3. Makan Malam Yang Tidak Biasa (3)

1338 Words
    Begitu waktu telah menunjukkan sore menuju malam hari. Akhirnya Esa memutuskan untuk pulang setelah menonton satu pertandingan hingga babak final. Ia tak menduga saat sampai di parkiran ia justru bertemu dengan Mini. Gadis itu terlihat sedang kebingungan disekitar mobilnya. Ia akhirnya melangkah dengan sedikit ragu untuk mendekati gadis itu setelah ia menarik nafasnya panjang. Menekatkan pada dirinya bahwa ini yang terakhir bercengkrama dengan gadis itu. Ya—setidaknya sebelum ia bertemu dengan calon pasangan seumur hidupnya.   “Kenapa Ky?” Tanya Esa membuat Mini berbalik dengan cepat, mungkin terkejut karena gadis itu terlihat sedikit berjengit.   “Ban kempes.”   “Ohh--, bawa ban cadangan gak?”   “Enggak.”   “Udah telpon bengkel?”   “Udah, mereka lagi kesini.”   Bertepatan dengan itu ponsel Mini bordering. Gadis itu pun segera menjawabnya.   “Iya Ma, Mini mau pulang. Tapi Ban nya bocor. --- Mini gak alesan Ma. Ini beneran. Mini beneran udah diparkiran. --- udah Ma, orang bengkelnya lagi dijalan. --- iya Mini naik taksi. --- hm, yaudah bye Ma.”   “Mau bareng?” tawar Esa begitu Mini mengakhiri panggilannya.   “Gak usah, gue pesen taksi online aja.” Tolak Mini.   Esa menghela nafas lalu mengedikkan bahunya seolah terlihat tidaj peduli. Padahal dalam hati ia berharap Mini menerima tawarannya. Setidaknya, ia berharap mendapatkan satu kesempatan lain untuk bersama dengan Mini. “Terserah sih. Tapi ini jam kantor pulang. Taksi online pasti susah.”   Mini terlihat gusar sambil melihat ponselnya namun berusaha Esa abaikan. Esa justru memilih berjalan kearah mobilnya, saat ia hampir memasuki mobil yang di bukakan oleh sopirnya, sebuah tangan menarik jaket yang ia kenakan. Esa menoleh dan mendapati Mini yang berdiri dibelakangnya.   “Nebeng ya--.”   Esa tersenyum tipis lalu mengangguk. “Masuk.” Ia membiarkan Mini masuk terlebih dulu kemudian ia menyusul masuk dibangku belakang, disamping gadis itu.   Suasana tampak sangat canggung. Benar-benar canggung. Satu sisi Esa menahan diri untuk tidak menoleh pada Mini, sementara Mini hanya diam merasa sedikit sungkan setelah mengatakan alamat rumah pada sopir Esa.   Mini melirik Esa yang kini hanya sibuk dengan ponsel ditangannya. Ia merasa Esa yang ini sedikit berbeda dengan Esa yang lebih dari satu minggu lalu ia tolong. Saat itu ia merasa Esa mungkin bisa menjadi temannya. Apalagi setelah ia mendengar pengakuan pemuda itu. Tapi sepertinya dia lebih memilih menjaga jarak darinya. Mungkin karena pemuda itu akan dijodohkan?   “Gimana kakinya? Sempet ke Dokter?”   Esa melirik Mini sekilas kemudian menatap lurus kearah depannya. “Membaik. Dokter bilang penanganan pertamanya sangat baik. Thanks Ky.”   Mini menaikan satu alisnya. Kenapa ia merasa Esa sangat datar sekarang? Berbeda sekali dengan Esa yang saat itu. Pikirnya. Mini kemudian tersenyum masam. Mencoba memaklumi pemuda itu. Ia sadar, dia benar-benar menghindarinya.   Setelah berkendara hampir setengah jam akhirnya mereka sampai di gerbang depan kediaman keluarga Bagaskara. Mini meminta pada sopir Esa untuk menghentikan mobilnya disana. Bahaya jika sampai masuk. Ia bisa diceramahi selama dua puluh empat jam penuh jika ketahuan diantarkan oleh seorang laki-laki. Orangtuanya, terutama Ibunya, memang masih melarangnya untuk berkencan. Jadilah apabila ia diantarkan laki-laki, pasti ia mendapatkan ceramah panjang lebar tentang ia harus bisa menjaga dirinya. Kecuali jika bersama Aldy yang memang sahabatnya sejak kecil dan merupakan tetangga satu kompleks perumahannya.   “Makasih.” Ucap Mini sebelum keluar dari dalam mobil itu.   Esa mengangguk kecil tanpa ada niatan menjawab ucapan itu. Setelah memastikan gerbang rumah itu terbuka dan Mini masuk, barulah Esa meminta sang Sopir untuk menjalankan kembali mobilnya. Ia hanya merasa bertanggung jawab, untuk melihat Mini memasuki rumah dengan aman. Karena bagaimanapun Mini pulang bersamanya.   Esa menghela nafas panjang lalu menatap gerbang tinggi itu. Sekali lagi, ia tak tau harus merasa senang atau sedih. Senang ia bisa mengantarkan pujaan hatinya itu hingga mengetahui dengan tepat kediamannya. Namun ia tak bisa memungkiri kesedihannya, mengingat kenyataan bahwa ia tak memiliki kesempatan untuk bersama dengan Mini, karena bagaimanapun ia sudah memiliki pasangan yang akan mendampinginya seumur hidup. Pasangan yang telah dipilihkan, pasangan yang bukan pilihannya sendiri.   Miris? Memang.   ***   “Pulang sama siapa Min?” satu pertanyaan dari sang Ibu begitu ia memasuki rumahnya.   Mini melirik Renata yang sedang berdiri di tengah ruangan, seolah sengaja menungguinya disana.   “Taksi online Ma.” Dusta Mini.   “Taksi online jaman sekarang harga mobilnya milyaran ya?” Sindir Renata, sekaligus menangkap kebohongan yang dilakukan puterinya.   “Siapa Min?” desak Renata.   “Temen Ma, kebetulan dia juga nonton jadi aku diajakin pulang bareng pas tau ban mobilku bocor.” Jelas Mini.   “Terus kenapa pake bohong segala tadi. Jujur! Siapa? Pacarmu?”   Mini membulatkan matanya. “Mini gak ada pacar Ma, kan Mama udah larang Mini buat gak pacaran. Masa Mini langgar sih? Enggak kok Ma, Mini gak ada pacar.”   “Ma, udah. Ini udah sore loh. Kita bakalan telat kalo kalian debat terus.” Ujar Rangga yang juga baru saja sampai dirumah. “Sekarang, siap-siap Min. Jangan bantah. Pake semua yang Mama pilih.”   Mini menghela nafas lalu mengangguk begitu sang ayah memberikan ultimatum. “Iya Pa. Mini siap-siap dulu ya.” Pamitnya kemudian berlalu.   “Mas dia tuh tadi dianterin sama laki-laki--.”   “Udah-udah, lebih baik kamu juga siap-siap…”   Mini menutup pintu kamarnya dengan tenang. Lalu menghela nafas lagi. Lega. Beruntung malam mini mereka akan makan malam. Kalau tidak, habislah ia di introgasi seperti itu dan nanti akan diceramahi.   Setelah menyimmpan tas dan membuka jaketnya pandangan Mini terarah pada sebuah gaun yang tergantung di bagian luar lemarinya. Sebuah gaun dengan panjang berkisaran selutut yang berwarna merah muda dan juga tergeletak sebuah kotak dibawahnya. Mini tebak. Itu pasti wedges untuk ia kenakan. Saat membuka kotak itu, benar saja dugaannya. Itu sebuah wedges cantik yang memiliki warna senada dengan gaun yang akan ia kenakan nanti.   Mini hanya dapat menghela nafas pasrah, tanpa ingin banyak membantah lagi akhirnya ia segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, setelahnya ia sedikit mendandani wajahnya dengan make up yang sangat tipis dan sederhana, tak lupa ia juga mengoleskan lipbalm pada bibir tipisnya.   Setelah berdandan sedikit dan menata rambutnya dengan sederhan akhirnya ia menggunakan gaun yang tersedia untuknya. Sangat pas, tentu saja. Pilihan sang Ibu memang tidak pernah salah. Setelah itu ia pun mengenakan wedges yang diberikan oleh Ibunya juga, membiarkan benda paling ia hindari itu membingkai kaki indahnya.     Sebuah ketukan mengintrupsi, diiringi dengan sebuah seruan pelan dari luar sana.   “Min, ayo.”   “Iya Ma, ini aku udah siap kok.” Balas Mini seraya meraih sebuah tas kecil –yang juga telah disiapkan Ibunya- bersama dengan ponselnya.   Begitu Mini keluar dari kamar, Renata tersenyum puas. Ia bahkan beberapa kali mengamati sang puteri dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan senyuman yang masih sama, sangat puas.   “Ma, ayo--.”   Renata tersenyum pada Mini seraya mengelus punggung puterinya itu dengan lembut. Lalu ia merangkul bahu sempit sulungnya itu.   “Ayo.”   Mini mengangguk kemudian keduanya berjalan beriringan menuju arah garasi dimana ayah dan adiknya menunggu. Sebenarnya entah kenapa, Mini merasa sangat aneh. Tapi ia hanya berusaha menepis pikirannya itu dengan berpikir bahwa orangtuanya mungkin sangat bahagia melihatnya tampil seperti gadis pada umumnya.   Mereka berkendara dengan tenang. Rangga yang menyetir, Renata disamping Rangga kemudian Mini dan Reza duduk dibelakang. Sebenarnya Mini merasa sedikit janggal karena adiknya yang hanya diam, tumben sekali. Padahal biasanya dia pasti tidak akan berhenti meledeknya saat ia berpenampilan begini.   “Dek, ngapain sih?” Tanya Mini pada akhirnya. Bosan juga jika adiknya hanya diam begitu.   “Belajar online Kak. Ada ulangan besok.” Jawab Reza seadanya. Hal itu membuat Mini menghela nafas kecewa, pasalnya dirumah juga pasti akan sepi jika adiknya sedang fokus belajar begitu.   Akhirnya Mini pun memutuskan mengotak-atik ponselnya, hingga tanpa terasa mereka telah sampai di parkiran sebuah restoran makanan local yang sangat mewah.   Mini menaikan satu alisnya. “Tumben ngajak makannya disini.”   “Kalo Kakak gak mau yaudah. Diem aja disini.” Ujar Reza seraya keluar dari dalam mobil.   Mini yang sedang tidak dalam mood untuk membalas ucapan adiknya, akhirnya ia hanya keluar dari dalam mobil dengan tenang. Setelah itu mengekori kedua orangtuanya yang berjalan lebih dulu sampai mereka berhenti didepan sebuah pintu lagi yang mengarah pada sebuah private room.   Private room? Tumben banget. Pikir Mini.   Renata hanya tersenyum dengan tenang untuk menanggapi ucapan Mini. Kemudian setelah itu mereka memasuki ruangan tersebut.   “Akhirnya kalian sampai--.”   Mini tertegun saat mendapati beberapa orang lain berada didalam ruangan yang sama. Awalnya ia meyakinkan diri bahwa mereka mungkin salah ruangan, namun saat keluarganya sudah mendekat pada orang-orang itu, ia baru sadar bahwa mereka memang akan makan bersama orang-orang itu. Mini mengamati mereka satu persatu dalam diam hingga pada suatu titik tatapannya bertemu dengan tatapan mata yang sama terkejutnya dengan dirinya.   Kenapa dia ada disini?   “Esa?” Tanya Mini, hanya untuk memastikan bahwa seseorang yang berada dihadapannya ini adalah orang yang sama dengan orang yang ia kenal.   “Ky--.”   Ya—dia Esa. Mahesa. Pangeran manja yang sangat tidak ia sukai.   Tapi tunggu. Sekali lagi ia tanya.   Kenapa dia ada disini? Kenapa keluarga mereka bertemu?   Apa maksudnya?   ***   Bersambung…   ***            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD