4. Pembicaraan yang Mengejutkan

1347 Words
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Mini, Esa justru terkekeh pelan. Kini ia menatap Mini lagi. "Kamu mikir terlalu jauh Ky. Aku gak nyangka kamu udah mikirin sampe kita nikah aja." Mini mengerjapkan mata, lalu menatap Esa lagi. "Kamu jangan mikir kejauhan. Masalah itu, bisa kita atur nanti. Karena pada akhirnya kita yang akan memutuskan." Esa tersenyum tipis. "Kita jalani dulu aja Ky, gimana? Kita bisa kayak pasangan lain yang kencan atau—apapun mau kamu. Kita gak usah pikirin nikah dan mikir kejauhan gitu." "Tapi—tetap saja kan, akhirnya kita harus menikah?" Esa menghela nafas panjang, ia menatap Mini tepat dibola matanya yang terlihat berwarna coklat terang. "Kita jalani dulu aja Ky, bisa kan? Setelah dua tahun, kalo emang kamu gak ada perasaan spesial buat aku, yaudah. Aku bakalan berusaha ngobrol ke orangtua kita. Kalo kita gak cocok. Dua tahun ini, kita coba jalanin aja dulu. Anggap aja ini tahap perkenalan kita." Mini akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang. Berbicara dengan Esa seperti ini memang tak akan pernah berhasil. Esa sangat penurut, tentu saja dia akan mengikuti semua ucapan orangtuanya daripada membantah. Satu-satunya cara, ia akan berusaha berbicara dengan orangtuanya nanti. Ia hanya bisa berharap bahwa orangtuanya akan mendengarnya dan membatalkan rencana mereka itu. "Gimana Ky ujiannya kemaren?" "Gak gimana-gimana." "Besok aku ajak maen, mau? Hitung-hitung refreshing. Sekalian hilangin pikiran mumet kita gara-gara ini." Mini sedikit berpikir, sebenarnya ia malas jika harus keluar bersama penyebab kerumitannya ini. Tapi, dirumahpun yang ada ia mungkin akan semakin pusing. "Kemana?" "Villa keluarga. Kalo kamu mau, next time kita liburan keluar kota." Mini mendesis. "Aku pikir keluar negeri." "Kalo kejauhan yang ada kita di nikahin hari itu juga Ky." Esa terkekeh pelan. "Udah ah, nanti kamu makin bad mood." Setelah mengatakan itu Esa berdiri kemudian menatap arloji ditangan kirinya. "Ayo kita pulang." "Sa—." "Hm?" "Besok-besok jangan pake sopir kalo jalan sama gue. Rasanya canggung banget. Gak enak harus jaga image terus. Gue nya juga gak biasa banget harus selalu aku-kamu-an." Esa tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan. "Yaudah ayo. Nanti aku disangkain culik kamu, malem-malem begini kamu belum aku pulangin." Mini memutar bola matanya. "Mana ada calon suami culik calon istrinya sendiri. Aneh lo." Esa mengulum senyumannya. Perasaan hangat itu terus mengisi ruang-ruang dalam dadanya, terasa semakin hangat dan semakin nyaman. Apalagi Mini menyebutnya calon suami? Apa dia sudah hampir menerima kenyataan atau hanya iseng saja? Ia menggeleng pelan. Tidak usah berharap banyak Esa. Batin Esa mengingatkan dirinya sendiri. Selama perjalanan pulang menuju rumah Mini, mereka tidak secanggung sebelumnya. Suasana tampak lebih cair lagi. Mini bahkan kini sudah memiliki kontak Esa meskipun sebelumnya mereka ada di kelas yang sama tapi Mini ini anti Esa. Ingatkan? Seberapa tidak sukanya Mini pada sosok pangeran manja ini? Jadilah jangankan menyimpan kontak itu, jika harus menghubungipun lebih baik tidak. Jika ada tugaspun cukup berbicara sedikit setelah itu bekerja masing-masing dan selesai. Tak lama kemudian kendaraan yang mereka tumpangi sampai di halaman rumah Mini. Tak seperti sebelumnya yang hanya sampai gerbang, kali ini Esa mengantar Mini hingga kehalaman rumah gadis itu. Ia bahkan menyempatkan diri untuk turun, mengantar gadis itu hingga didepan pintu rumah. "Besok aku jemput jam sembilan pagi." Mini mengangguk. "Yaudah balik sana." Esa tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Langsung tidur ya. Udah malem." Mini sedikit mendengus. Ia tak suka mendengar kalimat-kalimat roman picisan seperti itu. Entah karena memang tak pernah ada yang memperlakukannya seperti itu atau karena apa. Tapi, Mini geli sendiri mendengar ucapan Esa itu. "Gak pulang juga. Masih ada yang mau di omongin?" tanya Mini begitu melihat Esa yang hanya diam seraya menatapnya. Esa menggeleng pelan seraya tersenyum. Sejujurnya ia hanya masih takjub dapat melihat Mini sedekat ini. Padahal sebelumnya ia sama sekali tak pernah membayangkan akan sedekat ini dengan gadis ini. Tangan Esa tanpa sadar terangkat mengusak puncak kepala Mini kemudian mengelus bahunya perlahan. "Jangan terlalu dipikirin ya—inget kata aku tadi." Mini belum memberikan respon apapun begitu ia menerima perlakuan itu dari Esa. Ia tak menduga Esa akan berani menyentuhnya seperti itu. Tidak, Mini tidak menganggapnya kurang ajar. Ia justru merasa takjup. Ia tak menduga akan mendapatkan perlakuan seperti itu. "Aku pulang sekarang. Sampai jumpa besok Ky. Salam buat Mama, Papa dan Reza ya." Pamit Esa saat tak menerima respon apapun dari Mini. Setelah itu ia beranjak memasuki mobilnya kembali. Meninggalkan Mini yang masih menatapnya dalam diam didepan pintu. Mini menghembuskan nafasnya yang serasa tertahan dengan sangat pelan. Setelah itu ia memasuki kediamannya dengan langkah gontai. Perasaan Mini belum bisa dikatakan membaik sepenuhnya, meskipun Esa telah berusaha membuatnya lebih baik namun dalam lubuk harinya masih ada perasaan tak nyaman yang menyelimutinya. "Darimana Min? Kok baru sampai?" Mini menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Ibunya. Ia berbalik menghadap keruang keluarga. "Ketaman dulu sebentar." "Sebentar tapi Mama duluan sampe rumahnya?" "Banyak yang harus Mini bicarakan dengan Esa. Gimanapun Mini terkejut, Esa juga. Ma, kami tidak akrab sama sekali. Meskipun kami satu kelas kami bahkan tak pernah bertegur sapa layaknya teman. Mama bisa tanya pada Reza gimana Mini sama Esa di sekolah. Jadi Mini dan Esa berbicara sebentar." "Kalian gak macem-macemkan?" tanya Renata dengan penuh selidik. "Kami melakukan sesuatupun, toh akan menikah juga kan?" Mini bertanya balik pada Renata dengan nada yang mulai jengkel. Emosinya sedang tidak stabil, pikirannya sedang kacau. Setelah berita yang orangtuanya berikan, bisa-bisanya Ibunya masih menuduh seperti itu? "Kalau begitu, kenapa kalian tidak menikah saja setelah kelulusan?" "Ma Mini masih muda." Renata menghela nafas panjang, tak ada gunanya menanggapi ucapan anaknya jika sedang seperti ini. Salahnya juga yang terlalu khawatir. Seharusnya ia tidak melontarkan pertanyaan seperti itu pada puterinya. "Mama sedang tak ingin berdebat Min. Sudah malam, tidurlah." "Ma..." "Kenapa Mama merencanakan hal kayak gini tanpa bicara pada Mini Ma?" tanya Mini dengan suara yang memelas, lelah. "Mini bahkan belum lulus. Mini juga harus kuliah dan jadi Dokter dulu. Mini