Mini duduk tak jauh dari arena pertandingan yang akan ia lihat. Ia sudah memastikan jika Yohan –atlet kesukaannya akan berlaga di lapangan ini. Yohan yang memiliki nama lengkap Yohan Saputra Aditama, dia adalah seorang atlet Taekwondo yang sangat berbakat, bahkan disetiap ada kesempatan pertandingan, pemuda itu selalu memenanginya dan entah kenapa itu selalu berhasil membuat Mini merasa sangat bangga. Yohan, sosok tinggi yang sangat tampan, selain itu Yohan benar-benar sangat menawan dimatanya. Apalagi saat berada di lapangan, dia sosok yang tak pernah gentar akan lawannya. Sangat keren. Benar-benar tipe ideal Mini, sosok pemuda impiannya dimasa depan. Sosok yang mampu menjaga hati dan dirinya secara bersamaan.
Ahh—membayangkannya saja mampu membuat seisi dadanya menghangat, terasa penuh dan seakan bertabur bunga.
Namun beberapa saat kemudian senyuman Mini luntur saat tanpa sengaja melihat Esa yang juga memasuki arena pertandingan, bahkan pemuda itu sekarang duduk disebuah tempat duduk yang disediakan untuk VIP. Beberapa orang datang menghampirinya, memberi salam dan juga membawakan banyak kudapan. Mini mendesis, dimana-dimana dia selalu ya diperlakukan seperti itu. Benar-benar hidup yang tak pernah merasakan rasa susah. Pikirnya.
Mini bergedik, kadang ia berpikir tentang kehidupan seseorang yang terbiasa mewah seperti Esa, apakah dia bisa hidup susah? Atau—perkara menyelesaikan masalah, apakah dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri? Ia tak yakin, karena hidup seperti mereka sudah sangat aman dan nyaman. Itulah kenapa ia tak pernah menyukai sedikitpun tentang laki-laki seperti Esa. Manja, terlalu terbiasa aman dan nyaman.
“Gak nyangka kita bisa ketemu disini.”
Mini mengalihkan pandangan pada sisi kirinya, dimana seorang gadis mungil duduk. Dia Intan. Si tuan Puteri. Ia tersenyum miring kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah lapangan. “Harusnya gue yang gak nyangka ada lo disini kali.”
“Gue sering kok nonton. Lo nya aja kali yang gak tau.”
“Oh. Gitu ya?” gak penting juga sih tau ada lo. Lanjut Mini dalam hati. “Tumben gak bareng si pangeran.”
Intan terkekeh pelan. “Si Pangeran udah ada yang punya.”
“Ahh—jadi lo nyerah?”
“Gak juga sih. Toh selama ini gue cuma temenan sama dia. Cuma ya kalo udah dilarang deket sih yaudah. Mungkin dia nyangka gue suka sama dia kali.”
“Keliatan sih. Lo kan caper banget kalo deket dia.”
Bukannya tersinggung dengan ucapan Mini, Intan justru tertawa kecil. “Keliatan gitu ya?”
Mini mengedikkan bahunya, ia tak peduli juga sih sebenarnya. Hanya sekedar basa-basi saja. Lagipula disana mereka hanya berdua yang saling mengenal. Kemarin sebenarnya Aldy menjanjikan untuk nonton bersama, namun dia tiba-tiba ada kegiatan lain yang lebih penting.
“Lo nonton siapa kesini?” Tanya Intan.
“Nonton Atlet.” Jawab Mini dengan nada yang sedikit datar.
Intan terkekeh pelan. “Yaiyalah liat atlet. Masa iya liatin wasit?”
“Kali aja lo nyangkain mau liat yang duduk di bangku VIP.” Mini melirik Intan yang kini tersenyum masam.
“Lo kali liatin dia. Gue sih baru tau dia ada disini.” Balas Intan setelah mengikuti arah pandang Mini.
“Min--.”
“Hm.”
“Kayaknya lo benci banget sama gue, sama Esa juga.”
“Kata siapa? Gak kok.” Ujar Mini tanpa menoleh pada Intan sedikitpun.
“Keliatan aja.”
“Perasaan lo aja kali.”
“Gue sempet nyangka lo suka sama Esa makanya lo benci gue. Tapi ternyata lo juga keliatannya gak suka sama Esa.”
Mini kali ini tertawa pelan. “Apa? Gue? Sama Esa?” lalu ia menatap Intan.
“Esa bukan tipe gue.” Lanjutnya dengan berujar pelan.
“Jangan gitu. Kena tulah lo entar.”
“Gak lah.” Ujar Mini tanpa menoleh padanya, ia kini fokus menatap kearah lapangan.
Intan mengedikkan bahunya mendengar ucapan Mini, kemudian ia juga memokuskan pandangan kearah lapangan saat wasit dan atlet mulai memasuki arena pertandingan.
Berbeda dengan Esa yang duduk di tempat duduk VIP, bukannya fokus pada pertandingan. Ia justru fokus memperhatikan Mini yang duduk tepat di seberang tempat duduknya. Jujur saja, ia tak menduga akan bertemu Mini disini. Ia pikir dengan ia tidak hadir ke sekolah dan pergi ketempat ini ia tak akan bertemu dengan gadis itu. Tapi ternyata takdir menginginkan hal lain. Ia justru dipertemukan dengan Mini, disini, ditempat yang tidak ia duga. Haruskah ia senang? Atau—sedih?
Esa menghela nafas panjang lalu berusaha memokuskan perhatiannya pada lapangan tempat bertanding. Namun gagal, ia tetap saja sesekali mencuri pandang pada Mini yang terlihat sangat antusias dalam menonton pertandingan.
Kenapa, disaat ia berusaha menghindari Mini, gadis itu justru selalu hadir disekelilingnya? Kenapa ia harus selalu bertemu, disaat ia berusaha melupakannya? Kenapa ? haruskah seperti itu? Padahal Esa sedang berusaha merelakan Mini, melepaskan cinta pertamanya. Namun, kenapa jadi terasa sangat sulit? Seolah takdir mempermainkan perasaannya.
Esa menghela nafas lagi kemudian meneguk air dari dalam botol yang memang tersedia untuknya itu dalam satu kali tegukan. Seolah dengan meneguk air itu, ia bisa melupakan Mini dan menghilangkan bayangan gadis itu dalam benaknya.
***