu bercampur antara modern dan gothic. Dinding bata merah, lukisan-lukisan tua penuh simbol, dan patung-patung kecil yang seolah mengawasi setiap langkah Ansel.
Di tengah ruangan, duduklah Reyshard Mahendra dengan setelan kasual—kaos hitam dan celana training mahal—tapi aura di sekitarnya tetap menakutkan. Ada segelas teh di hadapannya, tak tersentuh.
“Terima kasih sudah datang,” katanya tenang. “Saya tak biasa mengundang orang ke tempat ini.”
Ansel mendekat, duduk tanpa diminta. Ia menatap lurus, tak tergoda oleh kemewahan vila itu. “Langsung saja. Apa yang sebenarnya kau alami?”
Reyshard tertawa kecil, dingin. “Kau bisa melihat... hal yang tak terlihat, ya?”
“Bukan hanya melihat. Aku berbicara dengan mereka. Aku mengusir, dan kadang... aku mengantar mereka pulang.”
Reyshard mengangguk pelan, lalu berdiri. Ia berjalan ke rak buku besar, menarik satu buku hitam dengan segel lilin merah yang tampaknya belum pernah dibuka. Ia meletakkannya di meja.
“Aku ingin kau membuka ini,” katanya.
Ansel menatap buku itu. Jari-jarinya bahkan belum menyentuh, tapi seluruh tubuhnya bereaksi. Dinginnya menembus tulang. Ia menarik napas dalam, lalu menyentuh segel tersebut. Seketika, ruangan berguncang ringan, dan terdengar bisikan—tidak dari luar, tapi langsung di dalam pikirannya.
*“Kau terlalu cepat… terlalu cepat… darahnya belum kering…”*
Ansel mundur sejenak. “Kau mendapatkan ini dari mana?”
“Dulu aku pernah hampir mati. Tapi ada seseorang yang ‘menolong’—dengan syarat aku menyimpan dan menjaga ini. Sejak itu... aku tak pernah sama lagi.”
“Siapa dia?”
Reyshard menatap kosong. “Aku tak pernah lihat wajahnya. Tapi dia bilang aku akan jadi lebih dari manusia biasa. Nyatanya, setiap malam aku dikunjungi oleh... hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.”
Ansel membuka buku itu perlahan. Isinya bukan tulisan biasa. Simbol-simbol kuno, diagram tubuh manusia dengan jalur energi, dan gambar-gambar makhluk yang tak pernah ada dalam buku pelajaran manapun.
Saat matanya menyusuri halaman ketiga belas, tiba-tiba lampu di seluruh vila padam.
Gelap total.
“Ini biasa terjadi,” kata Reyshard datar, “setiap kali buku itu dibuka.”
Tiba-tiba, suara berat terdengar dari arah dapur. Seperti seseorang—atau **sesuatu**—berjalan dengan kaki menyeret.
Ansel berdiri cepat. Ia mengeluarkan sebutir batu giok dari kalung di lehernya dan menggenggam erat.
“Sembunyi di balikku. Jangan lakukan apapun,” katanya pada Reyshard.
Bayangan itu mendekat. Sosok tinggi besar dengan kepala menyerupai tanduk rusa dan tubuh berlumur darah. Matanya kosong, dan tangannya... membawa potongan lengan manusia.
Reyshard tampak shock untuk pertama kalinya. “Itu... bukan salah satu dari yang biasa datang.”
Ansel tak menjawab. Dalam kepalanya, ia berseru memanggil pelindungnya.
“Wahyu, pelindung arah barat, aku butuh cahaya!”
Tiba-tiba batu giok itu menyala. Sosok rusa darah meraung keras dan menghilang, seolah terbakar dari dalam. Cahaya dari batu giok menyebar ke seluruh ruangan. Listrik kembali menyala.
Reyshard terduduk. Keringat mengalir di dahinya.
“Kau benar,” bisiknya. “Aku sudah membuka sesuatu yang tak bisa kututup.”
Ansel duduk kembali. “Kalau kau ingin hidup, kau harus ikut aturanku. Kau tidak boleh menyentuh buku itu tanpa aku. Dan yang paling penting, jangan pernah bicara dengan ‘sosok’ itu lagi—siapapun dia.”
Reyshard menatapnya. Tatapan yang berbeda kali ini. Bukan sekadar terima kasih. Tapi... ketertarikan.
“Kau... berbeda, ya?”
Ansel menatapnya kembali. “Tentu. Aku bukan dari alam biasa.”
Dan malam itu, ikatan aneh mulai terjalin antara dua jiwa dari dunia yang sangat berbeda. Dunia mafia... dan dunia arwah.
---
(Bab 3 akan melanjutkan konflik internal Reyshard, rahasia masa kecilnya, dan kedekatannya dengan Ansel yang mulai terasa menegangkan sekaligus intim.)