"Kenapa Mama merencanakan hal kayak gini tanpa bicara pada Mini Ma?" tanya Mini dengan suara yang memelas, lelah. "Mini bahkan belum lulus. Mini juga harus kuliah dan jadi Dokter dulu. Mini gak mau mikirin yang kayak gini."
Renata mendekati puterinya, ia memegang kedua bahu puterinya itu yang masih terbalut jas. "Mini, dengerin Mama. Ini permintaan mendiang Kakek dan Nenek kamu. Orangtuanya Papa kamu sendiri." Ia menjeda ucapannya. "Kamu mau bantah? Ini wasiat sayang."
"Tapi Ma, kenapa harus Mini?" bersamaan dengan pertanyaan itu air mata Mini meluruh untuk pertama kalinya. Setelah ditahan dan mencoba untuk tidak dikeluarkan akhirnya tangisan itu pecah. Kekesalannya membuncah, bebannya terasa meluap bersamaan dengan air mata yang kian deras berurai. "Mini gak mau Ma—Mini gak mau."
***
Empat jam yang lalu...
Setelah makan malam bersama barulah mereka mengobrol ringan, mulai dari aktivitas mereka semua sehari-hari dan berbagai hal sebagai proses mengawali perbincangan. Setelah itu barulah berbincang ke acara yang menjadi tujuan mereka.
"Maksud kami mempertemukan kalian adalah untuk memberitahukan bahwa kalian akan kami jodohkan. Esa dan Mini, kalian akan menjadi pasangan nanti."
"Nenek sudah menunggu saat-saat ini sejak lama. Tak sabar mengabari kalian. Nenek harap kalian benar-benar berjodoh. Nenek juga berharap setelah ini kalian menjalin hubungan dengan baik layaknya pasangan. Bagaimanapun kalian harus membiasakan diri untuk bersama."
"Sekarang aku tak sabar melihat mereka menikah." Lanjut ujaran sang Nenek.
Mini hampir menangis saat mendengar pernyataan dari pasangan yang terlihat paling tua disana. Mini tak pernah merasa emosinya seperti ini, dadanya bergemuruh ingin berkata tapi tak bisa, ingin berteriak tapi tak mungkin, emosinya tertahan, bantahan yang hampir ia keluarkan tertelan kembali, sehingga akhirnya ia hanya bisa menunduk dan mengepalkan kedua tangan yang berada diatas kedua pahanya. Ia tak suka seperti ini, Posisi dimana ia tak bisa membantah sementara dalam hatinya ingin berteriak. Ia tak suka harus menyimpannya sendiri. Ia tak suka harus menahannya. Sementara biasanya ia mengatakan apapun yang berada dalam pikirannya. Namun dihadapan keluarga itu, ia tak bisa. Ia justru merasakan intimidasi. Ia merasa sulit mengatakan apapun dihadapan mereka. Bahkan untuk menggelengpun tak bisa, ia hanya bisa mengangguk kecil dan berkata 'iya' sebagai jawaban.
"Nikmati waktu perkenalan kalian ya. Kakek rasa dua tahun cukup. Setelah itu kalian akan bertunangan sebelum menikah."
Mini menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak mengatakan apapun saat kalimat itu terdengar ditelinganya. Ia bisa apa sekarang? Membantahpun bukan ide baik, yang ada ia akan mempermalukan kedua orang tuanya saja. Ia tak ingin mereka malu karenanya.
"Mini--."
"Ah—iya Ma?" akhirnya Mini mendongak menatap sang Ibu dengan penampilan yang mungkin sudah sangat kacau. Renata bahkan kini mengelus puncak kepala sang puteri dengan pelan.
"Ma—Mini ketoilet dulu." Pamit Mini seraya berdiri, ia berpamitan pada orang-orang disana kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Mini pasti terkejut ya?" tanya Viona begitu melihat punggung sempit gadis itu menghilang dibalik pintu. Ia melirik puteranya yang juga masih diam, dia menunduk juga dan sesekali menghembuskan nafasnya berat.