gak mau mikirin yang kayak gini." Renata mendekati puterinya, ia memegang kedua bahu puterinya itu yang masih terbalut jas. "Mini, dengerin Mama. Ini permintaan mendiang Kakek dan Nenek kamu. Orangtuanya Papa kamu sendiri." Ia menjeda ucapannya. "Kamu mau bantah? Ini wasiat sayang." "Tapi Ma, kenapa harus Mini?" bersamaan dengan pertanyaan itu air mata Mini meluruh untuk pertama kalinya. Setelah ditahan dan mencoba untuk tidak dikeluarkan akhirnya tangisan itu pecah. Kekesalannya membuncah, bebannya terasa meluap bersamaan dengan air mata yang kian deras berurai. "Mini gak mau Ma—Mini gak mau." Renata meraih puteri sulungnya itu dalam dekapannya. Ia mengelus kepala sang puteri sesekali mengelus punggung bergetar puterinya itu. Sebenarnya ia tak tega melihat sang puteri menderita seperti ini. Namun bagaimana lagi? Ini wasiat dan ini demi masa depan puterinya sendiri. Ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk puterinya itu. "Jalani dulu aja Min, bagaimana? Mama—suka dengan Esa. Mama merasa Esa akan cocok denganmu. Bunda Viona juga menyukaimu sayang—Bunda Vio bilang, dia sangat menyukaimu. Bukankah Esa juga sebenarnya menyukaimu sayang?" "Ma--." Esa melepas pelukan Renata, ia menatap Ibunya itu dengan tatapan memelas. "Mini ingin—Mini bermimpi ingin memiliki pasangan yang Mini cintai." "Maka, cobalah cintai Esa," "Ma--." Renata tersenyum, ia mengelus rambut Mini seraya menatap puteri cantiknya itu. "Percayalah sayang—dicintai akan terasa lebih istimewa daripada mencintai. Saat kamu mencintai, kamu akan kesulitan, kamu akan selalu merasa khawatir, kamu juga akan lelah. Berbeda dengan saat kau dicintai, kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan darinya, kau juga tak akan lelah." "Sayang... Sulit, mencari lelaki yang mencintaimu. Apalagi yang mencintaimu dengan tulus dan apa adanya. Seperti Esa. Dia jelas menyukaimu dan bisa saja dia memang sudah mencintaimu." "Selain itu Esa baik Mini, Esa juga terpelajar dan memiliki pendidikan yang sangat bagus dari keluarganya. Dia akan memperlakukanmu dengan baik, dia tak akan menyakitimu dan melukaimu." Renata menyeka air mata yang masih mengalir dari sudut mata Mini. Puteri kesayangannya ini tidak cengeng, bahkan saat terluka dia jarang menangis. Tapi jika tangisannya sudah tumpah seperti ini, artinya dia sudah sangat lelah, dia bingung dan tak bisa menahan semua perasaannya lagi. Sama seperti dirinya. "Sekarang masuklah ke kamarmu kemudian istirahat. Kamu pasti sangat lelah kan?" Mini mengangguk. "Mini istirahat sekarang Ma." "Mini--." "Iya Ma?" "Pikirkan lagi, pertimbangkan lagi ucapan Mama. Ya?" Mini menarik nafasnya dengan panjang kemudian sedikit menarik sudut bibirnya lalu mengangguk kecil. "Selamat malam Ma." Renata membalas senyuman puterinya itu, "Selamat malam juga sayang. Mimpi yang indah." Mini mengangguk lagi setelah itu berlalu menuju kamar pribadinya. Dalam hati, Mini berharap jika semua yang diucapkan Ibunya itu benar. Ia juga berharap kebahagiaan benar-benar akan datang untuknya suatu hari nanti. Namun tetap saja—harapan untuk memiliki pasangan yang ia cintai masih bersarang dalam hati terdalamnya. Mini menarik nafasnya dalam, mencoba melonggarkan dadanya yang masih terasa sesak. *** Bersambung... ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD