“Gila, sih. Ini keren banget Sam! Seriusan kamu yang buat, kan? Bukan beli di internet?” Ana masih tidak percaya sewaktu melihat hasil karya Sam yang diselesaikan hanya dalam waktu beberapa jam saja. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi.
Sam membuatkan lukisan sebuah pelangi di atas danau yang dikelilingi oleh lading bunga berwarna warni. Sederhana, namun sangat indah. Mungkin bisa dihargai sangat tinggi jika masuk ke pelelangan, pikir Ana.
“Jadi, menurut kamu aku ini pelangi?”
“Gak seru dong kalau aku ngejelasin artinya. Kamu pikirkan sendiri aja.”
“Emang ya, paling senang kalau bikin orang penasaran.”
“Lho, kalau harus menjelaskan langsung, buat apa para pelukis itu membuat lukisan? Justru kami ingin orang lain mengerti apa yang kami pikirkan tanpa harus dijelaskan.”
“Oke, oke, tuan pelukis S. Raharja.”
Sam memukul kepala Ana pelan. Gadis tersebut hanya terkekeh pelan.
Untuk beberapa waktu, Ana terus berdiri memandangi lukisan yang kini menjadi miliknya itu. Bahkan keberadaan Sam seakan dia lupakan.
Si pelukis tak berani menginterupsi. Dia duduk tak jauh dari sana, menikmati biscuit dan secangkir the hangat. Sembari memperhatikan orang yang begitu terkesima melihat karyanya.
Sudah cukup lama sejak Sam melukis untuk yang terakhir kalinya. Semua peralatan lukis miliknya masih bisa diselamatkan dari sang ayah, namun harus berakhir di gudang. Kemarin malam, dia kembali membuka peralatannya yang mulai berdebu dan mongering. Merasa nostalgia, seakan baru saja bertemu dengan sahabat lama.
Ana berbalik badan, melangkah ke tempat Sam berada. Turut duduk di atas sofa sembari tak henti tersenyum.
“Kamu senang?”
“Bahagia!” jawab Ana. “Makasih, ya.”
“Aku juga harus bilang terima kasih. Sebelum ini aku bahkan gak berani buat mulai ngelukis lagi.”
“Setelah ini gimana? Apa kamu bakal berhenti ngelukis lagi?”
“Hmm…” Si lelaki bermata cokelat berpikir sejenak. “Kalau harus ngehibur kamu yang sedih, aku bakal ngelukis lagi.”
“Masa aku harus sedih terus biar kamu gak berhenti? Jahat banget, sih.”
Sam pun tertawa. Dia senang bisa melihat senyuman pada wajah Ana. Tapi kadang masih terlintas kesedihan yang tertahan dalam wajah temannya itu. Pasti Ana sedang memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja, pikirnya.
“Kamu yakin udah baik-baik saja?”
“Hm? Kelihatan ya?”
Sam mengangguk.
“Aku lagi nyoba buat gak galau, sih. Tapi kayaknya mustahil selama masalahnya masih ada.”
“Kamu belum bicara lagi sama pacarmu itu?”
“Belum. Kayaknya dia masih malas ngomong sama aku.”
“Tapi harusnya gak gitu, dong. Dia gak bisa terus-terusan lari dari kamu dan bertingkah seolah gak ada yang terjadi.”
“Kamu benar, Sam. Tapi, kayaknya harus aku duluan yang pergi menemui dia.” Ana mendadak membereskan barang bawaannya dengan terburu-buru.
“Kamu mau pergi sekarang? Kan, gak harus detik ini juga.”
“Aku gak mau ngebiarin masalahnya berlarut-larut kayak gini.”
“Mau aku antar?”
Ana sedikit tertawa. “Gak usah. Mana ada orang yang mau menyelesaikan masalah sama pacarnya terus ajak-ajak teman. It’s okay. Aku bisa ngatasin sendiri, kok.”
“Okay…”
“Makasih ya, Sam.”
“Good luck.”
Sam mengantar Ana hingga keluar dari pintu apartemennya. Tapi dia tetap diam di balik pintu hingga beberapa detik berlalu. Entah kenapa ada perasaan khawatir yang muncul dalam benak sam. Seakan dia tahu ada hal buruk yang akan terjadi.
Jadi, Sam memutuskan untuk membuntuti Ana menuju ke apartemen Rendy—yang bersebelahan dengan gedung tempat tinggalnya.
Ana tidak tahu apakah Rend yada di partemen atau tidak. Biasanya, pacarnya itu bahkan masuk kerja saat weekend. Tapi dia tetap ingin mencoba. Kalau memang Rendy tidak ada di sana, berarti memang belum saatnya Ana menemuinya, pikirnya.
Hati Ana cukup berdebar. Dia takut justru tidak sanggup berkata-kata saat bertemu dengan Rendy. Namun dia sedang berusaha untuk membahas tuntas masalahnya hari ini juga.
Di depan pintu kamar 508, perjalanan Ana berakhir. Dia cukup lama memandangi pintu di hadapannya. Beberapa kali menarik napas panjang, sebelum akhirnya mengetuk beberapa kali.
d**a Ana makin berdebar saat mendengar kunci kamar dibuka dari dalam. Berusaha memasang senyum terbaiknya. Namun, senyuman itu seketika luntur saat mendapati seorang wanita cantik berambut panjang yang justru keluar dari sana. “Maaf, siapa ya?” tanya wanita tersebut.
“Aku Ana. Mba temannya Kak Rendy, kah?”
“Ada perlu apa ya, cari pacar saya?”
Ana sedikit tertohon mendengar perkataan wanita di hadapannya. Tampaknya kata-kata barusan tidak sedang bercanda. Bahkan wanita itu memasang wajah serius, seakan Ana lah yang tiba-tiba muncul di tengah kehidupannya dan Rendy.
Sam yang memperhatikan tak jauh dari sana, mulai merasa ada yang salah. Dia makin merasa khawatir dan ingin segera membawa Ana pergi dari sana. Tapi dia sadar belum saatnya keluar dari persembunyiannya.
Ana belum sempat menanggapi hingga keberadaan orang yang dia cari terlihat.
“Siapa, Babe?” Rendy masih belum sadar keberadaan Ana. Dia berjalan ke arah pintu, dan cukup terkejut.
“Gak tahu. Nyari kamu, katanya.”
Ana mendengus tak percaya. “Apa-apaan ini, Kak? Kenapa dia ngaku-ngaku jadi pacar Kak Rendy?”
Si wanita yang tersinggung memasang wajah kesal. “Lo siapa, sih? Tiba-tiba datang, terus ngomong sembarangan. Gue emang pacar Rendy!”
“Gak mungkin. Dari dulu Kak Rendy itu pacar aku!”
“Hah?!”
Rendy lekas memisahkan dua wanita yang mulai bertengkar di depan apartemennya. Dia menyuruh wanita bernama Rika untuk masuk ke dalam. Sementara dia sendiri menutup pintu dan berdiri di hadapan Ana yang sedang menahan tangis.
“Jadi ini alasan Kak Rendy berubah?” suara Ana bergetar hebat. Tapi dia masih tidak membairkan wair matanya keluar. Masih berusaha tampak tegar.
Rendy mengela napas sebelum mulai bicara. “Maaf, Ana. Dari dulu aku bingung harus bicara kayak apa ke kamu. Tapi, aku benar-benar sayang sama kamu. Dan gak mau kamu terluka.”
“Dari kapan? Kak Rendy dan orang itu?”
“Setahun lalu.”
Ana sudah tak kuat membendung kesedihannya lagi. Air matanya mendesak keluar tak tertahankan. Dia menggigit bibirnya keras, sembari memegangi d**a yang terasa semakin sesak.
“Maaf, Na. Mungkin aku bukan yang terbaik buat kamu. Makin lama aku ngerasa cuma jadi penghambat. Kamu masih bisa berkembang. Tapi bukan bersamaku.”
“Kenapa sekarang? Kenapa gak dari setahun lalu bilang kayak gini? Sebelum aku terlanjur datang ke kota ini.”
“Aku bingung. Aku merasa gak bisa kehilangan kamu. Tapi lama-lama aku sadar kalau perasaan itu muncul karena kita terlanjur terikat terlalu lama. Aku merasa gak enak menyudahi semua tiba-tiba. Bukan karena aku cinta sama kamu.”
Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Semua kata-kata Ana tertahan ditenggorokan. Dia hanya bisa lanjut menangis. Sementara Rendy bingung harus menjelaskan apa lagi.
“Maaf, Na. Aku yakin ini yang terbaik. Kamu mau aku antar pulang?”
Ana menggeleng. Lalu berbalik badan dan mulai berjalan ke arah lift. Tangannya menghapus jejak air mata yang membasahi pipi.
Sam mengepal tangannya keras. Dia ingin sekali berlari dan menghajar Rendy detik itu juga. Namun dia pikir hal itu tidak akan memperbaiki apa pun.
Sam keluar dari persembunyiannya. Menuju ke hadapan Ana, dan menggenggam tangan Ana erat. Tanpa berkata apa pun lagi, Sam membawa Ana pergi dari tempat tersebut. Menuju ke arah parkiran apartemen untuk menuju mobilnya.
Mereka tidak saling bicara sama sekali. Sam tidak mengatakan apa-apa. Ana pun tidak bertanya dan berkomentar apa pun. Bahkan hingga mobil Sam mulai berjalan.
Sam tidak berhenti mengemudikan mobilnya tanpa tujuan. Karena memang dia belum tahu di mana kosan Ana berada. Sementara gadis di sampingnya terus memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong.
“Kelihatannya pembicaraan kalian gak lancar ya?”
Ana memaksakan untuk tersenyum. Dia tidak tahu kalau sebeanrnya Sam tahu semua yang terjadi. “Lancar, kok. Aku udah tenang sekarang. Udah gak ada yang perlu dibahas lagi antara aku dan pacarku.”
“Beneran udah tenang?”
“Iya! Aku ngerasa bener-bener lega sekarang.”
Sam melirik ke arah Ana yang tersenyum lebar dengan dahinya yang sedikit berkerut. Pipinya tampak memerah karena menahan tangis.
Sam memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia bersandar pada punggung jok, dengan wajah yang memandang lurus ke depan. “Gak usah dipaksakan. Kamu boleh menangis sepuasnya, kok.”
Perkataan tersebut memancing kembali kesedihan Ana hingga membeludak keluar—bersama dengan air matanya. Ana baru sadar, ternyata dia tidak sekuat itu untuk menelan rasa sakit yang terasa. Dia pun menangis sejadi-jadinya. Wajahnya tertunduk, tertutupi oleh rambutnya yang tidak terikat.
Sam hanya terdiam, agar tak perlu menginterupsi. Memejamkan mata sambil mendengarkan tangisan pilu yang tersampaikan hingga ke dalam hati. Membuatnya ingin turut menangis bersama, meski tidak sedang mengalami hari yang buruk. Andai saja dia bisa menggantikan Ana untuk merasakan semua, dia bersedia, pikirnya.