Setelah itu Viona menatap Esa, namun kemudian ia mengerutkan keningnya, melihat putera kesayangannya yang terlihat sangat tertekan. Bukankah seharusnya dia bahagia? Esa menyukai orang yang tepat. Ia menyukai gadis yang akan dijodohkan dengannya. Tapi kenapa justru terlihat sedih dan kebingungan?
"Sa--."
"Mereka pasti sama-sama terkejut. Esa juga. Benarkan?"
Esa tersenyum canggung kemudian mengangguk. "Kami teman satu kelas, tapi kami tidak begitu akrab. Kami—mungkin akan sangat canggung nanti."
Rangga terkekeh pelan. "Mana ada Mini canggung? Kalian pasti akan cepat akrab. Dia diem awalnya aja. Lama-lama akrab kok."
Esa tersenyum lagi. Cepat akrab bagaimana? Mereka selama tiga tahun selalu satu kelas, tapi tidak mengubah apapun. Mereka tetap seperti orang asing yang baru saling kenal.
"Mini memang agak tomboy Sa, mohon dimaklum ya. Dia juga terkadang ceplas-ceplos. Selalu mengutarakan apa yang dia pikirkan, bahkan tanpa di saring terlebih dulu. Mungkin dia membuatmu tidak nyaman nanti."
Esa tersenyum lagi. Ia bahkan sudah menerima banyak komentar pedas dari Mini. Seharusnya ia tidak terkejut lagi menengarnya dimasa depankan?
"Iya—Ma, Esa mengerti. Esa udah kenal kok sama sifat Mini yang itu."
"Za, susulin Kakak kamu gih. Kenapa lama banget ke toilet-nya." Ujar Rangga pada Reza yang sedari tadi hanya sibuk menyimak.
"Biar Esa saja, Pa." ujar Esa, setelah itu ia berdiri. Kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu setelah mendapatkan persetujuan.
Esa dan Mini memang telah memanggil orang tua masing-masing dengan panggilan akrab seperti itu. Orangtua mereka yang meminta keduanya memanggil begitu, jadilah meskipun sangat canggung tapi Esa harus mengikutinya.
Sementara itu Mini hanya memandangi dirinya melalui cermin yang berada di depan wastafel. Sekilas ia terlihat biasa saja, ia bahkan bisa terlihat baik-baik saja namun sebenarnya wajahnya sangat kacau sama dengan hati dan perasaannya.
Dalam benaknya selalu bertanya. Kenapa harus Esa? Kenapa harus seseorang yang tidak ia sukai? Kenapa harus dia? Padahal Esa benar-benar kebalikan dari semua kriteria tipe ideal yang selama ini ia harapkan. Benar-benar jauh dari harapannya.
Mini menggigit bibirnya lagi seraya memejamkan matanya.
Apakah ini akhir dari perjalanan cintanya? Apakah ia tidak akan diberi kesempatan untuk mendapatkan cinta pertamanya?
Sulit. Semua yang ia harapkan akan sangat sulit.
Terlebih pembicaraan mereka tadi sampai membahas tentang pernikahan yang selambat-lambatnya akan digelar tiga tahun yang akan datang. Tepatnya saat ia menjelang usia 21 tahun.
Demi tuhan. 21 tahun itu seharusnya menjadi masa kejayaannya, masa-masa kebebasannya. Tapi kenapa ia harus terjerat dalam suatu hubungan seserius itu? Terlebih dengan Esa.
Esa yang tak pernah sedikitpun hadir dalam benaknya untuk ia jadikan pasangan. Jangankan membayangkannya, menduganya saja ia tak pernah sama sekali.
Mini mencuci tangannya kemudian merapihkan penampilannya sebelum akhirnya ia keluar dari dalam toilet itu. Ia harus bersiap-siap mengontrol wajahnya lagi agar tidak terlihat kusam, ia tak ingin ketidaksukaannya terlalu nampak dan membuat oranglain curiga karena bagaimanapun nama orantuanya yang dipertaruhkan disini. Jika bukan karena nama baik orangtuanya, ia sudah melarikan diri dari tempat ini.
