Sinar mentari menyelinap dari sela tirai. Memaksa mata Ana untuk terbuka di saat tubuhnya masih sangat malas untuk bangkita dari atas kasurnya. Padahal hari ini dia harus pergi bekerja. Dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih dua puluh. Jika tidak bergegas, dia sudah pasti akan terlambat. Tapi, dia justru masa bodoh dengan semua itu. Tanpa makan apa pun, Ana bergegas keluar dari kosan. Berjalan dengan malas sembari terus menguap. Di depan kosan yang terdiri dari delapan kamar itu, langkah Ana terhenti. Jarang sekali dia mendapati banyak orang berkumpul di sana. Hampir semua penghuni kosan adalah orang-orang yang bekerja shift malam dan pulang pagi. Sehingga mereka hanya bertemu sesekali saja saat waktu libur. Tapi kini, bahkan ibu kosann