"Ky--."
Mini mendongak saat merasa seseorang memanggilnya. Dia Esa yang kini berjalan kearahnya. "Yang lain sudah menunggu. Ayo--."
"Apa masih ada yang mau mereka sampaikan?" tanya Mini.
Saat Esa hendak menjawab Mini kembali berujar.
"Sa—gue mau pulang." Ujarnya dengan jujur. Sebenarnya ia memang tak tahan jika harus kembali. Beruntung ada Esa yang datang, jika kabur bersama pemuda itu mungkin tak akan membuahkan masalah kan?
"Bentar ya—aku ijin dulu."
Mini memutar bola matanya, kesal. Harus ya ijin dulu?
Esa terlihat mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, kemudian terlibat beberapa percakapan yang tidak Mini dengar. Masa bodo dengan yang mereka bicarakan, yang jelas ia ingin pergi dari tempat ini, ia ingin melarikan diri dan menghilang untuk sekarang. Ia perlu untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Ayo." Ajak Esa. "Kita pulang."
Kita. Batin Mini. Sungguh ia tak pernah terpikirkan sedikitpun akan ada kata kita diantara dirinya dan Esa. Sehingga jujur saja ia merasa sangat asing mendengarnya.
Mini berjalan satu langkah di belakang Esa. Ia menatap punggung itu, punggung yang cukup lebar dan terlihat kokoh layaknya punggung anggota keluarga Dirgantara yang lain. Bahkan Viona pun -Ibu Esa- terlihat memiliki bahu tegap yang terlihat sangat percaya diri dan tangguh.
Begitu sampai didepan mobil yang tadi sore mengantarkannya pulang, Esa membukakan pintu untuknya. Kemudian pemuda itu masuk setelah Mini duduk disudut kursi penumpang.
Suasana canggung meliputi kendaraan itu kembali. Esa yang nampak bingung melihat keadaan Mini, sementara Mini hanya terdiam menghadap kearah jendela, menatap pemandangan malam ibu kota yang nampak masih penuh dengan kendaraan.
Mini menarik nafas berat. Kemudian memejamkan matanya. Esa yang melihat hal itu hanya dapat menghembuskan nafasnya pelan. Ia bingung harus melakukan hal seperti apa. Ia bingung menghadapi keadaan asing ini. Ingin sekali Esa mengatakan sesuatu, bahkan banyak hal. Namun ia takut salah berbicara atau bahkan menyakiti perasaan gadis di sampingnya itu.
Esa masih menatap Mini yang kini tengah memeluk dirinya sendiri. Mungkin dia kedinginan? Pikir Esa. Pasalnya Mini kali ini hanya mengenakan dress tanpa lengan yang tentu saja akan membuat gadis itu kedinginan, atau mungkin tak nyaman? Karena selama ini setaunya, gadis itu hampir tak pernah mengenakan pakaian yang mengekspos tubuhnya.
Esa melepaskan jas yang ia kenakan kemudian ia gunakan untuk menutupi bagian atas tubuh Mini. Gadis itu membuka matanya pelan, lalu menghadap pemuda disampingnya. "Tidak perlu--."
Esa sedikit menggelengkan kepala. "Pakai saja."
Mini menghela nafas lagi kemudian setelah itu ia kenakan jas yang diberikan Esa. Ia kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya menatap kearah jendela lagi. Langit gelap yang tampak kelam seolah menjadi saksi betapa tertekannya dan kelamnya pikiran Mini kali ini. Ia semakin kalut dan juga semakin bingung. Entah kenapa dadanya pun semakin sesak seiring dengan pikiran-pikiran buruk tentang masa depannya.
Apakah ia akan benar-benar menikah dengan Esa nanti? Lalu, setelah ini haruskah mereka layaknya pasangan yang berkencan pada umumnya? Kemudian, bagaimana caranya ia harus bersikap pada Esa? Entahlah, ia hanya tak ingin membuat keluarganya tampak buruk.
Mini berbalik pada Esa saat kendaraan yang membawa mereka berhenti disebuah taman yang cukup ramai. Namun yang ditatap segera keluar begitu kendaraan terparkir sempurna. Beberapa saat kemudian pintu disebelahnya terbuka. Ia menatap Esa yang kini menatapnya dengan lembut.
"Ayo keluar."
"Aku ingin pulang."
"Sebentar aja." Esa mengulurkan tangannya pada Mini.
Mini menghela nafas panjang kemudian meraih tangan itu. Andai tak ada sopir diantara mereka. Ia tak akan mau meraih tangan itu. Tapi, sekali lagi ia tak ingin membuat nama keluarganya buruk. Bagaimanapun ia harus hati-hati. Ia tak tau sopir Esa seperti apa, bisa saja dia melaporkannya pada keluarga Dirgantara kan jika ia berbuat buruk pada Esa? Secara Esa adalah putera mahkota keluarga Dirgantara, mereka pasti sangat megawasi Esa.
Setelah cukup jauh dari jangkauan sang sopir barulah Mini menarik tangannya dari genggaman Esa. Kemudian ia menghentikan langkahnya, lalu menghadap Esa.
"Ada apa?" tanya Mini. Ia menatap mata Esa yang tampak teduh dan juga sangat lembut. Entahlah, ia tak tau Esa memang seperti itu atau bagaimana, karena yang jelas adalah tatapan itu sedikit mengganggunya.
"Kamu pasti kaget Ky." Ujar Esa.
"Memang." Ucap Mini ia terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar sangat miris, "Lo udah tau semuanya?"
"Enggak, aku juga kaget tadi."
Mini tertawa meremehkan. "Apa gue bisa percaya?"
Esa menghela nafas panjang. "Kalo aku tau yang bakalan dijodohkan Nenek dan Kakek itu kamu, aku tidak perlu susah payah menghindarimu setelah kejadian di UKS itu." Ia memejamkan matanya sesaat lalu menatap Mini lagi. "Aku juga tidak akan berani mengatakan menyukaimu. Karena toh akhirnya kamu sama aku juga kan? Tapi aku tidak begitu, aku pun tidak tau dan aku juga sangat terkejut."
"Terus sekarang gimana?" tanya Mini dengan nada yang sangat pasrah. Ia menatap Esa dengan tatapan lelahnya. "Lo gak bisa batalin ini semua Sa?"
Esa menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya menatap langit malam. "Aku tidak bisa Ky—aku tidak bisa membatalkannya. Karena orangtuaku mungkin akan terkena masalah juga dan akan sangat bersedih--. Selama ini orangtuaku sudah sangat kesulitan membesarkanku, mereka sudah berjuang membesarkanku dan memberikanku tempat yang sangat nyaman dan sangat layak. Mereka telah banyak mengorbankan kebahagiaannya untukku."
Selain karena itu—aku juga ingin selalu berada disampingmu Ky. Kamu tau, aku menyukaimu. Bahkan aku juga merasa mencintaimu. Aku hanya ingin berusaha meluluhkanmu dan membuatmu bertahan disampingku. Maaf Ky aku egois. Tapi, aku yakin perasaan setiap manusia bisa berubah, begitupula perasaanmu. Tidak masalah kalau sekarang kamu membenciku, dimasa depan bisa saja perasaanmu berubah dan mulai membalas perasaanku Ky--. Sekali lagi—maaf, aku egois.
"Tapi—gue gak mau nikah muda. Gue masih banyak nyimpen mimpi yang harus gue capai. Apalagi setelah menikah. Mereka pasti akan mengharapkan cucu. Gue gak mau punya anak di usia muda. Gue gak mau harus berhenti kejar impian gue karena itu."